Oktober 27, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

EKSISTENSIALISME-PERENNIALIS DAN MASA DEPAN MANUSIA Pergulatan Menjadi Diri Sendiri dalam Dunia Postmodern

PENGANTAR

Beberapa tahun yang lalu—kira-kira tahun 2011, saya dengan sangat terpaksa masuk ke Indomart untuk membeli sesuatu yang bisa mengisi perut saya, padahal sejak mengenal teori ekonomi-konspirasi saya enggan untuk membeli barang (apapun) di setiap swalayan. Tepat saya membuka pintu dan mulai masuk ke dalamnya, seorang gadis yang bertugas sebagai kasir langsung menyambut saya dengan ucapan yang sudah umum, “Selamat datang di Indomart, selamat belanja.” Si gadis kasir mengatakan itu tidak sendirian, namun disertai ucapan yang sama dari beberapa pelayan lainnya. Saya pun menanggapinya dengan senyuman dan berharap itu merupakan sebuah pelayanan yang memang untuk memberikan kepuasan. Dan setiap ada pembeli lagi yang masuk, para pegawai Indomart langsung mengatakan kalimat yang sama, baik dengan memandang calon pembelinya atau sibuk dengan menghitung uang, melayani pembeli lain, atau menata barang jualannya.

Seterusnya, dengan tempat yang sama dan kegiatan yang sama saya selalu menjumpai para pegawai Indomart mengatakan “Selamat datang di Indomart, Selamat Belanja.” Dan ternyata tidak hanya Indomart, hampir semua swalayan atau tempat penjualan barang/makanan yang terbilang modern selalu melakukan rutinitas sambutan pembeli yang sama. Para pegawai salayan itu terlihat seperti mesin yang bergerak sendiri secara mekanis, di semua tempat, di semua waktu dan di semua kondisi. Tujuan utamanya adalah penjualan dan tercapainya target yang diinginkan. Saya pun mulai sadar dan melihat dengan jelas penampakan kepalsuan yang telah ditampilkan karyawan di pasar swalayan itu.

Itulah gambaran kecil dari fenomena dewasa ini yang dikritik oleh para filsuf sebagai zaman postmodern. Di zaman ini manusia sering kali berjuang untuk menjadi dirinya sendiri dan menampilkan sebuah kekuatan yang bisa menghasilkan pertumbuhan. Alih-alih mendapatkan dirinya sebagai dirinya, manusia postmodern jatuh tersungkur dalam kepalsuan dan topeng-topeng yang menutupi identitas dirinya. Semakin mereka mengikuti trend masyarakat postmodern, maka akan semakin mendorong ke arah ketidakjelasan identitas dan kekaburan hakekat dirinya.

Apa yang ditampilkan oleh para pelayan Indomart, sebagai contoh kasus yang saya alami merupaan bentuk kepalsuan yang dewasa ini marak dan menjadi identitas kabur masyarakat postmodern. Sikap baik dan ramah para pelayan di semua swalayan bukanlah apa yang seharusnya dan bagaimana seharusnya dilakukan, namun lebih pada sebuah keterpaksaan yang dibalut oleh tumpukan kepalsuan akhlak. Ibarat sebuah ibadah, sikap baik para pelayan swalayan merupakan ritual suci yang sakral, dikultuskan, disembah dan diamalkan secara rutin oleh para penganutnya, demi mendapatkan balasan pahala “membeli” dari para pelanggan, dan bukan karena mereka seharusnya seperti itu. Anda menjumpai para pelayan itu sangat santun, padahal sejatinya kehidupan sehari-harinya tidaklah sesantun ketika sedang berbicara dengan orang tuanya, teman-temannya, atau bahkan tetangganya.

Dewasa ini, di zaman postmodern banyak dijumpai manusia tidak lagi dirinya sendiri, tidak lagi manusia yang seharusnya manusia tampil sebagai manusia. Mereka terjebak pada gagasan besar yang membuat identitasnya kabur dan tidak mempunyai ciri khas unik. Di segala bidang kehidupan, manusia berjuang dalam ranah merebut dirinya untuk menjadi yang lain—bukan dirinya sendiri. segala tindaklakunya merupakan sarana untuk mencapai tujuan yang bisa menguntungkan secara finansial dan bisa menambah nilai ekonomi. Sehingga manusia pun kehilangan eksistensinya sebagai manusia, karena mereka tidak mampu menjadi manusia.

Inilah sebagai obyek kritik yang dilancarkan para penganut eksistensialisme, yang memandang bahwa manusia harus menjadi dirinya sendiri—namun fakta postmodern telah mengubah dirinya menjadi yang lain. Manusia sebagai manusia harus menjadi manusia, bukan yang lain. Manusia lahir adalah untuk menjadi manusia yang seutuhnya dan meniadakan yang lain sebagai identitasnya.

Lalu, bagaimana caranya agar manusia bisa menjadi manusia dan mampu tumbuh dan hidup sebagai manusia, yang tidak terpengaruh dengan segala kepalsuan zaman postmodern? Para filsuf berbeda pendapat hingga membelah dua pendapat filsafat eksistensialisme, yang memiliki perbedaan sangat besar dalam memposisikan eksistensi manusia. Namun akan nampak jelas, bahwa untuk menjadi manusia yang sejati salah satu pandangan yang tepat adalah satu diantaranya, bukan satunya lagi. Karena yang satunya jelas membimbing manusia masuk ke dalam kepalsuan dan kegalauan zaman yang tiada henti, hingga mengantarkan dunia masuk ke era postmodern.

 

MANUSIA DAN FILSAFAT EKSISTENSIALISME

Siapakah manusia ini? apa tujuan mereka dilahirkan? Dan mengapa mereka ada dan harus ada? Apakah memang manusia ada karena memang ada, atau mereka ada dengan rencana tertentu? Apakah memang manusia yang mengadakan segalanya hingga apa yang ada di bumi ini ada? Inilah beberapa pertanyaan mendasar bagi filsafat yang berkaitan dengan eksistensi manusia.

Beberapa pemikir, sejak zaman dahulu kala—sebelum Masehi sudah memikirkan berbagai hal yang berhubungan dengan keberadaan manusia, yang pada gilirannya saat ini telah melahirkan aliran filsafat Eksistensialisme. Secara garis besar aliran filsafat ini telah membelah menjadi dua aliran yang sangat bertolak belakang dan memposisikan keduanya saling berhadap-hadapan. Namun pada akhirnya, keduanya harus ada yang “kalah” oleh fakta kehidupan dan mengakui kebenaran aliran yang lainnya—kendati secara nyata para penganutnya menolak.

Corak filsafat eksistensialisme terbagi menjadi dua, yaitu Eksistensialisme-Perennialis dan EksistensialismeHumanis. Adalah Sorin Kierkegaard, filsuf Denmark yang pertama kali mencetuskan gagasan tentang Eksistensialisme ke publik Eropa. Melalui catatan-catatannya, novel dan karya ilmiah Kierkegaard tampil sebagai pemikir baru yang cukup berpengaruh hingga mampu mendefinisikan Eksistensialisme secara jelas. Apa yang digagas oleh Kierkegaard merupakan kritik terhadap Hegel. Akan tetapi jauh sebelum itu, para pemikir Arab-Muslim sudah memberikan pondasi yang kuat tentang eksistensialisme, terutama Al-Ghazali, Junaidi Al-Baghdadi dan Ibn ‘Arabi.

Kira-kira setengah abad kemudian, Jean Paul Sartre, pemikir Perancis membuat gagasan eksistensialisme yang lebih radikal akibat pengaruh Kalr Mark. Ia mendefinisikan ulang Eksistensialisme yang telah dibangun oleh Kiekegaard menjadi jauh lebih berbeda. Dan meminjam istilahnya, lebih Humanis. Baginya, eksistensialisme Kierkegaard merupakan gagasan yang mendukung feodalisme Agama (baca: Gereja Kristen) sehingga sangat tidak cocok untuk dijadikan landasan filosofis menjadi diri sendiri. Namun jauh sebelum Sartre terpengaruh oleh Karl Mark, di sekitar abad 11 M. para pemikir rasionalis Arab-Muslim sudah melakukan apa telah digagasnya dan sama radikalnya, sehingga menuai kencaman dari para kelompok yang melawannya, diantaranya adalah Fahruddin Ar-Razi dan Ar-Rawandi.

