Oktober 25, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

DILEMA ROKOK ECERAN

oleh: Imam Sarozi

 

Sebagian orang sepakat bahwa Rokok adalah teman paling mesra untuk merangkai harapan yang punah. Bukan hanya laki-laki saja, namun sekarang banyak kaum hawa mulai menggeluti profesi sebagai pecandu rokok yang setia. Keren bukan.

Terlepas hanya sebagai fashion saja ataukah mencari sensasi. Sudah banyak kita jumpai di ujung-ujung warung kopi yang terang hingga warung kopi yang remang-remang. Rokok menjadi tumpuan kala bibir butuh dukungan.

Rokok eceran adalah sebuah solusi untuk penikmat asap yang tak terdukung oleh investasi permodalan yang memadai. Dompet tipis, Yang artinya tak perlu dana besar untuk dapat menikmati sebatang rokok pelepas perih. Rokok yang biasanya dijual perbungkus kini menjadi satu batang demi batang.

Rokok eceran merupakan kekakraban bagi kaum-kaum dompet minimalis yang berhijrah dari sisi paling gelap ranjangnya untuk melangkahkan kaki menuju kursi panjang warung kopi. Berbekal tekad yang kuat dan pandangan mata yang tajam. Langkah tegap. Berani dan sigap untuk memesan kopi hitam beserta pendampingnya. Rokok eceran. Is the Best.

Dulu pernah satu warung kopi terjadi huru-hara yang mengakibatkan pertumpahan darah. Gelas-gelas melayang. Kursi, meja, lepek dan apapun yang berada di warung berhamburan. Hanya gara-gara rokok eceran harus berbuntut penuntasan dengan baku hantam.

Seorang pemuda dengan gerombolannya mendaratkan ban sepeda motornya di satu warung kopi yang dari tadi ramai anak-anak muda dengan segala kualifikasi umur. Mulai yang berbaju sekolah, tukang becak, pengusaha, petani, pejabat, tukang begal, koruptur, bahkan para netizen-netizen juga banyak di sana.

Pemuda bergerombol yang baru datang itu berjumlah 5 orang. Berjalan memasuki warung. Pasti tahulah kalau pemuda 5 itu, bukan pandawa tapi kesebelasan futsal yang lagi nyasar pingen mabar (main bareng) ke warung.

Sepakat, semua pemuda memesan kopi hitam tanpa gula. Mungkin saja hidup mereka sudah manis jadi tanpa gula pun kopi masih terasa manis. Atau bisa jadi mereka baru saja dapat pacar baru atau kenalan cewek baru.

“Mas, Kopi limo ora usah gawe gulo.”

“Siap, bos” sahut mas penjual kopi.

Setelah memesan kopi semua bergegas mencari meja dan kursi yang akan mereka daratkan bongkok yang sejak lama tadi hanya menciumi jok sepeda yang panas.  Terpilihlah, satu meja porsi 5 orang pas di pojokan warung. Pas dan strategi untung membicarakan hal-hal intim nantinya. Satu anggota pemuda berdiri dan berjalan menuju ke tempat penjual kopi.

“Ape nek ndi cing?” Tanya salah satu anggota. Ternyata nama pemuda yang berdiri itu bernama adi alias cacing. Tubuh kurus tinggi, kulit berwarna hitam legam, rambut memerah mungkin karena sangking seringnya mendapat sentuhan sinar matahari.

Ape jaluk rokok otek’an.”

Yowes jalukno pisan aku.

Sepakat lagi, dua rokok eceran pun siap untuk dipesan. Perjalanan memesan dua rokok eceran siap dilakukan. Baru melangkah beberapa meter saja. Langkah kaki cacing terhenti. Gara-gara ada netizen di samping meja, mereka mengomentari cacing dan temannya memesan rokok.

Nom-noman kok rokok e otek an. Opo ra sungkan,” ucap salah satu nitizen kepada netizen yang lain.

Cacing telingannya panas. Seketika sekujur tubuhnya di landa demam tinggi seperti panci yang dipanaskan. Emosi meletus. Dan boom.

