Oktober 20, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

ERA DISRUPSI; KEMATIAN ATAU KENIKMATAN?

Oleh :

Khoirul Marom

Generasi Milenial Cerdas Spiritual

 

Akhir dekade ini sering kali kita di suguhkan dengan fenomena-fenomena sosial, salah satunya fenomena disrupsi. Fenomena disrupsi atau biasa di sebut era disrupsi ini merupakan fenomena yang mana ketika masyarakat melakukan aktifitas yang awalnya di kerjakan di dunia nyata kini beralih di lakukan di dunia maya.

Dengan kata lain budaya yang ada dalam masyarakat terrgantikan oleh budaya baru yang ada di dalam dunia maya. Era disrupsi ini sering pula di jadikan pro dan kontra, Orang-orang yang yang mempertahankan budaya negaranya tentu beda dengan orang-orang yang mencari kemudahan hidup nya hal tersebut yang menjadikan perdebatan dalam menyikapi era disrupsi.

Dengan kemudahan yang di tawarkan oleh kecanggihan teknologi informasi yang berbasis internet ini, selain memberikan hal positif dalam kemudahan untuk melakukan suatu hal,kecanggihan internet  juga perlu kita waspadai.

Contoh terjadinya konflik antara ojek pangkalan dengan ojek online di akhir-akhir ini selain memberikan kemudahan dalam pemesanan ojek ternyata muncul konflik konflik baru. Belum juga trdisi warga indonesia yang suka bersilaturahmi kerumah rumah kerabat secara langsung sekarang sudah mulai tergeser dengan cara bersilaturahmi lewat media sosial. Belum lagi permainan khas indonesia seperti klereng, congklak, lompat tali yang kalah pamor dengan game onlien PUBG, Mobile legend, dan teman temanya. Serta masih banyak lagi budaya budaya indonesia  yang tercabut dari akarnya.

Semua ini tak lepas dari kemudahan yang di tawarkan oleh industri 4.0 yang mana semua kegiatan manusia dapat di lakukan dengan Internet.  Dengan kemudahan tersebut membuat manusia lalai, khusus nya warga negara indonesia yang menjadi pengguna internet terbesar keenam setelah jepang dan di susul Rusia .  hal ini membuat indonesia yang kaya akan budaya dia akan kehilangan budaya nya. Jika generasi penesrus selalu menerima budaya budaya yang baru yang bersifat maya dan menafikkan budaya budaya lama yang real adanya.

Selain mengikut era industri ke 4 dengan kemudhan nya Kita sebagai warga nahdiyin yang tetap memegang eksistensi budya yang ada di negara indonesia ini hendaknya herus bisa mnjadi pelopor dalam melestarikan budaya negara. jangan sampai media media sosial yang ada sejak zaman wali seperti tahlilan, manakiban, sholawatan, yang  menjadi salah satu alat pemersatu bangsa   ini hilang adanya, dan di gantikan dengan tahlilan, manaqiban, sholawatan, lewat  media sosial online , dan negara kita mudah di pecah belah karena tak ada interaksi sosial secara langsung antara warga negara indonesia.