Oktober 22, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

DINAMIKA BERNEGARA MASYARAKAT MUSLIM INDONESIA

Oleh :

Siti Fatkhiyatul Jannah

Pengamat Politik dan Praktisi Kepemimpinan Muslim di KITASAMA

 

 

Islam masuk ke nusantara sekitar abad 7 M dibawa oleh para saudagar Arabia, gujarat, dan persia. Waktu itu nusantara merupakan wilayah stategis dalam pelayaran dan sangat cocok untuk perdagangan. Disamping wilayahnya berupa hutan tropis yang subur dan rindang, kerajaan-kerajaan nusantara merupakan sebuah negara yang makmur dan memiliki kebudayaan yang tinggi. Filsafat hindu-budha mengilhami lahirnya berbagai karya sastra, arsitektur, dan ilmu pengetahuan. Bertahun-tahun kebudayaan itu berjalan dan menjadi karakteristik penduduk kerajaan-kerajaan di nusantara.

Masuknya para saudagar Arabia menjadi togak bagi perkembangan perniagaan bagi kerajaa-kerajaan di Nusantara. Pada masa itu mulai terjalin hubungan perdagangan yang cukup baik hingga mampu membangun kemakmuran rakyat.

Kedatangan para saudagar Arabia ke tanah nusantara tidak dengan tangan kosong, mereka membawa sebuah kebudayaan dan ajaran; Islam. Intensitas perdagangan dan kebudayaan yang dibawa oleh para saudagar secara gradual mengalami sikretisme dengan kebudayaan pribumi nusantara. Ahli-ahli Islam menjadi pribumi, rakyat nusantara merasakan Islam menjadi alternatif yang paling baik untuk menjalani hidup. Filsafat hindu-budha pun menyatu dengan teologi islam. Islam memberikan warna pada kebudayaan penduduk pribumi yang sudah lama dijalankan. Pada gilirannya secara evolutif jadilah Islam menjadi sebuah agama besar di bumi nusantara kerena keberhasilannya menyerap kebudayaan pribumi. Itulah gambaran singkat perjalanan islam di Indonesia.

Agama Islam dipeluk oleh penduduk nusantara melalui bentuk sinkretisme[1] dengan kebudayaan hindu-budha. Islam tidak pernah memberikan rasa sakit, invansi, imperialisasi, pertempuran, apalagi gnosida terhadap penduduk setempat dalam menjadikan islam sebagai agama manusia. Pendekatan kerjasama perdagangan, perkawinan, dan asimlasi budaya melalui ksenian merupakan cara yang efektif menjadikan tanah nusantara menjadi dar-al muslimin. Para walisanga, julukan untuk para guru penyebar Islam di tanah jawa menghadirkan islam dengan cara damai tersebut. Mengakomodasi kepentingan rakyat, menghormati kebudayaan setempat, dan mampu menyatu dengan keberadaan pluralisme yang sedang berkembang di masyarakat.

Kondisi itu terus dibina oleh para penerusnya hingga lambat laun Islam ditanah Nusantara menjadi sebuah identitas. Menurut Ernan Sitompul, pada abad 15 M hingga 20 Masehi penyebutan untuk nusantara tidak lain adalah Islam. Islam adalah nusantara dan nusantara adalah Islam[2].

Dengan kata lain Islam di Indonesia bukanlah islam yang terlembagakan sebagai  agama simbol negara, namun lebih pada sisi kultur yang terus berkembang sesuai dengan karakteristik penduduk setempat. Islam Indonesia lebih berdamai dengan keadaan yang sudah lama dijalankan oleh masyarakat dimana Islam sedang berkembang, bukan dengan usaha untuk mendirikan imperium atau kekaisaran. Kasus Indonesia berbeda dengan kasus di Andalusia, Rusia, maupun di semenanjung Balkan. Islam Indonesia masuk dengan jalan damai dan mampu berasimilasi dengan kebudayaan pribumi, dibawa oleh kelompok sufi yang berprofesi sebagai pedagang. Sedangkan dibumi eropa, Islam datang dalam bentuk sebuah kerajaan untuk pembebasan sebuah wilayah. Tentu saja ini sangat berbeda dan memiliki implikasi yang juga berbeda.

Proses Islamisasi ini pelan namun pasti menyebar ke seluruh pelosok di Nusantara, termasuk Jawa. Para guru Tarikat dalam menyebarkan agama dan mengajar penduduk pribumi tentang Islam, mendirikan sebuah padepokan yang kemudian disebut dengan pesantren. Awalnya satu pesantren, lalu lahirlah beberapa ribu pesantren di seluruh pelosok-pelosok desa yang dirintis oleh murid dari pesantren pertama.