Secara garis besar kedua corak filsafat eksistensialisme bisa dilihat dan dibedakan dengan bagan sebagai berikut:

Corak Filsafat Eksistensialisme Perennialisme Humanisme
Tokoh di belahan Timur-Islam Imam Abu Hamid Al-Ghazali,

Junaidi Al-Baghdadi,

Ibnu ‘Arabi

Ar-Rawandi

Ar-Razi

Tokoh di belahan Barat-Kristen Sorin Kierkegaard (Denmark) Jean Paul Sartre (Prancis)
Ide Dasar Untuk menjadi diri sendiri manusia harus menyatukan dirinya bersama keberadaan (berserta) keesaan Tuhan Untuk menjadi diri sendiri manusia harus bebas dari pengaruh apapun, termasuk dengan keberdaan Tuhan
Aplikasi Menjadi manusia pada hakekatnya menjadi lebih religius dan semakin dekat dengan Tuhan Menjadi manusia pada dasarnya menjadi atheis dan tidak dekat dengan segala hal yang mempengaruhi dirinya
Pusat penggalian Pengetahuan Hati/ Qalbu Akal

EKSISTENSIALISME HUMANISME, MANUSIA ABAD 21 DAN BENCANA POSTMODERN

Sejak revolusi industri digulir pada abad 16 M. di Inggris, revolusi Perancis, hingga revolusi Amerika, dunia telah menuju ke arah perubahan yang sangat radikal. Berbagai penemuan telah membantu manusia meringankan pekerjaannya dan mempercepat segala kebutuhannya. Penemuan mesin uap telah mengawali sebuah revolusi kehidupan yang dulunya berbasis pada alam menuju ke arah permesinan. Harapan pun mulai tumbuh dan berkembang untuk mengandaikan masyarakat yang penuh dengan segala kepuasan dan kesejahteraan. Dan hingga masuk pada milenium ke 21 revolusi kehidupan itu pun semakin menjulang tinggi dan melampaui apa yang seharusnya dipikirkan oleh manusia.

Awal munculnya revolusi industri itulah tonggak awal lahirnya pemikiran filsafat eksistensialisme yang bersumber dari pemikiran filsafat Realisme, Naturalis dan lalu bermetamorfosis menjadi filsafat Positivisme[1], yang mengagungkan akal fikiran manusia sebagai pusat pengetahuan dan sumber lahirnya ilmu. Manusia mulai menentang keberadaan agama yang dianggap terlalu mengekang eksistensi manusia sebagai makhluk cerdas. Agama yang notabenenya mengajarkan ketaatan kepada Tuhan dianggap membatasi, bahkan mengebiri manusia yang memiliki akal pikiran. Menurut kaum Positivisme, manusia dengan akalnya sudah lebih dari mampu menciptakan kehidupannya dan memberikan warna bagi kemajuan umat manusia. Karena manusia itu sendiri untuk menjadi manusia tidak membutuhkan Tuhan sebagai yang Ada disisi manusia.

Pada puncaknya pemikiran positivisme mendapatkan dukungan yang kuat dari aliran filsafat Materialisme, yang memandang bahwa manusia adalah objek materi yang berdiri sendiri dan tidak menyertakan Tuhan dalam menjalankan hidupnya. Dan inilah yang kemudian menjadi dasar kuat bagi pemikiran filsafat Eksistensialisme-Humanisme. Pada konteks Ekonomi-Politik aliran ini melahirkan dua gerakan yang bermusuhan, namun padaha kekatnya sama-sama berkepentingan untuk menunjukkan eksistensi materi, yaitu Sosislisme dan Kapitaslime.

Agama, sebagai institusi yang menjunjung tinggi eksistensi Tuhan mendapatkan perlawanan yang keras dari filsafat Eksistensialisme-Humanisme. Menurutnya Tuhan ada, namun ia sangat tidak berperan apa-apa dalam kehidupan manusia. Tuhan adalah wacana semu yang tidak berwujud dan tidak memiliki Eksistensi apa-apa bagi kehidupan dan materi. Karena pertentangannya terhadapa eksistensi Tuhan inilah Satre menyebutnya sebagai Eksistensialisme Atheistik. Sebagai mana dikatakan oleh Jean-Paul Sartre sendiri :

Eksistensisisme Atheistik, yang saya wakili ini, menyatakan dengan sangat konsisten bahwa jika Tuhan tidak ada, atau sekurang-kurangnya ada kehidupan yang eksistensi yang mendahului esensinya, kehidupan yang hidup sebelum ia dapat definisikan dengan konsepsi apa pun. kehidupan ini adalah manusia,…realitas manusia. Apa yang kita maksud dengan eksistensi mendahului esensinya?…adalah bahwa, pertama-tama manusia ada, berhadapan dengan dirinya sendiri, terjun ke dalam dunia—dan barulah setelah itu ia mendefinisikan dirinya. Seorang eksistensialis memandang dirinya sebagai eksistensi yang tidak dapat didefinisikan karena ia tahu ia memulai hidup atau eksistensinya dari ia yang bukan “apa-apa” sampai ia menjadikan hidupnya “apa-apa”…. Manusia adalah apa-apa selain apa yang ia buat dari dirinya sendiri.[2]

Padangan Sastre inilah yang mendorong pemikiran bebas manusia untuk terus menerus mengembangkan dirinya. Karena untuk menjadi manusia ia harus melakukan sesuatu atau dengan kata lain berkarya, karena dengan berkarya itulah manusia baru bisa menjadi manusia atau disebut dengan ‘Subjektivitas’. Dengan sangat sukses negara-negara Barat (Eropa Barat dan Amerika Serikat, serta cabang negara Barat) telah menjalankan gagasan Sartre ini dan mulai menembus wilayah-wilayah yang konon merupakan wilayah Tuhan; diantaranya menciptakan manusia melalui cloning dan eksperimen manusia Bionik[3]. Seolah menantang Tuhan akan eksistensinya dan kekuasaannya.

Dengan adanya konsep kebebasan bagi eksistensi manusia, Sartre mengatakan bahwa manusia adalah bebas: mereka bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang mereka lakukan: mereka tidak menyesal jika mereka melakukan kesalahan.  Dalam beberapa pemahaman, “tanggung jawab kebebasan yang besar” ini merupakan sumber penderitaan yang maha dasyat bagi manusia. Pada pemahaman lain, ini dapat menjadi sumber optimisme—manusia menggenggam takdirnya dengan tangannya sendiri. Dan bahkan Sartre mengatakan “Keistimewaan manusia untuk transedensi—yang melampaui sesuatu yang ada”[4].

Kebabasan manusia sebagai keistimewaan di zaman modern melahirkan berbagai ragam penemuan dan penelitian. Puncaknya adalah merubah sebuah kehidupan dari yang tradisional menuju zaman yang modern, dengan cara meningkatkan—bahasa lain merubah dan mempercepat segala bentuk keinginan dan kebutuhan manusia akan kepuasan, hasrat, dan nafsu. Hingga pada abad 21 melahirkan perubahan yang sangat mencolok akibat dari upaya manusia untuk bereksistensi.

Perubahan yang sangat mencolok itu adalah berkembangnya teknolgi, transportasi dan informasi di segala sudut kehidupan. Dimana berubahan itu tidak lagi dari yang berbasis alam dan manusia menuju ke arah mesin, akan tetapi dari yang berbasis mesin menuju ke Cyberspace[5]. Dunia tidak lagi mengenal batas-batas teritorial, sosial, budaya, agama, bahkan moral, karena sudah mampu ditembus oleh kekuatan tehnologi Cyberspace yang melampaui kemampuan manusia itu sendiri. Internet, televisi, dan media informasi lainnya menjadi semacam monster yang merenggut kehidupan manusia dan kebutuhan manusia untuk hidup. Dengan segala kekuatannya Cyberspace telah menjadikan manusia selalu sibuk di dalam komputer, menonton televisi, videogame, playstation, dan segala bentuk digitalisasi. Dengan demikian manusia telah tercerabut dari akar insaninya, humanismenya, dan sisi sosialnya. Gambaran tersebut nampak jelas bagaimana manusia hari ini lebih banyak sibuk dengan berinteraksi dengan facebook, twitter, google, dan wikipedia dari pada harus meluangkan waktu untuk maksimalisasi ibadah, berinteraksi dengan tetangga—teman—rekan kerja, membaca buku, berfikir orisinal, dan memperbanyak kerja sosial.[6]

Abad Cyberspace inilah yang menjadi tanda utama adanya zaman postmodern, yang melampaui zaman modern yang dibayangkan oleh manusia akan datangnya kesejahteraan, ketentraman, dan kepuasan hidup, namun justru membawa manusia kearah kematian makna dan kegalauan hidup yang tak terbendung.

