Oktober 25, 2021

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

BERDZIKIR, KALAM, DAN PEMBANGUNAN PERADABAN MANUSIA

Waktu fajar, merupakan waktu ketika Rasulullah menerima wakyu

Mohammad Syihabuddin

ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ١  خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ ٢  ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ٣  ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ ٤ عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ ٥

1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan

2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah

3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah

4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam

5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya

***

Surat al-‘alaq merupakan surat yang pertama kali diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah. Surat ini merupakan sebuah pemberitahuan tentang ibadah pertama kali yang dilakukan oleh Rasulullah di dalam gua Hira’, yakni saat menerima wahyu ini.

Ibadah yang dilakukan oleh Rasulullah di dalam gua Hira’ merupakan ibadah yang dilakukan oleh nabi-nabi sebelumnya dan menjadi jalan terbaik bagi manusia untuk menyambung komunikasi dengan Allah melalui qalbu (hati)—ruhaninya. Ibadah tersebut dalam bentuk “berdzikir” menyebut nama “Allah..Allah..Allah” di dalam hatinya. Sehingga tidak salah jika kemudian ayat pertama merupakan penekanan untuk menyebut “Allah” melalui hati.

Melalui wahyu ini Allah juga ingin menegaskan kepada Rasulullah agar menjelaskan kepada manusia (para penyembah berhala di Mekkah) bahwa Allah-lah yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Manusia merupakan makhluk yang diciptakan oleh Allah, bukan diciptakan oleh makhluk lainnya, kekuatan lainnya (semisal jin, setan, dewa-dewa), atau bahkan tercipta dengan sendiri (faham naturalisme—yang mengatakan bahwa manusia tidak ada yang menciptakan tapi tercipta dengan sendirinya.

Disamping itu ayat ini juga menegaskan bahwa anjuran untuk berdzikir “Allah” dalam qalbu merupakan sebuah jalan untuk mendapatkan kemurahan dari Allah. Berdzikir secara ruhani bisa memberikan “kekuatan” bagi manusia untuk mendapatkan karunia, nikmat dan segala apa yang telah dibutuhkan oleh manusia di dunia ini, terutama nikmat iman, kesehatan, kecukupan, dan kesadaran berfikir.

Banyak orang yang kaya, tapi hatinya merasa kurang saja. Banyak orang yang otaknya waras, tapi tidak bisa berfikir bijaksana. Banyak orang yang sudah sempurna tubuhnya, tapi selalu saja mengkonsumsi makanan yang haram. Banyak orang yang diberi kecukupan bisa makan, minum dan memenuhi kebutuhannya, tapi selalu saja ingin sesuatu yang mewah dan dirinya tidak membutuhkan. Kondisi orang-orang tersebut merupakan orang yang tidak mendapatkan kemurahan dari Allah, dia merasakan kecemasan dan ketidakbahagiaan.

Oleh sebab itulah, melalui ibadah “berdzikir Allah” akan memberikan kemurahan kepada setiap manusia yang berupa hati yang tenang, pikiran yang cerdas, sikap yang bijaksana, tidak suka marah, dan kehidupan terasa tentram.

Dzikir dan Kalam

Dengan berdzikir pula Allah akan mengajari manusia tentang alam semesta dan rahasia-rahasia yang tersembunyi, yakni yang disebut dengan Kalam.

Kalam merupakan ucapan langsung dari Allah yang diberikan kepada manusia melalui ruhani dalam bentuk pemahaman dan kecerdasan atas segala apa yang belum diketahuinya. Melalui berdzikir manusia akan mendapatkan pemahaman langsung dari Allah, karena hanya melalui berdzikir inilah Allah akan datang dan singgah di dalam hati untuk memberikan pengajaran kepada manusia agar mengetahui hakekat Allah dan seluruh ciptaannya.

Kalam Allah tidak mengandung suara, tidak bersuara, sekaligus tidak berhuruf. Kalam Allah tidak lain merupakan sumber dari al-Qur’an itu sendiri yang bisa menghasilkan beragam wahyu yang menjelaskan seluruh rahasia alam semesta. Kalam Allah hanya bisa diterima oleh manusia melalui dzikir yang terus menerus dilakukan oleh manusia sepanjang hari, dan pekerjaan inilah yang dilakukan oleh Rasulullah sepanjang usianya menjelang 40 tahun ketika berada di dalam gua Hira’, yakni berdzikir sepanjang waktu sebagai mana yang diajarkan oleh nabi Ibrahim dan pewarisnya yang ada di Mekkah.

Dalam sejarahnya amaliyah berdzikir sambil meninggalkan hiruk pikuk dunia ini dan menuju ke tempat yang sepi (gua) disebut dengan agama Tauhid, karena metodenya yang tidak menghadirkan sosok patung atau berhala di depannya untuk disembah.