Ngomong opo kowe, ra sah ngenyek. Nek ra seneng aku pesen rokok otekan lah meneng ra sah kakean cangkem. Asu raimu. Wanine muk maido tok,” lontaran kata-kata cacing tidak kalah pedasnya. Ibarat mie judes level 15 plus lada 10 Kg.

Tanpa pembelaan atau sanggahan lagi. Netizen berdiri dan gelas kopi yang sejak tadi di depannya melayang ke kepala cacing. Dan peperangan pun tak terhindari.

Semua anggota cacing yang berjumlah 5 orang alias pandawa KW. Mulai datang dan mengatur strategi seraggan balasan. Tak kalah hebohnya. Kubu sebelah yang terdiri dari jajaran netizen tak kalah hebohnya untuk menerima serangan.

Dan meletuslah perang dunia ke-3 di atas tanah perkopian yang tercinta. Gelas yang tak bersalah, piring, lepek, meja, kursi, bahkan tak luput genteng-genteng yang berjasa menahan panas dan dingin tak luput dari sergapan untuk menjadi senjata.

Tak kalah heboh Mas penjual warung mulai bingung, resah, panik, menangis dan berteriak.

“Leren, Mas” bentaknya.

Api sudah di nyalakan. Mata para petarung MMA di warung kopi itu. tak di hiraukannya teriakan mas penjual kopi. Luka harus terbayar. Dendam harus tertuntaskan.

Setengah jam berlalu. Satu demi satu masing-masing anggota tumbang. Ada yang berdarah, tangan patah, kepala kesleo, kaki migren. Lengkap sudah tragedi ini menelan korban.

Aparat keamanan datang dengan sigap menenangkan TKP yang terjadi baku hantam dua kubu ini. Yang satu pejuang rokok eceran dan yang satu netizen anti gaya hidup eceran. Satu persatu tak luput dari introgasi polisi.

Iki kenopo kok iso tukaran koyok ngene,” tanya pak polisi geram.

Cacing dengan lantang teriak, menjawab pertanyaan pak polisi.

Aku pesen rokok otek-an di ennyek, pak”.

Netizen tidak kalah sigap menjawab pertanyaan pak polisi.

Aku ra ngenyek, pak. Wong aku sak bolo-boloku Cuma ngomong nom-noman kog tukune rokok eceran. Nek cae ra terimo ra sah ngamuk. Wong kenyataan e iyo.” Pungkasnya tak kalah garang.

Cacing dan anggota 5 pandawa KW tersulut lagi. Melihat gelagat pertempuran akan terjadi lagi. Pak polisi mulai keras menyuarakan suaranya.

Memperingkatkan. “Wes ayo milu nek kantor kabeh,” bentak pak polisi.

Semua pemuda itu tertunduk dan ikut kekantor polisi. 5 anggota pandawa KW atau pejuang rokok eceran beserta rombongan netizen itu pun mulai lesu dan menyesali perbuatannya.

Kisah ini adalah sebuah cerita problematika sosial. Para pribumi dengan kekhasan rokok eceran. Terus apa yang bisa kita ambil dari kisah ini? Perjuangan para penikmat rokok eceran atau netizen pejuang sok kemapanan? Apapun yang terjadi rokok tetaplah rokok. Mau eceran bungkusan kerdusan tetaplah rokok. Dan cibiran netizen pun akan tetap begitu. Pedas dan cepat dengan bantahan yang terukur dan terarah.

Cobak bayangkan yang bertengkar itu para politikus partai yang merebutkan tender proyek eceran. Pasti bertengkarannya tidak ada darah. Paling-paling masuk penjara diciduk KPK dengan jurus OTT-nya.

Gambaran paling nyata dari realita yang terjadi di hamparan bumi Indonesia. Bumi para pejuang hidup yang sudah tercekik oleh keadaan yang malu tersampaikan. Di sisi lain di luar sana banyak bertebaran cibiran dan hoax yang merangsang pertengkaran. Sedangkan di luar Indonesia, Eropa sudah jauh melesat dengan rangkaian perkembangaannya. Justru kita masih nongkrong dan memperebutkan hal yang sangat remeh. Sungguh terlalu.