Oktober 31, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

Hakekat Al-Kitab (Al-Baqarah 1-5)

 

  1. Alif Laam Miin.
  2. Kitab ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,
  3. Mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.
  4. Dan mereka yang beriman kepada kitab yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya akhirat.
  5. Mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.

 

***

ALI LAM merupakan isyarat dari keberadaan Allah dan Mim adalah isyarat dari keberadaan Muhammad. Muhammad yang dimaksud adalah “Nur Muhammad” yang merupakan unsur Tuhan yang diciptakan oleh Allah sendiri sebelum seluruh alam ini diciptakan. Dari Nur Muhammad itulah segala yang ada di dunia ini bisa diciptakan dan kelak akan menjadi pembimbing bagi umat seluruh alam untuk bisa kembali disisi Allah. Sehingga antara Allah dan Nur Muhammad ini pada dasarnya adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Allah adalah Nur Muhammad dan Nur Muhammad adalah Allah.

Nur Muhammad tersebut oleh Allah diberikan (diserahkan) kepada Adam (manusia) sehingga Ia mendapatkan gelar alaihissalam dan berhak menjadi Nabi dan Rasul. Karena itulah Allah kemudian memerintahkan seluruh penghuni surga (Jin dan Malaikat) untuk bersujud kepada Adam. Sujudnya para penghuni surga kepada Adam merupakan sujud yang sesungguhnya, yakni sujud sebagaimana umat Islam sedang sholat. Hal itu diperintahkan sebagai bentuk ketundukan para penghuni surga terhadap otoritas-kesucian-kedigdayaan Allah dan keberadaan Adam yang didadanya (qalbu) ada unsur Tuhan berupa Nur Muhammad.

Pada ayat kedua keberadaan Alif-Lam-Mim sebagai reperesentasi dari Allah-Nur Muhammad ini dipertegas, bahwa (itu) merupakan “Kitab” yang tidak ada keraguan atas keberadaan-Nya sebagai kitab, yang akan memberikan petunjuk bagi orang yang “Bertaqwa”. Kitab disini yang dimaksud adalah Al-Qur’an yang sesungguhnya, yakni al-Qur’an yang tidak bisa ditulis dan tidak mempunyai bentuk suara, atau bilaa Shoutin walaa harfin. Kitab tersebut bukanlah sebuah teks, bukan sebuah mushaf atau susunan huruf-huruf yang membentuk susunan kalimat layaknya kitab-kitab buatan manusia. Akan tetapi kitab itu merupakan Nur Kenabian yang diberikan oleh Allah pada manusia (Nabi dan Rasul) yang dimasukan melalui qalbu. Pada qalbu inilah al-Kitab telah bersemayan dan memberikan petunjuk kepada manusia atas eksistensi Allah. Manusia pun bisa beribadah, tunduk dan mengabdi kepada Allah, sehingga pada gilirannya bisa mencapai kondisi Bertaqwa.

Taqwa merupakan kondisi seorang yang bisa (atau di buat menjadi bisa oleh Allah) menyatukan dirinya dengan unsur Tuhan yang berupa Nur Muhammad itu sendiri. Orang yang bertaqwa adalah orang yang di dalam qalbunya telah bersemayan Nur Muhammad, ia selalu berdzikir menyebut nama Allah sepanjang hari dan dimana pun berada. Orang yang bertaqwa tidak jauh hatinya dengan Allah, ia senantiasa menyebut-mengingat (berdzikir) kepada-Nya sepanjang hari tiada henti. Gerakan tubuhnya adalah gerakan Allah, ucapannya adalah ucapan Allah, pemikirannya adalah representasi dari pemikiran Allah, dan bahkan perbuatannya merupakan wujud dari firman Allah. Dengan demikian antara orang yang bertaqwa dengan Kitab-Nya (Nur Muhammad) adalah menyatu di dalam qalbu, dan unsur Tuhan telah menyatu bersamanya. Tanpa adanya Nur Muhammad di dalam qalbu manusia (makhluk lainnya) mustahil bisa mencapai derajad Taqwa.

***

IDENTITAS pertama orang yang bertaqwa dipertegas pada ayat ketiga yang menyebutkan bahwa orang yang bertaqwa adalah orang yang “Beriman” kepada yang “Ghaib”. Beriman disini bukan sekedar “percaya” yang berangkat dari prakiraan (intepretasi sementara) tanpa disertai dengan bukti nyata dengan mata kepala sendiri atau dengan mata batin sendiri. Beriman disini jelas, bahwa ia tahu secara nyata atas realita yang telah dihadapinya melaui petunjuk dari al-Kitab (Alif-Lam-Mim). Mustahil seorang muslim yang menyatakan beriman tanpa memiliki al-Kitab di dalam qalbunya. Karena beriman sejatinya adalah bertaqwa, dan bertaqwa sejatinya adalah memiliki al-Kitab, sedangkan al-Kitab sendiri merupakan Nur Muhammad (unsur Tuhan yang bersemayan di dalam diri manusia).

