Oktober 24, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

EMPAT IBLIS BERGENTAYANGAN (Janissary Jawah) Episode ke-24

oleh: Moh. Syihabuddin

 

Mata Mei Xioling menatap sosok yang memegangi tanganya. Kemarahannya mengendur dan tenaganya kembali lemas.

“Cukup, jangan bunuh mereka. Mereka hanya suruhan. Bukan penjajah.” Kata Ngapudin yang memegangi lengannya. Sebaiknya kita segera pergi.” Kata Ngapudin kepada istrinya.

Ngapudin mengajak mundur istrinya, lalu segera menaiki kudanya dan beranjak pergi dari tempat itu. Mereka segera meninggalkan para pendekar berandalan yang disewa oleh tentara Belanda, terkapar dan terluka akibat serangan yang diterimanya.

Setelah beberap menit kemudian sampailah Ngapudin, Mei Xioling dan Herlina disebuah rumah ditengah perkebunan. Dia berhenti, turun dari kudanya dan berusaha menemui pemiliknya. Ada seorang kakek dan nenek yang keluar dari rumah itu.

Ngapudin memohon untuk bisa menginap sebentar, karena hari mau sore. Perjalanan yang melelahkan dan tenaganya yang terkuras mulai terasa sakit diseluruh tubuhnya, apalagi jika melihat dua perempuan yang bersamanya malah pikirannya semakin lelah, merasa ada beban yang sangat berat. Kepada pemilik rumah itu Ngapudin bercerita apa adanya tentang dirinya dan tujuannya.

Pemilik rumah menerimanya dengan baik dan memberikan sedikit bantuan berupa makanan, air minum, dan air mandi untuk membersihkan badan. Herlina dan Mei Xioling segera mandi bergantian disebuah kiwan kecil dibelakang rumah. Lalu Ngapudin mandi setelah dua wanita itu berubah penampilan menjadi bersih, harum dan segar.

Malam hari tiba, pemilik rumah menyediakan tamunya sebuah kamar dibelakang rumah untuk istirahat. Herlina segera merebahkan tubuhnya, lalu diikuti oleh Mei Xioling. Ngapudin menegurnya, “Sebaiknya kita sholat terlebih dahulu. Masih ada maghrib dan isya’. Kita jama’ saja jadi satu.”

“Lho, katanya aku masih boleh memeluk agama lamaku!” bantah Mei Xioling.

“Iya, katanya aku juga masih katolik.” Sahut Herlina.

“Benar, kaliankan ikut aku, maka kalian yang penting ikuti saja aku. Aku mengajak apa, kamu berdua mengikuti saja.” Kata Ngapudin. “Kalian tidak perlu membantah, semua aku yang menanggungnya. Ikuti saja. Ayo sembahyang dengan caraku, biar kalian tahu dan berpengalaman.” Ngapudin tersenyum.

Dan ketiga orang yang berbeda agama itupun sholat maghrib yang dijama’ dengan sholat isya’ bersama-sama. Sholat ini merupakan hal pertama yang dilakukan oleh Herlina dan Mei Xioling, dan pertama kalinya juga Ngapudin memimpin sholat dua wanita dalam satu ruangan.

Setelah sholat selesai Ngapudin mempersilahkan Herlina dan Mei Xioling istirahat. Sedangkan Ngapudin duduk tawaruk menghadap kearah kiblat, membaca istighfar, memasuki alam lain, menarik tasbihnya, menyebut nama Tuhannya, lalu hanyut dalam kegelapan yang takterjangkau alam nyatanya. Dirinya melayang menuju dunia lain yang tidak disadarinya sendiri.

Tak terasa dua jam lebih, Ngapudin baru sadar, menutup dzikirnya dan merebahkan tubuhnya ditempat tidur, ditanah dengan alas tikar yang bersih. Ia berada ditengah-tengah, diantara Herlina dan Mei Xioling dengan jarak masing-masing satu meter.