Zaman Postmodern telah membawa manusia semakin terperosok kedalam lubang ketidak jelasan hidup. Petualangan menelusuri relung-relung digital telah mengalihkan manusia dari makhluk sosial menjadi tak ubahnya zombie yang kehilangan kesadaran. Apa yang diketahui disebuah tempat berkumpulnya manusia; stasiun, mall, bandara, dan mungkin gedung teater 21 adalah manusia-manusia mati yang tidak saling mengenal manusia disisinya[7]. Masing-masing telah sibuk dengan segala kebutuhannya sendiri-sendiri dan seolah tidak sadar akan kehadiran manusia lain. Hal itu disebabkan karena manusia di abad ini semakin sibuk dikejar kebutuhan fisik, hiburan, dan kesenangan yang tiada batas dan terus menerus menghantui mimpi-mimpinya.

Terpenuhi kebutuhan atau tidak terpenuhi, hasilnya sama saja. Dalam dunia Postmodern manusia telah menghadapi kenyataan kegalauan Hidup dan kebingungan Intelektual. Dimana hal itu dikarenakan hidup diartikan sebagai sebuah jalan untuk meraih materi yang sebanyak-banyaknya, mengumpulkan berbagai kekayaan yang belum pernah ada sebelumnya, dan bahkan menggali kekayaan yang menurut legenda pernah ada. Kekayaan ditumpuk, dikembangkan, dan kemudian dibuang dengan cara dilampiaskan pada kepuasan, keinginan dan libido segala bidangnya. Hingga akhirnya sampailah manusia pada sebuah perjalanan yang tiada henti menuju ke arah kehidupan yang tanpa batas dan kering kepuasan. Yang sukses menumpuk kekayaan akan mengalami kebuntuhan jalan spiritual, sedangkan yang gagal juga mengalami hal yang sama.

Perjalanan yang dilalui tanpa kepuasan itulah yang pada gilirannya menghadiran sebuah pemikiran-pemikiran yang kehilangan kontrol-diri, merasa muak dengan beraneka janji-janji kesenangan dunia modern, uforia dunia teknologi, kepuasan hasrat memiliki, hingga pengembangan ilmu pengetahuan yang tiada henti. Berbagai pemikir mulai mengkritik penampilan semu kemajuan modern dan berfikir kembali kepada jalan kuno-primitif yang dianggap masih murni. Dunia postmodern telah mengembalikan manusia modern menuju ke jurang peradaban primitif yang ekstrim hingga menyebabkan manusia menjadi galau dengan hidupnya dan apa yang telah dipelajarinya. Lahirlah gagasan Dekonstruksi oleh Jacques Derida, Hiper-realita oleh Jean Baudrillard, hingga Diskursus dan Relasi-Kuasa oleh Michael Foulcault; yang berusaha membongkar segala kepalsuan yang diciptakan oleh dunia postmodern.

Bencana yang lebih ganas di zaman postmodern dari pada kebebasan manusia sendiri adalah pendefinisian Agama sebagai Budaya dan Matinya Tuhan. Agama adalah produk budaya manusia yang dihasilkan dari eksistensi manusia untuk hidup. Selama manusia bisa berkarya dan membutuhkan kekuatan ghoib untuk membantu segala keperluannya maka lahirlah disitu Agama sebagai kebutuhan manusia. Sehingga dengan kata lain, selama manusia masih mampu bereksistensi dan tidak membutuhkan agama maka agama tidak perlu. Agama hanya produk manusia dan tentunya manusia belum tentu membutuhkan agama. Sehingga di zaman postmodern ini, saat manusia merasa mencapai pada puncak pengetahuannya dan merasa bisa eksis dengan akal pikirannya, maka disitulah Tuhan telah mati dan tidak memberikan kekuatan apapun bagi kehidupan manusia.

Dengan matinya Tuhan prakstis Agama tidak ada, karena manusia tidak membutuhkannya. Dengan demikian tujuan manusia postmodern hanya satu, Agama Ekonomi dan Madzhab Uang. Kemakmuran ekonomi adalah tujuannya, sedangkan kelimpahan uang adalah jalannya. Semakin banyak uang, atau semakin banyak penemuan yang bisa dijual di masyarakat konsumer, maka semakin mendekati pada jalan kesejahteraan hidup. Dan ironisnya, semua bangunan itu hanya palsu dan hanya banyangan semu yang justru menjatuhkan manusia pada jurang kegalauan hidup dan kebingungan intelektual.

Alih-alih mengajarkan manusia menjadi manusia seutuhnya, filsafat Eksistensialisme-Humanisme menggiring manusia menjadi bukan dirinya lagi. Manusia tak ubahnya zombie, robot, mesin, mekanisasi, dan mungkin hewan buas-jinak yang hanyak memuja kepuasan dan kenikmatan konsumerisme. Manusia semakin kehilangan arah hidupnya, bingung dalam belantara ideologi kenyakinan yang diciptakannya, dan galau dengan setiap langkah yang telah ditempuhnya, sehingga lahirlah berbagai sikap-sikap manusia yang tidak lagi rasional sebagai manusia; perang, perampokan, penjajahan—imperalisme, serta gnosida. Sikap-sikap korupsi, suap, manipulasi, selingkuh, boros, dan sebagainya yang sudah jamak dilakukan para intelektual-elit sekarang merupakan perilaku hantu, iblis, dan lebih jelek; hewan yang tidak memiliki rasionalitas bertindak sebagai manusia.

Pada hakekatnya, Eksistensialisme-Humanisme yang mengklaim sebagai Atheistik yang anti Tuhan adalah bertuhan, yakni mempertuhankan dirinya sebagai tuhan. Karena dengan menghilangkan eksistensi Tuhan pada dirinya, manusia secara tidak langsung telah menyembah akalnya dan menyembah dirinya sendiri; yang tidak lain adalah menyembah berhala egoismenya.

 

EKSISTENSIALISME-PERENNIALIS

Untuk menjadi manusia, yang eksistensinya jelas sebagai manusia, bukan yang lain hanya mampu dicapai melalui cara pandang filsafat Eksistensialisme Sorin Kierkegaard—yang bertolak belakang dengan pemikiran eksistensialisme Jean Paul Sartre. Sebagaimana di atas, Eksistensialisme Kierkegaard saya sebut sebagai Eksistensialisme-Perennialis.

Gagasan ini sejak lama sudah ada, dan menjadi gagasan utama manusia yang telah diinformasikan dalam kitab-kitab suci agama. Artinya, bahwa untuk menjadi manusia, manusia harus menyatu dengan eksistensi Tuhan, sebagaimana yang dilakukan oleh para nabi dan orang-orang suci (wali, santo, resih, pendeta, dan lain-lain). Dan karena kitab Al-Qur’an sebagai kitab penutup para nabi yang pernah ada (diutus Tuhan), dan merupakan informasi yang membawa kebenaran maka saya menggunakan informasi dalam al-Qur’an untuk lebih banyak memberikan penjelasan mengenahi eksistensialisme-Perennialis. Sebagai mana al-Qur’an menjelaskan,

!$¯RÎ) !$uZø9t“Rr& šø‹s9Î) |=»tFÅ6ø9$# Èd,ysø9$$Î/ ωç7ôã$$sù ©!$# $TÁÎ=øƒèC çm©9 šúïÏe$!$# ÇËÈ

Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.[8]

!$¯RÎ) $uZø9t“Rr& y7ø‹n=tã |=»tGÅ3ø9$# Ĩ$¨Y=Ï9 Èd,ysø9$$Î/ ( Ç`yJsù 2”y‰tF÷d$# ¾ÏmÅ¡øÿuZÎ=sù ( `tBur ¨@|Ê $yJ¯RÎ*sù ‘@ÅÒtƒ $ygøŠn=tæ ( !$tBur |MRr& NÍköŽn=tã @@‹Å2uqÎ/ ÇÍÊÈ

Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk Maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat Maka Sesungguhnya Dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri, dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka.[9]

