Oktober 22, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

Impelementasi Kebijakan Program Pemuda Sarjana Penggerak Pembangunan Pedesaan (PSP-3) (Bagian Pertama)

oleh :

SITI FATKHIYATUL JANNAH

Pendahuluan

Banyak generasi terpelajar yang menganggur memperlihatkan adanya ketidaktepatan dalam proses pembelajaran di lembaga pendidikan kita di semua strata. Semestinya perguruan tinggi mempunyai peran penting dalam mengelola sumber daya manusia yang terampil, tangguh, mandiri, berwawasan luas, dan beretika. Perguruan tinggi seharusnya juga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dengan menyediakan teknologi dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal (Sujono Samba, 2007: 13-14) [1].

Sejarah mengajarkan bahwa pemuda selalu berperan dalam menentukan arah masa depan bangsa di saat mengalami kritis. Dewasa ini sekalipun pemuda berada dalam kungkungan masalah yang kompleks, namun masih berpotensi memecahkan masalahnya sendiri. Termasuk memiliki kapasitas dalam membantu perbaikan kesejahteraan warga, khususnya di pedesaan yang mengalami tantangan globalisasi dan perubahan lingkungan. Tingginya persentase penganggur terdidik dan rendahnya sumberdaya manusia dari para aktor pembangunan pedesaan serta masih belum optimalnya pengelolaan sumberdaya, baik alam maupun pemerintah desa, membutuhkan pemuda terdidik untuk meretas situasi ini. Pertumbuhan pembangunan di wilayah pedesaan sejauh ini nampak lambat dan bersifat alami. Investasi pembangunan yang dicerminkan melalui aktivitas proyek – proyek, baik pemerintahan maupun swasta nyaris kurang memberikan dampak signifikan terhadap perubahan sosial ekonomi masyarakat (Kemenpora, 2011: 8-11)  [2].

Implikasinya, desa nyaris tidak ada atau kurang memilki aset (sumberdaya alam, kelembagaan, zona ekonomi dan sumberdaya manusia) yang memungkinkan untuk memulai dan mengembangkan kreasi dalam menjawab berbagai masalah dan tantangan kehidupan yang sangat kompleks, terutama dalam mengurangi tekanan kemiskinan dan ketidakadilan di antara warga maupun antar wilayah. Salah satu masalah yang nampak adalah keterbatasan sumberdaya manusia yang berkualitas baik sebagai perencana maupun sebagai penggerak ataupun pelaksana untuk memacu perubahan sosial-ekonomi-politik di tingkat pedesaan. Walaupun selama ini telah ada personil terdidik yang mendampingi masyarakat, seperti : petugas penyuluh lapangan (PPL), baik dari dinas/instansi pemerintah ataupun Lembaga Sawadaya Masyarakat (LSM), namun keberadaannya seringkali tidak terkait atau bersinergi dengan institusi desa dalam konteks perubahan struktural atas masalah kesenjangan dan ketidakadilan antara desa dan kota (Kemenpora, 2011: 10) [3].

Program Pemuda Sarjana Penggerak Pembangunan di Pedesaan (PSP-3). Program PSP-3 ini dikembangkan dengan tujuan untuk mengakselerasikan pembangunan melalui peran kepeloporan pemuda dalam berbagai aktivitas kepemudaan yang secara langsung berpengaruh terhadap dinamisasi kehidupan pemuda desa, mengembangkan potensi sumberdaya kepemudaan sekaligus meningkatkan kesejahteraan pemuda dan masyarakat desa. Di samping sebagai upaya menumbuhkembangkan kepeloporan dan kemandirian para peserta program. Melalui program PSP-3 ini, diharapkan akan dapat memperteguh komitmen para pemuda sarjana untuk membangun kepemudaan desa dan menjadikan desa sebagai pusat pertumbuhan yang dapat memperbaiki taraf kehidupan masyarakat yang lebih baik di masa depan. Komitmen ini penting sebagai bagian dalam mengurangi penumpukan SDM berpendidikan tinggi di perkotaan. Dan pada gilirannya membangkitkan pemuda desa dampingannya melakukan kegiatan inovasi dan produktif sehingga desa menjadi inspirasi pembaharuan dan perubahan secara nasional. Para sarjana yang ditempatkan di Desa dalam tugasnya menggerakkan dan mendampingi masyarakat dan khususnya pemuda, mampu menumbuhkan beragam kegiatan produktif di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lingkungan. Termasuk dalam membantu dan mendampingi aktivitas pemerintah desa seperti : administrasi kependudukan, pajak bumi dan bangunan, penataan aset desa dan lainnya (Kemenpora, 2011: 1-6).

