Gagal Juara EPL, Terbukti Arsenal tidak Mendapatkan Mukjizat dan Keajaiban Alam Semesta

Kegembiraan pemain-pemain Arsenal dalam sebuah pertandingan mengalahkan FC. Porto dalam drama adu penalti. Kegembiraan ini tidak didapatkan dan dilakukan oleh Arsenal dipertandingan terakhirnya yang menang 2-1 melawan Everton, karena mereka tidak mendapatkan mukjizat dan keajaiban alam (untuk berharap Man-City kalah).

kitasama.or.id Tuban – Dengan capaian yang luar biasa sepanjang musim 2023-2024 Liga Inggris, mulai (1) kemenangan terbesar melebihi kemenangan era The Invinsibles, (2) (3) kemasukan gol paling sedikit, (4) pencetak gol terbanyak, (5) pertahanan paling kuat, (6) kemenangan lima kali berturut-turut lebih dari lima gol, hingga (7) berhasil mengalahkan dua kali juara bertahan, tetap tidak bisa mengangkat derajad Arsenal sebagai juara di akhir musim.

Nampaknya Arsenal bukanlah pilihan alam semesta untuk menjuarai EPL musim ini—tidak tahu musim yang akan datang, kapan lagi kami bisa menunggu mengangkat tropy liga dengan hadiah tertinggi di dunia ini. “Lelah rasanya mendukung Arsenal tanpa ada juara dan tanpa ada prestasi yang bisa dipamerkan pada pendukung tim lain.”

Bacaan Lainnya

Sekeras apapun berjuangan Arsenal, sekuat apapun tembok pertahanan Arsenal dan sehebat apapun pendukung Arsenal memberikan dukungannya tetap tidak bisa mengubah “keputusan” alam semesta untuk menjadikan Arsenal sebagai klub “cukup” dengan posisi runner up.

Tidak ada mukjizat yang dimiliki Arsenal, dimana hal itu sangat diharapkan pada dua pertandingan terakhir Man-City menghadapi Tottenham Hotspur di London dan West Ham di Manchester. Tidak terjadi mukjizat apa-apa dalam dua pertandingan tersebut, Man-City tetap perkasa dan tetap ganas menghabisi Tottenham dan West Ham.

Tidak ada keajaiban yang terjadi pada kedua pertandingan tersebut, walaupun Arsenal sudah berkerja keras mengalahkan Manchester United di Old Traford 0-1 dan mengalahkan Fulham di Emirates 2-1 tetap saja yang lebih ajab justru Manchester City yang berhasil mengalahkan teman atau tetangga sekota Arsenal 0-2 dan 3-1.

Arsenal, oh Arsenal. Begitulah judul tulisan tabloid Bola tahun 2002 dulu ketika saya membaca dan menyaksikan kegagalan Arsenal di Liga Champion dan sekaligus kegagalan mempertahankan gelar juaranya.

Kalimat itu layak diberikan kepada Arsenal karena ketiadaan mukjizat dan keberuntungan yang tidak dimilikinya. Arsenal menjadi klub yang jauh dari keselarasan alam semesta dan tidak bisa mendapatkan aura dari rotasi bulan dan matahari. Kekalahan Arsenal dalam perjuangan memperebutkan juara EPL benar-benar sebuah petaka yang sakit dan menyakitkan.

Banyak kemenangan yang dicapai oleh Arsenal dengan jumlah gol yang sangat produktif, melebihi produktifitas klub-klub yang lainnya. Arsenal berhasil mengalahkan West Ham 6-0, Chelsea 5-0, Cristal Palace 6-0 dan Luton Town 4-0. Tapi buat apa kemenangan dengan tiap gol sebanyak itu jika ujung-ujungnya, ending ceritanya Arsenal tidak bisa mengangkat tropy Liga Inggis. Hal itu sama halnya dengan berpacaran dengan gadis cantik, yang dibina dan didik hingga pintar, lalu berprestasi dan bisa berkarir dengan baik, tapi ujung-ujungnya yang menikahi adalah orang lain.

Sakit, sungguh sakit menjadi pendukung Arsenal. Merasa menjadi penunggu tropy-nya Man-City dan merasa “menjadi musuh Bersama” klub sesame London.

Berharap ada keajaiban dan keberpihakan alam semesta, eh…ternyata malah harapan hanya menghasilkan rasa sakit dan penyesalan. Keajaiban itu tidak kunjung datang dan menghampir Arsenal di Emirates stadium, dan memang sejak pindah dari Highbury ke Emirates Arsenal selalu menjadi klub yang gagal juara dan tidak pernah mendapatkan rahmat dan belas kasih sayang dari sang Maha Penguasa Alam Semesta.  

Mukjizat dan keajaiban alam semesta memang tidak bisa diminta dan diharapkan, dia akan muncul sendiri dan akan hadir dengan sendirinya (hanya) jika disertai dengan jerih payah kerja keras, istiqomah (konsistensi), roja’ (berharap menang terus) dan pastinya dengan qonaah (menerima apa adanya). Dan kita tahu, bahwa Arsenal tidak memiliki semua itu, justru dimiliki oleh Manchester City—sehingga wajar saja jika yang juara adalah Manchester City dan berhak menerima hadiah jutaan euro dari the FA (PSSI-Inggris).

Idealnya, tahun ini merupakan tahun terbaik siklus keberhasilan Arsenal, karena pada 20 tahun yang lalu-lah Dennis Bergkamp dan teman-temannya berhasil mendapatkan rekor juara tanpa kekalahan dan hanya 14 kali seri, atau meraih predikat The Invinsibles. Tahun itu merupakan musim kompetisi 2003-2004.

Seharusnya pada tahun ini, di musim 2023-2024 Arsenal harus bisa memanfaatkan momentum dua puluh tahun tersebut dan bisa meraihnya dengan disertai kerja keras dan konsistensi—lalu menjuarai EPL dengan banyak rekor yang sudah diraihnya.

Tapi apa daya, para staf dan official Arsenal gagal mengambil berkah dari “siklus dua puluh tahunan” itu, mereka tidak serius mengambil kesempatan dari alam semesta tersebut, sehingga Arsenal pun tidak mendapatkan berkah dari siklus yang bisa mengantarkannya juara.

Mungkin karena kesombongan, keterlaluan percaya diri atau mendapatkan “doa-doa buruk” dari tetangga-tetangganya (Chelsea, West Ham, Cristal Palace, dan lain-lain) hingga alam semesta tidak memberikan keberpihakannya kepada Arsenal. Dzat Yang Maha Tinggi tentu hanya akan memberikan siapa yang layak dan lebih konsisten “menyerap” energinya yang menyebar di alam semesta, dan itulah yang telah diperoleh oleh Man-City, bukan Arsenal.

Pos terkait