Oktober 22, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

Ber”Agama” Sejak Dini : Upaya menangkal ideologi Terorisme pada Generasi Muda

3D illustration. Fingerprint integrated in a printed circuit, releasing binary codes.

Oleh : Moh. Syihabuddin, Direktur Kitasama Stiftung

Pengantar

Peristiwa 9/11 merupakan moment yang sangat tepat untuk menjustifikasi dunia bahwa sejatinya teror masyarakat dunia saat ini adalah kaum beragama. Terlepas dari konspirasi yang melatarbelakangi peristiwa tersebut, yang jelas muncul pro-kotra mengenahi kebenaran peristiwa tersebut sebagai peristiwa global dan ancaman masyarakat dunia.  Akan tetapi masyarakat sungguh telah sukses digiring pada pemahaman bahwa kaum teror adalah orang beragama yang fanatik dan sangat menghalalkan segala cara untuk menggapai tujuannya.

Dengan bantuan media, pemberitaan yang tidak seimbang, buku-buku pelajaran yang datang kemudian, dan film-film terbaru pemahaman masyarakat itu sungguh melakat dan menjadi semacam hal yang pasti. Apalagi di dukung dengan adanya peristiwa teror Bom di Indonesia yang notabene-nya sebagai Negara Muslim terbesar di dunia, mulai Bom Bali I dan II hingga Bom di Hotel J.W. Marriot semakin menyakinkan dunia bahwa teror berakar dari kaum beragama. Setelah melakukan penyelidikan yang intensif dan investigatif diketahui bahwa memang yang melakukan teror adalah kaum beragama “Islam” yang sangat “taat” melalui penampilannya yang Islami. Mereka berjubah, bersorban, sholat lima waktu, istrinya berburqah, dan akrab dengan bacaan-bacaan Islam. Sehingga sedikit menyakinkan bahwa memang teroris adalah Islam yang fanatik dan sangat taat beragama.

Benarkah demikian? Menurut hemat penulis hal itu tidak sepenuhnya benar dan bahkan salah.

Pemahaman yang perlu diluruskan adalah mengenahi beragama itu sendiri. Karena dengan adanya pemahaman yang salah mengenahi agama maka akan menggiring pada sikap yang salah pula dalam mempraktikkan agama (baca: Islam), atau menjadi manusia yang beragama (baca: Muslim).

“Ber-Agama” yang salah

Sejauh ini agama sering kali diartikan sebagai seperangkat “kepercayaan”. Pemahaman ini muncul dari defenisi yang dibangun oleh para ilmuwan (sosiologi dan antropologi khususnya) dari pengamatan dan penelitiannya yang dilakukan selama beberapa tahun. Padahal dalam kitab suci agama-agama dunia, tidak ada yang mengatakan bahwa agama adalah kepercayaan, apalagi dalam Islam tidak ada penegasan dari Qur’an akan pernyataan yang menyebutkan bahwa Islam adalah “kepercayaan”.

Memberikan pengertian agama sebagai “kepercayaan” memberikan dampak yang sangat berbahaya bagi manusia. Karena dengan menganggap agama sebagai “kepercayaan” maka siapa pun bisa membuat dan menciptakannya. Misalnya, seorang tokoh (ilmuwan, pemikir, intelektual, bahkan peneliti) yang bisa menuangkan pikirannya dalam sebuah tulisan lalu menjadi buku, oleh pengikutnya dia bisa saja menjadi “Nabi” dan karyanya menjadi “kitab suci”. Dan pada gilirannya pemikirannya menjadi “dogma”. Ketika menjadi dogma yang muncul kemudian adalah pembelaan secara membabi buta oleh pengikutnya terhadap dogma tersebut hingga melahirkan kekerasan antara satu dengan lainnya. Dari sini kita tidak heran jika kemudian para pengagum Stalin akan berperang dengan para pengagum Hitler, para pengagum Abdullah Azzam akan bertengkar dengan pengagum Khomaini, dan seterusnya. Ini belum menyangkut yang berbeda agama, antara Nasrani dengan Yahudi, Yahudi dengan Muslim, Hindu dengan Muslim, dan seterusnya. Hingga sebagaian pemikir menyebutnya gesekan antar golongan tersebut sebagai “benturan peradaban”. Padahal yang berbenturan hanyalah sebagian kecil kaum fanatik buta yang tidak toleran terhadap perbedaan.

Agama sebagai Cahaya

Pemaham yang salah mengenahi agama ini harus diluruskan hingga kelak tidak melahirkan kekerasan dan ide teror terhadap sesama.

