Cinta Diujung Senja; Derita Cinta Insan Nelayan (Part 2)

Ketentraman hati dan kesunyian jiwa merupakan kondisi yang selalu menjadi harapan bagi setiap insan yang berpasangan, Cinta dan Kasih sayang adalah sebuah harapan yang bisa membentuk kebahagiaan setiap manusia, Tapi cinta sejati hanya milik Allah.
kitasama.or.id Semakin hari hubungan Maya dan Bara semakin akrab, Bahkan Maya pun sering sekali membantu Bara di warung ibunya.
“Ternyata Kamu orangnya asik juga ya.” Kata Maya memuji Bara sambil jalan-jalan ketepi laut sambil menunggu senja menyapa. Ya.. kini Maya sering memandang senja dari pada Fajar, seolah senja telah mengukir cerita diantara keduannya.
“Kamu juga.” Balas bara memuji Maya, Mereka pun saling melempar senyum.
“Makanya jangan suka ngelamun, emang kamu pikir g ada yang lebih menyenangkan daripada ngelamun?” Bara mencoba menggoda Maya.
“Iiihh.. apaan sih.” Merekapun bercanda hingga tak terasa senja mulai menghilang.
***
“Maya!” 
“Widya?”
Maya kaget karena tiba-tiba sahabatnya datang langsung nyelonong masuk kamar memang sudah biasa sih.
“Kamu kapan balik?”
“Udah dari kemarin.”
“Mumpung Kamu  ada di sini ikut Aku yuk.”
“Ke mana?”
“Ada deh!” Maya menarik tangan Widya keluar kamar.
Mereka kini telah berdiri di warung milik ibu Bara, Maya pun memperkenalkan mereka yang sebelumnya Widya kaget melihat Bara.
“Kamu akrab banget sama Bara, apa jangan-jangan Kamu sama Bara….?”
“Huss.. apa-apaan sih ?”
Maya mengisyaratkan Widya supaya tidak sembarangan ngomong, Maya segera mengambil tempat duduk lalu memesan minuman dan beberapa gorengan.
“Wid, seminggu lagi kan ulang tahun ku, Kamu mau bantuin Aku gak?” Tanya Maya saat mulai menyantap gorengan yang di pesannya.
“Bantu apaan?”
“Belanjalah, Aku mau cari gaun yang bagus di ulang tahun Aku yang ke dua puluh tahun ini.”
“Boleh kapan?”
“Gimana kalau besok, kalau sekarang tidak mungkin banget kan?”
“Oke!”
“Kayaknya kok serius banget, apa yang kalian bicarakan?” Tanya Bara yang tiba tiba datang dan langsung bergabung.
“Bukan apa apa kok.” Jawab Maya sebelum temennya itu keceplosan ngomong.
“Kalau boleh cerita sedikit, sejak kapan kalian menjadi akrab?” Tanya Widya penasaran,  Bara hanya tersenyum.
“Sejak Kamu pergi, dan Aku tak punya temen jadi dia yang selalu menghibur Aku.” Kata Maya menyindir sahabatnya.
“Iya deh maaf, tapi tidak terjadi sesuatu kan di antara kalian?” Tanya Widya mencoba menjebak perasaan yang terjadi di antara keduanya.
“Sesuatu apa maksudnya?” Tanya Bara pura pura tidak mengerti, karena memang telah terjadi sesuatu padanya diam diam dia menyimpan perasaan pada Maya.
“Sudahlah Bara tidak usah di urusi omongan satu orang ini, dia memang suka ngawur kalau ngomong.”
Widya hanya cengar cengir menanggapi perkataan sahabatnya.
“Sudah ah, Ayo pulang.”
Mereka beranjak dari tempatnya dan berpamitan pada Bara begitu juga Ibunya.
***
Maya terlihat panik sesekali mondar mandir di depan rumahnya seakan menunggu seseorang yang tak kunjung datang selang beberapa menit handphonenya berdering Ia tersenyum segera menganggatnya. 
“Wid, Kamu kemana sih koq enggak nyampai-nyampai kita kan udah janjian.”
Sorry May Aku enggak bisa, Aku ada urusan mendadak nih.”
“Emang kenapa sih?”
“Aku mesti ikut Papa keluar kota, Kamu tahu sendirikan Papa ku orang penting di kota ini.”
“Nah terus  gimana dong?”
“Kamu ajak Bara aja deh, dia pasti mau koq.”
“Gila Kamu, Aku enggak enak sama dia. Dia pasti lagi bantuin ibunya di warung.”
“Ya…Kamu coba aja deh, sorry May Aku mesti berangkat nih.”
“Wid….”
Tut…tut..tut.. sambungan terputus ada rasa kesal dalam diri Maya, mau enggak mau kini Maya udah ada di warung ibu Bara, melihat kedatangannya Bara pun mendekati Maya.
“Ada apa May?”
“Kamu…lagi sibuk ya..?”
Bara melihat sekeliling warungnya memang sepi hari ini.
“Enggak juga, emang ada apa sih?”
“Eemm..eemm.. kamu mau nemenin aku enggak.”
“Boleh, kemana?”
“Mall!”
“Dengan senang hati, Aku pamit ibu dulu ya.”
Maya mengangguk dan melempar senyum tipis ada rasa tidak enak aja sama Bara.
Maya mulai memilih-milih baju namun dari tadi belum ada yang cocok terkadang Ia juga minta pendapat Bara. Dan akhirnya setelah sekian jam muter-muter di mall Maya pun mendapat baju yang Ia suka.
Dua hari kemudian saat Bara sedang mengantar pesanan pada pengunjung warung Ia melihat Maya berdiri di sana tersenyum manis dengan membawa sepucuk surat, Bara membalas senyum itu dan menghampirinya. Maya memberikan surat itu, undangan, ya undangan ulang tahun.”
“Kamu mau datangkan ke acara ulang tahun Aku?” Tanya Maya penuh harap, Bara mengangguk pasti.
“Widya gimana?”
“Ia enggak bisa datang soalnya urusan papanya belum selesai di sana.”
“Ooo..”
“Makanya Aku berharap banget Kamu mau datang.”
“Pastinya.”

Pos terkait