Manusia ada bukan karena ada secara kebetulan. Ia telah diciptakan oleh kekuatan yang maha dasyat yang melebihi kekuatan yang ada dalam banyangan manusia itu sendiri. Siapa lagi kalau bukan Tuhan. Dari setiap generasi Tuhan memiliki seorang Nabi yang diutus dari golongan manusia. Para nabi inilah yang telah mengajarkan tentang Tuhan (Yang Esa) dan ajaran Tuhan yang benar (Sang Khalik) yang harus dianut oleh manusia agar menjadi manusia. Dan pada pokonya memberikan pengajaran kepada manusia akan tujuan hidup sebagai manusia, yakni menyembah Tuhan (beribadah). Tujuan penyembahan terhadap Tuhan inilah esensi manusia sebagai ciptaan Tuhan, yang mana keberadaannya memang untuk menyembah Tuhan—bahkan sebelum eksistensi manusia itu sendiri diciptakan untuk “Ada”. Sebagaimana diinformasikan dalam al-Qur’an surat adz-Dzariyat ayat 56,

$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbr߉ç7÷èu‹Ï9 ÇÎÏÈ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.[10]

Karena tujuan diciptakannya hanya untuk menyembah kepada Tuhan maka Manusia memiliki dua unsur yang saling melengkapi dan bertolak belakang, yaitu Ruh dan Jasad. Ruh adalah unsur yang abadi dan kelak bisa kembali menyatuh bersama Tuhan, sedangkan Jasad hanya sebuah benda kosong yang diisi ruh untuk menjalankan kehidupan dimuka bumi.

Keduanya saling melengkapi karena Ruh tanpa jasad tidak berbentuk dan tidak bisa dijangkau oleh indra dimuka bumi. Sedangkan Ruh bisa eksis karena ada jasad, begitu pula jasad bisa hidup karena ada ruh. Ruh masuk ke dalam jasad sejak jasad itu mulai ada dalam kandungan, yakni masih dalam bentuk janin. Akan tetapi keduanya juga bertolak belakang; karena ruh adalah benda halus yang kekal, sedangkan jasad adalah benda kasar yang akan habis dan musnah. Jasad diciptakan dari tanah liat. Keberadaan Ruh dan Jasad ini telah diinformasikan dalam Al-Qur’an surat as-Sajdah ayat 7 s/d 10,

ü“Ï%©!$# z`|¡ômr& ¨@ä. >äóÓx« ¼çms)n=yz ( r&y‰t/ur t,ù=yz Ç`»|¡SM}$# `ÏB &ûüÏÛ ÇÐÈ   ¢OèO Ÿ@yèy_ ¼ã&s#ó¡nS `ÏB 7’s#»n=ߙ `ÏiB &ä!$¨B &ûüÎg¨B ÇÑÈ   ¢OèO çm1§qy™ y‡xÿtRur ÏmŠÏù `ÏB ¾ÏmÏmr•‘ ( Ÿ@yèy_ur ãNä3s9 yìôJ¡¡9$# t»|Áö/F{$#ur noy‰Ï«øùF{$#ur 4 Wx‹Î=s% $¨B šcrãà6ô±n@ ÇÒÈ   (#þqä9$s%ur #sŒÏär& $uZù=n=|Ê ’Îû ÇÚö‘F{$# $¯RÏär& ’Å”s9 9,ù=yz ¤‰ƒÏ‰y` 4 ö@t/ Nèd Ïä!$s)Î=Î/ öNÍkÍh5u‘ tbrãÏÿ»x. ÇÊÉÈ

Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah.

Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina.

Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.

Dan mereka berkata: “Apakah bila Kami telah lenyap (hancur) dalam tanah, Kami benar-benar akan berada dalam ciptaan yang baru?” bahkan mereka ingkar akan menemui Tuhannya.[11]

Dengan Jasad (tubuh) manusia mempunyai Indra sebagai instrumen untuk mengenali segala apa yang telah diciptakan oleh Tuhan dimuka bumi, mulai dari dirinya sendiri hingga alam semesta. Dengan Indra inilah manusia diberi kekuasaan untuk mengambil peran lebih aktif dalam mengabdi kepada Tuhan melalui segala bentuk ritual yang bisa mendekatkan diri manusia dengan keberadaan Tuhan. Tentunya ritual yang telah ditetapkan oleh Tuhan (disyari’atkan). Dengan adanya indra pula manusia diberikan jalan untuk berfikir dan menfungsikan akalnya secara logis, agar segala yang telah diciptakan Tuhan menjadi bukti atas kelemahan manusia. Dan yang paling penting indra telah membantu manusia untuk berperan secara langsung membuktikan eksistensi dirinya melalui bersama kekuasaan Tuhan. Dengan kata lain, Indra; tangan, kulit, telinga, mata, hidung, bahkan akal hanya sebatas instrumen untuk memahami kebesaran Tuhan—bukan sumber pengetahuan manusia.

 

BERSAMA TUHAN MENJADI MANUSIA

Karena manusia adalah ciptaan Tuhan, dimana eksistensinya telah mendahului esensinya maka manusia tidak akan pernah ada jika tidak menyertakan Tuhan dalam eksistensinya. Esensi manusia yang “Ada” untuk menyembah Tuhan telah mendahului eksistensi wujud manusia itu sendiri. Sehingga sangat wajar jika dalam hidup adanya Tuhan merupakan kebutuhan manusia untuk tetap ada, bukan Tuhan membutuhkan manusia untuk “Ada”.

Untuk tetap “Ada” dan menjadi manusia secara sempurna manusia harus menyatu dengan Tuhan. Penyatuan inilah yang akan menjadikan manusia sebagai makhluk yang terbimbing dan semua gerak-geriknya tidak lagi gerak-gerik kosong yang tanpa makna, tapi sebuah gerakan Tuhan yang telah menyatu bersama eksistensinya.

Menurut epistemologi sufi bahwa eksistensi manusia terdiri atas tujuh titik sentral eksistensi yang disebut dengan Lathifah. Titik-titik ini merupakan titik-titik halus yang menggerakkan manusia untuk melakukan segala hal, baik yang buruk maupun yang baik. Setiap gerak-gerik manusia telah dikendalikan oleh ketujuh titik ini, yakni memperebutkan identitas dirinya sebagai manusia atau jatuh dalam eksistensi yang “lain” yang melampaui identitas sebagai manusia dan melakukan segala hal yang tidak manusiawi dan tidak pula rasional.[12]

Enam titik Lathifah merupak sumber petaka bagi eksistensi manusia, dalam arti merupakan segala pokok kejahatan yang telah dibentuk oleh makhluk selain manusia. Pada enam titik lathifah inilah manusia mampu masuk ke dalam sifat-sifat yang kurang layak melekat pada diri manusia, diantaranya mencuri, adu hewan, sombong, berkelahi, merasa pandai, merasa paling  bisa, rakus, malas, suka mencaci, derengki, iri hati, kejam, jahat, dan bahkan sadis. Dan untuk menghilangkan titik-titik jahat tersebut manusia harus melakukan segala upaya yang halus pula, yakni melalui proses jihad an-Nafs yang melibatkan latihan intensif secara berkesinambungan dengan dzikir menyebut nama Tuhan dan kebesarannya.

Sedangkan satu titik sisanya merupakan sumber segala pengetahuan yang mampu membuka segala tabir yang menghalangi manusia menjadi manusia. Titik inilah pusat pengetahuan dan menjadi kunci keberhasilan manusia menyatu dengan Tuhan. Sebagaimana Muhammad Rasulullah katakan , “jika satu titik ini jelek, maka jeleklah semua anggota tubuh. Dan apapabila titik ini baik maka baiklah semua anggota Tubuh”. Titik inilah dalam epistemologi sufi disebut dengan Qalb (hati, perasaan, intuisi, emosional).