Agama bukanlah kepercayaan, tapi sebuah Nur yang diciptakan oleh Tuhan dari sisi Tuhan sendiri lalu diberikan kepada para Nabi. Dari para Nabi inilah manusia kemudian mengenal Tuhan melalui Cahaya tersebut. Apa yang diterima oleh para Nabi sejak Adam hingga Nuh, Musa, Isa dan Muhammad memiliki kualitas yang sama, dengan kata lain masing-masing Nabi tidak membuat konsep sendiri untuk diberikan kepada umatnya. Para Nabi baru datang hanya bertugas meneruskan ajaran nabi sebelumnya, meluruskan ajaran nabi sebelumnya yang disesatkan oleh oknum, dan membenarkan ajaran yang pernah diajarkan oleh nabi sebelumnya. Bahkan saat ini pun Nur “kenabian” tetap ada dan tidak sirna, ia masih ada dan diwariskan kepada ahli warisnya yang merawat ajaran tersebut, yakni Guru Tarekat.

Orang dikatakan beragama adalah orang yang mendapatkan Nur tersebut di dalam qalbunya. Dimana dengan Nur tersebut ia senantiasa menyebut nama Tuhan (Dzikir), hidup dalam bimbingan Tuhan dan menjalankan aktivitas dalam petunjuk Tuhan. Ia menjadi orang yang merepresentasikan gerak Tuhan, memanifestasikan pemikiran Tuhan dan senantiasa berjalan dalam naungan Tuhan.

Kaum beragama anti-Kekerasan

Orang yang mendapatkan Nur dalam qalbunya akan mendapatkan cinta kasih Tuhan dan mendorong kehidupannya mencerminkan Rahmat-Nya Tuhan. Karena Rahmat Tuhan itu mendahului Murka-nya, maka orang yang memiliki Nur tersebut tentu saja akan menampilkan perilaku Tuhan yang penuh Rahmat. Ia pun tidak akan melampiaskan kekerasan dalam perilakunya, kekejaman dalam hatinya, dan kebusukan dalam sikapnya. Dari sini menjadi jelas bahwa orang yang beragam tentu tidak akan menggunakan cara-cara kekerasan dan teror pada masyarakat untuk mewujudkan tujuannya.

Orang beragama yang bergerak mencerminkan gerak Tuhan tidak akan tega menyakiti orang lain, karena sejatinya jika ia menyakiti orang lain maka hakekatnya yang menyakiti adalah Tuhan-nya. Orang beragama pun enggan marah, karena kemarahannya pun akan disertai dengan kemarahan Tuhan. Orang yang beragama pun tidak akan membeci, karena kebencian dari dirinya akan mencerminkan kebencian Tuhan. Jika mereka membenci atau marah kepada seseorang maka mereka pun sama halnya menunjukkan bahwa Tuhannya kejam, padahal Tuhan maha Kasih Sayang seluruh alam. Tentu saja sikap tersebut sangat kontradikstif dengan kenyakinannya.

Jika demikian maka dengan tegas penulis katakan bahwa seorang teroris, apapun jenisnya bukanlah kaum beragama yang memiliki agama (Nur yang turun dari Tuhan). Mereka telah menciptakan “agama”-nya sendiri dengan mengikuti “Nabi”-nya sendiri melalui buku-buku bacaan dan tulisan gurunya sebagai “kitab suci”. Apa yang dilakukan oleh kaum teroris dengan mengatas namakan agama bukanlah kaum yang mempunyai agama. Mereka telah menyembah egoisme-nya sendiri dan menkultuskan pemahamannya sendiri yang diikuti oleh dorongan hawa nafsu. Kendati mereka mengatasnamakan agama tertentu (baca: Islam), mereka bukanlah Islam yang sesungguhnya, hanya duplikat Islam palsu yang mereka ciptakan sendiri.

Langkah Bagi Generasi Muda

Anggaplah sebagian kecil generasi (Muslim) dewasa ini memiliki pemahaman yang salah tentang agama, akan tetapi generasi muda jangan sampai mengulangi hal yang sama. Untuk itu upaya memberikan pemahaman ber-Agama secara utuh sejak dini kepada generasi muda menjadi sangat penting, bahkan darurat.

Langkah konkretnya adalah mengajarkan kepada mereka cara beragama langsung dari sumbernya, yakni dari dengan cara “membaiat” mereka diusia aqil baligh (10-15 tahun) untuk masuk Tarekat dan ber-Guru kepada ahli silsilah Nur kenabian. Melalui cara inilah anak muda akan mendapatkan bimbingan secara ruhani yang bersifat terus menurus dan langgeng. Hatinya akan senantiasa tenang, tentram, dan sehat, karena Nur kenabian sudah masuk ke dalam hatinya. Sehingga dampaknya jelas, mereka tidak akan terpengaruh dengan pemahaman yang dangkal tentang teks agama, tidak mudah dipengaruhi oleh kesesatan berfikir seorang radikalis, dan tidak mudah dijerumuskan dalam provokasi gila oleh seorang jihadis.

Mendidik anak muda dalam hal agama tidak melalui buku-buku teks keagamaan yang ditulis oleh para ilmuwan, karena pusat perubahan dan pemahaman mereka tidak ada di pikiran dan pada indra matanya saja. Hati sebagai pusat kehidupan manusia harus disentuh dan diberi pengatahuan yang juga bersifat Ruhani, karena di dalam hati itulah pengetahuan akan bersemi. Walalhu’alam bishowaf.