Oktober 20, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

HAKEKAT RELATIVITAS YANG SALAH DIPELAJARI OLEH ALBERT EISNTEIN DAN SAINS BARAT

oleh : Moh. Syihabuddin

Rasulullah shollahu’alaihi wassalam, pernah berkata kepada malaikat jibril. “Apa al-Huqub itu?” Jibril menjawab, “Masa yang lamanya empat ribu tahun.” Beliau bertanya, “Satu tahun disana berapa?” Jibril menjawab, “Empat bulan.” Beliau bertanya, “Satu bulan disana berapa hari?” jibril menjawab, “Empat ribu hari.” Nabi bertanya, “Satu hari di sana berapa jam?” jibril menjawab, “ Tujuh puluh ribu jam, satu jam di akhirat sama dengan satu tahun di dunia”.

Albert Einstein merupakan simbol dan capaian luar biasa tingginya peradaban Barat abad 20 M. dalam bidang yang disanjung-sanjungnya, bidang Sains. Dia merupakan fisikawan yang paling berpengaruh abad ini. Selain mampu melahirkan banyak reformasi terhadap pengertian istilah lama dalam sains Barat pria Yahudi-Jerman ini juga mampu melahirkan rumus yang cukup terkenal E=mc2 sebagai upayanya untuk menunjukkan keberadaan relativitas (perbedaan waktu antara di bumi dan diluar angkasa).

Salah satu perubahan yang ditemukan oleh albert adalah gravitasi, unsur utama pondasi argumentatif tentang alam semesta versi Barat. Jika “penemunya”, Issac Newton menyebut gravitasi sebagai sebuah gaya tarik planet atau benda langit lainnya maka tidak demikian dengan Albert yang mengatakan bahwa gravitasi adalah sebuah gelombang yang ditimbulkan oleh efek ruang waktu yang melengkung akibat rotasi dan revolusi.

Relativitas merupakan temuan Albert yang paling spektakuler, dimana dengan penemuan ini dia bisa menghasilkan istilah dilatasi waktu, pelambatan perjalanan waktu, lubang hitam (gargantua) dan juga ruang-waktu (waktu sebagai ruang) atau realitas lima dimensi dalam bentuk tiga dimensi (masa lalu sebagai ngarai dan masa depan sebagai bukit, pada setiap ngarai dan bukit terdapat ruang-ruang waktu lainnya yang saling tersambung namun tidak bisa berhubungan).

Penerusnya, Stephen Hawking sebagai ilmuwan modern abad 21 M. Tidak kalah radikal dengan Albert yang juga berhasil meneruskan proyek-proyeknya. Ditangan dan otak Hawking apa yang ditemukan oleh Albert (relativitas) seolah semakin nyata dan keberadaannya menjadi “misteri perjalanan-penjelajah” bagi para astronot (NASA). Sehingga tidak salah jika kemudian film-film Hollywood yang bergenre sains terus menkampanyekan ide-ide relativitas, luar angkasa, alien, planet lain dan piring terbang sebagai tema yang menarik untuk “mengelabui” masyarakat dunia. Semua itu lahir dari istilah yang diciptakan oleh Albert, relativitas.

***

Pertanyaan sederhananya, apakah relativitas itu ada? Tentu saja ada. Dan itu sudah disampaikan oleh Rasulullah dalam diskusinya dengan malaikat jibril. Ada perbedaan yang mencolok dan radikal antara waktu di akhirat dan di dunia.

Satu tahun di (dimensi) dunia yang kita jalani saat ini jika dibandingkan dengan waktu di (dimensi) akhirat sama dengan satu jam. Artinya, hitungan satu jam diakhirat itu adalah satu tahun putaran matahari dan bulan mengelilingi bumi.

Satu hari di akhirat adalah 70.000 (tujuh puluh ribu) jam perjalanan waktu di bumi. Jika direnungkan tentu saja perjalanan manusia modern di bumi tidak sampai satu hari di akhirat karena rata-rata hanya mampu mencapai usia 100-an tahun saja. Sehingga tidak salah jika ada yang mengatakan bahwa “kehidupan di dunia ini hanya mampir minum saja”.

Lalu satu bulan di akhirat terdiri atas 4.000 (empat ribu) hari. Dan satu tahun di akhirat sama halnya dengan empat bulan yang setiap bulannya adalah 4.000 (empat ribu) hari. Artinya, ada 16.000 (enam belas ribu) hari di akhirat untuk satu tahunya saja. Dan tentu saja di dunia ini tidak ada manusia yang berusia 16.000 tahun yang tidak mungkin pula ada manusia modern di bumi ini yang berusia satu tahun di akhirat.

Misteri “waktu” inilah yang akan dibongkar oleh Einstein melalui sains modern-nya yang konon spektakuler itu. Dia ingin membuka tabir rahasia yang diketahui oleh Rasulullah (yang diperoleh melalui Wahyu Tuhan) melalui sains fisika-nya dan “menjadikan” bahan pengetahuan Rasulullah (hadits itu) sebagai olok-olokan, akibat tidak sesuai dengan sains modern yang dibuktikan dengan penelitian.

