Oktober 20, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

GELOMBANG GRAVITASI, IDE SERAMPANGAN UNTUK MENAKLUKKAN RUANG-WAKTU

oleh: Moh. Syihabuddin

Setelah gagal membuktikan secara ilmiah bahwa gravitasi merupakan gaya tarik, kini mereka mengubah gravitasi sebagai gelombang. Argumen tentang gravitasi sebagai gelombang pun bertebaran dan penelitian tentangnya sudah dikembangkan dan dipublikasikan, terutama oleh para penerus Albert Einstein.

Mengapa mereka mengubah gravitasi menjadi gelombang, ternyata tidak hanya menghindari kegagalan tentang teori ‘gaya tarik’ bumi, tapi juga untuk menaklukkan apa yang menjadi batas antara manusia, jin, malaikat dan Tuhan, yakni ruang-waktu.

Ruang-waktu inilah yang menjadi kunci keberadaan dimensi nyata dan dimensi ghaib. Dan dengan adanya gelombang gravitasi tersebut mereka akan membuktikan bahwa manusia bisa memasuki ruang-ruang yang memiliki waktu yang berbeda dengan manusia, termasuk memasuki dimensi Tuhan.   

Mengatakan gravitasi sebagai gelombang memungkinkan mereka memunculkan istilah-istilah baru, diantaranya gargangtua, lubang hitam (black hole), ruang-waktu yang terbentuk tiga dimensi dalam realitas lima dimensi, dilatasi waktu, mesin waktu (perjalanan ke masa lalu dan masa depan), dan masih banyak lagi, yang semuanya berhubungan dengan ‘penaklukan ruang dan waktu’.

Dalam ‘menaklukkan’ ruang—dimana hal itu juga dimaksudkan untuk menghancurkan kekuasaan ‘hegemoni Tuhan’ dalam kepercayaan masyarakat beragama—mereka melakukannya dengan perjalanan luar angkasa. Perjalanan ke luar angkasa ini seolah membuktikan bahwa langit singgasana Tuhan itu tidak ada.

Lalu dalam ‘menaklukkan’ waktu—dengan maksud sama untuk melampaui kekekuasaan Tuhan—mereka melahirkan istilah baru, yang disebut dengan relativitas. Adanya teori relativitas inilah yang memungkinkan manusia bisa melakukan perjalanan antar waktu, bukan antar tempat lagi, bukan antar planet dan antar galaksi lagi, tapi lebih tinggi lagi.

Dan pada gilirannya, apa yang seharusnya tidak mampu dilakukan oleh manusia ternyata mereka bisa melakukannya dan ternyata juga ‘kekuasaan’ Tuhan telah diruntuhkan dengan munculnya teori relativitas, alien, dan lubang hitam.

Dengan demikian, mereka bisa mengklaim—melalui riset dan tehnologinya—kiamat yang diramal oleh kitab-kitab suci agama-agama dunia hanya bencana dan bisa diatasi (oleh mereka) dengan pindah planet atau memciptakan stasiun sendiri dengan rekayasa gelombang gravitasi.

Dengan dimunculkan ide “gravitasi sebagai gelombang” ini maka pemikiran untuk menciptakan kendaraan antar waktu, perjalanan ke masa lalu dan perjalanan ke masa depan memungkinkan untuk dilakukan.

Mereka sepertinya merasa sudah menemukan cara untuk menaklukkan waktu dan ruang-ruangnya, sehingga keberadaan Tuhan itu memang benar-benar tidak ada.

Mereka juga menyakini telah melihat apa yang disebut dengan ruang hampa waktu, suatu tempat yang waktu terdistorsi—yakni lubang hitam. Menurut mereka, lubang hitam ini merupakan inti sisa-sisa dari benturan bintang di masa lalu yang membentuk galaksi-galaksi di alam semesta.

Di lubang hitam ini waktu bisa dibolak-balik. Waktu bisa melambat/dilambatkan dan dipercepat. Pada lubang hitam ini sebuah perjalanan yang dipercepat akan menjadi lambat, sehingga mereka juga bisa ‘menjadi sangat muda dengan usia yang mencapai 100 tahun, misalnya.

Karena adanya (teori) gelombang gravitasi inilah, mereka mengklaim ‘akan bisa’ merekayasa lubang hitam dan menciptakan stasiun-stasiun yang mirip dengan planet dan bisa digunakan untuk meninggalkan bumi (jika sudah terjadi kiamat dan rusak).

Dewasa ini, melalui kampus dan lembaga-lembaganya mereka terus-menerus melakukan riset untuk melihat riak-riak gelombang dengan segala tehnologinya. Pada sebuah jurnal dan acara televisi mereka akan mempublikasikan hasilnya, bahwa mereka telah melihat riak-riak gelombang gravitasi tersebut dan merasa melihat ada kehidupan lain selain manusia. Lalu hasilnya, kepercayaan agama ‘segera’ runtuh.   

Karena hari ini mereka belum bisa mewujudkan ‘perjalanan antar waktu itu’, maka satu-satunya cara untuk membenarkan cara berfikirnya mereka (teori-teorinya—bumi bulat, dll) mengkampanyekannya lewat rekayasa film-film sains fiksinya dan seolah semuanya bisa ditaklukkan dengan tehnologi-sains.     

Inilah ide serampangan mereka (teori bumi bola) tentang menaklukkan ruang waktu dan mereka juga ‘berencana’ akan mengulang waktu lalu mengubah zaman. Semuanya akan dilakukan dengan tehnologi dan sains. Padahal semua itu mustahil dilakukan oleh manusia. Sampai kapanpun tidak akan ada tehnologi yang memiliki kecepatan seperti cahaya lalu bisa menembus ruang-waktu menuju ke masa depan atau ke masa lalu. Semuanya itu hanyalah kebohongan untuk mengamankan keberadaan teorinya dan anggaran yang ada dibaliknya.