Waktu yang tepat untuk melangsungkan bulan madu. Tapi dia sadar, bahwa sangat tidak tepat untuk melakukan hubungan dengan istrinya, karena ada Herlina disampingnya.

Ngapudin tidur, terlelap, merasakan kenikmatan dalam kenyamanan sementara yang diperolehnya. Jika pada malam kemarin dia tidur di kandang sapi dengan tangan dan kaki terikat, maka malam ini dia tidur dengan terlentang ditemani dua wanita yang menemaninya. Kendati diatas tanah, baginya itu sudah cukup untuk sedikit merasakan nikmatnya istirahat.

Tidur lebih dalam, lebih jauh dan lebih merasuk kealam bawah sadar membuat Ngapudin terombang-ambing diantara kenyataan dan imajinasi. Bayangannya melebur bersama kesadarannya yang sudah tidak bisa dikendalikannya lagi.

***

Ngapudin berlari ditengah hutan, dikejar oleh makhluk aneh, manusia berkepala buaya. Tubuhnya sempoyongan menabrak tumbuhan-tumbuhan ilalang yang tumbuh liar. Saking takutnya larinya tidak melihat arah kanan dan kiri atau arah depan dan belakang, yang penting lari. Akibatnya, kakinya menyandung sebatang kayu pohon mahoni yang roboh. Iapun terjatuh, terpelanting dan kesulitan untuk berdiri lagi, karena kakinya menancap pada sebuah ranting tajam dibawahnya.

Belum sempat berdiri dan melakukan pelariannya lagi, manusia berkepala buaya sudah menerkamnya, dadanya digigit hingga berdarah. Ia berusaha melawan sekuat tenaga. Menggunakan apa saja untuk melawannya. Sebatang kayu yang ada disampingnya diambilnya dan digunakan untuk menghadapi sosok aneh itu.

Ketika tanganya hampir memukul kepala makhluk buaya itu, tanpa disadarinya dari arah belakangnya muncul kepala manusia berkepala serigala yang menggigit tangannya. Ngapudin berteriak kesakitan menahan rasa sakit yang sangat nyeri tangan kanannya. Tangannya melawan dan berusaha menggerakkan kayu yang dipegangnya untuk mengusir makhluk itu.

Taklama itu datang lagi makhluk berkepala harimau dan makhluk berkepala ular. Terhitung ada empat monster yang dihadapinya. Tubuhnya berdiri tegap seperti manusia, kulitnya berbulu, tingginya kurang lebih dua meter setengah, dan raungannya memekik telinga.

Keempatnya meraung keras, membuka mulutnya, menunjukkan taring-taring runcingnya, mengeluarkan suara-suara yang menakutkan dan membuat hati berdebar-debar. Lalu secara bersama-sama menyerang Ngapudin dengan membai buta.

Ngapudinpun takkuasa menahannya. Tubuhnya terkoyak habis, digigit kesana kemari, dan dilukai dimana saja darahnya bisa mengalir segar. Tidak ada lagi rasa sakit yang bisa dideritanya, kecuali hanya pasrah dan menyerah dengan keadaan.

Namun dirinya menyadarinya jika keempat makluk aneh itu tidak membunuhnya. Tapi membiarkannya hidup dengan banyak luka, habis tenaga dan kulitnya penuh darah. Mereka mengikat Ngapudin di kedua tangan dan kedua kakinya. Masing-masing mahkluk itu memegangi tali ikatannya lalu membawanya ke sebuah tempat.

Apa yang akan terjadi Ngapudin hanya pasrah, tidak tahu apa yang akan dideritanya selanjutnya.

***

Makhluk-makhluk aneh itu membawa Ngapudin ditengah-tengah tanah lapang. Mereka berempat secara bersamaan menarik tali yang mengikat kedua tangan dan kakinya. Jadilah tubuhnya melayang dengan tangan dan kakinya seolah ingin patah. Ngapudin berteriak, kesakitan dan tidak tahan dengan bentuk siksaan yang dihadapinya.

