Oktober 24, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

FEMINISME ISLAM, DARI GERAKAN GLOBAL MENUJU GERAKAN KONSTRUKTIF PEREMPUAN NAHDLIYIN

oleh :

NIDA MAULIDHA

Aktivis Feminisme Nahdliyin, Aktris Santri Milenial, aktif di PC. IPPNU Kabupaten Tuban

Pengantar

Feminisme merupakan sebuah bentuk gerakan politik, ideologi dan gerakan sosial yang sharing sebuah tujuan umum untuk mendefinisikan, membangun dan mencapai persamaan politik, ekonomi, budaya, personal dan hak-hak sosial untuk kaum perempuan (Hooks, 2014; Buchanan & Mask, 2012; Smith dan Woodward, 2014). Bell Hooks (2014: 1) mendifinisikan bahwa “feminism is a movement to end sexism and sexist exploitation and oppression”. Gerakan feminisme juga termasuk mencari jalan untuk membangun kesempataan yang sama untuk perempuan dalam pendidikan dan pekerjaan.

Seorang feminis melakukan advokasi atau dukungan terhadap hak-hak dan persamaan kaum perempuan (Kunin, 2012; Jequette, 2009). Gerakan ini terus mengkampayekan hak-hak kaum perempuan dalam bentuk yang lebih riil di masyarakat, misalnya hak untuk memilih, memegang posisi di ruang publik, bekerja dan memperoleh gaji yang adil dan pembayaran  yang sama dengan kaum laki-laki. Selain itu memilih properti, menerima pendidikan, mempunyai kesamaan hak dalam pernikahan dan menerima cuti kehamilan juga menjadi hal-hal yang diperjuangkan oleh kaum feminisme.

Selain itu, kaum feminis juga fokus mempromosikan lembaga yang otonom dan integratif untuk melindungi kaum perempuan dan gadis-gadis dari kejahatan pemerkosaan, tindakan pelecehan seksual dan kekerasan domestik (rumah tangga).

Dalam sejarahnya, femeinisme berkembang di dalam komunitas dan negara-negara Islam dikenal dengan feminisme islam atau feminisme muslim. Istilah feminisme Islam mulai muncul di negara-negara yang berpenduduk muslim pada tahun 1990-an.

Gerakan Feminisme Islam, solusi!

Secara umum gerakan feminisme Islam bisa didefiniskan sebagai sebuah gerakan yang dikonstruks oleh perempuan muslim sebagai agen idependent untuk mendefinisikan kembali kehidupan mereka sendiri sebagai perempuan, menentang hegemoni patriarkal dan memperjuangkan tantan gender yang lebih egaliter dalam keluarga, komunitas dan bangsa pada zaman modern melalui rekontruksi tafsir al-Qur’an dan Hadits.

Definisi yang lebih luas tentang feminisme Islam mencakup kesadaran perempuan Muslim akan pembatasan atas dirinya karena kontruksi gender, penolakan perempuan terhadap ketidakadilan ini usahanya adalah untuk membangun sistem gender yang lebih adil yang melibatkan peran baru perempuan dan hubungan yang lebih optimal antara laki-laki dan perempuan. Kaum feminis Islam menuntut persamaan perempuan dan laki-laki sebagai warga negara di bidang publik dan menerima komplementaritas peran di bidang keluarga.

Semenjak Raden Ajeng Kartini memproklamirkan gerakan Emansipasi Wanita, semakin banyak perempuan yang menuntut haknya di ranah domestik maupun publik. Menginginkan hidup yang setara dengan laki-laki. Menuntut haknya atas kesetaraan gender.

Adanya paham patriarki, yang cenderung memberikan kekuasaan yang cukup besar kepada laki-laki menjadikan perempuan merasa di rampas hak kemerdekaanya. Hingga akhirnya lahirlah penggerak-penggerak feminis di Indonesia. Mereka para feminisme merasa, bahwa pemahaman perempuan tentang kesetaraan gender masih terlalu rendah. Oleh karena itu sekelompok minoritas bagi perempuan di Indonesia ini, yang mampu memahami kenyataan peran perempuan sesungguhnya memerlukan sebuah gerakan yang nyata untuk melepaskan diri dari belenggu patriarki.