Pengajaran di pesantren adalah Islam Ahlussunnah Wal jama’ah[3]. Yakni Islam yang dalam bidang Fiqh mengikuti Madzhab Imam Empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali), dalam bidang teologi mengikuti pendapat Imam Al-Asy’ari dan Al-Maturidzi, sedangkan dalam bidang Tasawuf dan filsafat mengikuti madzhab imam Abu Hamid Al-Ghazali dan Imam Junaidi Al-Bahgdadi[4]. Semua pesantren mengajarkan ajaran Islam dengan konsep tersebut.

Sehingga karena berasal dari guru yang sama, kitab yang sama, dan system pengajarana yang sama, maka pengajarannya di dalam pesantren di Indonesia adalah sama juga, yakni ajaran Islam Ahlussunnah wal jama’ah. Bukan ajaran Islam yang lain. Tentu saja seluruh umat Islam Indonesia awal juga penganut Islam Ahlussunnah wal jama’ah.

Ciri khas dalam pendidikan Islam pesantren adalah kajiannya yang menggunakan kitab kuning dan keluwesannya dalam menyikapi budaya lokal dengan budaya Islam. Dan yang lebih penting Para kaum pesantren tidak pernah menggunakan jalan kekerasan dalam memberantas kemungkaran. Semuanya melalui jalur doa dan kesadaran. Sehingga saat Islamisasi berjalan di Nusantara darah setetes pun tidak dialirankan untuk menegakkan bendera agama. Dengan kata lain ; bukan dengan jalan peperangan. Seiring dengan perkembangan zaman kaum pesantren ini-lah yang kemudian menjelma menjadi perkumpulan dengan nama Nahdlatul Ulama (NU).[5]

Kelahiran Nahdlatul Ulama (NU) tidak hanya  di pengaruhi oleh faktor dalam negeri saja, tapi juga faktor luar negeri. Terutama oleh perubahan peta politik yang ada di dunia Islam, khususnya di timur tengah (sebagai kiblat umat Islam dunia). Tahun berdirinya NU adalah tahun dimana dunia perpolitikan sedang kacau-kacaunya tepat pada tanggal 31 Januari 1926. Negara-negara Islam sedang dihadapakan pada permasalahan penjajahan, di Eropa ada ketegangan menyambut perang dunia kedua, dan di Nusantara sendiri masih di cengkram oleh kolonial Belanda.[6]

Dalam konteks ke-Indonesiaan, setelah Nahdlatul Ulama (NU) dengan garis pemikiran keagamaannya yaitu bersifat menyempurnakan nilai-nilai yang sudah baik dan menjadi milik suatu kelompok manusis baik suku maupun bangsa dan tidak bertujuan menghapus nilai-nilai tersebut[7] terutama di Indonesia karena Nahdlatul Ulama (NU) berada di indonesia, maka nilai-nilai budaya di Indonesia tetap di pertahankan. Bertolak belakang dengan Nahdlatul Ulama’ (NU) terdapat sebuah organisasi  dengan gagasan Khilafah Islamiyah telah diusung oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang lahir di al-Quds palestina tahun 1953. Sebagai negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia praktis Indonesia merupakan lahan yang subur untuk memupuk gagasan khilafah Islamiyah. Sampai hari ini HTI memiliki gagasan sama menancapkan eksistensinya di Indonesia dengan kuat.

HTI merupakan gerakan Islamis yang menginginkan terbentuknya tatanan negara berdasarkan syariat Islam. Di Indonesia, HTI merupakan organisasi transnasional yang lahir dari Timur Tengah dan mempunyai ideologi global untuk mewujudkan syari’at Islam sebagai dasar negara. Sebagaimana organisasi transnasional yang lain, semisal kelompok yang bercorak Jihadis, Ikhwanul Muslimin, dan kelompok Salafi-Wahabi, HTI dengan mudah bisa tumbuh dan berkembang di Indonesia. Seperti halnya yang dikatakan oleh seorang pengikut gerakan transnasional “Setiap benih yang kau tanam di Indonesia pastilah tumbuh”, di Indonesia semuanya bisa mendapatkan posisi untuk menjadi besar dan berpeluang untuk menjadi sebuah gerakan sosial yang patut diperhitungkan. Segala  “gaya—mulai dari konsumerisme “gaya barat” hingga aktivitas misionaris kristen—bersaing untuk berebut pengaruh.[8]

Menurut Greg Fealy dan Anthony Bubalo, secara historis, vektor-vektor-vektor utama transmisi pemikiran Timur Tengah ke Asia tenggara adalah gerakan sosial. Dalam hal gerakan sosial, pelajar dan Mahasiswa  barangkali  menjadi saluran kontemporer yang paling penting bagi ide-ide Islamis dari Timur Tengah ke Indonesia.

