Empat Jenis Orang Miskin, Dua Bisa Bangkit Dua Lainnya Merusak Negara

Kemiskinan merupakan penyakit bagi setiap negara, kemiskinan menyebabkan banyak hal yang merugikan dan merusak, mereka lebih suka bermalas-malasan dan enggan untuk kerja keras. Tapi tetap ada harapan untuk bangkit bagi dua jenis orang miskin.

kitasama.or.id – Tidak akan dikatakan sebagai sebuah negara maju jika angka kemiskinannya masih lebih tinggi dibandingkan kelas menengahnya yang makmur. Negara yang mempunyai masyarakat yang hari-harinya semakin mengalami kondisi kemiskinan adalah negara yang tertinggal, atau sekedar masih berkembang—termasuk Indonesia yang kemiskinannya masih sangat tinggi.

Kemiskinan itu Merusak

Bacaan Lainnya

Kemiskinan merupakan persoalan yang sungguh menghancurkan dan merusak. Kemiskinan menyebabkan kekufuran, merusak iman, menyebabkan kemalasan, mudah dibelokkan kenyakinan dan prinsipnya, mudah dikalahkan dan yang jelas dimana-mana selalu menjadi persoalan yang menyusahkan negara. Ibarat penyakit, kemiskinan adalah sebuah kanker yang sangat menggerogoti tubuh seseorang hingga kurus dan habis.

Agama tanpa adanya kekayaan jelas akan kalah dan dikalahkan. Lihatlah Palestina yang miskin, dengan mudah dikalahkan oleh Israel yang kaya. Perang Badar dan Uhud tanpa adanya sumbangan kekayaan dari Utsman bin Affan tentu “sulit” untuk bisa mengalahkan kekuatannya Abu Jahal dan kawan-kawannya.

Bagaimana pun beragama tetap membutuhkan kekayaan. Mulai dari membangun masjid, membantu saudara yang berkekurangan, membiayai penelitian, membiayai penulisan ilmu, membangun pondok pesantren, mendatangkan dai “Gus-Gus atau Ning” yang viral, mendatangkan group rebana dan apalagi menikah, pasti membutuhkan kekayaan. Artinya kondisi kemiskinan adalah kondisi yang hina dan sangat merugikan diri seseorang muslim.

Oleh sebab itulah, menjadi kaya dan mengurangi angka kemiskinan merupakan sebuah kewajiban bagi setiap muslim. Setiap muslim maupun komunitas muslim harus berupaya dengan keras untuk mengurangi kemiskinan dan menghilangkan setiap kondisi kemiskinan yang dialami oleh masyarakatnya. Tidak ada baik-baiknya menjadi orang miskin.

Jenis Orang Miskin

Kaitannya hal inilah perlu kita gali lebih mendalam jenis-jenis orang miskin agar mengidentifikasinya lebih mudah dan mengkajinya bisa leluasa, lebih jelas, lebih fokus, serta lebih terarah. Jika jenis-jenis orang miskin sudah ditentukan dengan jelas maka akan memberikan peta yang jelas bagi setiap orang atau institusi untuk “memeranginya” dan menghapusnya dari negara atau dari komunitas.

Menurut hemat penulis jenis-jenis orang miskin terbagi menjadi empat jenis golongan, melihat kondisi kemiskinannya dan keburukan nasibnya serta kepemilikan harta kekayaannya, yaitu orang miskin baik, orang miskin kondisi, orang miskin perilaku dan orang miskin tersesat.

Miskin Baik

Pertama, Orang Miskin Baik (OMB), yaitu orang miskin yang tidak mempunyai uang yang cukup untuk membiayai kehidupannya sendiri, menghidupi keluarganya dan memenuhi kebutuhan dasarnya dikarenakan pekerjaannya yang belum cukup untuk digunakan memenuhinya.

Orang miskin jenis ini masih mempunyai perilaku baik dan bernurani. Mereka masih menyempatkan diri untuk berada di tempat ibadah seharian penuh, menyempatkan diri untuk bersedekah sepunyanya, menjalani sholat dengan baik dan bisa membaca buku-keilmuan secara nyaman dan tenang.

Secara harta mereka miskin, tapi secara hati mereka juga berkeinginan untuk menjadi kaya, tapi apa daya kemampuan terbatas dan fasilitas tidak tersedia untuk berwirausaha. Mereka kesulitan untuk bangkit dan berat pula untuk bergerak menuju menjadi orang yang Makmur dan berkecukupan.

Kondisi seperti ini biasanya dialami oleh para santri yang pulang dari pesantren, dari golongan keluarga miskin lalu harus menghidupi orang tuanya dan juga turut serta menyumbang kehidupan saudara-saudaranya. Apa mau dikata, mereka tetap istiqomah menjalani kehidupannya sebagai “santri dewasa” tapi tidak disertai dengan sumber kekayaan yang cukup untuk menjalani kehidupannya.