Sebagai pusat pengetahuan titik Qalb setiap hari harus mendapatkan perawatan, terus digali kedalaman dan keluasan cakupan pengetahuannya hingga manusia mampu menembus batas-batas yang tidak bisa dibaca dengan indra penglihatan, didengar oleh telinga, atau dirabah dengan kulit, bahkan dipikir dengan akal sehat masyarakat awam. Jika sudah mencapai tahapan ini maka manusia akan mengalami keterbimbingan langkah, dimana langkahnya bukan lagi langkahnya, namun menjadi langkah Tuhan. Keberadaannya sangat manusiawi, menebar cinta-kasih dan mendatangkan rahmat bagi seluruh alam. Manusia yang terbimbing oleh Tuhan tingkah lakunya bukanlah sebuah langkah palsu yang ditampilkan karena sebuah kepentingan (politik, ekonomi, posisi sosial atau budaya), namun lebih pada dorongan yang terkondisi untuk senantiasa berbuat demikian. Ia menjadi manusia dengan menampilkan sisi-sisi manusiawi yang logis-humanis bukan karena dari nasehat, membaca buku, ideologi organisasi, kenyakinan emosional, pengaruh posisi jabatan formal, atau hubungan sosial, tapi lebih pada terdidik secara batiniyah akibat pengaruh penggalian yang secara terus menerus terhadap Qalb dengan penyatuannya bersama Tuhan. Kondisi demikianlah yang tidak akan terpengaruh oleh sikap apapun yang telah dihadapinya, bahkan nyawa sekalipun taruhannya. Dan eksistensinya benar-benar mewujud menjadi manusia karena mampu menyingkirkan sisi-sisi ketidakmanusiawian.

Disinilah Kierkegaard menyebutnya sebagai kebenaran merupakan “Subyektifitas”. Dimana kebenaran itu dibangun atas dasar keseriusan membangun kesadaran diri sendiri terhadap apa yang dilihat dari realitas. Dengan bergulat terhadap konflik batin memperebutkan sisi kemanusiaan dan sisi ketidakmanusiaan manusia telah mengalami kebenaran yang akan segera ditemukannya. Kebenaran sejati yang lahir dari dalam dirinya. Bukan karena persepsi, menurut pembacaan teks, atau karena oponi publik yang belum tentu terbukti secara individual. Akan tetapi untuk mencapai itu ia tidak serta merta terbiarkan kosong menggali dirinya tanpa pegangan dan bimbingan, namun harus menghadirkan Tuhan sebagai penuntun dan maha petunjuk bagi semua manusia. Tuhanlah yang akan hadir dalam dirinya dan membersihkan segala sifat-sifat ketidakmanusiawian hingga mencapai sisi manusiawi yang menebar cinta-kasih.

 

TAHAPAN MENJADI MANUSIA

Cara-cara demikianlah, menggali pengetahuan secara individu dan bergulat melawan dirinya sendiri merupakan jalan yang ditempuh para nabi. Para nabi sebelum diangkat oleh Tuhan menjadi utusan yang menjebatani antara Tuhan dan manusia selalu dan pasti menjadi manusia individu-individu yang menyendiri, menggali pengetahuan melalui pergulatan batin, dan mendekatkan diri kepada kekuasaan dzat yang Maha Agung. Pada posisi demikian para nabi menjadi manusia yang lemah dan tidak berdaya, manusia yang tidak mempunyai kekuasaan apa-apa, dan manusia yang pasrah akan langkah yang akan ditempuhnya; sehingga yang muncul kemudian adalah kekuatan Tuhan yang ada dalam dirinya. Lahirlah sebuah Mukjizat yang pasti jauh dari nalar umum manusia yang memberikan segala bukti kebesaran atas kekuasaan Tuhan. Oleh sebab itu, untuk menjadi manusia yang bermukjizat haruslah merendahkan diri dan melemahkan diri dihadapan manusia.

Dengan menyadari akan kelemahannya manusia akan tunduk dan patuh dihadapan Tuhan. Merasa bodoh, merasa lemah, merasa kecil, dan bahkan merasa hina dihadapa Tuhan. Dan ketika semakin merasa terhina maka kekuatan Tuhan pun akan mudah masuk kedalam diri manusia. Jika sudah demikian maka gerak manusia adalah gerak Tuhan, ucapan manusia adalah ucapan Tuhan, penglihatan manusia adalah penglihatan Tuhan, dan bahkan berfikir manusia adalah berfikir Tuhan.

Menurut Kierkegaard Hanya melalui keadaan-keadaan berupa krisis emosional yang ekstrem , ketika seorang bukan hanya menghadapi kemungkinan melainkan juga fakta berupa pemusnahan diri sendiri yang segera terjadi, ia pada akhirnya bisa memahami signifikansi eksistensinya sendiri.  sebab hanya dengan cara demikianlah seseorang pada akhirnya akan memutuskan untuk hidup atau mati, menjadi atau tidak menjadi.[13]

Ada tiga tahapan eksistensi atau pandangan hidup menurut Kierkegaard, yakni yang bisa mengantarkan manusia menjadi dirinya sendiri dan bukan yang lain, yakni estetis, etis dan religius.[14]

Pertama wilayah eksistensi estetis. Merupakan cara hidup yang paling rendah, yakni melakukan segala tindakan tanpa berfikir mengenahi benar-salahnya. Cara hidup ini cenderung melakukan segala hal dengan bebas dan tidak memperhatikan kaidah-kaidah yang ada sekalipun. Tujuan dari pada cara hidup etis adalah tercapainya keinginan.

Kedua wilayah eksistensi etis. Tahapan hidup yang mulai berfikir dan mempertimbangkan baik-buruknya perbuatan jika dilakukan. Cara hidup ini mulai menciptakan sisi-sisi yang membedakan antara yang harus dilakukan dan yang tidak dilakukan. Cara ini cenderung hati-hati dan tidak segera melakukan, namun memikirkan sebab-akibat yang akan timbul jika melakukan pekerjaan yang dimaksud. Apakah menguntungkan dirinnya atau justru merugikan.

Ketiga wilayah eksistensi Religius. Tahapan eksistensi ini sudah tidak lagi memperhitungkan baik buruk sebagai tolok ukur perbuatan. Segala apa yang menjadi langkahnya bertujuan pengabdian kepada Tuhan. Semakin lama manusia masuk pada wilayah eksistensi religius maka semakin dekat dirinya pada Tuhan dan semakin menghayati makna kehidupan agamanya. Ia tidak lagi membutuhkan iming-iming kenikmatan surga atau ancaman neraka, tapi cinta Tuhan dan Kasih Tuhan jualah tujuan hidupnya, baik selama hidup maupun setelah datangnya kematian. Manusia religius adalah manusia yang bertaqwa, muttaqin, yang setiap langkahnya senantiasa terbimbing dan terkondisi dengan langkah Tuhan. Ia tidak lagi memandang hidup di dunia hanya sebatas kepuasan dan kenikmatan semu yang jamak dikejar oleh manusia awam, namun lebih pada hidup yang sikap yang harus dihabiskan dalam pengabdian totalitas kepada kebesaran sang Maha Agung.

Dengan demikian hanya dalam wilayah eksistensi religius-lah manusia bisa menemukan eksistensinya sebagai manusia. Karena pada wilayah etis dan estetis manusia masih terbelengguh oleh sifat-sifat yang tidak manusiawi, mungkin hewan atau bahkan iblis.

 

MUHAMMAD RASULULLAH SHALLAHU’ALAIHI WASSALAM ADALAH EKSISTENSIALIS SEJATI

Contoh terbaik seorang eksistensilis sejati adalah Muhammad Rasulullah shallahu’alaihi wassalam. Sejak kecil ia adalah manusia yang terjaga dari segala bentuk kepalsuan yang dibangun oleh masyarakat postmodern waktu itu (Qurays jahiliyah). Setiap langkahnya yang cenderung menyendiri menjadi pijakan utama untuk menjadi manusia yang benar-benar manusia. Hingga pada akhirnya pun melakukan berbagai kegiatan-kegiatan penyedirian di gua Hira. Menjauhi segala keramaian yang dibangun atas dasar hasrat yang diumbar secara bebas oleh masyarakat jahiliyah.

Intensifitasnya mendekatkan diri kepada dzat Yang Kuasa dan bergulatannya terhadap kondisi masyarakat serta memposisikan dirinya di dalam masyarakanya akhirnya membuahkan hasil. Datanglah Jibril as. sebagai pelantara Tuhan yang memberikan komando kepada Muhammad untuk menjadi sang juru selamat dan utusan Tuhan terakhir yang menyelamatkan manusia. Dan sejak itulah Muhammad menjadi manusia yang benar-benar manusia bereksistensi. Ia bukan manusia dengan perilaku binatang layaknya masyarakat jahiliyah waktu itu, tapi manusia yang menebar kasih sayang dan menyelamatkan umat manusia dari kebangkrutan akhlak dan krisis kenyakinan atas datangnya kebenaran.

