Oktober 20, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

Impelementasi Kebijakan Program Pemuda Sarjana Penggerak Pembangunan Pedesaan (PSP-3) (Bagian Kedua)

oleh :

SITI FATKHIYATUL JANNAH

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kebijakan Program

Sarjana/ Terpelajar Menganggur

Angka  pengangguran terdidik, terutama sarjana makin meningkat tajam. Para sarjana merupakan pengangguran potensial, namun perlu investasi besar untuk menciptakan lapangan kerja bagi mereka. Nyaris tak ada lowongan kerja level menengah yang tak dibanjiri sarjana. Kondisi ini memprihatinkan. Sementara krisis keuangan global makin membuat para sarjana kesulitan kesempatan kerja.

Data Departemen Tenaga Kerja dan Departemen Pendidikan Nasional menyebutkan, perguruan tinggi (PT) di Indonesia tahun ini menciptakan 900.000 sarjana menganggur. Tiap tahun rata-rata 20% lulusan perguruan tinggi menjadi pengangguran.

Pada tahun 2006 saja terdapat data yang menyatakan bahwa 183.629 orang sarjana yang telah menjadi pengangguran, kemudian pada tahun 2007 meningkat tajam menjadi 409.890 orang, tentunya data tersebut semakin memperkuat stereotip yang mengatakan bahwa lembaga pendidikan tingkat tinggi memang belum mampu mengemban amanat untuk mencetak para akademisi yang punya skill atau keterampilan kerja. Ketika realitas tersebut tengah terjadi, maka sangatlah dibutuhkan sebuah evaluasi mutlak dari seluruh elemen pendidikan sebagai wujud adanya tanggung jawab moral terhadap para sarjana.

Meskipun demikian, kita juga tidak dapat membebankan kesalahan tersebut secara penuh pada lembaga pendidikan tersebut. Artinya, ketika permasalahan tersebut telah menjadi prolem bersama (kolektif), dari berbagai kalangan harus bahu membahu untuk mengadakan evaluasi guna mencari solusi yang dapat mengatasi permasalahan tersebut.

Pembentukan Mental Kemandirian

Pengembangan technical skill dan soft skill bagi para mahasiswa juga memegang peran tersendiri. Technical skill misalnya, antara lain kemampuan berbahasa asing. Sementara itu, pengembangan soft skill contohnya, adalah menggelar pelatihan bagi mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi, presentasi, negosiasi, dan leadership. Saat ini yang diperlukan adalah mengubah mindset dari sarjana. Saat ini berkembang pemikiran bahwa seseorang dianggap bekerja apabila menjadi pegawai negeri sipil atau pegawai kantoran, sedangkan apabila membuka toko, bengkel, warung, servis hanphone, sablon (berwirausaha), tidak dianggap bekerja walau terkadang penghasilannya per bulan lebih tinggi daripada gaji pokok seorang PNS.

Keuntungan dari pembentukan mindset kewirausahaan adalah selain menumbuhkan semangat berwirausaha, juga akan mampu menjadikan pola hidup sarjana lebih efisien dalam mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki, lebih disiplin, tertib, kreatif, inovatif, produktif, tidak mudah menuntut dan mengeluh dalam menghadapi permasalahan sebagaimana karakter seorang wirausaha.

Peran Pemuda

Dalam membangun sebuah daerah pada prinsipnya sangat diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas, sehingga pembangunan dapat tercapai dalam segala sector. Generasi Muda sangat berperan penting dalam pembangunan daerah karena generasi muda adalah pemegang estafet kepimpinan daerah nantinya. Sebagai pemegang estafet di masa yang akan datang, generasi muda harus menjadi pilar, penggerak dan pengawal jalannya pembangunan daerah.

Namun kenyataan dan permasalahan yang dihadapi sekarang ini banyak generasi muda yang disorientasi, dislokasi dan terlibat dalam kepentingan politik pratis. Seharusnya melalui generasi muda, bisa melahirkan banyak inspirasi untuk mengatasi berbagai kondisi dan permasalahan yang ada, terutama dalam hal pembangunan daerah yang lebih maju. Oleh karena itu, generasi muda sebagai kaum yang mendominasi populasi terbanyak untuk saat ini, harus mengambil peran sentral sebagai inisiator yang berada di barisan terdepan untuk kemajuan daerah. Sudah saatnya generasi muda menempatkan diri sebagai agen dalam melakukan perubahan.

Generasi muda yang masih relatif bersih dari berbagai kepentingan, harus menjadi asset potensial dan mahal untuk kejayaan dimasa yang akan datang. Generasi muda yang tergabung dalam berbagai organisasi kemasyarakatan atau organisasi kepemudaan memiliki posisi penting dalam pembanguan daerah. Mereka memahami dengan baik kondisi daerah dari berbagai sudut pandang dan memiliki interaksi yang kuat dengan lapisan masyarakat dan dengan elit penguasa, sehingga menjadi pengalaman (experience) untuk melakukan pembangunan daerah. Untuk mencapai kemajuan dalam pembangunan, generasi muda harus memiliki kesepahaman dalam melaksanakan agenda-agenda pembangunan itu sendiri. Energi pemuda yang bersatu sangat cukup untuk mendorong pembangunan daerah yang lebih maju. Karena karakter generasi muda memiliki kekuatan fisik, kecerdasan dalam berfikir, ketinggian moral dan kecepatan belajar atas peristiwan yang mendukung di bidang pembangunan. Kemudian generasi muda harus memupuk atau menguatkan kembali semangat nasionalisme tanpa harus meninggalkan jati diri daerah. Semangat nasionalisme/kebangsaan diperlukan sebagai indentitas dan kebangsaan, sementara jati diri daerah akan menguatkan komitmen dalam membangun dan mengembangkan daerah.

Dari salah satu misi kegiatan Program Pemuda Sarjana Penggerak Pembangunan di Perdesaan adalah pembentukan karakter kepemimpinan, kepeloporan dan kesukarelawanan untuk menggerakkan berbagai potensi di perdesaan untuk kesejahteraan masyarakat.Dalam kriteria tersebut apakah dalam program kebijakan kemenpora terkati dengan pemuda sarjana penggerak pembangunan di pedesaan ini sudah terpenuhi dari proses pembentukan kepemimpinan, kepeloporan dan kesukarelawan yang bergerak di pedesaan.

Simpulan

Program Pemuda Sarjana Penggerak Pembangunan di Perdesaan pada dasarnya mempunyai tujuan yang baik. Hubungan pemuda sarjana yang ada di desa untuk dijadikan agen perubahan bagi Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) harus terus berlanjut. Namun masih ada beberapa hal yang perlu dievaluasi terkait dengan program ini, salah satunya adalah sosialisasi yang massive, sehingga bisa diikuti oleh seluruh desa di sebagai besar provinsi yang ada di Indonesia. Sehingga proses seleksi dan nilai manfaat yang berkelanjutan pun ada.