Oktober 22, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

CORONA, DIPERSIMPANGAN “WABAH VIRUS” DAN “TRADISI” COPLONAN

oleh : Imam Aretatolah

 

Bagi teman-teman yang suka nonton konser dangdut dengan adanya virus Corona sangatlah di sesalkan. Sebab keberadaan virus ini menjadikan mereka tidak bisa menyalurkan hobi dan kesenangannya menonton secara live. Mereka juga tidak bisa bertemu dengan komunitas dari berbagai daerah guna sekedar silaturrahim di beberapa tempat untuk bercengkrama dan berjoget ria.

Mereka berpendapat ada yang tidak beres dengan munculnya virus ini. karena Corona ini muncul saat musik coplo lagi menjadi tren musik di tanah air yang mampu mengalahkan musik dari luar. Lihat saja ajang musik yang di selenggarakan oleh TV nasional yang bernuansa pop dan rock yang sepi penonton. Sedang TV yang menyiarkan tontonan musik dangdut/coplo sangat di minati dan di nanti-nanti.

Di yuotube pun demikian. Alunan musik coplo dangdut dan campursari yang khas indonesia telah menjadi idola dari berbagai kalangan. Mulai tukang becak sampai pegawai kantoran, dari pelajar sampai mahasiswa semua lagi Gandrung dengan musik asal negeri sendiri. Bahkan di banyak perpisahan dan wisuda lagu-lagu coplo dangdut menjadi lagu wajib yang di nyanyikan para peserta. Saking populernya lagu-lagu ini sampai di nyanyikan sporter sepak bola yang suaranya menggemah ke suluruh stadiun.

Sudah menjadi rahasia umum kalau para kolonialis ingin menjajah negara ini dari berbagai aspek. Mulai dari seni, budaya, ekonomi dan politik. Mereka tidak akan segan-segan “membunuh” kreatifitas anak negeri dan menjauhkan dari tradisinya. Sebab mereka tahu betul, dengan menghentikan ide kreatif berarti membodohkan dan kalau kita bodoh maka dengan sangat mudah anak-anak di negeri ini tercerabut dari akar budaya sendiri dan mengikuti tradisi mereka.

Teman-teman kita ini berpendapat, dulu ketika musik pop dan rock sedang menjadi primadona di negeri ini tidak ada satupun yang menghentikan mereka. TV, radio dan berbagai media sangat mendukung musik yang asalnya dari negeri luar ini. Bahkan para pemuda kita yang telah di pengaruhi oleh media dengan terang-terangan menuding musik coplo dangdut dan campursari sebagai musik kampungan, musik ndeso yang tidak layak di dengarkan. Para musisi ibukota pun ikut-ikutan latah dalam menyikapi musik asli Indonesia ini. Mereka berpendapat kalau musik coplo dangdut merupakan genre musik kelas bawah dan hanya layak dinikmati orang-orang kelas bawah sedang kalangan atas dan terpelajar jenis musiknya juga harus berkelas seperti musik jazz, pop dan rock.

Tahunpun berganti, dan musik dari luar tidak sanggup menghilangkan dahaga kepuasaan anak negeri dalam menyukai musik. Maka muncullah musik coplo dangdut alternatif yang memberi warna baru dalam blantika musik tanah air. Jenis musik ini di anggap lebih fres dan mampu mewakili perasaan orang kebanyakan. Apalagi ini di nyanyikan oleh para pemuda pemudi zaman now yang lebih modern.

“Pandemi coplonan telah menjadi wabah baru yang menjangkiti para pemuda dalam menyukai musik” kata teman-teman penyuka konser coplo dangdut ini. Mereka juga mengatakan bahwa virus koplonan telah membangkitkan gairah para pemuda untuk mencintai tradisi yang ada di negeri ini. Di samping itu, Coplonan juga menjadi alternatif baru dalam mengkreasikan pemikiran dan wahana baru untuk berkarya. Melalui coplo dangdut para pemuda akan akan beralih dari mencintai produk luar negeri menjadi cinta tradisi Nusantara yang berakar dari cipta, rasa dan karsa para leluhur. Inilah yang tidak di inginkan para kaum liberalis, sebab kalau ini di terus-teruskan bisa jadi para pemuda akan bangkit untuk menggerus habis budaya luar dan membangkitkan kecintaan yang mendalam kepada bangsa dan negaranya.

Untuk menanggulangi pandemi coplonan yang telah menjangkiti kaum muda Nusantara, maka para kolonialis menggunakan cara yang tidak fair. Yaitu menyebarkan virus Corona sebagai alternatif tandingan virus coplonan. Dimana dengan adanya virus tersebut seluruh orang tidak boleh berkumpul. Konser-konser coplo dangdut dan campur sari di hentikan dan orang-orang di suruh prihatin atau lebih tepatnya di paksa untuk prihatin atas menyebarnya virus Corona. Kenapa? Sudah pasti untuk menahan laju kecintaan orang-orang Indonesia terhadap tradisinya sendiri. Sebab bagi mereka cinta tanah air merupakan bencara yang tak terelakkan. Bencana yang pasti membuat mereka kalah dan tersingkir dari negeri kita tercinta ini.