Oktober 20, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

DEVSHIRME; STRATEGI MEMBANGUN PASUKAN ELIT UTSMANI DAN TENAGA ADMINISTRASI PROFESIONAL

Enam Janisari Jawara Kitasama, Karya Kawakib Murdiono

Oleh :

MOH. SYIHABUDDIN

Direktur Kitasama Stiftung

 

Adanya tentara baru Janissari membuat posisi kerajaan Ustmani semakin kuat di dataran Anatolia dan Eropa. Pasukan ini cukup efektif untuk melakukan gaya pertempuran ala Ustmani yang mengandalkan perang langsung berhadap-hadapan dan ditentukan oleh keberanian. Kemampuan Janissari bisa diandalkan dalam sisi ini, karena selain memiliki keahlian pertempuran darat, juga dibekali dengan gerak cepat melumpuhkan pertahanan barisan manusia atau tembok berbenteng.

Kebutuhan Kerajaan Yang Semakin Meluas

Ketika wilayah Ustmani meluas dan mengjangkau hingga ke perbatasan Honggaria dan sungai Danube, praktis kebutuhan akan budak semakin kurang dan tidak bisa diandalkan untuk melakukan ekpedisi-ekspedisi berikutnya. Oleh karena itulah perekrutan tentara budak profesional harus dilakukan secara sistematis dan berlangsung secara permanen. Pada intinya kebutuhan Janissari harus selalu tersedia. Maka dibentuklah sebuah program perekrutan secara reguler untuk menyediakan pauskan Janissari agar selalu tersedia tiap tahunnya, yang disebut dengan Devshirme atau “pengumpulan”. Program ini dimulai oleh sultan Bayazid I dan praktiknya terus berlanjut (tidak hilang sepenuhnya) hingga abad 18 M. Pada perang sipil 1402 dan 1413 praktiknya terhenti, dan dilanjutkan kembali setelah kondisi kesultanan stabil.

Walau yang direkrut adalah anak-anak yang kelak menjadi tentara-budak sultan, praktik rekrutmennya tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Devshirmen tidak mengizinkan anak-anak orang Turki dan anak-anak Muslim lain (Arab, Afrika) menjadi bagian dari program ini, dan ini menjadi ketentuan utama, “Yang terpenting dari ketentuan perekrutan adalah dilarang mengambil anak-anak Turki. Jika mereka melakukannya, saudara-saudara mereka juga akan diklaim sebagai budak sultan dan menginginkan pengecualian pajak, atau mencari jalan masuk dalam satuan Janissari”.[1]

Rekrutmen Yang Selektif

Perekrutan dilakukan secara selektif oleh petugas Devshirme. Mula-mula petugas akan menyeleksi anak-anak yang akan direkrut yang memenuhi kriteria yang ditentukan. Jika anak-anak itu memenuhi syarat akan di data identitasnya: dicatat namanya secara lengkap,nama keluarganya, asal desanya, dan nama pemegang fief didesanya. Lalu kemudian mereka dikumpulkan dalam sebuah kelompok 100—150, atau menjadi kelompok 200. Anak-anak hasil “pengumpulan” ini disebut dengan lad.

Setelah terkumpul para lad akan dibawa ke ibukota dengan pengawalan dan pengawasan yang ketat. Setelah tiba di ibukota mereka diserahkan kepada Agha Janissari, untuk diperiksa identitasnya dan menghindari adanya penipuan dari orang Muslim yang ingin anaknya ikut Janissari. Jika data mengenahi para lad sudah benar mereka akan di khitan secara bergantian dan serentak, lalu segera mendapatkan pendidikan di istana mengenahi Islam dan berkelakuan baik. Beberapa tahun melayani sultan di Istana, mereka akan dimagangkan di rumah-rumah gubenur dan orang-orang kaya Ustmani. Bahkan terkadang dijual secara tradisional kepada petani Turki untuk bisa bekerja secara baik diperkebunan-perkebunan. Dengan cara ini diharapakan anak-anak ini mendapatkan kehidupan secara Islam dengan cara hidup secara langsung dalam lingkungan Islami, rumah tangga muslim, dan tata cara menjadi Muslim. Dan secara otomatis, nama-nama mereka juga menjadi nama Muslim. Baru setelah mereka berhasil menjadi anak yang baik, hasil dari pelatihan menjadi pelayan dan melayani, mereka akan mendapatkan pendidikan khusus untuk bisa bergabung di korps infantri Janissari. Dan kebanyakan para lad bercita-cita menjadi Janissari, akan tetapi tidak semuanya bisa masuk dalam satuan itu.