Muhammad yang tidak bisa membaca, yang tidak pernah sekolah atau belajar kitab-kitab Yahudi-Nasrani tiba-tiba menjadi sosok yang sangat mengagumkan. Manusia yang cerdas dan piawai dalam memecahkan segala persoalan. Ia menjadi pemimpin terbesar umat manusia, penyelamat bangsa yang paling hina, dan mampu mengangkat martabat kaumnya yang dianggap barbar dan terbelakang. Apa yang dibangun oleh kerusakan kekuatan adidaya waktu itu runtuh oleh kedatangan Muhammad. Ia pemimin sejati, pembimbing, pelindung, idaman, dan dambaan umat manusia.

 

MELAWAN PAGANISME KONTEMPORER DAN KEPALSUAN HIDUP

Bangunan kebudayaan postmodern (Jahiliyah Kontemporer) yang menjerumuskan manusia hingga tidak mampu menunjukkan eksistensi dirinya yang sebenarnya adalah paganisme dan segala bentuk kepalsuan yang telah dibangunnya. Apa yang dihadirkan oleh kebudayaan postmodern dalam upaya memberikan kenikmatan tidak lain merupakan sebuah pemujaan terhadap berhala-berhala kontemporer. Ibarat sebuah arca, citra-citra, bahasa, dan realita yang dibentuk oleh postmodern merupakan fetisisme, yakni mengandung sebuah kekuatan bujuk-rayu yang memiliki aura dan kekuatan. Dan penampakan yang demikian itu sangat jelas dalam penampilan berbagai iklan-iklan kontemporer dewasa ini.

Misalnya, dalam iklan produk rokok dan bir dewasa ini; yang ditampilkan selalu bentuk individu atau kumpulan para lelaki gagah, perkasa, penuh percaya diri, mempesona, dan inspiratif yang membuat sosok wanita cantik terpesona dan seolah sang lelaki mampu memberikan harapan yang begitu indah bagi kehidupan. Dengan kata lain, rokok dan bir seolah merupakan tipikal lelaki ideal bagi perempuan cantik. Padahal, bahasa tersebut sangat bertentangan dengan apa seharusnya dan memang terjadi. Rokok dan bir adalah bagian dari bencana umat manusia, sarang berbagai penyakit aktual, dan pusat segala bentuk kebodohan peradaban. Semakin banyak mengkonsumsi bir dan rokok manusia bukanya semakin sehat dan mendatangkan kemanfaatan bagi dirinya, justru yang hadir merupakan segala bentuk kemungkaran. Pada saat mengkonsumsi bir dan rokok inilah manusia justru tidak menjadi dirinya sendiri, ia menjadi yang lain, menjadi sesuatu yang berbeda dengan identitasnya sebagai manusia. Ia akan masuk dalam kesadaran yang bukan kesadaran, masuk dalam dunia kenyamanan yang mematikan segala potensi yang ada dalam dirinya. Apapun argumennya, belum ada sampai saat ini penelitian ilmiah yang menampilkan sosok konsumer rokok dan bir yang memiliki kemampuan manusiawi dan mampu memberikan dampak yang positif.

Lebih mengenaskan lagi, apa yang disuguhkan dalam mall, hypermart, desnyland, WBL, atau apapun jenis hiburannya; merupakan belantara paganisme kepalsuan yang sangat nyata bagi kehidupan manusia. Semua itu tak ubahnya padang pasir gersang yang tidak mampu menumbuhkan tumbuhan dan tanaman. Padang pasir yang disajikan dalam budaya postmodern hanya mampu menghadirkan kekeringan spirit hidup, mengulangan-pengulangan yang membosankan, pemupukan kebodohan, dan kekerdilan kesadaran hidup. Semakin lama dan semakin sering manusia pergi ke mall dan pusat hiburan lainnya maka akan semakin jelas kehilangan jati dirinya dan kehilangan esensinya sebagai manusia. Ia tidak akan mampu mendefiniskan dirinya karena melebur bersama masyarakat yang tidak terdefinisi, karena pada hakekatnya manusia postmodern adalah zombie-zombie yang berkeliaran yang kehilangan kesadaran hidupnya.

Dan jauh lebih mengerihkan, segala bentuk kepalsuan yang disuguhkan dunia postmodern pada masyarakat sudah memasuki ke segala lerung-relung kehidupan. Kepalsuan itu semakin membesar dan seolah menjadi yang asli ketika sudah menjadi sebuah tontonan, baik melalui televisi, cyberspace, atau internet. Dunia pendidikan misalnya, dibangun bukan dalam rangka menciptakan manusia yang menjadi manusia, tapi menciptakan manusia menjadi mesin-mesin uang. Manusia dididik dan disekolahkan dalam upaya sebagai mesin hasrat, mesin kepuasan, dan mesin produktivitas barang-barang komuditas. Pendidikan yang diajarkan di dunia postmodern tidak pernah mengajarkan manusia menjadi manusia, menyadarkan dirinya akan potensi yang besar yang dimilikinya, serta tidak mampu mengantarkan manusia mampu berfikir tentang hakekat hidup sebagai manusia. Dengan pendidikan sekarang manusia hanya berfikir menjadi mesin uang yang mampu menghasilkan uang sebanyak-banyaknya.

Dalam bidang politik, sosok pelayan rakyat yang ditampilkan dalam pesta demokrasi hanyalah perang citra, rekayasa kesadaran dan manipulasi tingkat tinggi. Untuk menjadi pemimpin yang dipilih masyarakat tidak perlu menjadi dirinya sendiri, yang menginginkan sifat ideal pemimpin; jujur, dapat dipercaya, menyampaikan yang sebenarnya dan cerdas berfikir. Tapi cukup dengan menyediakan media (koran dan televisi) yang efektif dengan tampilan-tampilan yang menarik. Misalnya, belajar action menjadi sok cerdas, sok berwibawa, dan paling bisa memecahkan persoalan masyarakat, lalu beberapa crew-nya dipersiapkan untuk menampilkan segala bentuk kepalsuannya dihadapan publik serta berbagai kampanye dan iklan.

Bentuk kepalsuan yang ditampilkan dalam dunia postmodern, mulai dari iklan, citra-citra dan bahasa-bahasa konsumerisme mengarahkan manusia agar senantiasa memujanya dan memberikan kesempatan untuk semakin lalai dalam kenikmatan semu dan tiada batas. Dan inilah yang ditentang dan dilawan oleh Eksistensialisme-Perennialis.

Eksistensialisme-Perennialisme anti kepalsuan dan anti paganisme. Seorang eksistensialis tidak memerlukan pencitraan, kampanye kepalsuan dan pemujaan terhadap nafsu dan hasrat, akan tetapi lebih memilih menjadi dirinya sendiri yang sangat manusiawi. Apa yang ditawarkan dalam dunia postmodern bagi seorang eksistensialis merupakan berhala yang membodohkan dan menjerumuskan kebenaran hakekat hidup. Segala bentuk kenyamanan hidup dalam dunia postmodern harus dihindari, dilawan, dan dijauhi dengan bimbingan sang Maha Pencipta. Oleh karena itulah, sebagai mana yang dilakukan oleh para nabi dan rasul serta para sufi, Kiekegaard membenci kerumunan masyarakat. Karena baginya kerumunan masyarakat hanyalah sebuah bentuk penghilangan akan identitas diri. Karena semakin sering manusia berkumpul dengan manusia yang lain dengan jumlah besar tak ubahnya sebuah bentuk pelenyapan diri, dirinya tidak lagi menjadi manusia yang eksis, namun manusia yang terkontaminasi oleh kerumunan yang tanpa ada ujung pangkalnya.

 

HAKEKAT KEBENARAN; ANTARA TAHQIQ DAN TAQLID

Pergulatan diri manusia dalam dunia postmodern tidak lain merupakan perebutan antara keaslian dan kepalsuan yang diwujudkan dengan pengetahuan yang telah dibangunnya. Dalam merayakan heroisme kebudayaan dan ueforia zaman postmodern manusia tidak membentuk dirinya sebagai manusia dengan cara membangun pengetahuan yang hakiki dan asli, tapi lebih banyak mengopi dan menukil dari apa yang dipalsukan oleh manusia yang lain.