“Mereka pergi ke Timur Tegah—khususnya Mesir dan Arab Saudi dengan jumlah besar, guna belajar kepada ulama terkemuka dan meleburkan diri mereka dalam budaya Islam yang autentik…..Pada tahun-tahun terakhir, jumlah orang Indonesia di Timur Tengah meningkat pesat, tidak saja karena meningkatnya beasiswa pemerintah Indonesia, tetapi juga karena bantuan finansial tambahan dari pemerintah-pemerintah Timur Tengah dan donor-donor pribadi”.[9]

Begitu pula dengan HTI, ia tumbuh di Indonesia melalui transmisi pemikiran dari Timur Tengah melalui para mahasiswa dan da’i yang memiliki pandangan tentang pentingnya Islam menjadi ideologi Negara. Memang pada awalnya, mahasiswa dan da’i ang dikirim untuk belajar ke Timur Tengah merupakan pelajar yang murni belajar dan dakwah Islam sebagai agama, bukan menjadikan Islam sebagai gerakan politik. Namun, seiring perkembangan zaman atas munculnya berbagai pemikiran tentang Islam dikembalikan sebagai dasar negara, para pelajar ini menggunakan kesempatannya untuk mengembangkan ide-ide Islamis. Termasuk ide penerapan syari’at Islam ala HTI.

“HTI bertujuan untuk membangkitkan kembali umat Islam dari kemerosotan yang amat parah, membebaskan umat dari ide-ide, sistem perundangan dan hukum-hukum kufur serta membebaskan mereka dari dominasi dan pengaruh Negara-negara yang dianggap “kafir”. [10]

Dalam keberadaannya di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) memiliki Visi dan misi tersendiri untuk menguatkan dirinya sebagai organisasi yang berada di Negara Indonesia. Nahdlatul Ulama (NU) merupakan sebuah fenomana yang unik, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di dunia Internasional. Sebuah ormas yang memiliki banyak pengikut yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia—khususnya Jawa dan madura—di pedesaan. Mayoritas pendukungnya adalah kaum santri pengikut para ulama yang memiliki kegiatan di Pesantren (lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia). Paling tidak pendukung NU mewakili lebih dari seperempat penduduk Indonesia[11].

Nahdlatul Ulama (NU) sebagai salah satu organisasi masyarakat terbesar di Indonesia yang memiliki pedoman dalam berpolitik adalah selalu mengemban nilai-nilai kemerdekaan yang hakiki dan demokratis, dengan memperkokoh konsensus-konsensus nasional[12]. Nahdlatul ulama (NU) berada di Indonesia, maka nilai-nilai yang diperjuangkan adalah sesuai falsafah ke-Indonesiaan yakni UUD 45 dan pancasila sebagai ideology Negara.

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dengan konsep bentuk ideal negara Islam yang diusungnya menjelaskan model negara islam yang secara esensial bebeda dari model kenegaraan modern/sekuler, baik segi asas, aturan maupun pemikiran, pemahaman dan standar acuan untuk mengatur rakyat. Model khilafah di yakini sebagai satu-satunya solusi bagi umat islam[13] melalui bentuk pemerintahan khilafah oleh HTI dan keberadaan NU di Indonesia telah membawa sebuah bentuk dikursus (wacana) dalam konteks pemerintahan saat ini. Diskursus dijadikan sebagai pisau analisa adalah untuk membongkar hal-hal yang dianggap mempunyai relasi kuasa sebuah pengetahuan untuk melanggengkan sebuah kekuasaan, terutama sebuah ideologi.