Setelah tidak lagi berteriak, tarikannya dilepaskan. Ngapudin diterlentangkan diatas sebuah batu. Tali yang mengikat kedua kaki dan tangannya dikaitkan pada sebuah batu besar, sehingga dia tetap tidak bisa bergerak.

Terik panas matahari segera saja membakar luka-lukanya, batu besar yang ditidurinya terasa panas dan menambah rasa sakit pada luka-luka dipunggungnya.

Makhluk berkepala buaya mendekatinya dengan penuh kemarahan dan kebencian, membawa garam dan menaburkannya ke seluruh luka-luka di tubuh Ngapudin. Rasanya ingin berteriak, namun tidak ada lagi tenaga yang bisa digunakan untuk berteriak. Garam itu lama kelamaan mencair bersama darahnya yang mengaliri seluruh tubuhnya, memasuki relung-relung lukanya dan membuat rasa sakit yang lebih sakit dari pada sebelumnya.

Lalu makhluk berkepala ular datang mendekatinya dengan penuh kekesalan dan kebengisan. Membawa besi yang sudah terbakar ujungnya. Ujung besi yang kemerah-merahan itu ditusukan ke luka yang ada di perut Ngapudin. Rasa sakit yang semakin sakit mendapatkan tambahan rasa sakit yang paling sakit lagi. Penderitaannya bertambah berkali-kali lipat.

Dilanjutkan makhluk berkepala harimau mendekatinya dengan wajah penuh kengerian dan kekejaman. Membawa satu ember ulat gatal. Ulat-ulat itu ditaburkan ketubuhnya, sehingga merambat diantara luka-lukanya dan menggigit kelupasan kulit ditubuhnya yang sudah tidak berdaya lagi. Sudah merasakan sakit akibat luka, tusukan besi panas dan garam yang ada disegujur tubuhnya malah ditambah dengan gigitan ulat yang gatal. Rasanya ingin menggaruk, tapi apa daya tangannya terikat. Semua itu menyebabkan kengerian yang sangat perih disegujur tubuhnya.

Dan terakhir, makhluk berkepala serigala muncul dihadapanya dengan membawa satu ember kotoran manusia dan kotoran hewan, dengan raut muka penuh kegregetan dan gemas-gemas benci. Tanpa berbicara dan memikirkan rasa sakit yang diderita Ngapudin, seluruh kotoran itu diguyurkan keseluruh tubuh Ngapudin hingga merata. Bau amis, membusuk, dan tengik melumuri seluruh tubuhnya. Rasanya ingin menahannya, namun apa daya tidak ada yang bisa dilakukannya.

Kondisi tersebut dibiarkan sampai malam telah tiba, dan kondisi Ngapudin berada diantara hidup dan mati. Ia hanya bisa melihat matahari yang semakin tenggelam meninggalkan pakaian siang hari dan berganti dengan selimut kegelapan yang memasuki malam hari. Kendati hanya beberapa jam namun rasanya bagaikan beberapa tahun.

Siksaan yang diterima Ngapudin lengkap, rasa sakit, perih, gatal, dan bau, semuanya menyatu kedalam dirinya dan membuat tubuhnya terasa tidak berharga sama sekali. Ia merasa lebih hina daripada hewan yang paling hina. Ia merasa tidak lebih dari tumpukan sampah, yang sebentar lagi akan dibuang disebuah tempat sampah paling menjijikkan di dunia.

***

Saat malam sudah memasuki kegelapan yang paling gelap dan matanya tidak mampu melihat apa yang ada disekelilingnya, Ngapudin digelendeng lagi ke sebuah tempat berbatu. Ditengahnya terdapat api unggun yang menyala-nyala. Diatas api unggun terdapat bentangan kayu besar yang memanjang, ditopang oleh pohon dan batu disekelilingnya.