Pembahasan

Awalnya nama program PSP3 adalah Sarjana Penggerak Pembangunan di Pedesaan (SP3), namun pada sisi lain Kemenpora menyadari sepenuhnya bahwa keberadaan program SP-3 belum cukup signifikan dampaknya manakala diukur dalam aspek pengurangan kemiskinan dan peningkatan aset masyarakat. Bahkan pada kasus dan di wilayah tertentu, aktivitas yang dilaksanakan oleh SP-3 belum cukup besar manfaatnya bagi masyarakat, seperti : peningkatan pendapatan. Namun jika diukur dari aspek non material, kesediaan para sarjana untuk bekerja di pedesaan dalam jangka 3 (tiga) tahun untuk menggerakkan masyarakat dalam pembangunan merupakan hal positif. Merespon kondisi tersebut, Kemenpora pada tahun 2010 melakukan revitalisasi program SP-3 yang bertujuan untuk melakukan perubahan dalam rangka efektivitas pencapaian sasaran program. Sebagai salah satu wujud dari revitalisasi tersebut sejak tahun 2011 program SP-3 diubah namanya menjadi Program Pemuda Sarjana Penggerak Pembangunan di Pedesaan (PSP-3) (Kemenpora, 2011: 2). Revitalisasi nama tersebut bukan merombak konsep dasar dari SP3 yang ditugaskan untuk mendampingi dan menggerakkan masyarakat desa dalam meningkatkan produktivitas Pedesaan, melainkan merubah dan memperbaiki beberapa aspek teknis dari beberapa kegiatan SP3.

Sosialisasi dan Diseminasi

Sosialisasi dan diseminasi dilakukan oleh pelaksana program tingkat pusat dan tingkat provinsi, melalui media elektronik, media cetak dan media sosial lainnya. Khusus untuk tingkat provinsi, sosialisasi juga dilakukan melalui tatap muka, penyebaran informasi oleh peserta PSP3 yang sedang berada di lapangan maupun oleh purna PSP3 yang berada di seluruh provinsi.

Tujuan dari sosialisasi dan diseminasi tersebut adalah agar program PSP3 dikenal oleh masyarakat luas, pemerintah kabupaten/kota, pemerintah kecamatan, dan pemerintahan desa yang berminat menjadi sasaran pelaksanaan program. Sehingga menumbuhkan kesamaan pemahaman tentang maksud, tujuan, dan tatacara pelaksanaan program PSP3.

Sosialisasi  dan diseminasi program tidak hanya untuk tujuan seleksi, melainkan juga dalam kerangka mengenalkan secara luas program PSP3. Oleh karena itulah sosialisasi juga dalam bentuk ragam kegiatan inovasi dan berbagai best practise lain yang merupakan karya nyata Pemuda Sarjana. Sosialisasi  dan diseminasi dilakukan dengan cara menyebarkan surat edaran, poster, booklet (buku saku), leaflet, menyelenggarakan diskusi, dan pemasangan iklan/publikasi informasi di media cetak, elektronik, media sosial serta berbagai kegiatan dan festival.

[1] Dikutip dari sumber : Samba, Sujono. 2007. Lebih Baik Tidak Sekolah. Yogyakarta : LkiS Pelangi Aksara.

[2] Dikutip dari sumber : Kementrian Pemuda dan Olahraga. Republik Indonesia. 2011. Pedoman Umum Pelaksanaan Program Pemuda Sarjana Penggerak Pembangunan di Perdesaan (PSP3) Tahun 2011.

 

[3] Dikutip dari sumber : Kementrian Pemuda dan Olahraga. Republik Indonesia. 2014. Pedoman Umum Pelaksanaan Program Pemuda Sarjana Penggerak Pembangunan di Perdesaan (PSP3) Tahun 2014.