Beriman kepada yang “Ghaib” adalah mengetahui secara jelas perwujudan Tuhan dalam dirinya, karena memiliki al-Kitab (Nur Muhammad). Di mata orang lain Tuhan sangat abstrak, tidak jelas dan hanya prakiraan yang jauh dari kenyataan. Tuhan masih dalam bentuk imajinasi. Tapi di matanya (kaum yang beriman) Tuhan sangat jelas. Ia menyatu bersama-Nya dan sangat dekat sekali sebagaimana dekatnya urat nadi dengan kulit, saat manusia mendekati Tuhan dengan berjalan maka Tuhan akan mendekatinya sambil berlari.

Orang yang beriman mendapati dirinya memiliki unsur Tuhan, maka dibukalah seluruh tabir rahasia Tuhan yang tidak nyata bagi semua orang, tapi nyata bagi dirinya. Ia akan mengetahui ayat-ayat Tuhan yang orang lain tidak mengetahuinya (mustasybihat) dan akan tahu segala sesuatu yang Tuhan telah menutupnya bagi orang lain. Termasuk mengetahui keberadaan setan yang menjadi musuh yang “Nyata” bagi manusia. Di mata orang yang beriman hal ghaib berupa godaan setan menjadi nyata, tipuan dunia menjadi sangat kelihatan, dan rayuan palsu harta menjadi ada di depan mata. Kondisi tersebut pada gilirannya akan mendorong orang yang beriman memandang dunia menjadi barang yang sangat menjijikkan dan sangat hina sehina-hinanya. Dunia menjadi barang yang sedikit sekali dari hal yang paling sedikit. Sehingga mereka tidak tertarik untuk mengejarnya.

Identitas kedua orang yang bertaqwa adalah mendirikan shalat. Sholat bukan sekedar bentuk amalan ritual yang wajib dilaksanakan oleh seorang muslim (yang diawali dari takbir dan diakhiri dengan salam). Tapi sholat merupakan suatu keadaan dimana ruh-nya muslim sedang menuju ke hadirat Tuhan, mendekat ke singgasana Tuhan, dan menyatukannya dengan dzat-Nya Tuhan. Saat orang yang bertaqwa mengumandangkan Takbirah al-Ihram maka pada saat itulah ia telah berupaya untuk menyatukan dirinya bersama dzat-Nya Tuhan, dengan bekal Nur Muhammad yang ada di dalam qalbunya. Nur Muhammad yang sudah bersemayan di dalam qalbunya disatukan, dipancarkan pada Dzat-Nya Tuhan yang berada di Arsy. Ketika penyatuan antara Nur Muhammad di dalam Qalbu manusia dengan Dzat-Nya Tuhab berhasil, maka saat itulah manusia sudah bisa dikatakan mendirikan sholat. Selama hal itu tidak bisa dilakukan maka sholat tidak akan pernah terjadi pada manusia.

 Identitas orang bertaqwa ketiga adalah menafkahkan sebagian rezki yang telah Tuhan anugerahkan kepadanya. Menafkahkan adalah bagian dari bentuk upaya orang yang bertaqwa untuk bisa menggapai kondisi taqwa itu sendiri, ketika sedang mendirikan sholat. Sedekah dilakukan pada setiap hari sesuai dengan kadar kemampuan ekonominya dan kemampuan psikologisnya. Dengan bersedekah maka jalan untuk bisa mendirikan sholat dan menjadi orang yang bertaqwa akan terdorong dan terasa ringan (dengan izin Tuhan) bagi seorang muslim.

Sedekah atau menafkahkan harta tidak bisa sembarangan. Harta yang dinafkahkan harus tepat pada orang yang benar-benar berada di jalan Tuhan. Yakni orang yang kekuarangan harta yang aktif berdzikir kepada Allah.  Sedekah juga bisa disalurkan kepada sarana prasarana yang mendukung beribadah kepada Allah, mulai dari masjid, majlis dzikir, surau, dan hal lain yang mendukungnya. Sedekah secara hakiki tidak bisa diberikan atas dasar nafsu atau atas dasar kepentingan. Ia harus steril dari segala bentuk kepalsuan dan segala bentuk kebohongan. Jika sedekah bisa dilakukan dengan cara yang tepat maka sedekah akan mendorong untuk melancarkan proses penyatuan Nur Muhammad di dalam qalbu manusia dengan Dzat-Nya Tuhan.

