IKHTIAR MENINGKATKAN “KEILMUAN DIRI” DAN INTENSIFITAS PEMBELAJARAN, HASAN MA’SHUM PALANG SILATURRAHIM KE SURAU NGARENGAN

IKHTIAR MENINGKATKAN “KEILMUAN DIRI” DAN INTENSIFITAS PEMBELAJARAN, HASAN MA’SHUM PALANG SILATURRAHIM KE SURAU NGARENGAN

kitasama.or.id – Sebanyak empat belas orang Hasan Ma’shum Palang, yaitu (1) Syihabuddin, (2) Sifyani, (Darmawan), (3) Sukardi, (4) Sismanan, (5) Faizin, (6) Murdiono, (7) Hariyanto, (8) Musyafa’, (9) Wiyoto, (10) Nursaudah, (11) Arinal Haq, (12) Mareta, dan (13) Harti, plus empat bocil putra Nursaudah dan Harti, telah berkunjung untuk pertama kalinya ke Surau Ngarengan di desa Moronyamplung Kab. Lamongan.

Kedatangan mereka ke Surau Ngarengan merupakan hal baru karena sebelumnya hal itu belum pernah dilakukan. Tujuan silaturrahim itu ada tiga hal, yakni :

Bacaan Lainnya

Pertama, meningkatkan keilmuan. Pembelajaran tarekat tidak bisa dijalani secara munfarid (sendiri-sendiri), karena akan memberikan dampak buruk bagi pengamalnya. Seorang pengamal ilmu tarekat akan gagal dalam mengamalkan ilmunya jika mereka tidak “hidup secara berjamaah”. “Mengamalkan ilmu dzikir sendirian itu hanya akan melahirkan kesombongan dan ketersesatan ‘kehadiran diri’, atau mengalami kegagalan ‘menghadirkan Allah’. Kita membutuhkan kebersamaan dan kehadiran diri secara berjamaah di surau, agar dzikir yang diamalkan itu bisa saling menguatkan antar jamaah”, tegas Sifyani.

Keilmuan di dalam ajaran tarekat harus senantiasa diasah dan ditingkatkan dengan cara silaturrahim dan bertemu dengan jamaah yang lainnya—yang lebih muda mendatangi yang lebih tua, yang tidak punya surau mendatangi yang hidup di dalam Surau—sehingga setiap jamaah bisa bertemu langsung dan melakukan tatap muka. Tatap muka antar jamaah tarekat bisa memperkuat dzikir setiap anggota agar gairah berdzikirnya semakin kuat dan berdampak pada diri sendiri.

Kedatangan orang Hasan Ma’shum Palang ke Surau Ngarengan salah satunya adalah untuk menguatkan dzikirnya masing-masing anggota dengan cara bersilaturrahim ke jamaah yang lebih senior dan Surau yang lebih dirawat oleh jamaahnya.

Kedua, mengintensifkan energi dzikir. Artinya dzikir yang diamalkan oleh para pengamal tarekat memerlukan pendalaman yang lebih maksimal oleh pengamalnya untuk menyerap berbagai energi besar yang ada di dalam dzikir itu sendiri. Salah satu upaya untuk mengintensifkan dzikir adalah dengan mendatangi satu Surau ke Surau yang lain.

Surau Ngarengan merupakan Surau milik orang-orang Hasan Ma’shum (Jawa Timur) yang baru (dibangun) yang hari ini telah dikelolah oleh kurang lebih lima belas orang Lamongan. Para jamaah tersebut sangat aktif dan komitmen dalam merawat Surau di Ngarengan, sehingga Surau terlihat terjaga, bersih, terawat, dan memiliki ‘penghidupan’ di dalamnya. Hal itulah yang menjadikan kelayakan bagi Surau Ngarengan untuk dijadikan sebagai salah satu Surau yang harus didatangi oleh orang Hasan Ma’shum Palang.

“Kami mengawali bangunan Surau Ngarengan ini dengan tanah dan uang seadanya. Kemudian kami hutang-pinjam pada seorang investor kami sebanyak Rp. 170 juta. Dari uang itulah kami bisa membangun Surau yang nyaman dan enak ditempati.” Kata Kiai Ahmad Ma’shum, salah satu penggerak Hasan Ma’shum di Surau Ngarengan.    

Ketiga, menyambungkan jalinan spiritual. Kajian dalam ilmu tasawuf adalah dimensi spiritual. Dimensi spiritual ibarat angin dalam balon, balon akan membesar jika anginnya semakin banyak. Akan tetapi balon lama-lama akan mengecil jika angin dalam balon dibiarkan saja dan tidak diisi ulang. Itulah energi spiritual, akan lenyap dan menguat jika tidak diisi ulang dan diaja keberadaannya.

Salah satu langkah untuk menjaga energi spiritual dzikir agar tidak menguap lenyap adalah menjalin sambungkan hati dengan sesama pemilik dzikir. Pertemuan orang-orang ahli dzikir memberikan jalinan energi spiritual yang masing-masing dimiliki bisa semakin kuat dan semakin memberikan dampak menguatkan dzikirnya masing-masing.

Kedatangan para santri Hasan Ma’shum Palang ke Surau Ngarengan merupakan ikhtiar jelas bagi para pengamal tarekat untuk menguatkan energi spiritual yang perlu dijaga dan dirawat di dalam dirinya.

Apa yang diperoleh oleh jamaah Hasan Ma’shum Palang dari Surau Ngarengan? Jelas, tiga hal yang menjadi tujuan kedatangan tersebut telah diperoleh semuanya. Dan yang penting pula, Jamaah Ngarengan bisa saling kenal dengan jamaah Palang, dan orang Palang sudah mengetahui posisi-lokasi-keberadaan Surau Ngarengan yang kemungkinan besar bisa ditempuh dengan motor dalam kondisi yang memungkinkan.

Setelah mendatangi Surau Ngarengan, orang-orang Hasan Ma’shum Palang siap untuk mengagendakan kedatangan yang selanjutnya. “Saya siap untuk membayar semua transportasinya ke Surau Ngarengan, jika kita akan menggunakan mobil untuk rombongan.” Tegas  Darmawan, salah satu orang kepercayaan orang terdekat Bupati Lindra.      

“Setelah mengetahui posisi Surau Ngarengan, kita bisa datang ke Surau itu kapan saja dengan motor, terutama jika kita sedang berada di Lamongan atau sedang dalam perjalanan dari Surabaya”. Lanjut Faizin. 

Pos terkait