Sebelum perkembangan sains modern dan fisika kuantum menyebar di Barat dewasa ini di dunia Islam, melalui hadits Rasulullah sudah membicarakan ruang-waktu dan relativitas, yakni melalui dimensi dunia dan akhirat yang terjadi perbedaan waktu yang cukup radikal, sebuah dunia yang akan memisahkan masa kini dengan masa depan kehidupan manusia melalui kiamat (bukan bencana). Dan inilah yang tidak diketahui oleh masyarakat Barat dengan tehnologinya dan kekuatan otaknya yang menyebabkan mereka tetap ingin “menolak” kebenaran ajaran sains-Islam tersebut.

Tapi masyarakat Barat tetap berupaya keras, melalui sainsnya untuk membongkar keberadaan ruang-waktu melalui teori relativitas yang dikembangkan Albert Einstein sekaligus memodifikasi gravitasi, sebagai unsur utama yang bisa dianggap sebagai “pengendali waktu”. Dan tetap saja sejauh ini mereka para saintis barat tidak bisa membuktikan adanya gravitasi dan hakekat gravitasi itu sendiri sebagai entitas alam semesta.

***

Lalu, Apakah bisa diwujudkan atau dibuktikan teori relativitas Einstein itu, yakni adanya perbedaan waktu antara di bumi dengan di planet lain atau di bulan “saja”? Tentu saja tidak ada yang bisa membuktikan. Mereka hanya omong kosong dan melakukan riset abal-abal untuk mengelabui masyarakat atas capaiannya yang luar biasa membuka rahasia alam semesta dengan menghabiskan anggaran milyaran dolar.

Tidak ada manusia yang pernah ke bulan pesawat atau benda “robot” dari bumi yang ke Mars (konon planet terdekat dengan Bumi), sebagaimana yang mereka gembar-gemborkan melalui jumpa pers dan siaran televisi. Tidak ada planet yang dihuni oleh alien (makhluk selain manusia), tidak ada pesawat yang mampu menembus langit dan tidak ada yang bisa menembus dimensi ruang-waktu itu. Semua itu hanya omong kosong dan khayalan sains barat saja untuk “merasa” perkasa dan “hegemonik” terhadap peradaban bangsa selainnya.

Karena ketidakmampuannya mereka inilah kemudian dicari “alternatif lain” guna membuktikannya dan menvisualisasikannya melalui film bergenre sains. Film-film fantasi pun diperbanyak dan diproduksi masal untuk lebih “mengakrabkan” masyarakat dengan keberadaan dan kebenaran teori relativitas Einstein. Jangan heran jika banyak film tentang alien, superhero vs alien, luar angkasa, perang bintang, perjalanan waktu, dimana semua itu hanya bualan yang digunakan untuk “membenarkan” kebohongan yang mereka ciptakan demi “pajak masyarakat untuk penelitian dan penjelajahan luar angkasa”.

***

Informasi yang disampaikan oleh Rasulullah tentang relativitas pada hadits di atas, yang menunjukkan adanya perbedaan waktu antara kehidupan yang dijalani di dunia dengan di akhirat adalah sebuah upaya untuk menekankan umat manusia agar lebih banyak beribadah, yakni mengingat Allah dengan berdzikir, berkomunikasi dengan Allah melalui khalwat (topobrata/i’tikaf/suluk) senantiasa menjalani perintah agama dan juga menjauhi larangan syariah.

Perjalanan waktu di dunia ini cukup singkat dan sangat sedikit sekali, “layaknya berteduh sementara”. Maka sudah selayaknya kehidupan yang singkat ini dimanfaatkan untuk “menanam” atau mempersiapkan kehidupan masa depan yang lebih panjang dan lebih nikmat di kehidupan akhirat nanti. Maka sudah seyogyanya umat manusia lebih mengedepankan waktunya saat ini untuk berlama-lama dengan Allah agar kelak di akhirat bisa berkumpul dan berlama-lama dengan Dzat Keabadaian itu.

Pesan inilah yang ingin ditolak oleh sains barat melalui keberadaan teori relativitas Einstein. Mereka ingin menolak adanya “waktu” di akhirat dan menggantinya dengan istilah lain, yakni dilatasi waktu—perbedaan waktu yang dijalani oleh dua orang yang melakukan perjalanan yang berbeda, satu di bumi dan satu di luar angkasa. Tegasnya akhirat itu tidak ada, yang ada adalah luar angkasa yang bisa dijangkau manusia dengan tehnologi, pesawat canggih, dan rekayasa alam semesta—tidak dengan mati (sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah).

Artinya, mereka ingin menolak adanya akhirat dan menggantinya dengan “adanya” semesta luar angkasa. Keberadaan luar angkasa inilah yang terus menerus mereka tunjukkan dengan membuat film, musium, dan taman pintar, namun secara riil mereka tidak pernah membuktikannya.

Dan untuk menunjukkan kebenaran atas penolakan mereka terhadap akhirat ini mereka terus menerus mengajarkan sains modern di sekolah-sekolah dan bangku kuliah, selain melalui film. Mereka juga menciptakan buku-buku yang mendukung keberadaan apa yang telah dibuktikan dengan relativitas Einstein, mulai dari pendaratan di bulan, pesawat ulang-alik, roket, satelit luar angkasa, alien, planet-planet dan benda langit lainnya. Sejak dini anak-anak sudah diajarkan “kebohongan” ini sehingga saat tumbuh remaja hingga dewasa merasa yakin bahwa “kebohongan” tersebut merupakan kebenaran itu sendiri. Padahal secara nyata mereka belum pernah merasakannya atau mengetahuinya sendiri secara kasat mata.