Ngapudin diikat rapat seluruh tubuhnya, tangannya dibangkik kebelakang, dan kakinya disatukan menyempit.

Makhluk berkepala serigala mengikatkan tali dikaki Ngapudin yang sudah terikat. Lalu talinya dilempar ke kayu yang melintang diatas api unggun. Dengan dibantu makhluk berkepala harimau, makhluk kepala serigala menarik tubuh Ngapudin hingga terangkat setinggi dua meter dan posisinya tepat berada tempat diatas api unggun yang menyala-nyala.

Panas, panas dan sangat panas. Itulah yang dirasakan oleh Ngapudin. Kepalanya seolah terbakar, namun tidak ada api yang membakarnya, hanya kobarannya api menyala-nyala dibawahnya. Dirinya seperti dipanggang dalam kondisi hidup-hidup.

Kobaran api dibiarkan tetap menyala memberikan rasa panas pada Ngapudin. Api itu juga dijaga untuk tetap menyala dan tidak redup atau mengecil. Batangan kayu ditambahkan diluapan api itu jika api dirasa berkurang atau mengecil.

Setiap api membesar dan membuat rasa panas pada tubuh Ngapudin, lalu Ngapudin berteriak keras kepanasan, para monster aneh itu tertawa terbahak-bahak sambil menyanyikan lagu-lagu pemujaan setan. Mereka merasa senang setiap Ngapudin kesakitan, merasa bangga jika Ngapudin merasakan kepedihan dan merasa merdeka jika Ngapudin memekikkan teriakan dan jeritan.

Kebahagian dan kesenangan makhluk-makhluk ini adalah melihat Ngapudin menderita, atau merasakan sakit yang paling sakit didunia. Jika Ngapudin belum merasakan sakit ini maka mereka tidak akan puas dan belum merasakan nikmatnya sebagai para penyiksa.

Sebagai hiburan, sekali-kali diantara makhluk ini ada yang melemparkan abu panas ke tubuh Ngapudin. Lalu berteriak ketika Ngapudin menahan rasa sakitnya. Kayu-kayu yang sudah terbakar dan menjadi serpihan abu panas menjadi mainan yang paling menarik bagi makhluk-makhluk ini untuk dilemparkan ke tubuh Ngapudin. Dan sesekali mereka juga menendang dan memukuli tubuh Ngapudin dengan batangan kayu hingga patah dan kulit Ngapudin mengelupas.

Setelah api mulai habis dan redup, makhluk-makhluk itu melepaskan ikatan kaki Ngapudin. Ngapudinpun terjatuh tepat diatas bekas api unggun. Kayu-kayu yang sudah habis terbakar tentunya membuat rasa sakit yang perih lagi ditubuhnya, beberapa kayu yang sudah menjadi arang melakat ditubuhnya, dan membuat kebakaran beberapa saat dikulitnya.

Bunyi bekas kayu bakaran yang melekat pada kulit Ngapudin berbunyi, nyes…nyes…nyes, yang semakin menambah bangga para makhluk penyiksa yang aneh ini. Mereka merasa puas dan merasakan kenyang seolah dari menikmati hidangan makan bersama.

***

Pagi telah tiba. Ngapudin diseret ditanah lapang yang sedikit luas ditengah hutang. Tubuhnya diikatkan pada sebuah pohon dengan tangan terbangkik kebelakang.

Lehernya diikatkan pada pohon itu juga sehingga tidak bisa duduk, hanya berdiri mematung.

Dari jarak dua puluh meter keempat makhluk itu bermain-main keahliannya dalam memainkan senjata jarak jauh. Targetnya adalah tubuh Ngapudin. Ujung kaki, tubuh, hingga wajahnya, semunya diberi angka sebagai skor yang akan menentukan pemenangnya.

