Oktober 25, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

CORONA, SIAPAKAH DIA? DIA BUKAN SIAPA-SIAPA

oleh : Imam Sarozi

 

“Diam adalah emas” merupakan pribahasa yang sudah sangat lazim kita ketahui. Hari ini kita berkhidmah bersama sedang memperaktekannya di tengah ancaman corona. Yang katanya belum lelah berpariwisata di bumi Indionesia. Mungkin Tanah ini terlalu indah untuk mereka tinggalkan.

Mungkin Mirip, tapi dalam suasana berbeda. Dulu diam di Indonesia memang dipaksa jika tidak maka akan menghilang (Seperti bayangan mantan eak eak, jangan baper ya. Ini nulis serius).  Diam berarti ketahanan pangan akan selalu terjaga membuat kepulan asap di dapur rumah yang berarti keselamatan jiwa dengan diam menguntungkan ekonomi. Cobak diingat kembali setelah lengsernya Soekarno.

Namun diam hari ini, seperti diamnya aku menyuakaimu tanpa berani mengutarakannya. Iya jelas suakit. Pakek banget. Yang artinya diam hari ini diam demi keselamatan hati dan jiwa tetap terjaga dari corona yang kata dokter bisa membunuh siapapun yang menyepelekan himbauan pemerintah. Ngeri tenan.

Tuban tak luput tentunya dari rangkaian agenda kunjungan Covid-19. Kota yang terkenal “Bumi Wali” bukan hanya menyimpan kekayaan Toak, batu kapur, semen, minyak, gas, padi leran, dan masih banyak lainnya. Tapi kota ini juga menyimpan “BLACK BOX RELIGIUS” berkaca dari serpihan pecahannya yang masih tertulis oleh sejarah, Jika Tuban Kota kental aroma realigius. Yang artinya ajaran Islam sudah mengakar, menjadi rerumputan ilalang tumbuh subuh di setiap laku para penduduknya.

Prof. Dr. H Masdar Helmy dalam tulisan yang dimuat Majalah Aula edisi Mei 2020 mengatakan: apa yang dipertontonkan oleh para penolak jenazah Covid-19 adalah wajah bopeng agama sebagaimana yang mereka pahami. Kenyataan semacam ini juga menunjukan kepada kita bahwa keberagamaan tidak menjamin spiritualitas.

Menyikapi berbagai realita yang sudah terjadi di berbagai daerah di Indonesia berbondong-bondong satu suara penolakan jenazah yang katanya baru ODP, atau PDP, dan positif.  Layaknya drama azab di Indosiar. Hingga ada satu rekaman video di salah satu daerah hingga melepari batu mobil petugas yang sedang menjalankan tugas mengubur jenazah. Dan di sinilah saya bertanya “Apa harus seperti itu responya? Bukankah ini masalah bersama? Duka bersama? Bayangkan itu salah satu kelaurgamu? Atau bahkan ayah ibu atau anakmu?” Sampai dipertanyaan ini saya berusaha menahan sesak sama ketika ia pergi tanpa mengucapkan selamat jalan.

Dalam surat keputusan Bupati Tuban Nomor: 188.45/92/KPTS/414.013/2020 Tentang gugus tugas percepatan penangganan Corona Virus Desease (Covid-19). Salah satu bentuk ikhtiar pemerintah daerah ikut andil dalam mematahkan “Rayuan Mbah Coroniah” di daerah Tuban.

Mendengar salah satu cerita dari teman yang kebetulan bertugas menjadi relawan dalam satuan tugas Covid-19 di Tuban.  Salah satu ketua kepala dinas yang tergabung dalam gugus tugas percepatan penangganan Corona Virus Desease (Covid-19) Kabupaten Tuabn harus bermediasi alot tur mbulet gawe seribu rayuan milik Arya Dwipangga untuk menghadapi beberapa “Penguasa Setempat” untuk pengkuburan salah satu jenazah yang masih dalam status belum jelas entah ODP, PDP, atau sudah benar-benar positif.

Spritualitas dengan berbagai macam keberagaman yang sudah menjadi bagian pakaian orang Tuban di uji dengan kondisi itu miris rasanya jika tergoyahkan sisi kemanusiaannya. Memang waspada itu utama. Tapi meninggalkan norma itu bukan sikap mulia. Sikap percaya kepada petugas itulah yang harus dijaga. Kayak aku percaya kamu kan menjadi pendampinku selamanya. Eeuahhh.

Mental spitualitas harus seperti jubah yang menghangatkan di setiap sisi yang mengigil oleh pandemik ini. Kita harus sepakat jika bersama, Corona bukanlah siapa-siapa. Saling menjaga, saling percaya, dan tetap patuhi aturan yang ada.

Dikutip dari Islami.co seperti yang dikatakan Yuval Noah Harari dalam prediksinya The World After Corona VirusHumanity needs to make a choice. Will we travel down the route of distunity, or will we adopt the path of global solidarity?” (manusia perlu membuat pilihan, akankah kita menempuh jalan perpecahan, atau akankah kita mengadopsi jalan solidaritas?).