***

PADA AYAT keempat diperjelas lagi bahwa identitas keempat orang yang bertaqwa adalah orang yang beriman kepada kitab yang diturunkan Rasulullah shallahu’alaihiwassalam dan tentunya pada kitab-kitab yang telah diturunkan kepada nabi-nabi sebelumnya. “Kitab”  yang dimaksud disini sudah jelas, bukan sebuah teks atau bentuk huruf-huruf yang membentuk kalimat hingga menjadi setumpukan mushaf. Akan tetapi “kitab” disini adalah Nur Muhammad yang telah diturunkan kepada nabi Adam, lalu diturunkan kepada nabi-nabi selanjutnya hingga sampailah pada sosok jasad Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim. Kitab itu adalah Nur Muhammad yang telah Allah ciptakan sebelum adanya ruang-waktu, yang tidak lain merupakan unsur dari Allah itu sendiri.

Dengan demikian jelas, bahwa orang yang bertaqwa tentu saja akan mengetahui dan beriman kepada kitab-kitab para nabi dan kitab al-Qur’an, karena hakekat dari kitab para nabi adalah sama dengan kitab para nabi yang lain. Hal ini pun pada gilirannya akan menegaskan bahwa semua nabi pasti (wajib hukumnya) mempunyai kitab—yang bersemayan dalam bentuk Nur Muhammad didalam qalbunya. Tanpa itu maka seorang manusia tidak akan pernah bisa menjadi sosok Nabi.

Pada ranah pembahasan “kitab” dewasa ini kita sering kali terjebak pada pengertian kitab secara palsu atau secara tekstual, yakni berupa teks yang tersusun rapi menjadi sebuah buku. Padahal kitab-kitab yang ada sekarang baik teks al-Qur’an sendiri, Injil, Taurat dan Zabur bukanlah yang dimaksud sebagai Kitab oleh firman Allah. Kitab-kitab tersebut hanyalah buku yang ditulis oleh generasi setelah keberadaan Nabi-nya beberapa tahun kemudian, sebagai pedoman untuk dijadikan aturan dan menata peradaban masyarakat. Semacam petuah bijak, catatan berita, autobiografi, atau undang-undang. Sangat bahaya sekali jika dikatakan bahwa kitab firman Allah adalah teks yang terkodifikasi (terbukukan), karena pernyataan tersebut akan mengakibatkan setiap orang bisa membuatnya dan setiap masyarakat bisa menciptakannya sesuai dengan “kepentingannya”, bukan kepentingan Tuhan. Karena pernyataan tersebut pula tidak salah jika kemudian sosok seorang penulis, ilmuwan, atau Guru yang bisa membuat tulisan atau catatan dikatakan sebagai Nabi dan karyanya sebagai kitab suci.

Orang yang beriman kepada kitab (Nur Muhammad) yang telah diperoleh oleh para Nabi sebelumnya hingga Muhammad Sallahu’laihi wassalam pada akhirnya mendorong mereka untuk percaya dan yakin atas keberadaan hari akhir. Keyakinan terhadap Hari akhir menjadi identitas kelima bagi orang yang bertaqwa.

Hari akhir merupakan hari dimana tidak ada lagi hari, ruang telah melebur dan hancur bersama waktu. Waktu berhenti dan tidak lagi melanjutkan petualangannya. Pada hari akhir yang kekal dan abadi hanya Allah, semua makhluk akan musnah dan hilang bersama kehampaan dan kekosongan. Orang yang bertaqwa pada hari akhir merasa yakin akan datangnya hari itu karena mereka (ruh-nya) juga akan kekal bersama Tuhan, karena seringnya berdzikir menyebut nama Allah dan menghidupkan sinar Nur Muhammad di dalam qalbunya. Yang menjadikan kelak ruh manusia bisa kekal di hari akhir dan tidak lenyap bersama kehancuran ruang-waktu adalah Nur Muhammad yang terus dihidupkan sepanjang perjalanan ruang-waktu sekarang. Pada konteks inilah sosok manusia yang kelak kekal di hari akhir bisa diupayakan oleh setiap orang selama di dalam qalbu mereka mempunyai al-Kitab (Nur Muhammad). Karena itulah Allah kemudian menjanjikan kepada orang yang telah memiliki al-Kitab (Nur Muhammad) akan kekal di dalam surga, karena ia menyatu bersama dzat-Nya Allah. Sedangkan orang yang di dalam qalbunya tanpa Nur Muhammad akan kekal dalam kegelapan dan kekosongan, yakni neraka, dan mereka abadi dalam kehampaannya.

***

Manusia-manusia abadi inilah orang yang bertaqwa, yang terkondisi untuk mendapatkan petunjuk supaya senantiasa beribadah dan tunduk kepada Allah. mereka sangat beruntung karena petunjuk itu dan beruntung pula karena bisa hidup kekal bersama Dzat Yang Maha Kekal. Hal inilah yang ditegaskan di ayat lima mengenahi orang yang mendapatkan petunjuk dan beruntung karena memperolehnya.