Oktober 22, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

DUA TANGISAN YANG BERBEDA, MENANGIS MENYESAL DAN MENANGIS BAHAGIA

oleh : Ustadz Abu Afnay ibnu Shidiq al-Falanjistani

 

Sebagian ulama zuhud berkata: siapa yang berbuat dosa dan dia tertawa (bangga terhadap dosanya) maka Allah akan masukkan dia ke neraka dalam keadaan menangis.  Dan siapa yang taat kepada Allah dan dia menangis (karena merasa malu dan takut kepada-Nya) maka Allah akan emmasukkan dia ke surga dalam keadaan tertawa bahagia.

Orang yang pertama di neraka menangis karena ia menyesali perbuatannya sehingga ia meronta mohon ampunan. Sementara itu, orang yang kedua berakhir tawa karena disurga ia mendapatkan keinginannya, yakni ampunan dari Allah.

 

***

Di sebuah desa di pinggiran bengawan solo saya mendapatkan cerita yang cukup “mengerikan” dalam sudut pandang saya sendiri sebagai manusia normal dan biasa-biasa saya.

Salah satu warga di desa tersebut merupakan salah satu orang yang menerima program kegiatan yang saya berikan ke desa tersebut bersama kawan-kawan saya.

Dia seorang ibu muda yang lahir pada 1990, termasuk generasi milenial, seusia anak didik saya awal ketika saya mengajar mengaji. Memiliki satu anak bayi yang digendong dan yang jelas dia berpenampilan cantik dan parasnya layak dijadikan sebagai “bunga desa”.

Perempuan muda ini mampu meningkatkan kegiatan yang saya berikan padanya menjadi sepuluh kali lipat. Dari anggaran 17.500.000 rupiah menjadi kurang lebih 150.000.000 rupiah. Sebuah capaian yang terbesar di desa tersebut dibandingkan warga lain desanya dan merupakan salah satu contoh keswadayaan yang cukup besar di Jawa Timur.

Didukung dengan wajah cantiknya dan “uang” yang dimilikinya sebanyak itu saya penasaran, timbul banyak pertanyaan sehingga memaksa saya untuk berdiskusi dengan beberapa orang terpenting di desa tersebut. Dan hasil diskusi saya cukup mengagetkan dan jelas “mengerihkan”.

Perempuan muda itu merupakan istri dari seorang TKI yang bekerja di Malaysia sebagai pekerja bangunan. Tiap bulan suaminya mengirim uang yang jumlahnya lebih dari pada cukup, selain uang belanja harian dan kebutuhan nafkah (kedua hal ini sudah ada jatahnya sendiri diluar yang dikirimkannya). Rencananya uang itu mau digunakan untuk membangun rumahnya yang reyot, agar rumahnya bisa menjadi baik. Dan secara rutin uang kiriman tersebut disimpan di dalam rekening khusus untuk “celengan”.

Pada waktunya yang dikira sudah tepat, saat uangnya di dalam “celengan” sudah “dikira-kira” kurang lebih 150.000.000 rupiah suaminya pulang dan ingin menggunakan uang tersebut untuk membangun rumahnya.

Sungguh naas bagi suaminya, ketika kartu ATM dari tabungan khusus “celengan” tersebut diminta dari istrinya dan kartu ATM itu dimasukkan ke dalam mesinnya untuk melihat saldonya, ternyata yang muncul adalah 0 rupiah. Bukan 150.000.000 rupiah.

Seketika itu pula suaminya menangis layaknya anak kecil. Dari tempat keberadaan mesin ATM hingga pulang sampai ke rumah tangisannya terus menyertainya dan hampir-hampir trauma.

Melalui berbagai pertanyaan dan berbagai “pengharapan untuk jujur” suaminya mendesak perempuan “cantik” itu, agar menjelaskan tentang “hilangnya” uang yang telah dikirimnya itu. Dengan jujur tanpa bersalah istrinya pun mengatakan, “uang itu habis karena kugunakan bermain-main, kugunakan untuk menikmati hidup nakal bersama lelaki lain”.

