Euro 2024; Tanpa Ampun, Turkiye Sukses Melibas Musuh Bebuyutannya yang Juga Tetangganya Sendiri, Georgia 3-1

Euro 2024; Tanpa Ampun, Turkiye Sukses Melibas Musuh Bebuyutannya yang Juga Tetangganya Sendiri, Georgia 3-1
Tendangan keras pemain Turkiye yang terjadi pada menit ke 25 telah membuat pemain-pemain Georgia tidak bisa membendungnya dan menyebabkan keunggulan pertama bagi Turkiye. Pada akhir pertandingan, keunggulan Turkiye mampu menghadang impian Georgia 3-1 untuk tetap maju ke perempat final.

JAGATKITASAMA.COM – Mert Muldur (25), Arda Guler (65) dan Karem Akturkoglu (90+7) telah memberikan kemenangan Turkiye yang gemilang pada pertandingan putaran pertama babak penyisihan piala eropa di Jerman dengan mengalahkan tetangganya, Georgia.

Gol Georgia dicetak oleh Mikautadze (32) yang hanya bertahan dibabak pertama, yang selanjutnya membuat kecerobohan dengan kecerdasan pemain-pemain Turkiye, yang bisa memaksimalkan tendangan kerasnya ke gawang di luar kotak penalty.

Bacaan Lainnya

Pertandingan yang diselenggarakan di markas Borrusia Dortmund itu seperti perang yang sesungguhnya, para supporter adu jotos di dalam stadium dan diluar stadium. Para pemain berjibaku di lapangan layaknya gladiator yang sedang memperebutkan antusias pendukungnya di atas tribun.

Kedua tim bermain cukup keras dan alot, masing-masing menerapkan strategi menyerang dan memanfaatkan tendangan keras di luar kota penalty. Turkiye lebih banyak melesatkan tendangannya ke gawang Georgia sebanyak 22 kali, sedangkan Georgia cukup bisa melakukan 14 kali tendangan.

Kerasnya pertandingan membuktikan keunggulan Turkiye atas Georgia yang mampu menguasai bola 56 persen dibandingkan Georgia yang hanya 44 persen. Akan tetapi akurasi operannya kedua tim seimbang, hanya selisi 3 persen lebih unggul Turkiye.

Pada menit-menit terakhir pertandingan Georgia yang sudah kalah 2-1 meneruskan intensifitas serangannya, hingga sang kiper maju ke depan untuk membantu serangan. Namun sebuah kesalahan terjadi yang menyebabkan operan pemain Georgia bisa dimanfaatkan dengan baik oleh pemain Turkiye. Dan akhirnya, karena gawang tanpa penjagaan yang ketak maka tepat pada menjelang peluit berakhir Karem Artukoglu mampu memanfaatkan hal itu dan mengubah keunggulan semakin kuat menjadi 3-1.

Dengan poin kemenangan ini praktis Turkiye sejajar dengan Jerman, Inggris, Spanyol, Belanda dan Rumania menempati urutan pertama di group F.

Kunci kemenangan Turkiye terletak pada “semangat perang” menghadapi Georgia yang pernah menjadi “saudara” satu bangsa di zaman kekhalifahan Utsmani. Namun karena isu nasionalisme dikobarkan oleh orang-orang sekutu maka kelompok nasionalis Georgia memilih berperang menghadapi Utsmani dan membentuk pasukan perlawanan.

Pertandingan ini cukup keras di dalam dan diluar, memberikan pelajaran penting bahwa sepakbola adalah media yang paling pas untuk membuktikan keunggulan dan kehebatan sebuah bangsa. Bagaimana pun, Turkiye yang pernah berjaya sebagai pusat peradaban dunia di zaman Utsmani tetap merupakan “negara besar” dengan prestasi sepakbolanya yang siap bersaing dengan rekan-rekannya di Eropa.

Tidak meragukan jika Turkiye bergabung dengan euro—dibandingkan piala asia—adalah keputusan yang tepat, karena bangsa Utsmani bisa langsung berhadapan dengan “musuh politiknya” dan juga mantan saudaranya sebangsa dan setanah air di zaman Utsmani, seperti Yunani, Rumania, Bulgaria, dan tentunya Georgia.

Kekalahan Georgia dalam edisi euro Germany 2024 ini merupakan sebuah ajang pembuktian bahwa liga sepakbola Turkiye maupun tim nasional Turkiye sudah layak untuk bersaing secara ketat dengan rekan-rekannya di eropa, untuk Kembali menjadi jawara dalam banyak hal, termasuk olahraga sepakbola di kanca internasional.

Orang Turkiye menyebut negara Georgia dengan sebutan Gurgistan (negeri orang Georgia), yang tidak lain dulunya merupakan saudara sendiri yang bersama-sama membangun Utsmani menjadi negara adi daya selama lima abad. Banyak orang Turkiye adalah keturunan Georgia, tinggal di Turkiye dan hingga sekarang masih berkerja di Turkiye sebagai tenaga ahli maupun sebagai tenaga kasar (Moh. Syihabuddin)

Pos terkait