Atau anak tertua yang mempunyai sepuluh saudara—misalnya, dimana adik-adiknya masih kecil dan orang tuanya sudah rentah tidak mampu lagi berkerja, sehingga terpaksa dia harus berupaya keras untuk membantu orang tuanya. Orang jenis ini lebih keren disebut dengan generasi sandwitch.

Dari kalangan “miskin baik” ini jarang sekali dijumpai dari kalangan selain santri, karena orang yang miskin dengan cara baik sepertinya hanya dialami oleh para santri yang tidak menunjang untuk berwirausaha. Mereka disibukkan dengan menjadi guru ngaji, guru madrasah, guru madrasah diniyah yang gajinya diperkuat dengan “barokah dan ikhlas”.

Kemakmuran orang jenis ini hanya bisa dilewati dengan satu jalan, yakni tetap menekuni apa yang ditekuninya—guru ngaji, guru madrasah, sambil berharap ada peluang atau kesempatan yang hinggap padanya untuk naik menjadi Makmur dan sejahtera—disertai dengan usaha kecil-kecilan, seperti jualan snack, jualan camilan, dan sejenisnya.

“Sabar, sabar, sabar dan ikhlas” adalah nasehat yang relevan diterapkan oleh santri jenis miskin baik ini, karena dengan kekuatan tersebut kelak akan lahir peluang untuk menjadi Makmur dan terentas dari kondisi basah kuyup kemiskinan.   

Miskin Kondisi

Kedua, Orang Miskin Kondisi (OMK), adalah orang miskin yang hidup di suatu wilayah atau di suatu negeri yang dipimpin oleh pemimpin dictator, kejam, bengis, dan serakah yang tidak memungkinkan warganya untuk menjadi kaya. Negara tersebut kebanyakan dijauhi oleh orang-orang pandainya dan ditinggalkan oleh penduduknya yang lebih jenius dan lebih cerdas, sehingga menambah kondisi negara tersebut semakin sulit untuk bangkit.

Orang miskin jenis ini walau sudah bekerja keras dan bersusah payah bekerja bertahun-tahun tetap saja miskin dan tidak bisa mengumpulkan kekayaan, karena pemerintahannya telah menindas dan tidak memberikan kesempatan warganya mengembangkan kewirausahaan. Boro-boro pinjaman lunak untuk berwirausaha, alih-alih pemerintah di negara tempat orang miskin jenis ini mendirikan pabrik-pabrik yang tidak melibatkan orang lokal (warganya sendiri) untuk berkerja. Malah mendatangkan pekerja asing yang keahliannya sama dengan keahlian warganya sendiri—yang masih menganggur.

Orang miskin jenis ini sejatinya sangat cerdas dan sangat pandai dalam membangun kekayaannya—karena kuliah dan mempunyai pengetahuan, tapi karena hidup di suatu wilayah yang bergolak, perang, konflik berkepanjangan, pemerintahan yang melacurkan diri—korupsi dan menjual kekayaan negaranya, serta tidak mempunyai kesempatan untuk menjadi kaya maka kondisinya pun menjadi miskin. Mereka miskin bukan karena dirinya, tapi karena negara yang gagal memberikan kesempatan kepada mereka untuk berkembang.

Banyak negara yang dikatakan sebagai negara yang gagal di dunia ini karena pemerintahannya gagal mengatur kelembagaan negaranya untuk lebih nyaman dan lebih bahagia bekerja di negaranya sendiri. Termasuk di desa-desa di Indonesia yang tidak mendukung warganya untuk kaya, sehingga memaksa mereka untuk “melarikan diri” menjadi tenaga kerja kasar di negara orang. 

Negara-negara yang gagal selalu diliputi dengan perang saudara, konflik antar kelompok, tersebarnya kebencian dan kesaling menghina satu sama lain. Negara gagal selalu berujung pada kemiskinan, kelaparan, korupsi, kehancuran dan pada akhirnya bencana kemanusiaan.

Miskin Perilaku

Ketiga, Orang Miskin Perilaku (OMP), adalah orang miskin yang lahir dari perilakunya sendiri yang mencerminkan karakter orang miskin, sifat-sifat orang terbelakang dari peradaban tinggi dan ciri-ciri orang yang mencerminkan kemiskinan. Karakter kemiskinan mereka tampilkan sendiri dengan kemalasan belajar, kemalasan bekerja, pemborosan mengkonsumsi, dan menghambur-hamburkan harta yang dimilikinya serta berbuat maksiat dengan uangnya yang terbatas, sehingga mengantarkannya pada kondisi yang serba kekurangan.

Mereka juga dicirikan dengan sifat-sifat orang terbelakang dari peradaban tinggi seperti suka mendekat pada dukun dan spiritualis yang dibantu khadam jin, tertarik dengan metode cepat kaya ala bantuan jin dan makhluk halus, mendatangi makam-makam untuk mendapatkan jalan pintas mencari kekayaan dengan berjudi-lotre, dan tertarik dengan bisnis benda-benda keramat bernilai tinggi yang penuh khayalan.  

