Oktober 20, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

KONFLIK ASET NU DI KARANGAGUNG; PCNU TUBAN HARUS MEMBANTU KAJI KASWAN

Oleh :

MOH. SYIHABUDDIN

Konflik aset-aset Nahdlatul Ulama di desa Karangagung kecamatan Palang sejatinya merupakan sebuah keputusan tegas yang harus ditentukan dan ditempuh oleh PCNU kabupaten Tuban. Karena jika ini ditangani oleh MWC NU kecamatan Palang atau PRNU maka kemungkinan besar tidak akan terselesaikan. Hal ini juga terjadi pada konflik aset NU dulu di Tambakboyo dan Widang, bisa selesai dan tuntas karena upaya nyata dari PCNU kabupaten Tuban.

Keputusan yang harus diambil oleh PCNU kabupaten Tuban adalah menentukan pilihan aset-asetnya, dikelolah oleh Haji Ridlwan ataukah Imam?

Jika diserahkan kepada Haji Ridlwan (Kaswan) maka harus segera melakukan tindakan nyata untuk mengusir yayasan Al-Asyhar Karangagung yang diketuai oleh Imam keluar dari tanah dan bangunan Masjid Al-Asyhar. Namun jika pilihan jatuh pada Imam dan yayasan yang baru dibentuk oleh oknum lainnya, maka PCNU kabupaten Tuban sama halnya menciderai kader-kadernya, memalukan tokoh-tokohnya, dan membuang secara tidak langsung donatur-donatur Nahdlatul Ulama di Karangagung.

Kaji Kaswan, Siapa?

Namanya Kaswan, lebih dikenal sebagai Haji Ridlwan oleh tokoh-tokoh NU di kabupaten Tuban. Beliau merupakan orang dekat, kerabat temuan dan kawan dekat Bupati Tuban dan wakilnya (Haji Fatkhul Huda dan H. Nur Nahar Husein), Haji Musta’in Syukur (ketua PCNU Tuban) dan juga tim sukses DPR RI Tuban, Ratna Juwita.

Sejak berkecimpung di yayasan Masjid Al-Asyhar beliau telah mengeluarkan segela tenaga, pikiran dan hartanya untuk pembangunan sarana dan prasarana lembaga yang dimilikinya. Pengembangan Masjid Al-Asyhar yang nampak megah, bangunan Madrasah (di Karangagung Barat) yang menjulang luas, dan pembangunan pondok untuk pengajian anak-anak santri TPQ Al-Asyhar tak lepas dari upaya beliau dalam memperjuangkan Nahdlatul Ulama di Karangagung.

Setiap ada pembangunan baru beliau pasti memberikan dana pribadinya, disamping mengumpulkan dana-dana dari pihak lainnya atau pengurus lainnya. Totalitasnya dalam perjuangan untuk pengembangan dakwah Nahdlatul Ulama di Karangagung sungguh besar. Karena beliau sadar, berjuangan di Karangagung membutuhkan kekuatan berlipat, baik tenaga, pikiran maupun finansial, karena masyarakat yang dihadapi di Karangagung sangat kompleks dan heterogen.

Maklum, Karangagung merupakan (1) pusat Muhammadiyyah terbesar di Tuban, (2) benih-benih HTI bermunculan di beberapa musholla, (3) FPI sudah ada benih-benihnya, dan (4) kaum abangan juga masih masif bergerak,  maka tidak salah tenaga, pikiran dan finansial sangat besar dan berlipat yang dibutuhkan untuk berjuang di Nahdlatul Ulama Karangagung. Sangat jelas, bahwa kemenangan Nahdlatul Ulama di Karangagung akan mematikan “musuh-musuh” Nahdlatul Ulama di Karangagung.

Kondisi ini sangat dipahami sekali oleh para sesepuh Nahdlatul Ulama di Karangagung, baik KH. Hasyim Ro’is, KH. Zainul Munzi, Kaji Kaswan, dan Kaji Idris serta tokoh lainnya. Untuk itu beliau-beliau memaksimalkan perjuangannya dalam membesarkan, menguatkan dan memperluas Nahdlatul Ulama dan misi-misi ahlussunnah waljama’ah.

Setiap terjadi proses Pemilu di Karangagung Kaji Kaswan merupakan tokoh garda terdepan dalam pengibarkan bendera PKB. PKB dibesarkan dan dibiayai dengan uang pribadinya sendiri. Pada waktu HUDANOOR Jilid I beliau juga panitia utama yang mengelolah konstituen NU agar tetap komitmen menjadi pemilih calonnya dari Nahdlatul Ulama.

Singkat cerita, Kaji Kaswan adalah orang NU, pengurus NU, orang dekat bupati Tuban, donatur pendanaan NU, pemikir di NU dan orang yang totalitas membantu caleg-caleg NU untuk ke parlemen. Beliau merupakan orang yang sudah 100% Nahdlatul Ulama, bahkan beliau sesumbar bahwa “darah saya NU, jika tidak percaya silahkan tusuk tubuh saya biar jelas kalau saya NU,” tegasnya dalam sebuah ungkapan.

Beliau adalah tokoh utama Yayasan Masjid Al-Asyhar yang mendirikan BPPMNU Masjid Al-Asyhar untuk menjaga aset-aset Nahdlatul Ulama agar bisa dikelolah secara profesional.

Imam (Hafas), siapa dia?

Dialah orang, tokoh utama, ketua dari Yayasan Al-Asyhar Karangagung yang didirikan tepat setelah pengurus Yayasan Masjid Al-Asyhar membentuk BPPMNU Masjid Al-Asyhar. Dialah “panglima” yang menghadapi tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama di Karangagung dalam konflik memperebutkan aset-aset NU di Karangagung.

Imam merupakan mantan caleg Golkar dua kali yang gagal jadi. Dia merupakan orang luar yang tidak ada keterkaitannya dengan Nahdlatul Uiama di Karangagung. Tidak pernah dia menjadi pengurus Nahdlatul Ulama, menyumbang untuk Nahdlatul Ulama, dan membesarkan Nahdlatul Ulama. Semua tenaga dan pikirannya hanya untuk Partai yang ditempati.

Dia merupakan saudara dari kepala MTs Al-Asyhar Karangagung, Muhibbin yang membelot dari pengurus sepuh Nahdlatul Ulama Karangagung. Kemungkinan besar, Imam dipanggil oleh Muhibbin untuk membantu keputusannya menghadapi para pengurus sepuh, melawan para kiai dan menggagalkan upaya pengurus untuk menjaga marwah Nahdlatul Ulama Karangagung. Dan kenyataannya, sejak adanya Imam itu para oknum guru di lembaga Al-Asyhar memberanikan diri untuk membentuk yayasan al-Asyhar Karangagung guna melumpuhkan kemampuan para kiai dan sesepuh.

Cara Santun versus cara Radikalis-Ekstremis

Dalam merespon konflik yang dihadapi oleh lembaganya Kaji Kaswan menggunakan cara-cara yang santun. Beliau mengembalikan semua keputusan kepada PCNU Tuban. Semua ketua PCNU Tuban sudah disowani untuk dimintai saran, solusi dan pertolongan, mulai dari (1) H. Mustain Syukur—ketua Tanfidziyah, (2) Ahmad Zaini—ketua I, (3) Dr. Amenan—ketua II, dan (4) H. Muhammad Rowi—ketua III. Itu dilakukan sejak bulan Februari 2019 lalu.

Dan sampai hari ini belum ada langkah riil dan kongkret dari para pengurus PCNU Tuban. Seolah urusan ini bukan bagian dari masalah Nahdlatul Ulama. Padahal yang menghadap kepada tokoh PCNU Tuban sudah jelas, orang dan tokoh NU. Dan cara yang ditempuh juga dengan cara yang santun. Sowan ke kepengurusan yang lebih tinggi dan tidak kasar, kusruh atau brutal dalam mengambil kebijakan.

Hal ini berbeda dengan cara-cara yang ditempuh oleh oknum anak-anak muda yang berprofesi sebagai karyawan di yayasan Masjid Al-Asyhar, yang dibantu oleh Imam. Cara mereka sangat tidak santun dan kurang mengedepankan sopan santun layaknya warga Nahdlatul Ulama.

Mereka secara sepihak (1) membentuk yayasan baru untuk menghadapi para sesepuh dan para kiai di Karangagung—tanpa melibatkan para pendiri yayasan lama (sesepuh), lalu (2) membangun papan nama (yayasan-nya) secara permanen dengan menggempur bangunan lama tanpa izin, (3) mengadakan pengajian dan akhir sanah tanpa melibatkan para sesepuh Nahdlatul Ulama—seolah pengurus sepuh “ditampar” kehormatannya, dan (4) terus melakukan pembangunan fisik seolah mengakui bahwa seluruh aset-aset itu miliknya—bukan milik Nahdlatul Ulama.

Penutup; NU, sudah jelas harus kemana

Dengan melihat sekilas kondisi kedua belah pihak, Kaji Kaswan dengan BPPMNU Masjid Al-Asyhar-nya, yang dibentuk oleh LP. Ma’arif NU Kabupaten Tuban disatu pihak dengan Imam dan Muhibbin dengan Yayasan Al-Asyhar Karangagung (baru adanya) di pihak lain. Pengurus PCNU kabupaten Tuban jelas harus memihak kemana.

Jika memihak pada Kaji Kaswan maka PCNU kabupaten Tuban telah melangkah dengan benar, tidak tersesat dalam memberikan keputusan. Namun jika memilih Imam-Muhibbin maka PCNU kabupaten Tuban telah memilih jalan yang sebaliknya. Memilih tokoh muda yang belum terbukti sama sekali sumbangsihnya di Nahdlatul Ulama.

Melihat kondisi ini, maka sudah seharusnya PCNU Kabupaten Tuban harus melangkah dengan benar, dan tidak tersesat memilih keputusan yang salah. Karena jika keputusan salah telah ditempuh maka Nahdlatul Ulama berpotensi kehilangan Kaji Kaswan dan kawan-kawan yang sudah lama berjuang untuk Nahdlatul Ulama.

Kemungkinan terjelek pasti terjadi jika PCNU kabupaten Tuban tidak bertindak dengan cepat, Kaji Kaswan akan memilih memberikan bantuan pikiran, tenaga dan finansialnya untuk Muhammadiyah di Karangagung.