Oktober 1, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

BENDA MISTERIUS (KISAH TIGA ANAK PEREMPUAN-PART 1)

oleh: Moh. Syihabuddin

 

Pada sore hari setelah sholat jamaah asyar, tiga anak perempuan yang masih duduk di kelas lima Madrasah Ibtidaiyah, Zilmaz, Ganiyah, dan Harlin sedang duduk santai di sebuah pantai yang tidak jauh dari rumahnya. Mereka bersenda gurau dan bercerita tentang kegembiraannya belajar di Madrasah.

“Zil, kamu paling suka pelajaran apa?” tanya Ganiyah pada Zilmaz.

“Aku suka sekali fiqih, karena pelajaran itu bisa memberikan wawasan tentang cara kita menjalankan agama Islam yang baik.” Jawab Zilmaz.

“Benar sekali, aku juga suka fiqih, karena dari pelajaran itu aku bisa mengetahui apa saja tentang cara menjalankan agama Islam.” Sahut Harlin.

“Apa yang kalian katakan semua benar.” Kata Ganiyah yang tangannya memegang es krim. “Tapi aku lebih suka pelajaran qur’an hadits, karena dari pelajaran itu aku bisa mengetahui pesan-pesan penting yang terkandung di dalam kitab suci umat Islam dan pesan-pesannya Rasulullah.”

“Ganiyah, jika kamu suka sekali dengan pelajaran qur’an-hadits, sekarang aku tanya pada kamu. Apakah kamu sudah menghafalkan surat al-‘Adiyat dan artinya?” tanya Zilmaz yang tangannya memegang rujak petis, sambil memakannya.

Ganiyah tersenyum dan menunjukkan wajah yang berseri-seri. “Tentu saja aku sudah menghafalkannya. Surat al-‘Adiyat dan artinya sudah kuhafalkan dengan mudah.”

“Hebat kamu ya,” kata Harlin. “Bagaimana caramu menghafalkan, kok cepat sekali dan menjadi mudah?”

Ganiyah menjelaskan. “Itu sih gampang. Karena aku sudah menggunakan cara cepat menghafalkan al-Qur’an yang diajarkan oleh pak Dinbud, yaitu surat al-‘adiyat dan artinya kita baca terus menerus, lima sampai dua puluh lima kali. Setelah itu kita tulis ulang surat al-‘adiyat dan artinya itu di buku tulis. Dan untuk selanjutnya, aku bisa hafal dong.”

“Wah, hebat kamu ya Ganiyah, bisa menerapkan cara menghafalkan al-Qur’an yang cepat sekali.” Kata Harlin.

“Jelas dong, itu kan berkat ilmu yang diajarkan oleh pak Dinbud.” Sahut Ganiyah.

“Kalau begitu aku akan mengikuti caramu menghafalkan surat al-‘adiyat dan artinya.” Kata Zilmaz. “Semoga saja aku bisa hafal seperti kamu.”

Pada saat ketiga anak perempuan itu sedang asyik menikmati ombak yang berhamburan di pantai desa, tiba-tiba ada sebuah benda bercahaya yang jatuh dari langit.

Benda itu mengeluarkan cahaya yang sangat terang berwarna hijau dan kuning, bergerak dengan sangat cepat dan langsung membentur bebatuan yang ada di sekitar boom (bangunan pemecah ombak) di pantai itu.

Ketiga anak perempuan itu melihatnya dan merasa takjub sekaligus takut.

Laa Haula Walaa Quwata Illa Billahil ‘aliyil adzhim. Tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah yang Maha luhur dan Maha Agung.” Mereka bertiga mengucapkan kalimat hauqolah, sebagai bentuk kepasrahan hatinya kepada Allah.

“Ganiyah, kamu melihat benda yang jatuh dari langit itu?” tanya Zilmaz.

“Iya, aku melihatnya.” Jawab Ganiyah.

“Aku juga. Benda itu mengeluarkan cahaya yang sangat terang.” Sahut Harlin.

“Bagaimana menurutmu, apakah kita akan melihatnya dan mendekatinya?” tanya Zilmaz.

“Aku tidak tahu. Tapi aku sedikit takut dengan benda itu. Siapa tahu mengandung racun atau bahan berbahaya lainnya.” Kata Ganiyah.

“Cih, kamu anak penakut.” Ledek Zilmaz. “Aku sih malah penasaran.”

“Kalau begitu bagaimana kalau kita mendekatinya saja dan melihatnya!” Harlin mengajak untuk mendekatinya.

“Baiklah, ayo kita dekati benda itu.” Zilmaz langsung berlari menuju ke tempat jatuhnya benda itu.