Bangsa Indonesia, khususnya generasi perempuan mudanya haruslah sadar sebagai bangsa yang merdeka wajib selalu peka terhadap isu-isu perempuan, dimana dalam pendangan sepihak dari lelaki yang awam yang dianggap sebagai ladang ekploitasi, baik tenaga, kelembutannya, kecantikannya, dan bahkan tubuhnya.

Trauma Kekekerasan pada Perempuan

Belajar dari konflik-konflik di ranah domestik yang sering terjadi, seperti kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual, dan kekerasan lahir batin seorang perempuan melahirkan berbagai metode gerakan feminisme di dunia dan di Indonesia khususnya, yang menolak adanya hal-hal yang merugikan tersebut.

Penganut budaya patriarki dalam struktur masyarakat adalah menenempatkan perempuan dalam wilayah domestik dan mensakralkannya sebagai wilayah laki-laki yang tidak bisa diotak-atik oleh kaum perempuan. Contohnya saja tugas utama perempuan adalah masak, mencuci dan membersihkan rumah, serta yang umum melahirkan saja dan “memproduksi” anak.

Domestikasi perempuan seperti ini, yang menjadikan perempuan sebagai kaum yang hanya menangani pekerjaan domestik sudah sering terjadi sejak zaman primitif yang mengandalkan pekerjaan berburu hingga zaman postmodern yang sudah masuk dalam tahapan industri keempat dewasa ini, telah menjadi tradisi yang kuat dalam struktur dan kultur masyarakat. Artinya, domestikasi merupakan sebuah “kejahatan” sejarah yang sudah berjalan lama diterapkan oleh oknum-oknum lelaki untuk menguasai perempuan secara radikal. Sehingga hilangnya pengakuan hak-hak pribadi mereka untuk berkembang pada ruang sosial yang mereka inginkan, seolah merupakan fakta yang harus diterima oleh perempuan dan menjadi hal yang “melekat” pada perempuan.

Padahal dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan “Aswad ibn yazid meriwayatkan bahwa, aku bertanya kepada aisyah, apakah yang biasa dilakukan  Nabi di rumah? Dia menjawab, Beliau bekerja untuk keluarganya di rumah”, kemudian setelah azan beliau baru beranjak keluar”(HR.Bukhari). Melihat hadits diatas maka tidak ada alasan bagi kaum perempuan untuk di tempatkan dalam wilayah domestik, kemudian melarangnya untuk terjun ke ranah publik. Larangan ini tentunya bertentangan dengan hadits diatas dan tidak perlu lagi menjadikan kaum perempuan sebagai hal yang berbeda dengan laki-laki.

Lima Prinsip Feminisme Nahdliyin

Berangkat dari fenomena perjuangan kaum feminisme global yang sudah masuk di Indonesia inilah perlu kiranya Nahdlatul Ulama sebagai ormas yang memiliki jumlah perempuan yang sangat besar perlu melakukan definisi yang jelas tentang feminisme Nahdliyin bagi perempuan Nahdliyin, yang meliputi Muslimat NU, Fatayat NU dan IPPNU.

Paling tidak ada lima prinsip yang perlu dikembangkan oleh para pemikir di Nahdlatul Ulama untuk membangun metode gerakan feminisme Nahdliyin, antara lain :

Pertama, Kebebasan dalam berekspresi Halal.

Peremuan Nahdliyin perlu mendapatkan kebebasan melakukan segala bentuk ekspresi yang halal, yang tidak melanggar aturan syari’at Islam. Kebebasan inilah yang memungkinkan perempuan Nahdliyin mampu melakukan inovasi dan pengembangan kemampuan yang bisa memberikan kontribusi bagi pembangunan peradaban Islam. Sehingga dengan mendapatkan porsi kebebasan yang sama inilah akan diperoleh sebuah energi besar perempuan untuk ikut serta membangun bangsa dan dunia menjadi lebih baik.

Termasuk salah satu ekspresi yang perlu dikembangkan oleh perempuan nahdliyin adalah menulis atau juga menjadi seorang da’iyah. Dalam hal menulis, fenomena industri 4.0 menjadi hal yang tidak bisa ditolak oleh perempuan nahdliyin.

Kedua, Persamaan menempuh pendidikan yang lebih tinggi.

Perempuan nahdliyin tidak perlu lagi takut untuk memperoleh pendidikan tinggi hingga magister atau sampai juga pada doktoral. Lulus Madrasah Aliyah di Pesantren tidaklah cukup untuk menjadikan perempuan nahdliyin mampu menghadapi tantangan dunia industri 4.0, apalagi hanya berbekal hafalan al-Qur’an dan hafalan alfiyah saja.

