Dampak Buruk Era Industry 4.0; Yang Viral “Yang Maha Benar”, yang Pintar Jelas Terbuang

Dampak Buruk Era Industry 4.0; Yang Viral "Yang Maha Benar", yang Pintar Jelas Terbuang
Di era Industry 4.0 ini orang bodoh “sama hukumnya” (mulai dari kemampuan mencari informasi dan mendapatkan akses untuk dilihat) dihadapan gawai dengan seorang kiai atau profesor, orang petani di sawah dan warung kopi “sama hukumnya” dihadapan gadget dengan seorang peneliti di dalam laboratorium yang tekun terhadap pengetahuan, dan seorang ibu rumah tangga, pengangguran di warung kopi dan anak-anak kecil di pinggir jalan “sama hukumnya” dengan seorang ahli dan perencana dihadapan layar youtube, Instagram, tiktok dan facebook.

jagatkitasama.com – Kehadiran revolusi industri 4.0 telah menyebabkan dampak besar yang tidak terlihat dan pula terbaca oleh mata-pikiran masyarakat awam. Banyak orang (termasuk kalangan santri pesantren) mengabaikan kemunculan bahaya ini dan menganggap sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja, seolah tidak akan memberikan konsekwensi apapun bagi kehidupan di masa depan.

Padahal, jika dampak besar tersebut dibiarkan mempengaruhi pikiran dan imajinasi masyarakat muslim maka kehancuran muslim di masa depan secara gradual akan menggerogoti mental dan intelektualitasnya sehingga akan menurunkan daya berfikir dan daya kritis terhadap realita yang dihadapinya—tidak bisa membaca kebutuhannya, kalah bersaing dengan komunitas lain, dan terjerumus ke dalam ketertinggalan peradaban.   

Bacaan Lainnya

Sejak televisi menguasai pentas pikiran masyarakat, lalu kemudian diteruskan dengan perkembangan internet yang memasuki diseluruh sisi kehidupan manusia seolah-olah dunia sedang jungkir balik, membalik kebenaran menjadi kesalahan, mengubah keburukan menjadi keindahan, menciptakan kebobobrokan menjadi inovasi, mendukung apa yang lebih digemari dari pada mempertimbangkan kedalaman berfikir.

Internet telah memberikan kemudahan dalam membuka akses, memberi akses sekaligus menciptakan akses. Siapapun dengan mudah kini bisa menampilkan dirinya secara mandiri untuk bisa dikenal oleh masyarakat global.

Hanya dengan modal akun yang dibuat dengan nomor handphone dan email setiap orang bisa melakukan pertunjukkan atas dirinya kepada orang lain, menyuarakan pikirannya dan gagasan secara bebas, memberikan komentar atas sesuatu kejadian dan peristiwa, membuat konten-konten yang disesuaikan dengan dirinya, yang seluruhnya itu telah mendorong terbentuknya individu menjadi lebih akrab dengan dunia maya dibandingkan dunia nyata.

Setiap orang bisa mengakses internet, tidak memandang latar belakang pendidikan, tingkat pengetahuan yang dimilikinya, sejauhmana pengalaman telah membentuk dirinya.

Internet bisa dilakukan oleh siapa saja dan dimana saja, hanya membutuhkan akses yang terjangkau oleh tempat dan wilayah yang dihuni oleh manusia. Tidak heran jika orang bodoh “sama hukumnya” (mulai dari kemampuan mencari informasi dan mendapatkan akses untuk dilihat) dihadapan gawai dengan seorang kiai atau profesor, orang petani di sawah dan warung kopi “sama hukumnya” dihadapan gadget dengan seorang peneliti di dalam laboratorium yang tekun terhadap pengetahuan, dan seorang ibu rumah tangga, pengangguran di warung kopi dan anak-anak kecil di pinggir jalan “sama hukumnya” dengan seorang ahli dan perencana dihadapan layar youtube, Instagram, tiktok dan facebook—mereka semua bisa menampilkan diri sekaligus bisa menyaksikan suatu pertunjukkan yang ditampilkan.

Jumlah orang “bodoh” dengan orang yang “mengerti dan tahu” di dunia ini sungguh tidak berimbang. Satu orang yang “mengerti” di suatu tempat akan dikelilingi oleh lima puluh orang “bodoh” di sekitarnya, satu orang pelajar yang tekun akan dikelilingi oleh masyarakat awam yang lebih banyak dan lebih aktif beraksi dalam tindakan dan omongan, dan satu orang yang tekun dalam melakukan riset dan membaca buku akan dikelilingi oleh seratus lebih (dewasa ini) oleh orang yang tidak suka buku dan lebih suka mengumbar omongan dan gedabrus.

Oleh sebab itulah jumlah orang bodoh yang memanfaatkan internet dan menggunakan gadget jauh lebih banyak dan melimpah dibandingkan dengan orang pintar atau orang yang bijaksana.

Jumlah orang bodoh di warung kopi dan kantor desa yang menyediakan internet jauh lebih banyak jumlahnya dibandingkan orang pintar yang tekun menulis dan membaca file materi-materi yang berkualitas.

Dan tentunya, seorang yang berilmu akan sangat jarang hadir disuatu tempat yang banyak digemari oleh orang-orang bodoh dan orang yang “gedabrus”, dengan kata lain orang yang banyak tampil dan berada di ruang-ruang virtual media sosial adalah orang-orang bodoh dan sama sekali tidak menggunakan keilmuan dalam berfikirnya. (Moh. Syihabuddin)

Pos terkait