Menjadi jelas bagi suaminya, selama bekerja di Malaysia ternyata istrinya sedang “nakal” dengan lelaki lain, melakukan pekerjaan kotor dengan lelaki lain, melakukan perselingkuhan dan merusak kehormatannya sendiri sebagai seorang istri. Bagi suaminya rasanya ingin bunuh diri, ingin membunuh dirinya sendiri dan terasa bahwa hidupnya merupakan petaka yang sangat kejam.

Setelah menjalani berbagai “penyembuhan” alternatif agar tidak trauma atas perbuatan istrinya itu akhirnya mereka sepakat untuk saling memaafkan dan melupakan peristiwa itu.

Singkat cerita, mereka berdua pun berbaikan kembali, si suami berangkat ke Malaysia untuk mencari uang lagi dan dikumpulkan pada istrinya hingga mampu mencapai pada nilai nominal 150.000.000 rupiah kembali. Sehingga pada saat waktunya membangun rumah dimulai dengan adanya program dari saya maka uang “celengan” kedua itu langsung digunakan untuk membangun rumahnya.

Dari seluruh penerima program di desa tersebut rumah perempuan muda itu menjadi rumah yang paling megah dan sangat “mempesona” semua warga desa.

Namun demikian, bukannya dengan langkah “baikan” itu perempuan itu menjadi bertaubat dan kembali menjadi istri yang baik justru tindakan bodohnya berpacaran dengan (pacarnya) yang suami orang itu terus berlanjut dan tidak dihentikan. Hubungan haram pun terus dilakukan tanpa henti jika waktu dan kesempatan telah mereka peroleh. Konon, kebanyakan dilakukan di hotel di Bojonegoro. Hingga dilanjutkan pada kondisi “hamil” dan punya anak bayi yang digendongnya itu.

***

Sebagai orang yang kurang “memahami” seluk beluk kehidupan “masyarakat desa” saya merasa “teriris” melihat keadaan perempuan itu. Sebagai lelaki saya ikut tersakiti dan merasa dihadapkan pada kondisi yang menyiksa batin saya. Bagi saya, persoalan tersebut bukan hanya persoalan rumah tangga perempuan itu saja namun lebih pada permasalahan desa yang harus diselesaikan dengan “dicegah” oleh pihak pemerintah desa.

Saya pun memberanikan diri menghadap pada salah satu pejabat di desa tersebut yang sudah sangat akrab dengan saya sejak saya memberikan program di desa itu. Kepada pejabat tersebut saya menceritakan keluhan saya tentang adanya “warga desa yang kurang layak berperilaku sebagai istri”. Dimana suaminya telah bersusah payah bekerja sebagai TKI namun istrinya telah berbuat dzalim dan  mengkhianati kepercayaan yang diberikan suaminya.

Saya berharap dengan bercerita apa yang saya peroleh itu pejabat desa bisa memberikan solusi yang bisa mencarikan jalan keluar untuk mencegah warganya untuk tidak melakukan pekerjaan kotor tersebut.

Alih-alih mendapatkan jawaban yang sesuai harapan hati saya, pejabat desa tersebut bercerita hal-hal yang “mendukung” adanya perilaku nakal warganya itu. Allah.

Pejabat desa tersebut malah bercerita panjang lebar tentang perempuan cantik, muda dan banyak uang itu dimana sebelum melakukan perbuatan nakal dengan suami orang justru awalnya malah yang membuat perempuan muda nakal itu adalah pejabat desa itu sendiri.

Dengan bangga dia bercerita, “Sebelum dengan pacarnya saat ini (yang suami orang) wanita itu adalah pacar saya. Saya telah mengajak berpacaran dengannya beberapa kali. Kurang lebih empat atau lima kali saya mengajaknya ke hotel untuk berhubungan, karena mumpung suaminya tidak ada dan wanita itu juga mau, malah bangga dia berpacaran dengan saya (karena jabatan saya).

“Hingga pada akhirnya saya meminta teman saya untuk menggantikan ‘tempat saya’ memacari wanita itu, karena warga desa sudah mengisukan saya berpacaran dengan wanita itu. Maka untuk menyelamatkan posisi saya pun mengajukan teman saya untuk segera memacari wanita itu agar saya terselamatkan dari isunya warga desa.