Dengan metode berdzikir inilah Allah akan memberikan kecerdasan dan pemahaman yang sebelumnya tidak diketahui oleh manusia. Allah akan memberikan kecerdasan kepada manusia tentang segala hal jika manusia itu sangat rajin dan gemar berdzikir. Semakin rajin manusia berdzikir (seperti Rasulullah di dalam gua Hira’) maka Allah akan semakin memberikan kecerdasan yang melimpah dan tak terhingga banyaknya.

Karena hal itulah maka tidak salah jika kemudian Rasulullah bisa menjadi sangat cerdas dan mengetahui beragam sejarah manusia di masa lalu, mulai dari sejarah bangsa Romawi, bangsa Yahudi, sejarah para raja yang dzalim semacam Namruj, para Fir’aun di Mesir dan bahkan sejarah para nabi, rasul dan orang sholeh sebelumnya, serta sejarah bangsa-bangsa yang pernah membangun peradaban yang tinggi di zamannya. Kecerdasan tersebut diberikan Allah langsung melalui hati Rasulullah yang terus berdzikir dan mengingat Allah.

Dzikir dan Peradaban Manusia

Dari berdzikir inilah Kalam Allah masuk ke dalam hati manusia dan menjadikan manusia orang yang selalu dalam lindungan Allah, baik terlindungi pikirannya sehingga menjadi sangat cerdas, terlindungi hatinya sehingga menjadi sangat tenang, terlindungi tubuhnya sehingga sangat sehat, terlindungi masyarakatnya sehingga desanya aman dan makmur, dan terlindungi negerinya sehingga terhindar dari peperangan dan bencana alam.

Kuncinya jelas, untuk melindungi suatu negeri agar aman dan tidak terjadi bencana alam dan bencana penyakit sudah selayaknya penduduknya rajin-rajin berdzikir dan mendekatkan diri kepada Allah. Hanya melalui berdzikir inilah manusia akan mendapatkan “penyelamatan” dari Allah dan terlindungi dari segala bencana alam maupun bencana wabah virus (penyakit).

Melalui Ibadah dzikir pula yang menyebabkan manusia untuk bisa membangun suatu peradabannya, yakni menciptakan sebuah negeri agar makmur, sejahtera, aman, dan menghasilkan beragam kenikmatan yang didatangkan oleh Allah melalui bumi (tumbuh-tumbuhan) dan melalui langit (air hujan). Dengan adanya masyarakat yang rajin berdzikir inilah maka kelak di tempat itu (yang ditempati) akan terbangun sebuah negeri yang makmur, yakni menjadi tempat yang senantiasa didatangi oleh rizki dan kekayaan.

Contoh kota yang terbentuk dari berdzikir adalah kota Mekkah, yang dulunya merupakan sebuah padang pasir yang panas dan kasar serta membahayakan. Kota Mekkah, dengan bekas-bekas dzikir yang dibaca oleh nabi Ibrahim alaihissalam dan keturunannya (Nabi Ismail alaihissalam) maka kota tersebut menjadi kota yang ramai dan pusat perdagangan di kawasan jazirah Arab. Dan kota-kota lainnya, yang kini menjadi pusat berdirinya peradaban Islam dan kemakmuran masyarakatnya.

Catatan Penunjang

 Ketika surat al-‘alaq ini diturunkan Allah belum memberikan perintah sholat lima waktu, sehingga apa yang dilakukan oleh Rasulullah bukanlah sholat sebagaimana sholat lima waktu sekarang ini, tapi sebuah dzikir yang terus menerus dikumandangkan dalam hati, membaca nama Allah di dalam hatinya.

Berdzikir menyebut “Allah” dalam hati ini merupakan ilmu warisan para nabi sebelumnya, sejak nabi Adam alaihissalam manusia pertama. Menyebut nama “Allah” ini juga merupakan sebuah tujuan utama manusia diciptakan oleh Allah, yakni beribadah—dengan senantiasa berdzikir sepanjang hari tiada henti.

Berdzikir menyebut “Allah” dalam hati ini tidaklah mudah, prosesnya sangat sulit dan berat, butuh perjuangan agar benar-benar Allah sendiri mendengar dzikir tersebut—bukan makhluk halus lainnya (jin atau iblis). Karena sulitnya berdzikir dengan hati ini tidak salah jika kemudian malaikat jibril memeluk sambil menerkam tubuh Rasulullah agar bisa menyebut “Allah” ketika mau menurunkan wahyu yang pertama dan mengangkat “Muhammad sebagai Rasulullah”.  

Oleh karena itulah tugas utama umat islam adalah membiasakan berdzikir setiap hari, baik dengan sendiri-sendiri atau secara berjama’ah di masjid.