Sebagai ilustrasi sederhana, ada seorang pengendara sepeda motor yang telah mencatat pengalamannya bersepeda; mulai dari cara memulai mengendarai, bermanuver dijalan yang berliku, bergaya pada dengan menyetir yang aneh, hingga jenis mesin dan cara memperbaiki motornya. Oleh teman yang pengamat, pengalaman bersepeda itu ditulis dan dibukukan hingga layak mendapatkan predikat ilmiah. Dalam beberapa periode zaman buku catatan ilmiah bersepeda itu terus dipelajari dan diajarkan oleh generasi penerusnya. Alih-alih mendapatkan pendidikan bersepeda secara benar, generasi yang membaca buku tentang bersepeda itu hanya melihat dan mendengar saja, tidak pernah merasakan sejatinya bersepeda. Mereka menjalani jalan Taqlid, dan tidak pernah menemukan Tahqiq.

Taqlid adalah upaya mendapatkan pengetahuan dengan cara meniru, menjiplak dan menukil dari berbagai sumber lisan dan tulisan. Cara ini ditempuh dengan membaca, mencatat, dan menghafal catatan dari teks-teks. Apa yang ditempuh oleh pengetahuan dengan sistem empiris dan rasionalis tak ubahnya sebuah nukilan-nukilan dari sebuah nukilan, dengan demikian merupakan cara bertaqlid yang baik. Hasilnya adalah sebuah gagasan pengetahuan yang berdiri sendiri; ilmu-ilmu sosial, Sains, sejarah, dan matematika sekalipun. Karena pengetahuan diperoleh dari cara menukil tentu saja hasilnya tidak “pernah menemukan hakekat kebenaran” dari sebuah pengetahuan dan bisa memberikan pencerahan hidup bagi pengamalnya. Dengan demikian tidak salah kemudian jika manusia-manusia produk “pendidikan” dunia postmodern semakin berpengetahuan bukanya semakin menjadi manusia, tapi menjadi mosnter-monster yang menakutkan dan mengerihkan. Fakta yang tak terbantahkan akibat mendapatkan pelajaran dengan nukilan (Taqlid) adalah perang Eropa (yang digenelarisir menjadi perang dunia). Perang tersebut tak ubahnya perang ideologi yang masing-masing dibangun atas dasar sifat-sifat yang tidak manusiawi yang menjunjung tinggi eksistensialisme-humanisme.

Berbeda dengan Tahqiq, ia merupakan upaya menggali pengetahuan yang dilakukan dengan cara merenung, bertafakur, atau lebih jelasnya berdzikir. Dengan jalan tahqiq, manusia tidak menemukan pengetahuan dengan cara menukil; mendengar, melihat atau membaca, tapi melalui proses perenungan yang mendalam atas hakekat manusia sehingga mengetahui pengetahuan secara hakiki. Manusia yang berpengetahuan tahqiq mendapatkan pengetahuan dengan cara terbimbing, terdidik, dan terjaga dari keuatan dzat yang Maha Tinggi. Ia semakin pintar, semakin tahu dan semakin berpengetahuan bukan karena upayanya dalam belajar, tapi dari sebuah upaya kepasrahan dan penyerahan dirinya yang total kepada dzat yang memiliki pengetahuan seluruh semesta alam.

Manusia yang tahqiq tidak pernah merasa pintar dan merasa bisa, karena semakin merasa bisa maka akan terjerumus pada posisi yang tidak akan pernah bisa. Ia selalu merasa bodoh, bahkan merasa lemah dan tidak memiliki daya upaya dalam menjalani segala kehidupan ini. Manusia yang demikian inilah yang akan terbuka tabir kegelapannya dan menemukan pengetahuan yang mencerahkan serta memberikan rahmat bagi seluruh alam. Semakin ia cerdas dengan cara tahqiq maka alam semesta merasa damai dengan kehadirannya, dan inilah yang telah dialami oleh para Nabi, Rasul dan para waliyullah. Jalan menemukan kebenaran dengan cara tahqiq merupakan jalan yang ditempuh oleh eksistensialisme-perennialisme.

Seorang eksistensialis sejati tidak menemukan kebenaran dari teks, tapi dari upaya penyatuan dirinya bersama Tuhan melalui dzikir secara intensif. Dzikirnya inilah yang akan membimbing menuju hakekat kebenaran dan hakekat pengetahuan. Tentu saja dzikir itu bukan sembarang dzikir, tapi dzikir yang terkoneksi dan tersalur dengan channel Tuhan. Kondisi dzikirnya merupakan kondisi dzikirnya Tuhan dan tidak ada daya apa-apa bagi dirinya untuk berdzikir.

 

PERGULATAN MENJADI MANUSIA; MEMATIKAN SISI KEHEWANAN

Manusia merupakan sebuah entitas yang terdiri atas jasad dan ruh. Jasad adalah sisi yang fana, akan musnah dan hancur. Ia terbatas oleh waktu dan ruang. Sedangkan ruh, ia tak terbatas oleh ruang dan waktu. Bentuknya halus dan merupakan sisi manusia yang abadi. Jika jasad akan mati dengan bertambahnya usia, maka ruh akan tetap abadi tanpa dipengaruhi oleh usia, sekalipun dunia ini kiamat. Dari sisi ruh inilah manusia melakukan pergulatan untuk menjadi manusia atau hewan. Secara jasadi manusia nampak jelas dalam wujud manusia, namun secara ruhani belum tentu manusia itu akan menjadi manusia. Dan pengaruh sisi kehewanan inilah yang disebut dengan nafsu.

Dengan segala pengaruh zaman, kebingungan intelektual dan kesesatan berfikir, apalagi kegalauan dalam kehidupan dunia postmodern saat ini manusia ternyata lebih banyak menampilkan sisi-sisi kehewanannya dari pada sisi manusianya. Faktanya, apa yang kita saksikan dengan fenomena perselingkuhan, perampokan, kejahatan, pembunuhan, serta kerakusan harta tidak lain merupakan perilaku hewan yang buas semisal singa, harimau, buaya, dan lain-lain. Rasa malas beribadah, suka tidur, suka makan, dan suka bersenang-senang yang kita lihat dari fenomena masyarakat postmodern saat ini merupakan wujud eksistensi hewan jinak dan melata semisal kambing, kerbau, sapi, gajah, kera, cicak, babi dan lain-lain.

Beranekaragam perilaku yang tidak manusiawi itulah manusia kehilangan jati dirinya, ia tidak lagi mampu menjadi sosok manusia yang memanusiakan, memuliakan sesamanya, dan menciptakan kedamaian dalam kehidupan. Seandainya ada kaca kejujuran, tentu hampir 99% manusia di dunia ini tiadak ada yang terlihat seperti manusia, kemungkinan hewan-hewan yang mengerihkan. Sehingga tidak salah jika ada sebuah bayangan dan informasi dari kitab suci bahwa kelak di neraka akherat manusia akan berubah wujud menjadi hewan sesuai dengan perilakukanya. Bahkan agama hindu, yang tidak mempercayai akherat mengimajinasikan kehidupan dengan reinkarnasi. Jika manusia berbuat tidak manusiawi maka dikehidupan yang akan datang ia akan berubah wujud (terlahir) sebagai hewan. Namun jika berperilaku manusiawi akan diangkat ke langit dan menyatu bersama eksistensi Tuhan.

Jika demikian, maka menjadi jelas bahwa untuk menjadi manusia harus mematikan sisi kehewanan dalam dirinya atau membersihkan ruh-nya dari sifat-sifat hewani. Dan caranya tidak ada cara lain kecuali dengan memasukkan cahaya Tuhan kedalam ruhnya. Lalu menjaga nyala cahaya tersebut dengan cara memperbanyak berdzikir dan bertawajud. Itupun prosesnya tidak mudah, harus melalui upaya panjang dan menyakitkan, sabar dan tabah menghadapi lengketnya sisi kehewanan dalam ruh. Cara inilah yang dilakukan oleh filsafat Eksistensialisme-Perennelisme.

Pergulatan dalam menemukan jati diri sebagai manusia harus selalu dilakukan hingga usia manusia telah terputus oleh kematian. Selama belum mengalami putus usia manusia akan selalu menghadapi nafsu yang terus mengarahkan manusia untuk menjadi hewan. Karena nafsu sangat tidak rela jika manusia sukses menjadi manusia, sehingga segala upaya bujuk-rayu ditampilkan agar manusia lalai dan tidak sadar sebagai manusia.

