Oktober 20, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

INDONESIA DAN PUSAT PERADABAN ISLAM KONTEMPORER

Oleh :

MOH. SYIHABUDDIN

Direktur Kitasama Stiftung

Pengantar : Sekilas Islam di Belahan Dunia

Era industri 4.0 saat ini telah mengubah wajah dunia semakin mudah untuk diperoleh dan semakin gampang untuk dibelokkan. Jika dulu kita masih mengandalkan televisi dan media cetak sebagai sumber informasi, kini internet sudah merajalela hingga menyebar dengan cepat bagaikan parasit masuk ke dalam tubuh. Kita mendapatkan segala hal lewat internet, keberadaan android dan smartphone telah mendukung kemudahan itu untuk melipat segala kebutuhan kita dewasa ini menjadi lebih simple dan lebih praktis. Dalam konteks kehidupan bermasyarakat keberadaan internet menjadi pisau bermata dua, dia merupakan pembunuh bagi karakter kemanusia sekaligus pendukung bagi penguatan informasi. Hal ini pula yang mendukung menyebarnya informasi dari seluruh belahan bumi ini, antara dunia yang aman dan dunia yang bergejolak.

Tentunya kita sudah tahu bawah melalui internet berbagai peristiwa di dunia Arab—yang merupakan asal usul lahirnya Rasulullah Muhammad shallahu’alaihi wassalam sebagai deklarator Islam bagi seluruh umat manusia—telah dengan mudah diperoleh hanya dengan genggaman android. Di awal abad industri 4.0 ini kita mengetahui berbagai gejolak di dunia Arab, mulai gelombang revolusi mulai dari Arab Spring,  lahirnya ISIS di Suriah dan Irak, perang saudara di Yaman, pemberontakan di Sudan, Somalia yang tak kunjung aman, Aljazair yang mulai digoyang gelombang revolusi hingga Suriah yang menjadi perebutan dua kekuatan adi daya (Amerika-Israel-Uni Eropa versus Rusia-Cina). Ini pun belum lagi dengan gejolak di tanah Aghanistan, Hindustan, dan Afrika lainnya.

Wajah-wajah dunia Islam itulah, khususnya Arab sebagai tanah kelahirannya kini seolah-olah mewakili masyarakat muslim secara global, padahal tidak. Dan lewat internet—bangsa Barat memandang Islam (melalui berbagai medianya) adalah agama yang mematikan, garang dan ganas. Islam kelihatan nampak seram dan mengerihkan dengan penampilan orang-orang bersorban, milisi yang menenteng senjata, dan menjadikan ayat-ayat al-Qur’an sebagai bentuk pembantaian (termasuk yang berbagai kekerasan di Irak yang melibatkan ayat-ayat al-Qur’an untuk menyembelih orang).

Tidak hanya itu, situs-situs Islam sebagai bagian dari peradaban Islam di negeri-negeri Arab dihancurkan oleh peperangan dan aksi-aksi terorisme. Syi’ah menghantam sunni, lalu sunni membalas kepada syi’ah. Kurdi dilindas Turki dan komunitas Kurdi terus menerus melakukan perlawanan. Di Afghanistan gerakan ekstremis dan terorisme seolah melekat dan menjadi identik dengan “Islam”, Islam seolah merupakan agama yang menghalalkan kekerasan.   Pada konteks itulah masyarakat Eropa dan Amerika (yang mengklaim sebagai pusat peradaban dunia) melalui internet diberi sajian informasi Islam yang kasar dan brutal. Apalagi jika melihat penampilan media-media Barat kebanyakan lebih condong memberikan pemberitaan yang tidak berimbang dan lebih memojokkan Islam. Sehingga tidak salah jika kemudian di Eropa-Amerika telah lahir perasangka Islamphobia yang sungguh sangat traumatis dan sulit didamaikan.

Jika di Arab berkobar, di Afrika bergejolak, di tanah Asia Tengah berperang dan di negeri-negeri Eropa meningkat gelombang Islamphobia tentu di negeri-negeri itu Islam tidak mampu tumbuh dan berkembang. Karena itulah maka Islam membutuhkan alternatif untuk tumbuh dan berkembang. Islam membutuhkan tempat yang nyaman untuk me-reventing pemikiran yang lebih progresif dan konstruktif bagi pembangunan Islam. Dan menurut hemat kami, tempat yang paling layak di era industri 4.0 untuk mengembangkan Islam di masa depan adalah di Indonesia.

Indonesia ; Kawasan yang Aman dan Damai

Sejak berdiri di tahun 1945 Indonesia memang bukan negara yang stabil secara internal dan eksternal. Banyak gangguan yang dihadapinya selama berproses menjadi sebuah negara yang berdaulat, baik agresi dari pihak Belanda sendiri yang tidak ingin Hindia Belanda lepas atau bubar maupun rongrongan dari dalam negeri yang berusaha mengubah haluan negara yang telah disepakati oleh para pendirinya. Namun semua itu bisa diatasi oleh bangsa Indonesia dengan baik sehigga kehidupan umat Islam di dalamnya bisa berjalan dengan aman dan dilindungi oleh hukum yang baik. Indonesia menjadi sebuah kawasan yang aman dan damai yang mampu memberikan pertumbuhan Islam secara baik.

