Empat Tantangan yang Masif-Terstruktur Menggerogoti Peradaban Muslim Indonesia

Ada empat tantangan yang bisa merusak tatanan peradaban muslim Indonesia saat ini yang perlu mendapatkan respon yang lebih tegas dan strategis agar tidak semakin menjerumuskan masyarakat muslim Indonesia dalam keterpurukan dan krisis moralitas, finansial dan krisis mental.

Diam-diam Peradaban Muslim Indonesia tergerus, digerogori oleh empat hal yang sudah berada di depan mata, menjadi sebuah kenyataan yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan bernegara, dan pastinya sudah melekat dalam kehidupan masyarakat awam muslim. Empat hal itu kini menjadi tantangan nyata, vital dan esensial bagi peradaban muslim Indonesia.

Kenyataan dewasa ini telah melahirkan empat tantangan yang cukup vital, berat dan susah untuk dihadapi—walau tidak mungkin untuk disikapi secara bijak. Keempat tantangan ini telah mengubah banyak hal yang dulunya “baik-baik saja” berubah menjadi “tidak baik-baik saja, karena…”.

Bacaan Lainnya

Empat tantangan tersebut adalah (1) Pesatnya laju pengaruh Globalisasi dalam budaya masyarakat, (2) Menipisnya persediaan Pangan dan energi berbanding terbalik dengan laju pertumbuhan penduduk, (3) Menipisnya kesadaran masyarakat untuk menerapkan nilai nilai positif ketimuran yg diwariskan para leluhur dalam kehidupan sehari hari, dan yang terakhir (4) Menganggap sepele atau bahkan tidak mengetahui nilai nilai dasar keagamaan Islam yang sudah dikonseptualisasikan oleh para ulama pesantren di Indonesia, seperti Tawasuth, Tasamuh,Tawazun dan Amat makruf nahi mungkar.

Fakta Global, Fakta Digital

Pengaruh Globalisasi adalah sebuah keniscayaan yg tidak bisa dielakan, seiring dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi melaju dengan pesat melebihi zaman itu sendiri. Kondisi lima tahun yang lalu tentu sangat berbeda dengan zaman sekarang. Tahun 2010 lalu juga tidak sama dengan tahun 2020, apalagi nanti pada tahun 2040-an.

Fenomena ini ditandai dengan muncul berbagai ragam media virtual dan informasi yang begitu masif dan menyentuh hampir seluruh lapisan masyarakat diseluruh belahan dunia. Media virtual ini lebih dekat dalam kehidupan manusia “dibandingkan” dengan pasangannya atau kebutuhan makanannya sendiri. Saat bangun tidur , orang cenderung melihat media virtual dibandingkan berfikir untuk makan atau “ngopeni” pasangannya.

Media virtual ini bisa kita ibaratkan bagai sebuah pisau, yang mana siapa yang mampu mengendalikan dan memiliki pengetahuan yang cukup  akan mampu menggunakan pisau itu untuk sesuatu yang bermanfaat.

Begitu juga sebaliknya jika kita tak mampu dan tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk menggunakan sebuah pisau maka juga akan sangat membahayakan begitu juga media virtual saat ini.

Kita tahu, generasi muda dan tua muslim sudah banyak yang terkapar tehnologi, mereka tidak bisa lepas dari tehnologi dan bahkan menjadi korban dari tehnologi itu sendiri. Mereka terjebak dalam kegiatan “malas-malasan” di warung kopi hingga café.

Selain itu, media virtual juga “sangat berperan” mengalihkan kebiasaan positif lama generasi muda-tua muslim. Mereka lebih sering membaca kitab “al-watshapp” dibandingkan al-Qur’an—yang jelas-jelas disucikan. Sehingga kebiasaan lama yang positif inilah tergantikan oleh kebiasaan baru yang negatif—baca media virtual.

Penduduk Bertambah, Cadangan Makanan Menipis

Selain tantangan media virtual, ada fenomena lain yang lebih menyesakkan dada dalam kehidupan kita.

Laju pertumbuhan penduduk di Indonesia khususnya sangat lah pesat hal ini tentunya membutuhkan banyak persediaan pangan dan energi untuk mencukupi segala macam kebutuhan manusia itu sendiri.