Giliran memainkan permainan yang pertama adalah makhluk berkepala buaya, ia ahli dalam memanah. Saat mulai membidik tubuh Ngapudin dia berkali-kali gagal melakukannya. Dua, tiga, hingga lima dan enam lesatan panahnya meleset menyamping atau menukik ditanah, gagal mengenahi tubuh Ngapudin. Namun bidikan ketujuhnya bisa tepat sasaran, menusuk tangan samping kanan Ngapudin.

Ngapudin berteriak kesakitan dan suaranya mendekati suara lolongan anjing yang menggonggong.

Tusukan anak panah itu membuat makhluk-makhluk itu tertawa bangga dan merasa sukses melakukan hiburannya.

Dilanjutkan giliran yang kedua, makhluk berkepala ular yang membawa beberapa pisau kecil. Satu persatu pisau itu dilempar ketubuh Ngapudin. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, hingga Sembilan lemparannya gagal mengenahi tubuh Ngapudin. Namun lemparannya yang terakhir baru bisa mengenahi sasarannya, angka Sembilan, tepat ditengah-tengah bahu kiri tangan Ngapudin.

Ngapudin berteriak kesakitan dan suaranya menyamai lolongan anjing yang menggonggong.

Lemparan pisau itu membuat makhluk-makhluk itu tertawa bangga dan merasa sukses melakukan hiburannya.

Lalu giliran yang ketiga, makhluk berkepala serigala yang ahli dalam melempar bola-bola mesiu yang bisa meledak. Dalam satu lemparan hingga tujuh lemparan, tidak ada satu bolapun yang meledak ditubuh Ngapudin. Baru pada lemparan yang kedelapan sebuah bola mesiunya baru tepat menyentuh kaki kanan Ngapudin. Bola mesiu itu meledak dan menyebabkan kaki Ngapudin luka parah, hamper patah.

Ngapudin berteriak kesakitan dan suaranya melebihi lolongan anjing yang menggonggong.

Lemparan bola peledak itu membuat makhluk-makhluk itu tertawa bangga dan merasa sukses melakukan hiburannya.

Dan terakhir, giliran makhluk berkepala harimau yang ahli dalam menggunakan senapan, untuk menyiksa Ngapudin dan membuatnya berteriak. Ia membidik Ngapudin beberapa kali, satu, dua, tiga hingga sepuluh kali, tidak ada yang bisa menyentuh tubuh Ngapudin. Baru pada bidikan yang terakhir pelurunya mengenahi kaki kiri Ngapudin yang menyebabkannya tidak bisa menahan tubuhnya yang sudah sempoyongan.

Ngapudin berteriak kesakitan dan suaranya jauh melebihi lolongan anjing yang menggonggong. Ingin rasanya Ngapudin merobohkan tubuhnya, namun tali yang mengikat lehernya menghalanginya untuk duduk. Dia hanya bisa memaksakan tubuhnya untuk tetap berdiri dengan sisa-sisa tenaganya yang paling tersisa.

Bidikan senapan peluru itu membuat makhluk-makhluk itu tertawa bangga dan merasa sukses melakukan hiburannya.

Lalu untuk mengakhiri penyiksaan terhadap tubuh Ngapudin, yang hanya tinggal beberapa mili saja nyawanya, para makhluk penyiksa itu mendekati tubuhnya dan menyeretnya ditengah tanah lapang. Secara bergantian, mereka berempat menusukkan senjata alaminya masing-masing, menggigit, menyakar, menginjak, menendang, dan memukul, hingga Ngapudin roboh tak kuasa lagi menahan tubuhnya.

Saat itulah dia menyadari hidupnya sudah tidak bisa lagi diselamatkan dan kematian adalah jalan terbaiknya.

Makhluk berkepala buaya mendekatinya, “Hai, lelaki busuk dan menjijikkan. Kau akan tahu siapa kami. Kami akan datang kapanpun jika kau lengah dan takberdaya. Aku adalah kebencian yang dibentuk oleh cinta-cintamu, bangsat.”