Dengan Gerobak, Merek #$egoh.bungkus Mulai Dibangun

Kawakub Murdiono, dengan gerobaknya dan nasi #$egoh.bungkus-nya menunggu pelanggannya di gerbang barat perumahan gedungombo Tuban

Berwira-Usaha merupakan langkah awal untuk membangun kegiatan yang positif dan membangun diri menjadi pribadi yang berkembang. Usaha tidak bisa diawali dengan berdiam diri dan menggantukan hidup pada waktu dan “panggilan” orang untuk memberikan pekerjaan. Harus ada tindakan jelas dan nyata yang bisa dilakukan untuk memulai dan melakukannya.

Nasehat yang jamak diketahui untuk memulai sebuah usaha adalah “memulai dari yang paling mudah, mulai dari yang paling kecil, dan mulai dari diri sendiri.” Nasehat ini sangat ampuh untuk diterapkan dan bisa dilakukan oleh semua pemula dengan tanpa batas usia, tua atau muda, kecil atau dewasa, pria atau wanita dan tentunya sarjana atau siapa saja.

Bacaan Lainnya

Kami bersama Tim diruang inkubasi kewirausahaan “Titik Nol Peradaban”, setelah menimbang, mengingat, menganalisis dan mengkaji kondisi dan kebutuhan, akhirnya merek #$egoh.bungkus mulai dilaunching dan diperkenalkan kepada masyarakat. Merek ini menerapakna konsep “memulai dari yang paling mudah, mulai dari yang paling kecil, dan mulai dari diri sendiri”. Dan ternyata hal yang paling mudah adalah menjual nasi bungkus.

Nasi bungkus adalah makanan yang praktis, orang membeli tanpa meraciknya dan langsung bisa mengambilnya. Tinggal menyediakan beragama jenis menunya yang tertulis dibungkusnya, maka calon pembeli bisa langsung mengambilnya dan langsung menikmatinya. Keunggulan nasi bungkus terletak pada sisi kepraktisan dan kemudahannya untuk mengambil. Calon pembeli tinggal mengambil dan tidak perlu antri.

#$egoh.bungkus menyediakan empat menu, dan kadang-kadang juga tidak konsisten, kadang lima. Menu-menu itu adalah (1) lodeh ikan pindang layang, (2) lodeh telur dadar, (3) lodeh kopang, (4) lodeh ayam bali, dan (5) pecel ayam/telur.

Menu-menu ini adalah menu yang familiar di masyarakat. Calon pembeli sudah sangat terbiasa dengan menu-menu ini. Tidak ada yang istimewa dan tidak ada yang unik. Yang membedakan hanya di-branding dan rasa. Pelanggan akan datang dan mendekat dengan “kebutuhan” ingin sarapan atau sekedar penasaran dengan kedua hal itu.

Merek #$egoh.bungkus hanya menjual bentuk brand-nya saja, branding gerobaknya dan pilihan menunya. Bidikannya adalah masyarakat kota yang menginginkan kemudahan dan harga yang murah dengan rasa yang setara harganya. Harga Rp. 8.000,- yang dipatok oleh tim penjualan sudah tepat, dan itu dianggap layak dengan naiknya segala jenis kebutuhan pokok di pasaran.

Sebuah gerobak (1), bungkus nasi (2) dan moment sarapan pagi pukul 05.00 sampai pukul 08.00 (3) serta rasa masakan (4) adalah empat hal yang menjadi unsur perhatian dalam penjualan #$egoh.bungkus. Dengan memaksimalkan pada empat unsur ini penjualan berharap bisa menarik pelanggan dan pembeli yang melihat kondisi serta situasi yang telah diambil dalam penjualan #$egoh.bungkus.  

***

Kawakib Murdiono, sebagai seorang pemuda yang sudah menyelesaikan wajib belajar di pesantren dan siap menghadapi dunia perkuliahan bersedia menjadi pahlawan pertama dalam penjualan produk #$egoh.bungkus.

Dia bangun pagi, ikut jamaah shubuh di masjid, berdzikir amalia hariannya, dan menyiapkan dirinya dengan rapi-wangi untuk menemui para penjualnya. Produk sudah disiapkan pukul 03.30. tepat dia sudah bangun dari tidurnya.

Pukul 05.00, dia bersama dengan gerobaknya sudah berdiri dengan santai menunggu pembeli di gerbang barat perumahan Gedungombo (Kota) Tuban, lokasi tempatnya tinggal sekaligus tempatnya untuk mengembangkan diri menuju pemuda yang bergairah belajar.

Kunci dalam penjualan dan toko adalah konsistensi waktu dan tempat. Tempatnya yang sama dan waktunya harus istiqomah, dari pukul 05.00-09.00—tidak berubah tidak pula telat atau lebih. Jika hal ini bisa dijaga maka masyarakat (calon pembeli) akan mulai mengingat dan mulai akan memperhatikan produk yang dijual oleh #$egoh.bungkus.

Murdiono mengawali penjualan #$egoh.bungkus pada hari senin, selasa dan rabo (4,5,7 Desember 2023). Tiga hari pertama ini merupakan pengalaman yang berharga dan bisa membangun kebiasaan yang baik bagi dirinya. Selain konsisten dalam jamaah shubuh, Murdi juga bisa bangun pagi dan menikmati waktu panjangnya.

Kesuksesan tidak dibangun dalam semalam, keberhasilan membutuhkan perjuangan, dan kenikmatan tidak bisa dirasakan tanpa disertai dengan kerja keras. Yang dilakukan oleh Murdiono, dalam membangun merek #$egoh.bungkus adalah angkah awal yang konstruktif dan sangat positif bagi dirinya.

Apakah merek ini bisa besar dan berkembang? semuanya tergantung konsistensi dan kerja superkeras dari para pelakunya, baik yang menyediakan produknya maupun sosok Murdiono, yang menjadi penjual pertama produk nasi ini. Jika Murdiono berhasil maka tidak menutup kemungkinan usaha ini akan berkembang. Dan jika gagal, harus dipompa lagi dengan konsistensi dan kerja superkeras.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *