Oktober 31, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

FORZEN II; PERGULATAN QUEEN ELSA DIANTARA KUTUKAN DAN ANUGERAH

Oleh : Siti Faykhiyatul Jannah

Pengantar

Sekuel kedua dari film animasi garapan Disney, Frozen yang dirilis 6 tahun yang lalu akhirnya tanggal 20 November 2019 tayang di Indonesia. Animo masyarakat yang besar membuat beberapa bioskop menyiapkan studionya tayang pada jam 08.00 wib pun dengan menambah jam tayang.  Tentunya harapan mereka adalah ingin melihat betapa fantastisnya film animasi ke 58 oleh walt Disney ini.

Seperti layaknya frozen pertama (Frozen 2013) yang bertabur dengan penghargaan box office. Frozen 2 ini pun diharapkan mengikuti kesuksesan sekuel pertamanya. Dengan besarnya animo masyarakat dengan berbondong-bondong ke bioskop kesayangan mereka, saya pun tidak mau ketinggalan dengan antusias itu.

Sebagai penggemar serial Disney, saya pun sudah deg-degan menanti berbagai kejutan yang disajikan difilm ini, jika pada serial pertama (Frozen 2013) saya sampai menonton berulang kali, apakah dengan hadirnya film Frozen 2 membuat saya akan datang berulang kali ke bioskop atau malah cukup sekali saja. Setelah menemukan jadwal yang cocok saya menonton film ini pada hari minggu, 24 November 2019 pukul 19.00 WIB. Diluar ekspektasi saya bahwa hari minggu ini akan full dengan bocah-bocah berdandan ala ala Queen elsa dan princess Anna tapi bioskop ini termasuk sepi, hanya penuh dibangku (A-F). Padahal ini hari minggu. Entah karena ini jam malam atau karena besok sudah hari senin dan orang tua mempersiapkan anak-anaknya untuk bersekolah. Dan ini juga baru 4 hari dari tanggal penayangan.  Banyak pertanyaan yang menyelimuti saya ketika akan tayang film.

Masuk ke bioskop jam 19.00 WIB Frozen 2 ini berbeda dengan film Disney yang tayang sebelumnya. Iklan sebelum film tayang kurang lebih 30 menit. Bisa dibayangkan betapa kita duduk didalam bioskop akan disajikan dengan tayangan iklan yang lama.

Film besutan sutradara Chris Buck ini sebelumnya tidak akan dibuat sekuel keduanya. Tapi melihat kesuksesan besar film ini (Box Office) dan seolah ada keinginan ingin menuntaskan cerita yang belum terjawab kenapa Elsa (Ratu Kerajaan Arendelle) mempunyai kekuatan yang bisa membekukan apa yang dia inginkan ketika keadaan emosi yang tidak terkontrol, tercetuslah film sekuel kedua frozen akan dibuat. Sudah kita tahu bersama di sekuel pertama (Frozen 2013) menampilkan kekuatan cinta kedua saudara (Yatim-Piatu) Elsa dan Anna. kebekuan hati Ana mencair setelah Elsa memeluk karena takut kehilangan dan Kerajaan Arendelle dipimpin oleh Ratu Elsa yang bijaksana dan princes Ana sebagai saudara yang selalu ada disampingnya dalam keadaan apapun dan bagaimanapun. Akhir film yang manis dan tentunya bahagia.

Queen Elsa, Kutukan atau Anugerah?

Sekuel Frozen kedua ini ingin mengangkat cerita bagaimana elsa mendapatkan kekuatan tersebut. Pada awal film kita akan melihat betapa makmurnya kerajaan Arendelle, rakyatnya hidup bahagia karena dipimpin oleh Ratu yang bijaksana, tidak memberikan sekat dan jarak kepada rakyat. Pemimpin dan Rakyat hidup damai dan sejahtera. Namun hal ini berubah ketika Elsa seolah mendapatkan panggilan dari utara (Northulda).

