Gagal Juara EPL, Seharusnya Arsenal Tidak Perlu Melakukan “Geladih Bersih Juara”

Seolah tidak ada gunanya, Gol pamungkas Kai Harvest pada pertandingan terakhir pekan ke-38 melawan Everton di Emirates Stadiun menggagalkan cita-cita mereka untuk menjuarai EPL edisi 2023-2024. Penantian mereka selama 20 tahun hanya berakhir pada posisi runneer up dan tetap puas bisa melakukan pertandingan Community Shield dan Liga Champian Eropa musim depan.

kitasama.or.id Sebuah pengalaman yang memalukan dan menyakitkan bagi Arsenal dalam kegagalannya menjuarai EPL 2023-2024 adalah melakukan “geladih bersih juara”, seandainya saja Arsenal dengan kemenangannya melawan Everton 2-1 bisa menjuarai EPL, dan Manchester City gagal mengalahkan West Ham.

Takdir ternyata bicara lain, tidak ada mukjizat untuk pertandingan pekan ke-38 di EPL, tidak ada keajaiban bagi West Ham untuk bisa menumbangkan “keperkasaan” Manchester City, dan Arsenal tetap harus puas dengan kerja kerasnya ditempatkan di Runner up Liga Inggris edisi 2023-2024.

Bacaan Lainnya

Sebelum pelaksanaan pertandingan pekan ke-38 (minggu 19 Mei 2024) Arsenal dan Manchester City mempunyai peluang yang sama untuk “memungkinkan” juara. Segala aksesoris, perlengkapan, miniature tropy juara pun dipersiapkan di dua tempat, yakni di Emirates Stadiun dan di Etihad Stadiun, oleh pihak penyelenggara kompetisi.

Kedua tim pun mendapatkan kesempatan yang sama untuk melakukan “geladih bersih” merayakan juara—seandainya salah satunya juara. Bahkan tropy juara pun sudah disiapkan dua buah, untuk memberikan peluang “mengangkat”-nya bagi kedua tim di masing-masing tempat kedua tim melangsungkan pertandingan terakhirnya.

Jika melihat hasil sementara, Arsenal yang kalah angka dua poin dari Manchester City—sebelum pertandingan pamungkas—seharusnya bisa menyadarkan Arteta untuk sadar diri, legowo, tahu diri, dan tidak “gumedeh” bahwa dirinya pasti bisa juara menyingkirkan Manchester City. Karena lawan Man-City hanyalah tim yang pernah dikalahkan Arsenal 6-0 pada pertemuan keduanya pertandingan mereka, dimana hal itu akan sangat mudah dilakukan oleh Man-City untuk “mengulang” kekalahan West Ham.

Yang artinya, Arsenal tidak perlu melakukan kegiatan sia-sia “geladih bersih juara” itu, karena peluangnya untuk juara benar-benar sangat kecil dan kemungkinan gagal lebih besar. Kegiatan itu hanya membuat pikiran “terhantui” saja dan bahkan bisa membuat hati sombong.

Hasilnya terbukti, West Ham dengan mudah dibantai oleh Man-City dengan angka yang menyakitkan, 3-1, tanpa bisa melakukan sedikit keajaiban dan mukjizat bahwa “bola itu bundar.”

Selain menjadi bahan tertawaan dan kekecewaan, tentu saja kegiatan geladih bersih itu menjadi kenangan yang tidak pernah hilang dalam ingatan para pemain, kru dan official, karena melibatkan banyak kegiatan yang menggiring pada imajinasi “seandainya juara”—dan imajinasi itu hanya “seandainya” yang tidak terjadi dan tidak terbukti.

Sekali lagi, Arsenal tidak perlu melakukan “geladih bersih juara” karena peluang juaranya sangat kecil dibandingkan dengan Man-City. Perjuangan mereka mengalahkan Everton pun hanya berakhir dengan tangisan, ratapan kegagalan, kesedihan, sorak-sorak kemenangan berubah menjadi sorak-sorak kekalahan, para pendukungnya menjadi olok-olokan pendukung yang lainnya, dan yang pasti “tidak ada yang istimewa” dengan menjadi Runner-Up.

Selain sia-sia, kegiatan “geladih bersih juara” tersebut juga buang-buang energi, belum tentu bisa membuat bahagia hatinya para pemain, menguatkan imajinasi permainan di lapangan, dan bisa membuyarkan konsentrasi yang sesungguhnya—pada pekan terakhir liga Inggris.

Terbukti dalam pertandingan melawan Everton pihak tuan rumah harus kebobolan terlebih dahulu, sebelum Takehiro Tomiyasu menyamakan kedudukan dan Kai Harvest membuat sedikit keunggulan abgi timnya.

Hal ini menegaskan bahwa Arsenal—yang kebobolan satu gol—telah menghadapi tekanan yang berat dari “geladih bersih juara tersebut” dan terhimpit oleh bayang-bayang kemenangan Man-City atas West Ham yang sudah jelas di depan mata.

Semoga peristiwa ini tidak terulang lagi pada periode selanjutnya, sehingga tidak memalukan dan bisa menjaga konsentrasi para pemainnya. Surabaya, 19 Mei 2024

Pos terkait