Oktober 29, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

CADAR DAN PELACUR DI MASA PERSIA PRA-ISLAM

Oleh :

MOH. SYIHABUDDIN

Pemakaian cadar atau burqah yang menutup wajah para gadis-gadis muda atau perempuan minoritas Indonesia marak sebagai bentuk identitas baru Islam akhir zaman ini, khususnya di era pasca Reformasi. Maraknya pemakaian cadar ini membentuk sebuah identitas Muslim yang memisahkan antara “Islam sholeh” dengan “Islam non-Sholeh”. Alih-alih menjadi bagian dari Islam, cadar dan burqah merupakan tradisi yang jauh berkembang di masa pra Islam di Persia.

Dahulu sebelum lahirnya Islam di tanah Jazirah Arabia, di Persia di zaman kekuasaan kekaisaran Sasania yang menganut kepercayaan Majusi melarang keras para wanita-wanita tuna susila untuk menatapkan wajahnya pada api suci di kuil Mazdain (Stecypon), yang menyebabkan sebuah konsekwensi bagi para gadis ini untuk memakai cadar atau burqah.

Bagi masyarakat Majusi di Sasania yang menyembah api suci Ahura Mazda, seorang wanita nakal atau pelacur dilarang keras untuk bertatapan pada hal-hal yang suci yang bisa memberikan manfaat bagi umat manusia, terutama terhadap api suci-nya—yang konon dengan menatapnya saja bisa memberikan ampunan bagi penatapnya.

Pada api suci di kuil Majusi ini para penganut Nabi Zoroaster menjalankan ibadahnya serta memanjatkan doa kepada Dzat Yang Maha Terang. Di kuil-kuil itulah para pemeluk majusi melakukan sembahyang dan melakukan berbagai ritual “suci” untuk memungkinkan mereka kembali ke “nirwana” yang diimpikan.

Terhadap tempat-tempat yang dianggap sakral para pemeluk Majusi menjaga sebaik mungkin agar tempat-tempat ini tetap terjaga kesakralannya dan bisa menjadi suci dalam segala aspek, termasuk orang yang mengunjunginya—harus sosok yang suci dan berhati bersih. Suci dalam perbuatannya dan suci dalam perilaku-sikap-pikirannya. Tidak heran jika tempat-tempat suci majusi selalu dijaga dalam segala tindakan maupun perawatannya.

Sikap mensucikan tempat suci inilah yang kemudian diwujudkan dengan menjaga pandangan atau tatapan masyarakat yang dianggap berderajad rendah dalam kehidupan. Orang yang memiliki banyak dosa atau orang yang kotor secara ruhani (penuh kesalahan dan dosa) dilarang keras untuk menatapkan wajahnya kepada api suci di kuil ini. Mereka tidak diizinkan melihat api suci dengan wajah terbuka, sehingga mengharuskan para golongan tertentu untuk menutup wajahnya saat menatap api suci di kuil-kuil Majusi. Salah satu golongan yang dianggap kotor dan berderajad rendah adalah para gadis-gadis nakal, pelacur, atau wanita tunasusila, yang diharuskan memakai cadar atau burqah saat menatap api suci Majusi.

Tatapan wajah para pelacur sangat berbahaya, matanya mengundang syahwat, dan lirikannya menimbulkan gairah seksual para para lelaki hidung belang. Hal ini sungguh berbahaya bagi masyarakat kalangan awam atau pemeluk kepercayaan Majusi yang ingin mendekatkan diri kepada Tuhan-nya. Jangan-jangan dengan melihat wajah para pelacur ini masyarakat akan terdistorsi hatinya dan memalingkan pandangan hatinya dari Tuhan Ahura Mazda kepada para pelacur ini.

Oleh karena itulah kewajiban memakai cadar atau burqah diterapkan oleh pemerintah kekaisaran Sasania bagi para pelacur di Persia agar masyarakat awam secara umum, dan para pemeluk Majusi yang sholeh tidak terganggu oleh lirikan mata para pelacur dan gadis-gadis nakal ini.

Pun demikian, para pendeta Majusi sangat mengkhawatirkan bahaya mata dan wajah para pelacur ini saat menatap para pelajar sholeh di akademik Majusi atau kuil-kuil Majusi. Ditakutkan para pelajar akan terganggu konsentrasinya (dalam belajar dan beribadah) saat melihat mata para pelacur dan menatap wajahnya. Sehingga para pendeta Majusi sendiri juga mendorong pemerintah Kekaisaran agar menerapkan aturan terhadap para pelacur di kota-kota untuk memakai cadar atau burqah.

Berangkat dari hal itu maka keberadaan cadar atau burqah berasal dari tradisi para para pelacur di Persia yang dilarang untuk menunjukkan wajahnya pada Tuhan Ahura Mazda di Api Suci sekaligus agar wajahnya tidak bebas ditatap oleh orang-orang sholeh.

Disamping itu, dengan memakai cadar atau burqah maka seorang pelacur di persia dengan mudah bisa dikenali dengan penutup cadar di wajahnya. Sehingga para pria hidung belang tidak bisa sembarang untuk menggoda wanita. Hanya pada wanita bercadar sajalah para hidung belang bisa menggodanya dan menawari kencan.

Dengan demikian cadar dan burqah bukanlah bagian dari Islam. Cadar bukan bagian dari Agama. Ia sudah ada dan dipakai oleh para pelacur-pelacur Persia di zaman pra-Islam. Cadar merupakan sebuah penanda yang membedakan antara pelacur dengan wanita lain yang baik-baik di Persia. Wanita bercadar adalah para pelacur yang menggoda, sedangkan wanita yang tidak bercadar adalah wanita biasa atau yang lebih mulia dari pada yang bercadar.