Adanya Nahdlatul Ulama sebagai sebuah ormas yang mempunyai anggota kurang lebih empat juta jiwa telah mendukung kenyataan Indonesia sebagai sebuah kawasan yang aman dan damai. Tidak terjadi perang saudara yang berkepanjangan sebagaimana yang terjadi di negeri-negeri Arab, Afrika dan Asia Tengah. Indonesia relatif stabil dan bisa menjadi tempat yang nyaman untuk membangun sebuah peradaban baru.

Menurut para ilmuwan politik dari luar negeri Indonesia merupakan negara Muslim paling demokratis yang mampu menerapkan sistem multipartai tanpa menimbulkan gesekan fisik yang berarti. Padahal di negeri Muslim lain sistem demokrasi sering kali melahirkan totalitarianisme dan monarchi absolut. Di Indonesia, yang memiliki keanekaragaman dan keberagaman yang cukup banyak ternyata mampu berjalan dengan sistem demokrasi dan menjalankan gagasan modern nasionalisme.

Dunia Arab (jazirah Arabia) pasca Ustmani dan Wahabisme

Yang terjadi di Indonesia tentu berbeda dengan yang terjadi di negeri-negeri Arab. Lahirnya wahabisme dan runtuhnya kesultanan Ustmani telah menjadikan negeri Arab terpecah belah menjadi banyak negara yang didirikan dengan ide Nasionalisme Arab (yang sama). Seharusnya ide-ide nasionalisme mampu menyatukan bangsa Arab menjadi negara yang kuat dan mampu menjadi penyeimbang kekuatan dari Eropa dan Amerika. Tapi sebaliknya, negara-negara Arab justru terpecah belah dengan tetap mempertahankan kekuasaan ala monarchi yang absolute, yang tetap mempertahankan kekuasaan berada di tangan sebuah klan (suku) bukan ditangan rakyat.

Akibatnya negara-negara Arab tidak bisa bersatu tujuan dalam menentukan sikap bersama dan melahirkan gagasan baru untuk menyatukan Arab menjadi sebuah bangsa yang bersatu. Bergejolaknya Palestina, perang di Suriah, perang di Yaman dan ketidakstabilan di Sudan menunjukkan bahwa negeri-negeri Arab sulit bersatu dalam membentuk negara yang kuat dan saling menjaga stabilitas kawasannya.

Warisan Islam ada di Indonesia

Sejak Ustmani kalah dalam perang dunia di 1918 dan runtuh pada 1922 serta wahabisme yang tumbuh di Hijaz dan Najed, apa yang disebut dengan Islam yang sesungguhnya telah beralih ke Indonesia. Para ulama dan para sufi yang menjaga tradisi keilmuan Islam berbondong-bondong melarikan diri menuju ke Hindia Belanda dan menetap sebagai warga negara. Dari para sufi inilah keilmuan Islam mulai tumbuh dan menancap di Indonesia. Warisan dari Rasulullah mampu dijaga secara aman dan dijalankan secara benar.

Sejak Islam berjaya di tangan para khalifah awal, para penguasa dinasti hingga kesultanan Ustmani di Indonesia sudah tumbuh banyak komunitas muslim yang menjalin keilmuan dengan para ulama di negeri-negeri Arab (terutama Madinah dan Mekkah yang masih belum dikuasai Wahabi). Hubungan antara orang Arab dengan orang Nusantara berjalan sangat erat dan terjadi relasi Guru-Murid yang sangat fanatik. Dari hubungan inilah transformasi pengetahuan berjalan dari Arab menuju ke Indonesia yang juga menyebar ke negeri Fatani dan Mindanao. Sehingga di tanah Arab (baca: Mekkah) telah lahir komunitas Muslim Nusantara yang disebut dengan sebutan orang Jawah. Entah itu orang sumatra, papua, maluku, jawa, mindanao, malaka, kalimantan atau bahkan fatani semua disbeut dengan jawah. Artinya mereka adalah orang muslim yang berasal dari negeri shinn (yang jauh) yang sangat dekat sekali dengan masyarakat Arab yakni negeri jawa.

Namun relasi Arab-Nusantara itu buyar tatkala wahabisme lahir dan membunuh banyak ulama, para jama’ah haji dan juga berkolaborasi dengan pemerintah kolonial Inggris Raya untuk menyingkirkan Ustmani dalam perang dunia I dari wilayah Arab. Kondisi itu tidak memungkinkan lagi bari para sufi dan ulama untuk mengajarkan keilmuannya dan membangun masyarkat muslim yang damai. Kondisi perpolitikan sungguh karut marut dan tidak mendukung lahirnya masyarakat yang stabil. Akbitnya para ulama dan sufi lebih memilih menuju ke Nusantara sebagai wilayah yang sudah lama menjalin hubungan dengan keilmuan Arab untuk menumbuhkan keilmuannya dan mengajarkan warisan Rasulullah.