Calon Janissari Dibina Secara Khusus

Pelatihan untuk menjadi Janissari mula-mula dilakukan dengan cara mengumpulkan para lad dalam 31 asrama dan para Agha menjadi pengawasnya secara langsung. Mereka akan belajar lagi di Istana, galangan kapal, Arsenal, kantor notaris dan penyuplai senjata. Kemampuan ini sangat dibutuhkan oleh calon Janissari untuk bisa diterima sebagai anggota korps. Dalam posisi inilah sultan akan mengambil beberapa anak-anak yang menurut catatan para Agha, sudah layak menjadi anggota satuan. Mereka akan mendapatkan seragam, senjata, dan gaji yang layak dari sultan. Dan sistem inilah yang kemudian menyebabkan kesultanan Ustmani menjadi kekuatan militer yang tangguh.

Pelatihan budak-budak imperial pada kedua tingkatan itu (ichoghlantar: anak-anak dalam negeri dan ajemi aghlanlar: anak-anak asing) sangat kompetitif dan selektif. Semua anggota rumah tangga-budak dibayar, walau dengan jumlah yang berlainan. Warga negara Ustmani Muslim yang terlahir merdeka, termasuk anak-anak dari budak-budak imperial, dihalangi dari pendaftaran dalam rumah tangga-budak, orang-orang Ustmani yang terlahir Muslim yang terlahir merdeka tidak diikutsertakan dalam pembagian tugas pemerintahan di negeri mereka sendiri. pemerintahan kini berada di tangan budak-budak eks-Kristen yang terdidik cermat dan sangat disiplin. Inilah salah satu sebab utama suksesnya kesultanan Ustmani.[2]

Menjadi tentara sultan dalam korps Janissari merupakan sebuah posisi yang elit dan membanggakan. Sehingga banyak para orang tua yang menginginkan anaknya menjadi Janissari, tak terkecuali orang muslim. Menjadi Janissari adalah kebanggaan bagi setiap anak muda di zamannya. Kendati mereka dipisahkan dengan keluarganya, dan diadopsi menjadi bagian dari budak sultan, namun tidak sepenuhnya mereka—yang sudah menjadi Janissari—melupakan keluarganya. Bahkan para Janissari pun banyak melakukan cara agar keluarganya juga dijadikan anggota dari korps ini.

Sebuah dokumen pada tahun 1572 menunjukkan bagaimana seorang Janissari mengajukan sebuah petisi kepada sultan atas nama keluarganya di Albania, yang mengindikasikan bahwa ia sudah tidak menjadi “musuh” maupun kehilangan kontak dengan (keluarga) mereka. Sama sebuah kasus di Istanbul Court Register pada 1612—13 memunculkan sebuah masukan yang mencatat satu kasus dimana gubenur di Anatolia—jelas bahwa ia adalah salah satu hasil program Devshirme—bekerja sama dengan saudaranya, seorang pendeta lokal, membuat sebuah tuntusan ilegal dari populasi di wilayahnya. Hal ini tidak dapat mengisolasi kasus-kasus tentang kontak yang tetap berlangsung. Biarpun demikian, setiap anak laki-laki yang dikenakan pajak melalui pengumpulan (devshirme), berhutang kehidupan, dengan gaji tetap yang mereka terima dan karir masa depannya untuk sultan, bukan kepada saudara atau saudaranya dan, dalam hal ini, hubungan paling vital dengan latar belakang yang sulit.[3]

Rumelia (Eropa Timur) adalah Target, dan Bosnia Justru menawarkan diri

Secara intensif, proses perekrutan dilakukan di Rumelia. Karena selain merupakan wilayah penduduk Ustmani yang beragama Nasrani, juga menjadi alternatif yang tepat selain penduduk di Anatolia yang kebanyakan Turki. Sebagian anak Yunani Anatolia juga menjadi obyek perekrutan dan menyediakan banyak sumberdaya manusia. Bahkan di Bosnia, secara suka rela para penduduk siap sedia menjadi obyek devshirme sultan dan siap menyediakan sumberdaya manusia berupa anak-anak muda untuk menjadi Janissari.