Sedangkan jumlah lahan pertanian semakin lama semakin menyempatkan akibat dadi perambahan lahan pertanian yang digunakan sebagai lahan perumahan, pembangunan pabrik dan lainnya, ditambah juga penurunan kualitas tanah lahan pertanian yang semakin turun akibat dari penggunaan pupuk dan pestisida yg berlebihan.

Penggunaan air yang berlebihan dan pengelolaan air yang tidak sesuai dengan prosedur juga akan memberikan pengaruh yang signifikan dalam pemenuhan kebutuhan pangan disaat ini

Godaan Lifestyle

Lalu tantangan yang ketiga, tantangan yang terlihat biasa namun dampaknya cukup menghancurkan tatanan masyarakat, tatanan keluarga, menghancurkan kepribadian dan merusak moral.

Di zaman yang serba mudah dan serba instan saat ini, tidak disadari ternyata memiliki pengaruh yang luar biasa bagi keberlangsungan kehidupan manusia dalam bermasyarakat. Tidak jarang dari kita yang memiliki gaya hidup yang hedonis, pragmatis bahkan sering juga mengabaikan kepentingan bersama guna memenuhi kebutuhan nya sendiri. Istilah keren-nya “hidup gue ya hidup gue hidup lu ya hidup lu”.

Artinya seiring berjalannya waktu rasa kebersamaan gotong royong toleransi dalam kemajemukan seakan akan tidak digunakan atau bahkan tidak memahami nilai nilai yang diwariskan leluhur kita untuk senantiasa hidup bermasyarakat dengan bertolong menolong, bergotong royong, toleransi dan tepo seliro. Inilah yang hilang, sebuah gaya hidup baru yang disebabkan oleh masifnya tehnologi media virtual.

Kearifan Islam yang mulai “Dilupakan”

Dan tantangan yang keempat, berkaitan dengan nilai-nilai keislaman yang tidak lagi diindakan, terutama yang diajarkan oleh ulama dari kalangan pesantren.

Didirikannya Nahdlatul Ulama di bumi Indonesia ini memiliki tujuan besar yakni senantiasa menjaga dan melestarikan ajaran agama Islam Ahlusunnah wal jamaah dan menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam bingkai kemajemukan.

Nahdlatul Ulama menegaskan diri sebagai Jamiyah Diniyah sekaligus Jamiyyah Ijtimaiyah yang artinya sebagai organisasi keagamaan sekaligus organisas kemasyarakatan.

NU, sebagai sebuah organisasi yang senantiasa menjaga nilai nilai luhur ajaran Agama Islam dan sekaligus sebagai organisasi yang yang selalu hadir ditengah tengah masyarakat dengan berbagai permasalahannya, berbagai macam permasalahan masyarakat mulai dari urusan kesehatan, pendidikan, perekonomian, hukum dan virtual menjadi misi yang dijalankan oleh Nahdlatul Ulama untuk menjawab berbagai permasalahan masyarakat.

Nahdlatul Ulama juga memilik konsep dasar dalam bermasyarakat yakni sikap Tawasut/Tengah tengah, tasamuh/toleransi, tawazun/seimbang dan amar Makrif Nahi Mungkar/senantiasa mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, hal ini tentunya dibutuhkan upaya pendidikan dan kaderisasi untuk mentransfer serta menyebarluaskan nilai nilai dasar Nahdlatul Ulama sehingga mampu menjadi pedoman hidup dalam beragama dan bernegara dalam masyarakat yang majemuk.

Apa selanjutnya?

Apa yang bisa kita pikirkan selanjutnya terhadap keempat tantangan tersebut? Paling tidak ada dua hal yang perlu dilakukan. Pertama, dibutuhkan upaya yang serius melalui kebijakan pemerintah yang berpihak kepada kepentingan masyarakat untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang adil Makmur melalui pengelolaan sumber daya alam yang tepat dan berkelanjutan.

Kemudian, yang kedua dibutuhkan pula upaya yang serius guna menyadarkan masyarakat untuk senantiasa menyadari keberadaan kita di bumi ini adalah sebagai kholifatul fil ardli, yang harus senantiasa menerapkan nilai nilai luhur yang diajarkan agama dalam berkehidupan yakni Hablum Minannas, Wahablumminallah.

Wallahua’lamu Bissowab

Pos terkait