Oktober 22, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

BANTUAN SOSIAL, MEMISKINKAN MASYARAKAT DAN PEMBODOHAN  

oleh : Defrilla W Kumalasari

 

Bantuan sosial adalah upaya yang menjadi program presiden terpilih yaitu Jokowi untuk mengurangi angka kemiskinan, begitu katanya. Jaminan bantuan sosial yang ada diseluruh daerah bahkan untuk ranah desa merupakan cita-cita yang mulia untuk mengurangi penduduk miskin. Harapannya dengan bantuan sosial ini penduduk miskin akan memiliki jaminan kehidupan yang meningkat, bahkan jika mungkin terjadi akan sangat minim prosentase penduduk miskin di Indonesia.

Disebutkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan di bawah garis kemiskinan (dalam https://bps.go.id akses tanggal 3 Mei 2020) . Sangat matematis definisi ini. Pada September 2019 BPS mencatat garis kemiskinan mencapai Rp. 440.538/kapita/berbulan. (dalam https://m.bisnis.com/amp/read/20200115/9/1190395/garis-kemiskinan-pada-september-2019-capai-rp440.538lapitabulan akses tanggal 3 Mei 2020).

BPS memberikan penjabaran bahwa ada 14 kriteria miskin, yaitu:

  1. Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8m2
  2. Jenis lantai tempat tinggal terbuat dari tanah/bambu/kayu murahan.
  3. Jenis dinding tempat tinggal dari bamboo/rumbia/kayu berkualitas rendah/tembok tanpa plester
  4. Tidak memiliki fasilitas buang air besar/bersama-sama dengan rumah tangga lain
  5. Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik
  6. Sumber air minum berasal dari sumur/mata air tidak terlindungi/sungai/air hujan
  7. Bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/arang/minyak tanah
  8. Hanya mengkonsumsi daging dan susu/susu/ayam dalam satu kali seminggu
  9. Hanya membeli 1 stel pakaian baru dalam setahun
  10. Hanya sanggup makan sebanyak satu/dua kali dalam sehari
  11. Tidak sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas/poliklinik
  12. Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah petani dengan luas lahan 500m2, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan dana tau pekerjaan lainnya dengan pendapatan dibawah Rp 600.000,- perbulan
  13. Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga: tidak sekolah/ tidak tamat SD/ tamat SD
  14. Tidak memiliki tabungan/barang yang mudah dijual dengan minimal Rp 500.000,- seperti sepeda motor kredit/non kredit, emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya.

Jika 9 variabel/kriteria terpenuhi  maka suatu rumah tangga disebut penduduk miskin. (dalam https://arsipskpd.batam.go.id/batamkota/skpd.batamkota.go.id/sosial/prsyaratan-perizinan/14-kriteria-miskin-menurut-standar-bps/index.html tanggal 3 Mei 2020)

Melihat fenomena yang terjadi saat ini di dalam masyarakat, soal adanya bantuan sosial saya rasakan ini bukan upaya mengurangi kemiskinan. Dilihat dari variable yang dipaparkan oleh BPS secara umum, apakah ada pendudukan yang memenuhi minimal 9 variabel tersebut sehingga layak untuk mendapatkan bantuan sosial.

Kasus sepele di desa, saya rasa sangat minim keluarga yang memenuhi minimal 9 kriteria/variable penduduk miskin. Jika mau ditelusuri mungkin hanya sedikit saja wiayah yang masih memiliki penduduk dengan variable yang disebutkan oleh BPS tersebut. Tapi bantuan sosial sendiri sudah menjadi hak setiap wilayah untuk menerima dan menyalurkan.

Jika boleh saya sebutkan bantuan sosial ini justru sebuah upaya untuk memiskinkan banyak orang. Karena dengan adanya bantuan sendiri orang menjadi maerasa mau disebut sebagai keluarga miskin. Banyaknya jenis bantuan sosial membuat mereka merasa mau menyebutkan seperti itu.

Pernah dibeberapa kesempatan mendengar celoteh orang-orang tentang bantuan sosial. “kok dia dapat bantuan? Kan dia punya rumah bagus, tidak janda, semua anggota keluarganya sehat”, “kenapa saya ngerawat ibu saya tidak dapat bantuan, kan ibu saya sudah tua” “kok bisa dia dapat bantuan kan suaminya masih kerja” “saya lo miskin kenapa tidak pernah terima bantuan” “saya mau usul saya harus dapat bantuan, tetangga saya yang kaya saja dapat” “itu orang punya mobil mbak, kok dapat beras”. Tidak salah juga ya mereka mau disebut miskin.

Dari kasus ini saya rasa bantuan sosial itu bukan mengurangi angka kemiskinan, karena saya rasa penduduk miskin sendiri nyatanya sudah sangat minim jika variable/kriteria miskin memang dasarnya ada 14 itu. Sudah banyak penduduk yang mampu memenuhi kebutuhannya bahkan lebih banyak penduduk memenuhi gaya hidupnya sekarang. Jadi, masih haruskah ada bantuan sosial?