Oktober 31, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

GURU DAN SISWA DI ANTARA BENTURAN LAYAR HANDPHONE 

oleh : Defrilla Wiancipta Kumalasari

 

Pengantar

Zaman selalu mengalami kemajuan, zaman tidak pernah mundur untuk berubah. Pada zaman ini terjadi sebuah kemajuan dan perkembangan teknologi yang sangat cepat dan pesat. Sebagian besar manusia prilakunya dipengaruhi oleh pesatnya perkembangan dan kecanggihan teknologi khususnya adalah adanya akses internet yang saat ini sangat mudah.

Banyak manusia yang terbuai akan adanya kecanggihan teknologi tanpa mereka sadari hal tersebut melupakan beberapa aspek lain dalam menjalani kehidupan. Pada beberapa persoalan diantaranya manusia lupa pentingnya membangun relasi dengan orang lain, perlunya melakukan aktivitas sosial di dalam masyarakat, dan pentingnya menghargai sesama manusia.

Salah satu hal yang menjadi perlu dipahami betul adalah soal pendidikan. Kemajuan teknologi yang dibarengi dengan adanya kemudahan akses internet dimanapun menjadi faktor besar yang merubah sistem pendidikan saat ini. Seharusnya perlu banyak kesiapan untuk mengorelasikan bagaimana anak-anak dididik dengan sistem pendidikan yang memanfaatkan layanan internet. Tentunya semua menyadari bahwa pendidikan adalah hal vital untuk dijalankan, sebab dari pendidikan generasi masa depan akan diciptakan

Outokritik Pendidikan

Dalam dunia pendidikan mengutip dari pernyataan Ki Hajar Dewantara (dalam Dewantara I, 2004) pendidikan adalah sebuah proses pemberdayaan, yaitu satu usaha memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi baru dalam masyarakat yang tidak hanya bersifat pemeliharaan tetapi dengan maksud memajukan serta mengembangkan kebudayaan menuju ke arah keluhuran hidup kemanusiaan.

Berdasar pada pernyataan tersebut tentu penting sekali memberikan proses pendidikan yang inovatif dengan memanfaatkan kemajuan teknologi tanpa menghilangkan nilai-nilai kebudayaan yang ada pada satu wilayah dan kawasan tertentu. Sebagai proses pemberdayaan pendidikan tidak hanya dimaknai dengan guru memberi pengetahuan dan tugas kepada siswanya, akan tetapi sebagai bentuk pemberdayaan tentunya harus ada pendampingan dan penilaian yang menjadi kewajiban seorang guru.

Sedikit mengkritik proses pendidikan saat ini, adanya kemajuan teknologi seorang guru dalam memberikan tugas untuk siswa tidak lagi disampaikan secara lisan justu disampaikan lewat chat via WhatsApp, berbagi link untuk materi tugas dan siswa dituntut untuk mengerjakan secara langsung dengan memanfaatkan teknologi komunikasi tersebut. (Pergeseran  sistem pendidikan ini saya mulai perhatikan sebelum ada Fitnah Corona).

Kelas sebagai ruang untuk menjalankan proses pendidikan kini agaknya hanya menjadi ruang berkumpul anak-anak untuk main game dengan fasilitas wifi sekolah. Bukan untuk ruang berdialog dan berdiskusi antara guru dan siswa sebagimana seharusnya. Contoh kasus yang pernah saya dengar guru datang ke kelas hanya memberikan tugas dan nanti perintahnya adalah cari tugas ini di internet. Apakah itu yang disebut sebagai pendidikan sesuai yang dijabarkan oleh Ki Hajar Dewantoro yang menyebut pendidikan adalah sebuah pemberdayaan? Saya rasa tidak.

Seorang siswa yang berangkat dari rumah untuk belajar nyatanya tidak mendapatkan haknya untuk mendapatkan pedidikan. Di sekolah sama saja dia belajar dnegan layar handphone. Kemajuan teknologi yang dikorelasikan dalam bidang pendidikan saya rasa sangat perlu untuk dikaji kembali. Bukan soal mengikuti zaman nayatanya pendidikan adalah dasar pembentuk bagiamna generasi masa depan tercipta. Jika dalam proses membentuk dan mendidik saja ada yang tidak sesuai bagaimana mungkin generasi masa depan menjadi generasi yang bisa memberikan perubahan.

Bagaimana siswa paham makna pemberdayaan dan makna kebudayaan jika semua harus dicari tahu dari layar handphone. Apakah bisa siswa tahu, hafal dan paham makna Bhinneka Tunggal Ika yang ada pada burung garuda jika dia mencari di internet, apakah diinternet akan disampaikan bagaimana perjuangan para pahlawan jika hanya melihat diinternet. Bahkan dalam banyak versi tentu di internet validitasnya masih belum bisa teruji. Pemahamannya pasti akan berbeda antara siswa yang satu dengan yang lainnya, karena sumbernya juga pasti berbeda tapi tidak ada diskusi untuk menyatukan pemahaman justru tugas hanya dikumpulkan untuk sebuah nilai saja.

Solusi yang coba saya berikan praktik pendidikan tidak harus lewat ruang kelas bisa jadi daring tapi yang utama ada proses diskusi dan proses pengajaran anyara guru dan siswa artinya apa bahwa memanfaatkan kemajuan teknologi berupa internet justru bisa menjadi salah satu alternative yang tepat untuk guru belajar tentang materi yang akan diberikan kepada siswanya. Guru tetap menjadi sosok yang nyata menjalankan tugasnya, bukan justru guru hanya memberikan perintah untuk siswa mencari sendiri. Itu akan jauh lebih tepat diterapkan menurut saya, dan tentunya siswa akan lebih menghormati apa yang disebut sebagai guru.

Mengingat Kembali Ki Hajar Dewantoro

Saya rasa banyak yang harus dipertimbangkan untuk menjadikan pendidikan berkorelasi langsung dengan kemajuan teknologi yaitu internet. Hal yang perlu dan utama dipikirkan adalah tentang generasi masa depan sebagai agen perubahan. Sangat perlu mereka terbentuk dan terdidik secara tepat.

Jika tidak mau kehilangan kebudayaan-kebudayaan yang ada tentu perlu penerapan pendidikan sesuai dengan yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantoro, bahwa pendidikan adalah sebuah pemberdayaan. Tentu jika pemberdayaan perlu pendampingan yang seharusnya pendidikan adalah guru dan siswa bukan siswa dengan layar handphone.