Kegemerlapan dunia postmodern dan segala kegilaannya adalah ladang subur untuk menumbuhkan sisi-sisi kehewanan manusia. Hiburan, media kesenangan, tampilan-tampilan citra yang menipu jelas pupuk yang efektif untuk merubah manusia agar tidak sadar sebagai manusia. Peperangan manusia melawan dirinya (nafsunya) akan terus berlangsung sepanjang hidup. Dan selama manusia tidak berupaya membunuh sisi kehewanannya, dengan cara melemahkan pengaruh nafsu tentu manusia akan terjerumus ke dalam lubang hewani dan tidak akan pernah menjadi manusia sebagai mana adanya.

 

PENUTUP

Apa yang dihadirkan di dunia postmodern saat ini merupakan segala bentuk kepalsuan yang tidak akan pernah ada habisnya. Ia ibarat air laut yang jika diminum akan semakin mengakibatkan rasa haus, bukan semakin segar dan melegahkan. Berbagai jalan telah ditempuh oleh para filsuf untuk memberikan alternatif agar mampu terhindar dari kebangkrutan akhlak dan bencana teknologinya. Akan tetapi mereka hanya sia-sia, karena kritik tinggal kritik yang tidak ada solusi yang memberikan jawaban secara kongkret. Foulcault misalnya, mengkritik zaman ini dengan diskursus yang justru dirinya terperosok kepada jurang kebejatan yang jauh lebih dalam.

Apa yang dialami setiap zaman tak ubahnya pengulangan dari zaman sebelumnya, walau konteks peradabannya berbeda. Apa yang terjadi pada setiap manusia yang jatuh dalam kepalsuan kemakmuran hidup juga dialami oleh setiap generasi. Sehingga jahiliyah di zaman Rasulullah pun tak ubahnya kondisi postmodern dewasa ini. ketika wanita dilecehkan, aurat diumbar, ekonomi dipuja, harta serta kedudukan sebagai tujuan, dan kekuasaan menjadi lambang kesombongan maka disitulah jahiliyah telah terjadi. Dan dewasa ini kita telah menyaksikan berbagai bentuknya di zaman sekarang. Dalam dunia yang serba gila ini manusia tidak lagi menampilkan sisi-sisi kemanusiaannya, namun lebih nyama mengumbar kepuasan dan kerakusannya yang merupakan lambang perilaku hewan atau iblis.

Tidak ada harapan lain untuk menjawab dan memberikan solusi terhadap kerusakan zaman postmodern. Ia tak ubahnya zaman yang akan terus terulang setiap generasi. Akan datang selama manusia tidak tereksistensi dengan Tuhan. Oleh sebab itu jalan satu-satunya untuk menjawab kebutuhan eksistensi menjadi manusia di zaman ini adalah jalan Sufi.

Jalan sufi merupakan manifestasi dari Eksistensialisme-Perennialis. Sufi adalah tradisi para nabi yang terpelihara dari para ulama. Ia hadir dengan potensi yang sama dengan yang diperoleh oleh para nabi. Seperangkat jejak sufi yang intensif menghilangkan diri (ego-nya) dan menghadirkan Tuhan kedalam dirinya merupakan bentuk perlawanan terhadap zaman yang mengajarkan kepalsuan, kebobrokan, kerakusan, dan kepuasan semu. Dengan menjadi manusia yang terbimbing dijalan Tuhan jalan sufi tidak terpengaruh dengan segala bentuk kepentingan apapun. Tingkah laku para sufi murni tingkah kehidupan sebagai manusia dan bukan manifestasi kepentingan sosial, budaya, politik, apalagi ekonomi.

Dengan demkian, di zaman ini jalan sufi merupakan sebuah solusi-kontruktif-preventif dalam menghadapi masa depan manusia di dunia Postmodern. Wallahu’alam bisshowaf.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Bertens. K. Filsafat Barat Kontemporer Prancis. Jakarta: Gramedia. 2006 (cetakan keempat).

Chittick. William C. Kosmologi Islam dan Dunia Modern: Relevansi Ilmu-Ilmu Intelektualisme Islam. Bandung: Mizan. 2010.

  1. Aiken, Henry. Abad Ideologi. Jogjakarta: Bentang. 2002.

Fayyadl (al), Muhammad. Teologi Negatif Ibn ‘Arabi: Kritik Metafisika Ketuhanan. Jogjakarta: Lkis. 2012.

Ghazali (al), Imam. Tahafut al-Falasifah: Membongkar Tabir Kerancuan Para Filsof. Bandung: Marja. 2012 (cetakan kedua).

Hartanto, Budi. Dunia Pasca-Manusia: Menjelajah Tema-Tema Kontemporer Filsafat Teknologi. Depok: Kepik. 2013.

Huxley, Aldous. Filsafat Perennial. Jogjakarta: Qalam. 2001.

Illiach, Ivan. Matinya Gender. Jogjakarta: Pustaka Pelajar. 2007 (cetakan keenam).

Piliang, Yasraf Amir. Dunia Yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan. Bandung: Matahari. 2011.

Ritzer, George. Teori Sosial Postmodern. Jogjakarta: Kreasi Wacana.

Sartre, Jean Paul. Eksistensialisme dan Humanisme. Jogjakarta: Pustaka Pelajar. 2002.

Sontag, Frederick. Pengantar Metafisika. Jogjakarta: Pustaka Pelajar. 2002.

Slouka, Mark. Ruang Yang Hilang: Pandangan Humanis Tentang Budaya Cyberspace yang Merisaukan. Bandung: Mizan. 1999.

Tjaya, Thomas Hidya. Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri. Jakarta: KPG. 2004.

Watloly, Aholiab. Tanggung Jawab Pengetahuan; Mempertimbangkan Epistemologi Secara Kultural. Jogjakarta: Kanisius. 2001.

 

[1] Aliran filsafat yang memandang bahwa ilmu pengetahuan merupakan prestasi tertinggi pikiran dan berusaha menerapkan pendekatan empiris yang ketat kepada kajian masyarakat. Lihat Marvin Perry dalam Peradaban Barat; Dari Revolusi Prancis hingga Zaman Global. Jogjakarta: Kreasi Wacana. 2013.

[2] Jean Paul Sartre, Ensistensialisme Humanisme. (Jogjakarta: Pustaka Pelajar. 2002) Hal. 44.

[3] Gagasan-gagasan Eksistensialisme Humanisme ini pun diwujudkan dalam film-film Hollywood, diantaranya Robocop, The Island, dan masih banyak lagi.

[4] George Ritzer, Teori Sosial Postmodern. (Jogjakarta: Kreasi Wacana. 2010) Hal. 49.

[5] Ruang Halusinatif yang dibentuk melalui media digital berupa bit bit informasi dalam database komputer, yang menghasilkan pengalaman-pengalaman halusinatif. Lihat Yasraf Amir Piliang dalam Dunia Yang Dilipat. Bandung: Matahari. 2011.

[6] Budi Hartono dalam Dunia Pasca-Manusia; Menjelajahi tema-tema Kontemporer Fisafat Teknologi. (Depok: Kepik. 2013.) Hal 99.

[7] Fakta manusia-manusia postmodern sebagai zombie sudah diilustrasikan dalam film Warm Bodies (2013) yang menceritakan sekelompok zombie yang hidup dalam kota yang terisolasi. Mereka terasingkan dari kehidupan normal, namun ada satu zombie yang mulai sadar bahwa hidupnya tak ubahnya jalan yang aneh dan banyak pertanyaan.

[8] QS. Az-Zumar: 02. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta: Departemen Agama RI.

[9] Ibid. QS. Az-Zumar : 41.

[10] Ibid. QS. Adz-Dzariyat: 56.

[11] Ibid. QS. As-Sajdah: 7-10.

[12] Pengetahuan mengenahi Lathifah (titik-titik halus) merupakan hal yang sangat rahasia dalam epistemologi sufi sehingga penulis tidak berwenang untuk membuka secara vulgar-terbuka, dikarenakan belum mempunyai hak untuk menyampaikan secara bebas kepada masyarakat umum. Disini penulis hanya cukup memberikan gambaran secara singkat (parsial) yang cukup memberikan pemahaman secara menyeluruh (universal) dengan tema yang penulis diskusikan.

[13] Henry, D. Aiken, Abad Ideologi. (Jogjakarta: Bentang. 2002) Hal. 290.

[14] Lebih jelas mengenahi pemikiran Kierkegaard tentang tiga wilayah eksistensi dapat dilihat pada Thomas Hidya Tjaya dalam Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri. Jakarta: KPG. 2004.