Dengan kata lain perempuan nahdliyin perlu mengembangkan kemampuannya dengan mengejar jenjang pendidikan yang lebih tinggi, tanpa harus menghiraukan tantangan klasik yang dihadapinya, seperti menikah dini, berada di rumah saja, atau memasak di dapur saja. Tidak lagi cukup bagi perempuan hanya mengandalkan pendidikan dasar saja.

Sebuah peringatan keras bagi perempuan nahdliyin, jika gagal meraioh pendidikan tinggi maka jangan harap ke depan generasi muda nahdliyin akan habis dan tidak lagi produktif menghasilkan karya.

Ketiga, Pengakuan Fitra Perempuan sebagai Pendamping.

Kesadaran akan posisi perempuan yang merpuoakan partner bagi laki-laki dan sekaligus pendampingnya yang ideal memerlukan ketegasan dan penegasan. Kesadaran ini perlu ditegaskan pada perempuan nahdliyin bahwa keberadaan mereka sangatlah penting untuk mendampingi laki-laki dalam menyelesaikan program-programn organisasi di rumah tangga masing-masing.

Adapun penegasannya terjadi pada pihak laki-laki yang mengharuskan tahu diri bahwa posisi perempuan adalah partner, tim, dan bagian dari sebuah jaringan organisasi yang harus dikembangkan oleh keluarga nahdliyin.

Keempat, Kemuliaan Identitas

Keberadaan perempuan sebagai perempuan itu sendiri merupakan sebuah kesempurnaan. Perempuan memiliki kekuatan yang berbeda dengan laki-laki, diantaranya dalam hal kelembutan bicara, kecantikan hatinya, kemampuannya mengandung, keahliannya memberikan kasih sayang, dan kehebatannya dalam mendidik anak-anaknya. Kemampuan inilah yang menjadikan perempuan itu sempurna dan memiliki keahlian yang sangat dibutuhkan oleh perempuan nahdliyin dalam membangun rumah tangga kecil dan rumah tangga nahdlatul ulama.

Kelima, Kerukunan-Komunitas antar perempuan.

Kekuatan perempuan yang sulit terbendung yang lahir dari dirinya dan menjadi komponen penting untuk membangun bangsa adalah kekuatan kerukunan dalam komunitas. Perempuan itu mudah untuk berkumpul dan asyik mengadakan kumpulan. Mereka bisa dengan baik mengatur terbentuknya komunitas dan menguatkan keberadaan lingkungannya.

Kekuatan ini memerlukan pengelolaan yang baik dan efektif. Di tangan seorang lelaki yang baik, cerdas, dan sholeh maka beberapa perempuan yang memiliki kerukunan dan kekompakan bisa mejadi ibu-ibu yang baik untuk bersama-sama membangun Indonesia dan membangun peradaban Islam.

Perempuan nahdlyin tidak perlu mengembangkan beragam bentuk kebencian, mulai dari (1) sakit hati, (2) cemburu, (3) derengki, (4) hasut, (5) tajassus, dan (6) ghibah. Hal-hal yang perlu dikembangkan dan penting bagi perempuan nahdliyin justru sifat-sifat (1) kasih sayang antar sesama istri suaminya yang lain, (2) saling memberi dan mengisi kekuarangan istri yang lain yang dimiliki suaminya, (3) bersama-sama meningkatkan sumberdaya manusia, (4) kekompakan dalam mencitakan inovasi industri 4.0, dan (5) kasih sayang penuh keindahan dalam menciptakan kebersamaan.

Penutup

Jika prinsip-prinsip ini dikembangkan, lebih-lebih pada prinsip kelima maka tidak menutup kemungkinan di masa depan perempuan nahdliyin akan memberikan dampak yang positif terhadap pembangunan bangsa dan peradaban islam di Indoneisa.

Oleh sebab itu, lima prinsip feminisme nahdliyin ini memerlukan pengembangan yang lebih konstruktif dan transformatif sehingga mampu diaplikasikan menjadi sebuah metode gerakan feminisme yang berbeda dengan feminisme sekuler yang dikembangkan oleh kaum perempuan radikalisme di Eropa.

Wallahu’alam bisshowaf.