Euro 2024; Musiala dan Gundogan Membuktikan Dirinya Sebagai “Jerman-Muslim” Setelah Mengalahkan 2-0 Hungaria

Euro 2024; Musiala dan Gundogan Membuktikan Dirinya Sebagai “Jerman-Muslim” Setelah Mengalahkan 2-0 Hungaria
Jamal Musiala melesatkan tendangannya ke arah gawang pemain Hungaria pada pertandingan di Marcedes-BenzArena di stuttgard di Baden-Westfallen. Jamal Musiala dan Gundogan berhasil memastikan bahwa dirinya adalah Jerman-Muslim yang berkontribusi untuk Negara Republik Federasi Jerman.

JAGATKITASAMA.COM – Siapa bilang di Jerman sudah benar-benar bersih dari rasisme. Jerman tetaplah Jerman, bangsa yang masih merasa menjadi ras unggul dan merupakan manusia yang mengikuti filsafatnya Friederich Nietzsche, yang menganggap bangsa Jerman adalah ras arya, yang lebih unggul dibandingkan dengan ras campuran atau kulit berwarna.

Bangsa Jerman adalah ras murni, bersih, sosok manusia super (ubbermensch) yang bisa menguasai dunia dan mampu menciptakan banyak hal yang berguna. Pemikiran ini adanya benarnya jika digunakan untuk kemanfaatan dunia dan untuk membantu masyarakat lainnya yang masih membutuhkan pertolongan, sebagaimana yang dilakukan oleh mantan Kanselir Jerman dulu, Angela Merkel. Alih-alih keunggulan Jerman diberikan kepada dunia, bukan merendahkannya.

Bacaan Lainnya

Akan tetapi gaya rasisme tersebut akan menghasilkan kekerasan dan kebencian jika diterapkan dengan metode ala paman Hitler, yang menganggap orang yang berbeda adalah ras campuran dan tidak layak hidup di tanah eropa.

Dalam perhelatan euro 2024 di Jerman rasisme tetap bergentayangan, beberapa oknum telah menyebarkan benih-benih kebencian melalui gerakan yang tidak terlihat. Korbannya adalah timnas Jerman sendiri, yang dianggap sudah “tercampur” dengan bangsa lain selain ras kulit putih.

Kapten Jerman, Gundogan yang berdarah Turkiye dan Jamal Musiala yang berdarah Arab-Afrika dianggap menjadikan timnas sepakbola Jerman tidak lagi murni orang Jerman, tapi sudah mengalami distorsi. Keduanya dianggap tidak “orang Jerman” dan tidak layak memimpin Jerman.

Tapi apa yang terjadi, Gundogan (67) dan Jamal Musialan telah (22) di stadion Marcedes-Benz Arena milik klub Vfb Stuttgard  di negara bagian Baden-Wurttemberg berhasil membuktikan bahwa keduanya adalah orang Jerman dan berjuang untuk Jerman. Hungaria bertekuk lutut dihadapan Jerman dengan skor 0-2.

Kemenangan ini seolah menunjukkan bahwa Jerman dan eropa secara umum tidak hanya milik ras kulit putih, multikulturalisme harus ditegakkan dan inklusifisme harus menjadi pegangan bersama guna membangun globalisasi kesejahteraan. Semua orang bisa menjadi eropa, dengan warna kulit apa saja dan agama apa saja, asalkan semuanya telah berkontribusi untuk ekonomi, politik, dan pembangunan bangsa eropa.

Arab, Turkiye, Afrika, Asia, Slavia, Hindia dan bahkan Jawa bisa menjadi Jerman, bekerja di Jerman dan belajar bersama orang Jerman. Tampaknya sang pelatih tim Panzer Jerman, Nielgelsmann adalah orang yang adil dan melihat Jerman untuk bangsa Jerman yang baru. Semua orang Jerman berhak untuk membela Jerman dan memberikan yang terbaik untuk Jerman.

Kemenangan 0-2 atas Hungaria menjadi kado bagi bangsa Jerman, yang menjadi tuan rumah euro 2024 dengan loga penuh warna yang berupaya membangun multikulturalisme ke seluruh dunia—tidak selain yang pro LGBT—saya tidak sepakat.

Jamal Musiala mentahbiskan dirinya menjadi top skor sementara dengan dua gol yang dilesatkannya. Gundogan dengan satu golnya menampilkan dirinya layak memimpin “anak-anak Jerman” untuk tumbuh bersama menjadi bagian dari masyarakat yang menghargai nilai-nilai moderatisme dan multikulturalisme. Alhasil keduanya adalah warga Jerman-Muslim yang memberikan wajah baru eropa sebagai bangsa multi-etnis, Bersama Inggris dan Perancis. (Moh. Syihabuddin)

Pos terkait