“Hasilnya adalah yang anda ketahui sekarang, wanita itu telah berpacaran dengan teman saya sampai hamil dan lahir anak bayi yang digendongnya itu. Sampai saat ini hubungan mereka tetap berjalan dan tetap dijalani secara semi-semi rahasia. Walau keduanya juga sudah punya istri atau suami masing-masing”.

Menceritakan hal-hal itu pejabat desa itu dengan tertawa dan tersenyum bangga, tidak ada perasaan bersalah atau berdosa melakukan perbuatan yang jelas melanggar aturan dan menerobos batas-batas kehidupan. Apa yang dilakukannya dengan berhubungan bersama istri orang, lalu menyerahkannya kepada temannya untuk meneruskan “langkahnya” justru menjadi sebuah prestasi dan kebanggan. Dengan kata lain, mampu mengajak tidur dan berhubungan dengan wanita lain—istri orang adalah sebuah prestasi.

Saya tidak habis pikir, karena pikiran saya tidak sampai pada batas-batas tersebut.

***

November 2019 saya bersama teman-teman saya berangkat melakukan “Perjalanan ke Barat Mencari Kitab Suci” ke negeri yang tak terlihat di tengah-tengah kehidupan hedonisme ibukota Jakarta.

Di negeri kecil (namun luas—yang disembunyikan) itu saya melihat orang-orang selama sepuluh hari berdiam diri di dalam masjid. Mereka tidur dengan cara tidurnya Rasulullah, berada dalam sebuah “kotak ajaib” berukuran kubus 1 meter, lalu selama 24 jam setiap hari hanya digunakan untuk berdzikir menyebut nama Tuhannya. Tidak ada ucapan yang berbunyi diantara mereka, tidak ada perkataan atau diskusi, semua hanya berdzikir dalam hati dan hanya mengharapkan ampunan dan ridlo-Nya. untuk sementara mereka menjadi manusia bisu di lisannya.

Pada puncaknya hari terakhir 10 hari i’tikaf itu orang-orang “bisu sementara” itu menangis, air matanya bercucuran dan suaranya menggelegar. Mereka merasakan hatinya bergetar tak terkendali. Tangisannya tumbuh dari tiupan-tiupan dzikir yang diucapkannya sepanjang hari di dalam “kotak ajaib”. Setiap doa yang diucapkan oleh pimpinannya (imam sholat) membuat mereka semakin larut dalam tangisan dan terombang-ambing diantara kebahagian-kesedihan-permohonan ampun.

Jelas tidak bersedih mereka menangis, karena wajahnya memancarkan kebahagiaan dan keceriaan. Tidak ada wajah sedih diantara mereka dan tidak ada rasa takut diantara mereka. Semua hari-harinya adalah keindahan dan kecintaan pada Allah.

Mereka bersalaman satu sama lain, menyampaikan perasaan cinta dan meminta maaf. Para santri junior langsung mendatangi para santri sepuh untuk mencium tangannya dan memeluknya meminta maaf. Tidak ada unsur jahat di negeri itu dan tidak ada wajah-wajah kusam dari para penghuninya, semuanya bahagia dan memancarkan perasaan senang.

***

Dua kasus fenomena yang saya ceritakan ini mencerminkan dua hal yang bertolak belakang. Pertama mereka yang bangga dan tertawa dengan kemaksiatan yang telah dilakukannya dan kedua mereka yang menangis karena bahagia menjalankan ketaatan kepada Allah.

Pada kondisi kehidupan dunia yang dibatasi oleh ruang dan waktu ini mereka akan tetap pada keadaan tersebut, tertawa karena bangga akan kemaksiatan dan menangis karena bahagia akan ketaatan. Namun sebaliknya, tatkalah dimensi ruang dan waktu ini sudah dilenyapkan oleh Allah dan gravitasi kehidupan yang mengantur keberadaan ruang dan waktu ini dicabut (yakni Nur Muhammad) maka kondisi akan berbalik 180 derajad. Mereka yang menangis kelak akan tertawa dan mereka yang tertawa kelak akan menangis, di dua tempat yang juga berbeda, surga dan neraka.

Jum’at, 1 Ramadlan 1441 H

24 April 2020 M.