Ketiga anak perempuan itu melangkah dengan cepat, hatinya bergelantungan diantara penasaran dan takut. Tapi perasaan penasaran melebihi ketakutannya, sehingga mereka sangat ingin sekali melihat benda itu.

Lalu beberapa saat kemudian, mereka pun sampai digundukan batu yang terjal, tepat benda jatuh itu berada.

Ketiga anak itu pun melihat benda yang sangat aneh, berbentuk bulat, menyala mengeluarkan cahaya hijau-kuning, dan sekaligus mengkilap berkilau menyiratkan sinar yang terang. Ukurannya seukuran bola sepak dan lapisannya terlihat sangat keras.

“Ini benda yang sangat indah.” Kata Harlin.

“Benar, ini benda yang sangat mempesona.” Sahut Ganiyah.

“Menurut kalian, ini benda apa?” Tanya Zilmaz pada kedua temannya, sambil duduk mendekati benda itu.

“Aku tidak tahu. Tapi alangkah baiknya kita mendekatinya dan menyentuhnya.” Ajak Harlin. “Karena aku penasaran.”

“Hai, jangan. Siapa tahu ini berbahaya.” Ganiyah mencegahnya, hatinya masih terasa bimbang dan takut. “Lihatlah, benda itu mengeluarkan cahaya yang aneh, dan kita tidak tahu apakah itu bahaya atau tidak.”

“Maka dari itu, karena kita tidak tahu, alangkah baiknya kita mendekatinya dan melihatnya dari dekat. Lalu menyentuhnya bersama-sama.” Ajak Zilmaz.

“Baiklah. Ayo kita bersama-sama menyentuhnya.” Kata Harlin bersemangat, sambil tanganya menarik tangan Ganiyah. “Kamu harus ikut, Ganiyah.”

Setelah dipikir-pikir, dan berusaha menghilangkan keraguannya, akhirnya Ganiyah mau mengikuti ajakan temannya.

Mereka bertiga berjongkok bersama, sambil pelan-pelan melangkahkan kakinya mendekati benda itu.

Setelah berada di dekat benda itu, mereka bertiga saling memandang, memberikan isyarat untuk menyentuhnya bersama-sama.

“Kalian siap?” tanya Zilmaz.

“Iya, siap.” Harlin dan Ganiyah menganggukkan kepalanya.

“Mari kita sentuh bersama-sama.” Kata Zilmaz.

Bismillahirrahmanirrahim.” Mereka bertiga membaca basmallah, memohon petunjuk kepada Allah untuk melakukan sesuatu yang baik.

Kedua tangan jari-jari ketiga anak perempuan itu pun menyentuh benda bercahaya itu. Dan tanpa disadarinya, benda itu mengeluarkan suara dan geteran yang sangat keras.

Getaran itu mengakibatkan munculnya gelombang listrik dan elektromagnetik, yang menyebabkan ketiga anak perempuan itu tidak bisa melepaskan tangannya dari benda itu.

Untuk sesaat, ketiga anak perempuan itu merasa tidak berada ditempat asalnya. Mereka merasa sedang terjebak disuatu tempat yang sangat asing, tempat yang aneh, dan tempat yang sangat menakutkan.

Ganiyah sangat ketakutan, dia menangis dan dadanya berdetak dengan keras. Begitu juga dengan Harlin, dia menangis dan gemeteran, sehingga menyebabkan tubuhnya lemas.

Tapi tidak dengan Zilmaz, dia tetap tegar, tidak takut, hatinya sangat kuat dan menunjukkan raut wajah yang penuh keheranan.

“Kok, kita tidak berada di pantai, dimana kita sekarang ini?” tanya Ganiyah, sambil menangis dan ingin menyalahkan Zilmaz.

“Aku tidak tahu. Entahlah, dimana kita sekarang ini.” kata Zilmaz.

Di tengah mereka bertiga keheranan dan ketakutan, tiba-tiba muncul sosok yang sangat aneh, besar, jelek dan wujudnya menyerupai iblis.

Sosok manusia raksasa, kepalanya singa, telinga dan hidungnya mirip gajah, wajahnya wajah manusia, tubuhnya seperti ikan paus, ekornya penuh sisik seperti ekor buaya, dan kakinya empat seperti kaki kuda.

Melihat wujud yang sangat menakutkan dan aneh itu, tentu saja ketiga anak perempuan itu ingin berlari, berusaha meninggalkan tempatnya. Tapi apa daya, kakinya seolah berat untuk diangkat, sehingga mereka bertiga tetap berdiri di tempatnya dengan perasaan penuh ketakutan.

Dan taklama itu, makhluk misterius itu mendekati ketiga anak itu, sambil tertawa terbahak-bahak, memecah kendang telinga.

bersambung ke part 2