Namun, ada satu kelompok Muslim yang dapat diandalkan untuk program devshirme, yaitu bangsa Bosnia. Alasanya, berdasarkan penulis the Laws, pada saat penaklukan Bosnia pada tahun 1463, para penduduknya secara serta merta tunduk kepada sultan dan memeluk Islam. Ketika sultan menawarkan hak khusus pribadi untuk kembali pada kebiasaan mereka, mereka meminta agar menjadi subjek pengumpulan (devshirme). Sejak saat itu, sultan mengambil anak-anak dari daerah itu.[4]

Gagal masuk Janissari, jadilah Tenaga Administrator Kesultanan

Bagi lulusan devshirme yang tidak bisa bergabung dengan korps Janissari akan dijadikan petugas administrasi. Hal ini bukan berarti mereka tidak layak untuk menjadi pasukan infantri sultan, namun lebih pada kebutuhan administrasi kesultanan yang mulai membutuhkan banyak tenaga terampil. Adalah sultan Muhammad al-Fatih yang pertama kali menerapkan sistem ini, untuk memenuhi kesibukan Istanbul, ibukota barunya yang baru ditaklukkan. Dan pada perkembanganya, program devshirme benar-benar menjadi sangat efektif untuk menunjang kekuatan Ustmani untuk mengatur wilayahnya yang membentang dari Eropa hingga Arabia. Apalagi didukung dengan peran ulama yang sangat vital dalam penentu kebijakan sultan semakin menguatkan posisi Ustmani sebagai kekaisaran yang besar, melampaui pendahulunya Abbasiyah dan Umayyah.

Kekuasaan dan keagungan Ustmaniyah terjadi berkat perkembangan sistem pelatihan para pemuda dalam kemiliteran dan administrasi. Hal itu menghasilkan birokrasi dan militer kelas satu yang benar-benar bertumpu pada para ulamanya serta satuan pejabat dan tentara budak elit, Janissari. ….Gabungan pejabat yang berkualitas tinggi dan militer yang terlatih dan berdisiplin dan mampu memanfaatkan serbuk mesiu menjadikan Ustmaniyah dapat menaklukkan wilayah besar Arab dan Eropa.[5]

Janissari hanya Fokus pada Pengabdian sebagai Militer Sultan

Segala cara dilakukan oleh sultan untuk memastikan bahwa para anggota korps Janissari hanya mempunyai kepentingan atau tanggungjawab militer saja, tidak selainnya. Mereka tidak diperkenankan berdagang atau melakukan kegiatan lain.[6] Untuk itulah mereka dilarang untuk menikah dan membangun keluarga, kecuali yang sudah pensiun. Namun aturan tersebut nampaknya hilang pada awal abad 18 M. dan akibatnya melemahkan peran dan posisi Janissari.

[1] Collin Imber. Kerajaan Ottoman: Struktur Kekuasaan sebuah Kerajaan Islam terkuat dalam sejarah (Jakarta: Elex Media Komputindo. 2012) 16.

[2] Arnold Toynbee. Sejarah Umat Islam: Uraian Analitis, Kronologis, Naratif, dan Komparatif. (Jogjakarta: Pustaka Pelajar. 2007) 628.

[3] Collin Imber. Kerajaan Ottoman: Struktur Kekuasaan sebuah Kerajaan Islam terkuat dalam sejarah (Jakarta: Elex Media Komputindo. 2012) 183.

[4] Ibid, 187.

[5] John L. Esposito.  Ancaman Islam Mitos atau Realitas. (Bandung: Mizan.1994) 55.

[6] Bryan Turner. Sosiologi Islam: Suatu Telaah Analistis atas Tesa Sosiologi Weber. (Jakarta: Rajawali Press. 1984) 244.