Dengan kata lain, keilmuan orang Arab dahulu yang di wariskan dari Rasulullah dan para nabi itu telah berada (berpindah) di Indonesia dan tumbuh berkembang dengan pesat menjadi sebuah kekuatan yang mampu menstabilkan keanekaragaman bangsa Indonesia. Keilmuan para nabi tidak lagi berada di negeri Arab, Afrika utara, Hindia apalagi di Cina, tapi sudah berada di Indonesia yang terus diamalkan oleh para ahli sufi dalam tradisi keilmuan irfani (dzikir sirr) dan para ulama pondok pesantren dengan tradisi keilmuan bayani-burhaninya (teks dan empiris-rasio).

Islam yang sesungguhnya adalah Agama, dan itu ada di Indonesia

Islam adalah agama, dan agama adalah Nur Muhammad yang mengawali terciptanya alam semesta yang diberikan oleh Allah melalui malaikat jibril kepada para Nabi. Keilmuan ini kemudian diwariskan kepada para Ulama (sufi) yang telah mendapatkan mandat untuk menerukan kekhalifahan dalam merawat Nur Muhammad agar dimiliki oleh setiap muslim.

Keberadaan Nur Muhammad ada di bumi sejak manusia dilahirkan dan diserahkan kepada para Nabi. Hingga para nabi kemudian ditutup oleh keberadaan Rasulullah sebagai nabi terakhir yang diwariskan kepada sahabat pilihan lalu kepada para ulama yang disebut dengan wali kutub. Wali kutub inilah yang dikenal dengan sebutan khalifah Rasulullah yang berhak menerukan estafet kepemimpinan dalam beribadah kepada Allah. Tanpa berguru pada wali kutub dan mendapatkan Nur Muhammad maka ibadah setiap manusia batal hukumnya dan tidak mempunyai petunjuk untuk sampai kepada Allah Dzat Yang Tinggi lagi di tinggikan.

Wali kutub ini merupakan sosok yang suci dan menjadi penyelamat umat manusia dari pengadilan kelak di akhir zaman. Tanpa keberadaannya maka manusia jelas akan sesat dan tidak akan mampu menemukan hakekat ketuhanan dan kehidupan itu sendiri. Sehingga menyebabkan manusia akan terjerumus di dalam kekerasan, peperangan, pembunuhan dan semua jalan menuju ke neraka yang jauh dari eksistensi Allah.

Dan pada akhir zaman inilah sosok wali kutub ini ada di Indonesia dan keilmuannya tumbuh ditengah-tengah masyarakat Muslim Indonesia yang mendukung adanya komunitas yang aman dan damai. Tentunya keberadaannya sangat misteri dan dirahasikan oleh Allah, dan hanya mereka yang mendapatkan petunjuk saja yang mampu berguru padanya agar selamat dari pengadilan akhir zaman.

Masa Depan Islam ada di tangan Indonesia    

Adanya wali kutub di Indonesia inilah yang mendukung Indonesia menjadi wilayah yang paling cocok dan sangat relevan bagi pertumbuhan dan perkembangan Islam maupun komunitas Muslim. Selama sosok yang rahasia ini masih ada di negeri ini dan para muridnya senantiasa konsisten dalam keilmuannya maka Indonesia akan tetap menjadi kawasan yang damai dan sejahtera. Kondisi tersebut menjadikan kawasan Indonesia merupakan wilayah yang cocok bagi masa depan Islam yang lebih tentram dan menjadikan kawasan lebih damai.

Karena kondisi itu maka hanya di Indonesia-lah Islam bisa dikembangkan dan mampu berkembang menjadi agama yang menentramakan dan rahmat bagi seluruh alam. Bukan di negeri lain, apalagi di Arab atau di Cina.

Penutup

Dengan demikian di era kontemporer ini yang ditandai dengan masifnya industri 4.0 satu-satunya wilayah yang mampu mengembangkan Islam sebagai keilmuan dan Muslim sebagai komunitas hanya di Indonesia. Keberadaan Indonesia sangat ideal bagi pertumbuhan masyarakat yang aman dan damai di dalam era industri 4.0 ini, karena keberadaan wali kutub di negeri ini.

Saat semua telah berpacu dalam informasi dan kegalauan internet dan ruang yang tanpa batas maka pertahanan terbaik adalah berguru pada kaum sufi dan menjadikan pengabdian total kita kepada-Nya. Dari Guru Suci inilah ilmu yang abadi yang mampu melahirkan kedamaian dan ketentraman kawasan bisa diperoleh dan bisa pula dikembangkan menjadi sebuah keilmuan yang kaya makna.

Akhirnya, hanya di Indonesia-lah Islam di masa depan peradabannya bisa dibangun dengan perdamaian dan meneruskan kejayaan di era para nabi khalifah khulafaur rasyidin.