Dan tentunya mereka juga dicirikan oleh ciri-ciri orang yang mencerminkan kemiskinan, seperti tidak bisa berpakaian secara rapi—walau pakaiannya berharga mahal, selalu berbau ampek karena jarang mandi dan jarang memakai wewangian, malas membersihkan pakaian-rumah-halamannya yang kotor, penampilan yang acak-acakan, dan selalu menghina para penggemar belajar kitab atau pembaca buku. 

Berapa pun uang yang diberikan kepada orang miskin jenis ini tidak akan mengubah kehidupannya, karena bagi dia uang hanya untuk dihabiskan, bukan untuk dikelolah dengan baik dan digunakan secukupnya. Orang jenis ini tidak layak untuk mendapatkan bantuan keuangan apapun, termasuk dari pemerintah.

Tidak punya uang, bukannya berkerja dan melakukan hal-hal yang bermanfaat, mereka justru mendatangi tempat-tempat keramat dan berharap menemukan benda-benda unik yang bisa dijual kepada seorang koletor kaya. Seperti keris, akik, atau batu-batu yang bisa mendatangkan kekebalan atau kesaktian. Ujung-ujungnya orang jenis ini hanya menghabiskan biaya untuk hidupnya sendiri.

Orang Miskin Tersesat

Keempat, Orang Miskin Tersesat (OMT), yaitu orang miskin yang menyalahkan kemiskinannya kepada takdirnya Tuhan, qodlo-Nya Allah dan selalu mengumpat kondisi yang dialaminya. Mereka tidak syukur dengan kondisi yang dialaminya dan tidak memberikan perilaku yang baik sebagai manusia terhadap segala keadaan yang baik di sekitarnya.

“Ini gara-gara orang tua saya yang miskin sehingga saya menjadi miskin.” Begitu kira-kira umpatannya Ketika menyikapi sikapnya sendiri yang malas berkerja dan malas untuk mencari uang yang normal dan wajar. Biasanya mereka tidak segan-segan untuk marah di media virtual seperti facebook atau Instagram.

Mereka juga selalu menyalahkan negara atas kondisi kemiskinannya, kendati negara sudah membuka peluang untuk berwirausaha. Mereka juga sudah mendapatkan kesempatan untuk meminjam modal guna mengembangkan usahanya tapi modal itu digunakan untuk kesenangan dan membeli barang-barang yang memenuhi hasrat nafsunya—bukan untuk kebutuhannya.

Seperti halnya masyarakat jenis ini di desa saya yang akan berpesta pora ketika menerima BLT. Uang bantuan tersebut diwujudkan dalam bentuk kulkas, televisi, handphone, atau mungkin juga untuk jalan-jalan ke mall. Beberapa hari kemudian, ketika uangnya habis mereka meminta-minta dan akan marah memarahi sekitarnya.  

Orang jenis ini selalu mengedepankan keinginannya dari pada kebutuhannya, dan selalu membeli barang-barang yang membebani kehidupannya, seperti membeli mobil yang sebenarnya dia tidak membutuhkan, memperbaiki dan memperindah rumah hanya untuk pamer—tidak ingat jika hutangnya sangat besar nilainya dan menumpuk.

Orang jenis ini bahkan merupakan orang yang memiliki kekayaan dan uang, tapi perilakunya yang miskin dan suka menyalahkan takdir-Nya Allah yang dirusaknya sendiri, sehingga menyebabkan mereka terlihat “bodoh, miskin, dan terbelakang”. Seperti halnya yang dialami oleh para pemuda nelayan di desa saya, mereka memegang uang tapi uangnya habis untuk hal-hal yang un-manfaat—seperti mendatangi prostitusi atau bermabuk-mabukan.

Miskin yang Bisa terselamatkan

Diantara keempat golongan orang miskin yang bisa dientas, diselamatkan dari kemiskinan dan diberdayakan (untuk makmur) hanyalah golongan yang pertama dan kedua. Sedangkan golongan orang miskin yang ketiga dan keempat tidak bisa diselamatkan dan tidak bisa diberdayakan untuk menjadi kaya, kendati jutaan anggaran negara diberikan kepada mereka dan banyak uang disebarkan kepada golongan ini agar bisa berwirausaha, mereka akan tetap miskin dan tetap menjadi beban negara, masyarakat, serta beban komunitasnya.

Untuk golongan orang miskin yang pertama dan yang kedua layak untuk mendapatkan perhatian dari komunitas muslim lainnya, termasuk perlu pula perhatian dari negara agar bisa mengangkat derajad ekonominya. Bantuan-bantuan kewirausahaan perlu diberikan kepada mereka agar mereka bisa bangkit dan mendapatkan kesempatan untuk menjadi makmur. Dan golongan ketiga dan keempat tidak patut diperhatikan karena keberdaaan mereka sangat membahayakan komunitas muslim dan menjadi penyakit bagi kehidupan bernegara.

Pos terkait