Oktober 25, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

BELAJAR DARI SOSOK SYAIKH NAWAWI AL-BANTANI (Edisi Rekomendai Diskusi Literasi ke-X pada Selasa, 17 Ramadlan 1440 H.)

 

Oleh :

MOH. SYIHABUDDIN

Direktur Kitasama Stiftung

 

Mengkaji syaikh Nawawi al-Bantani (baca: mbah Nawawi) dalam konteks kekinian memerlukan sebuah ide-ide yang konstruktif dan aplikatif dalam semua konteks sosial, politik dan budaya di era postmodern. Dimana harapan tertinggi adalah mampu meneladani semua kehidupan beliau dalam semua aspek, sehingga mampu memberikan penghidupan yang diharapkan oleh semua umat manusia (warga negara Indonesia).

Yang menonjol pada sosok mbah Nawawi adalah kecerdasannya dalam penguasaan keilmuan Islam, kegigihannya dalam mendidik generasi muda, dan kemampuannya sendiri yang sudah berada di atas rata-rata orang diusianya. Dari beliau lahir banyak karya yang menginspirasi perjuangan orang-orang Nusantara, para ulama pengasuh pondok pesantren, dan kitab-kitab yang bisa dipelajari oleh semua kalangan.

Dalam mengkaji biografi sosok mbah Nawawi paling tidak ada empat ide pokok yang perlu menjadi diskusi panjang dan bisa menjadi sumber perubahan bagi perbaikan masyarakat muslim Indonesia dewasa ini. Ide-ide inilah yang bisa ditindaklanjuti sebagai gagasan cemerlang bagi generasi milenial abad internet (21 M.) untuk berbenah dan menjadi manusia yang unggul dalam konteks masyarakat Muslim kontemporer.

Ide-ide tersebut antara lain :

  1. Sinergitas Perempuan dalam keluarga melalui intensifitas pendidikan

Lahirnya sosok yang hebat seperti mbah Nawawi tidak lepas dari sosok mbah Nyai Zubaidah yang melahirkannya. Dialah sosok ibu yang sangat berjuangan keras menghasilkan generasi berkualitas seperti mbah Nawawi.

Sepanjang hari, sejak mengandung hingga melahirkan sampai mbah Nawawi menjadi bocah, ibu Nyai Zubaidah senantiasa berdzikir dan berdoa agar kelak putranya menjadi anak yang barokah dan manfaat. Yang pada gilirannya sosok Nawawi kecil menjadi Syeckh Nawawi yang kecerdasannya menjadi sumber pengetahuan bagi muslim dunia di tanah Hijaz serta menghasilkan karya-karya yang legendaris.

Artinya, untuk menghasilkan sosok Nawawi-Nawawi baru di era (milenial) sekarang maka sosok perempuan seperti ibu Nyai Zubaidah harus diciptakan. Perempuan harus mendapatkan pembinaan khusus dan memperoleh pengetahuan yang memadai tentang pembentukan anak.

Caranya, sebuah lembaga pembinaan khusus perempuan harus didirikan dengan kurikulum yang jelas tentang pembangunan diri sebagai istri dan ibu yang ideal bagi masyarakat Muslim.

2. Menumbuhkan nilai-nilai Nasionalisme pada generasi (santri) muda

Selama di Hijaz mbah Nawawi telah mengajarkan para santri dari Jawah (Nusantara) tentang pentingnya cinta tanah air dan mengusir para penjajah Belanda dari bumi Nusantara. Melalui karya-karyanya beliau telah mendidik anak-anak Indonesia menjadi santri yang penuh inspirasi dan tidak “membebek” kepada pemerintah Hindia Belanda.

Dari beliau lahirnya para generasi muda yang pulang ke Nusantara dengan mendirikan pondok pesantren yang sama sekali tidak berafiliasi ke pemerintah kolonial. Dan lama kelamaan para santri inilah yang kemudian melahirkan jejaring para santri yang saling terkait hingga mereka telah siap menghadapi setiap tantangan bersama.

Pada konteks hari ini nilai-nilai nasionalisme tetap akan menjadi ajaran pokok bagi generasi muda dan wajib menjadi bacaan maupun pengajaran. Nasionalisme merupakan harga mati bagi warga Negara agar eksistensi bangsa ini bisa tetap terjaga.

3. Standarisasi da’i yang layak tampil berdakwah di media sosial maupun media virtual

Maraknya para pendakwah di media sosial dan di tengah-tengah masyarakat awam yang tidak berkualitas justru menambah dan menciptakan keresahan masyarakat. Mereka tidak memiliki kualifikasi yang mumpuni untuk menjadi ulama untuk berdakwah. Apalagi dewasa ini marak gerakan yang mengatasnamakan “Ulama” demi kepentingan kekuasaan tertentu.

Oleh karena itulah, sosok dai dan ulama harus mendapatkan kualifikasi yang jelas dan standart yang riil untuk bisa melaksanakan kegiatan dakwah. Paling tidak kemampuan seperti sosok mbah Nawawi (kurang dua langkah) saja itu sudah cukup. Minimal ada penguasaan materi-materi tertentu yang menjadi syarat bagi keberadaan seorang dai atau ulama seperti yang telah dikuasai oleh mbah Nawawi.

Ukurannya jelas, apa yang pernah dikuasai oleh mbah Nawawi selama menjadi guru di Hijaz maka itulah yang menjadi tolok ukur bagi sosok dai atau ulama di Indonesia. Jika mbah Nawawi hafal al-Qur’an, hafal 1.000 hadits, menguasai gramatika Arab, menguasai fiqih empat madzhab, dan menguasai ilmu tafsir maka kualifikasi itulah yang menjadi patokan untuk bisa mendapatkan izin berdakwah.

Memang berat melakukan hal ini, karena kompleksnya masalah keagamaan (baca: Muslim) di Indonesia. Namun akan lebih baik jika standart ini tetap dilaksanakan untuk menkounter lahirnya para “Dai gadungan” dan “Ulama oplosan” itu, serta para “Gelandangan gerakan Muslim” yang tidak jelas.

4. Tematisisasi karya sesuai konteks kehidupan umat dan rakyat

Karya-karya mbah Nawawi merupakan risalah-risalah ringan yang tipis dan mudah dibaca serta mudah pula dipahami oleh masyarakat awam. Di pesantren Indonesia karya-karya beliau menjadi kajian “tabarukan” di bulan Ramadlan (ngaji posonan). Pembahasannya pun disesuaikan dengan kebutuhan dan tema yang sedang dikaji. Selain itu beliau juga piawai dalam menjelaskan (men-syarah-i) kitab-kitab induk untuk mempermudah para santri belajar sendiri dan mengkaji bersama teman-temannya.

Pada konteks saat ini kemampuan seperti beliau sangat diperlukan dalam upaya untuk memberikan kemudahan bagi para generasi muda Muslim agar lebih memahami Islam gampang dan mempelajari tema-tema kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam.

Belajar dari mbah Nawawi maka dewasa ini sosok santri atau kiai harus mampu menyusun sebuah karya yang disesuaikan dengan tema-tema kebutuhan masyarakat dengan bahasa yang mudah dan gampang dibaca oleh semua kalangan. Hasil-hasil karya seperti inilah yang sangat dibutuhkan di Indonesia agar generasi Muslimnya tidak terjebak pada informasi “Islam Gelandangan” ala FPI atau HTI melalui media virtual (internet).