Oktober 25, 2021

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

GRESIK DAN TUBAN, BAROMETER MASA DEPAN TAREKAT INDONESIA

Jama'ah Hasan Ma'shum Tuban setelah mengikuti kegiatan haul ke-7 di surau Sugihwaras Tuban.

oleh : Mohammad Syihabuddin

Ahad 15 Nopember 2020, merupakan hari istimewa bagi murid-murid tarekat di Hasan Ma’shum. Karena pada hari itu merupakan hari berlindungnya sang Guru Mursyid atau Haul ke-7 berlindungnya sang “Ayahanda Guru”.

Akibat fitnah pandemic yang dikenal dengan covid-19 maka kegiatan murid-murid Hasan Ma’shum dibatasi di daerahnya masing-masing. Mereka tidak bisa berpergian ke Jakarta untuk melakukan kegiatan tahunan di makam Gurunya. 

Biasanya di bulan Nopember, setiap tahun (sejak tahun 2013) jama’ah Hasan Ma’shum mengadakan acara Suluk Haul, Ziarah, dan Pengajian Ilmiah serta ramah tamah saudara yang di pusatkan di Jakarta. Anggotanya dari berbagai penjuru berkumpul dan berdatangan ke kelurahan Bambuapus.

Dengan adanya covid-19 maka kegiatan tahunan itu ditiadakan di Jakarta dan pada gilirannya masing-masing daerah menjalankan acara tersebut di tempatnya masing-masing.

Haul di Dua Surau

Dua Surau Hasan Ma’shum, Surau Gresik dan Tuban adalah daerah yang menyelenggarakan acara tahunan haul itu dengan caranya sendiri-sendiri. Mereka tetap menjalankan kegiatan itu sebagai wujud ta’dzim dan khidmatnya terhadap Guru-nya yang sudah berlindung.

Di Tuban, acara haul berjalan cukup meriah dan hadiri oleh hampir seluruh jama’ah Hasan Ma’shum di hilqoh-hilqoh Tuban. Jama’ah dari hilqoh Palang, Tuban kota, Rengel, Bogorejo-Merakurak, Gaji-Kerek, Karanglo-Kerek, Bancar, Parengan, Bangilan, dan Bojonegoro serta Sarang-Jawa Tengah berdatangan dan memenuhi seluruh ruangan utama Surau di desa Sugihwaras-Jenu.

Setiap jama’ah aktif menyediakan dua kotak nasi untuk dibawa ke Surau sebagai konsumsi jama’ah lainnya. Sehingga semua jama’ah bisa mendapatkan jatah konsumsi secara merata—terutama jama’ah yang tidak aktif namun datang pada malam acara itu.

Acara haul di Tuban di mulai dengan tawajuh ba’da isya’, lalu dilanjutkan dengan tahlil yang dipimpin oleh Haji Muqodim. Dilanjutkan dengan sambutan dari ustadz Alfian selaku wakil pengurus Pusat Hasan Ma’shum, pembacaan silsilah tarekat oleh Budi Utomo dan ditutup dengan pemutaran video fatwa-fatwa sang Ayahanda Guru.

Di Gresik, acara haul dimulai sejak pagi dengan bacaan al-Qur’an bil Ghoib oleh putranya Kiai Maftuh. Lalu dilanjutkan pada acara tahlil dan langsung disambut dengan ceramah dari Haji Sumono Eko, serta di tutup dengan pemutaran video fatwa-fatwa sang Ayahanda Guru.

Acara malam itu dihadiri oleh jama’ah seluruh Gresik yang tersebar di beberapa desa di daerah Gresik utara, sehingga Surau yang terletak di Sidayu kota itu penuh sesak dengan jama’ah yang berseragam putih-putih.

Dibalik Berkah “Fitnah”

Adanya fitnah akibat covid-19 memberikan berkah tersendiri bagi jama’ah Hasan Ma’shum di jawa Timur—sebagai daerah dengan jama’ah terbanyak di Indonesia—yang semakin menunjukkan adanya dinamika yang unik dan menarik.

Dengan adanya haul di dua surau ini, maka semakin nampak jelas bahwa pusat peradaban Islam di masa depan yang dikembangkan oleh kaum tarekat tetap akan bergeser dan sekaligus berpusat di Jawa Timur.

Di Gresik dan Tuban inilah kelak masa depan kaum tarekat akan tumbuh dinamis, konstruktif dan kreatif-inovatif. Di kedua daerah inilah kelak akan tumbuh kader-kader kreatif tarekat yang mampu mengembangkan dan menyebarkan ilmu tasawuf—yang tentunya akan menunjang dan menompang eksistensi peradaban Islam dunia.