Penelitian dengan metode diskursus pernah dilakukan oleh Moh. Wahyu Nur Cahyo tentang ideologi gerakan buruh di Surabaya dalam diskurus elit organisasi buruh, penelitian ini membedah ideology yang menjadi diskursus di gerakan buruh dengan tujuan memahami ideology melalui pernyataan elit organisasi buruh yang dikeluarkan di media[14]. Selain itu, oleh Edti dwi Marliasari dengan analisis diskursus pola-pola hegemoni dan resistensi pada multilevelmarketing yang ingin membongkar pola-pola hegemoni dari upline ke downline atau diprospekkan dan resistensi dari downline ke upline, selain itu juga membedah tentang persamaan dan perbedaan diskursus upline, downline dan prospekan pada multilevel marketing produk oriflamme dan tiensea.[15]

Analisis diskursus juga pernah dilakukan pada penelitian perawat tentang pelayanan kesehatan peserta askes hankam di poli gigi RS. TNI-AL Dr. Ramelan Surabaya ole hade ayu heritsyah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana diskursus perawat tentang pelayanan kesehatan yang mereka lakukan selama ini pada setiap pasien askes hankam yang datang berobat pada perawat yang bertugas di poli gigi RS. Dr. Ramelan Surabaya.[16]

Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Ian Batista, yang  membongkar metroseksual dalam wacana yang beredar dalam fitness center yang mendefinisikan bahwa laki-laki yang berpenampilan menerik adalah laki-laki dengan otot yang menonjol sehingga terkesan macho. Pada posisi ini tubuh tak pelak menjadi sasaran kuasa yang harus didisiplinkan dan dibuat gar patuh sehingga siap untuk ditampilkan di ruang public.[17]

[1] Sinkretisme adalah artikulasi taktis dari unsure-unsur yang berbeda yang terlepas dari segala perbedaanya, bergabung bersama-sama untuk menghasilkan satu bentuk ungkapan tertentu, sehingga identitas masing-masing unsure tidak utuh lagi. Lihat yasraf amir piliang. 2011. Dunia yang dilipat “Glosarium”. Matahari; Bandung
[2] Einar, Marhatan  Sitompul. 2011. NU dan Pancasila.  Yogyakarta:Lkis. hal 35.
[3] Istilah ahlusunnah wal jammah muncul karena digunakan Asy’ari untuk mereka yang akidahnya lebih berdasarkan sunnah Rasul ketimbang akal. Lihat soeleoman fadeli dan Moh. Subhan. 2007. Antologi NU. Surabaya; Khalista.
[4]Soelaiman fadeli dan Mohammad Subhan. 2007. Antologi NU; Sejarah, Istilah, Amaliyah, Uswah. Surabaya : Khalista.
[5] Nahdlatul ulama di singkat NU artinya kebangkitan para ulama’. Sebagai organisasi yang didirikan oleh para ulama pada tanggal 31 Januari 1926 M/16 Rojab 1344 H. Lihat Antologi NU. 2007.  Surabaya: Kalista
[6] Mohammad Syihabuddin, 2010. Membaca NU dalam perspektif Sejarah. Artikel tidak diterbitkan.
[7] Op. Cit.  halm 12
[8] Lihat Greg Fealy dan Anthony Bubalo. 2007, Jejak Kafilah: Pengaruh Radikalisme Timur Tengah di Indonesia. Mizan Bandung, Hal. 105.
[9] Ibid, hal. 85.
[10] M. Ismail Yusanto (Juru Bicara HTI). 2007. Mengapa harus Khilafah? Aula; Surabaya
[11] Martin Van, Bruinessen.  2009. NU, Tradisi, Relasi-relasi kuasa, pencarian wacana baru.  Lkis; Yogyakarta.
[12] Soeleiman, fadeli dan moh. Subhan. 2007. Antologi NU. Khalista: Surabaya.
[13] Ainur, Rofiq. 2012. Membongkar proyek Khilafah ala HTI. Lkis; Jogjakarta.
[14] Moh. Wahyu nur cahyo. 2007. Ideology gerakan buruh di Surabaya dalam diskursus elit organisasi buruh. Skripsi. FIS UNESA Surabaya.
[15] Edti, dwi Marliasari. 2008. Analisis diskursus pola-pola hegemoni dan resistensi pada multilevelmarketing. Skripsi. FIS UNESA Surabaya.
[16] Ade, ayu heritsyah. 2012. Analisis diskursus perawat tentang pelayanan kesehatan peserta askes hankam di poli gigi RS. Dr. Ramelan Surabaya. Skripsi. FIS UNESA Surabaya.
[17] Ian, batista. 2010. Diskursus metroseksual dimata pengguna jasa pusat kebugaran mentari sport center di Surabaya dalm upaya mencari relasi tubuh dan kuasa. Skripsi. FIS UNESA Surabaya.