Diketahui, bahwa sebelum Raja Agnarr (Bapak Elsa dan Anna) dan Queen Iduna (Ibu Elsa dan Ana) meninggal dalam perjalanan ke Laut Utara (Northuldra) untuk mencari penyebab kekuatan sihir/gaib putrinya. Tapi karena badai yang terlalu besar sehingga kapal yang ditumpangi Raja dan Ratu pecah yang kemudian menyebabkan kedua meninggal dalam insiden tersebut.

Frozen 2 ingin menyajikan bagaimana cerita kerajaan Arendelle dimasa lalu dan kesalahan apa yang telah dilakukan para pendahulunya, sehingga muncul kekuatan aneh yang dimiliki elsa saat ini. Kekuatan yang dimiliki Elsa bisa jadi Anugerah atau Kutukan.

Seperti yang ramalkan oleh Troll (makhluk mitologi yang hidup dalam gua disebuah pegunungan, sebenarnya ini lebih dekat ke Drawf/troll mini) mereka (baca: troll) tidak mampu membaca masa depan Arendelle seperti yang sudah biasa mereka lakukan. Sehingga jalan keluar dari masalah yang menimpa Arendelle murni karena kesalahan masa lalu dan harus ada yang menuntaskan.

Sebelum Queen Elsa menemui Troll kerajaan Arendelle mengalami Musibah, yakni bencana alam (gempa Bumi, Kelangkaan Air) sehingga rakyat Arendelle diungsikan ke tebing gunung.

Mengabadikan Sihir

Sebenarnya film berjalan kurang lebih 40 menitan kita sudah bisa menebak alur kisahnya kemana bahkan endingnya sudah bisa terbaca. Karena akhir-akhir ini film Disney mengangkat keterkaitan alam manusia dan sihir, termasuk film sejenis adalah  Maleficent.

Ternyata Frozen 2 tidak jauh berbeda, dengan Maleficent. Konfliknya sama, bagaimana alam memberikan keselarasan dan keseimbangan. Kekuatan yang dimiliki Elsa adalah bentuk anugerah yang diberikan oleh Dewa Ra (Matahari) kepada Iduna (Ibu Elsa) karena dengan tanpa pamrih menolong Agnar (Bapak Elsa) dari kesepakatan damai yang dikhinati oleh Raja Runeard (Kakek elsa), sehingga muncullah konflik dari kedua suku tersebut.

Kedengkian atas selarasnya bangsa Northuldra dan sihir yang membuat Raja Runeard gelap mata. Dengan dalih membangun jembatan atau bendungan sebagai hadiah atas persekutuan mereka. Namun dibalik itu, bendungan tersebut nyatanya hanya kepentingan kerajaan Arendelle.

Konflik berlanjut sampai dengan perang yang diakibatkan oleh Raja Runeard membunuh Raja Northuldra yang dalam keadaan tidak bersenjata. Fakta selanjutnya Kedua orang tua Elsa ternyata berasal dari bangsa yang berbeda, berbeda alam (alam Sihir dan alam Manusia ; Northuldra & Arendelle)

Akhirnya … pembagian kekuasaan

Dari latar belakang inilah akhir cerita ini bisa ditebak, sepanjang alur cerita tidak banyak kejutan yang diberikan seperti sekuel Frozen pertama (2013). Karena tetap saja Olaf (Manusia Salju) mati kemudian dihidupkan kembali oleh Elsa. Dan Kristoff kemudian juga menikah dengan Anna.

Film ini mengajarkan pentingnya strategi diplomasi untuk menjaga stabilitas keamanan, yakni Anna ketika menikah dengan Kristoff, diamanahkan untuk memimpin Kerajaan Arendelle.

Kemudian Elsa dengan segala bakatnya memimpin Northuldra yang sangat sesuai (kondisi masyarakatnya) dengan kemampuan yang dimilikinya. Sihir es-nya merupakan keadaan alam yang dimiliki oleh Northulda.

Akhir yang manis cukup bagi sebuah penyatuan dunia sihir dan dunia manusia. Pesan utamanya sama (sebagaimana film-film Hollywood lainnya), bahwa sihir merupakan unsur utama yang sangat dibutuhkan oleh manusia untuk melanggengkan hidup, bukan Agama dan Tuhan.