Di Tuban akan berkembang dengan karakternya sendiri yang lebih bisa diterima masyarakat Tuban, begitu juga dengan di Gresik akan mengembangkan dakwah tarekat-nya dengan karakter yang berkembang di lingkungan masyarakatnya sendiri pula.

Masyarakat Tuban yang cenderung mistis-lateralis akan mengembangkan tasawuf pada konteks tradisi dan budaya yang berkembang di tengah kehidupan masyarakatnya. Sedangkan masyarakat Gresik yang cenderung tekstualis-literalis akan mengembangkan tasawuf pada konteks keilmuan yang berkembang di pesantren-pesantren Indonesia.    

Kenyataan ini akan semakin menunjukkan bahwa Jawa Timur (akan) selalu menjadi pusat pengembangan Islam di Jawa, sekaligus wujud dari pembentukan Islam di Indonesia dan Islam di seluruh dunia.

Dinamika yang Menarik

 Eksistensi dan aktualisasi jama’ah Hasan Ma’shum di Tuban dan di Gresik menunjukkan adanya dinamika yang menarik bagi sumber pengetahuan dan keilmuan Islam. Islam, dalam konteks peradaban dunia tampak terlihat jelas memiliki warna yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman dan ruang lingkup kehidupan kini-yang akan datang.

Ada warna keilmuan yang saling melengkapi bagi perkembangan tasawuf di Gresik dan Tuban, sehingga masyarakat bisa saling belajar dan mengkomunikasikan khazanah yang dikembangkannya di masing-masing dua daerah ini. Warna-warna inilah yang memberikan kontribusi penting dan sangat berharga.  

Dari Gresik dan dari Tuban, masyarakat Indonesia dan komunitas dunia bisa belajar mengembangkan dan mewarnai eksistensi Islam sebagai agama yang rahmatan lil’alamin. Kedua daerah di pesisir pantai utara Jawa ini tetap akan menjadi bagian penting bagi masa depan peradaban Islam, sebagaimana yang telah berkembang di masa lalu.

Pantura, basis klasik-modern

Di Tuban ada makam Syeikh Ibrahim Asmoro Kondi dan Sunan Bonang. Di Gresik ada makam sunan Giri dan Syeikh Maulana Malik Ibrahim. Makam-makam ini merupakan ikon bagi kedua kota ini sebagai kota wali yang memiliki posisi strategis di masa lalu dan nilai tawar yang tinggi di masa kini.

Para wali, di desa tempat makamnya berada telah sukses membangun “pusat peradaban Islam” di Jawa yang menjadi titik awal menyebarnya kekuatan Islam terbesar di dunia. Dari Gresik dan Tuban inilah para wali berhasil secara sempurna membentuk masyarakat yang multicultural, toleran, moderat, dan tentunya saling menghargai perbedaan dan keanekaragaman dalam konteks berketuhanan—tanpa adanya peperangan besar yang melibatkan operasi militer.

Di empat makam tersebut, saat ini masyarakat muslim Indonesia dan dunia rajin berziarah dengan maksud meneladani dan melestarikan kebudayaan yang telah dikembangkan oleh para wali. Hamper setiap hari, keempat makam ini tidak pernah sepi dari para pengunjung, hanya untuk sekedar berdoa dan mendoakannya.

Kenyataan ini menunjukkan bahwa posisi Gresik dan Tuban, di masa lalu dan masa kini tetap memiliki harga peradaban yang sangat menentukan bagi eksistensi umat Islam. Apalagi jika dilihat dari dinamika yang telah dikembangkan oleh jama’ah Hasan Ma’shum akan semakin memberikan “garis keturunan peradaban” bagi kedua daerah ini. Gresik dan Tuban menjadi basis klasik sekaligus modern.

Tinggal menunggu waktu

Dan akhirnya, tinggal menunggu waktu bagaimana kedua daerah ini kelak akan terus tumbuh dan berkembang (di masa depan), dari mata air pengetahuan dan kebudayaan yang mengalir dari kedua Surau Hasan Ma’shum di Sidayu-Gresik dan Sugihwaras-Tuban.

Di kawasan Pantura Jawa inilah Islam di masa lalu telah berkembang, dan posisi jama’ah Hasan Ma’shum ini pula yang paling berperan dan menentukan di masa depan—tanpa harus terikat dengan label formalitas dan perspektif legalitas standard Barat.

Gedungombo, 25 Nopember 2020