Oktober 25, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

BALADA PESANTREN IMPIAN (2)

Oleh :

Geubrina Firdaus Suharma

Cerpenis Muda Komunitas Kitasama

Saat aku mendapati ayah sedang berdiri melamun menatap jendela,aku langsung lari kearahnya dan memeluknya dari belakang sambil menangis dengan sekencang kencangnya karna masih tidak percaya pada kenyataan yang ada.

“Ayah, kenapa ayah tidak melarang ibu melakukan itu. Ayah udah janji untuk menuruti permintaan Aisyah semalam.” Ucapku sambil terisak isak dengan tangisan.

“Ayah bisa apa nak. Turuti saja ibumu. Ridho ibu itu ridhonya Allah juga.”

“Ayah jahat!” Aku tidak tahu harus apa lagi, hati ku merasa dihianati dengan kata-kata ayah semalam.”

“Aku pun memilih untuk lari keluar dari rumah dengan tujuan meluapkan semua kesedihanku.”

Aku tidak menyadari kalau ayah mengikuti lari ku dengan terengah-engah, karena aku berlari dengan sangat cepat. Dan pada saat ayah sedang mengejarku, tiba-tiba sebuah mobil berjalan dengan kecepatan penuh menabrak seseorang yang berada di belakangku.

“BRRRRRRRRAAAAAAAAKKKKKKKKKK”

Suara tabrakan yang cukup keras.

 

***

Membuat langkah kaki ku berhenti dengan tiba tiba. Perlahan aku membalikkan badanku,dan melihat wajah yang tergeletak dengan lumuran darah yang sangat banyak. Itu adalah wajah orang yang paling aku sayangi di dunia ini. Mataku melebar,kaki ku bergetar, tanganku menggenggam.

“AYAAHHHH” teriakku dengan kencang sambil berlari dengan kecepatan maksimal menghampiri tubuhnya yang berlimpah darah tepat di depan mobil itu

Tanganku mulai memegang wajahnya sambil menepuk pipinya pelan dan terus memanggilnya tanpa ada jawaban

Air mataku jatuh dengan derasnya. Hatiku merasa terpukul dan sangat tidak percaya. Gara-gara aku yang egois sehingga ayah menjadi seperti ini.

Kerumunan orang berdatangan dan salah satunya memanggil ambulans.

Aku menemani ayahku yang sedang berbaring di dalam mobil ambulans tidak berdaya. Aku terus menggenggam tangannya di sepanjang jalan sambil mulutku tidak berhenti untuk terus saja mengucapkan doa, yang kuminta pada Allah saat ini hanya nyawa ayahku, cukup itu saja. “Ya Allah, selamatkanlah nyawa ayah ku”.

Kali ini aku tidak akan berdoa lagi pada Allah agar masuk ke pesantren. Doa yang setiap hari aku minta pada Allah, kini akan aku sudahi saja.

Aku akan menuruti semua permintaan ayahku, apapun itu. “Tapi ku mohon, selamatkan nyawanya,” tangis ku.

 

***

Lampu indikator ruang operasi kupandangi terus menerus,

Tubuhku tergeletak di lantai tidak berdaya. Aku terus saja melukai diriku, memukul kepalaku dengan keras, memukul dadaku juga.

Ya aku tahu itu semua tidak akan mengubah keadaan, tapi hati rasanya sangat bersalah dan aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika ayah tidak terselamatkan.

Seseorang lari terengah-engah menuju kearahku, dan langsung duduk di lantai bersamaku sambil mengacak-acak wajahnya yang terlihat memerah karena dari tadi sudah menangis.

Aku melihat kearahnya dan langsung memeluknya dengan erat. Tidak membalas pelukanku, dia malah memukuli tubuhku dengan pelan dan tak berdaya.

“Kenapa? Kenapa kamu melakukan itu pada ayahmu sendiri Aisyahhh!”

Mendengar perkataanya itu malah semakin membuat diriku merasa bersalah.

“Maafkan Aisyah bu, maaf!” Ucapku dengan tangis yang dari tadi tidak ada habisnya.

“Kalau aja kamu nggak memaksa untuk masuk ke pesantren dan menuruti kemauan ibu, semuanya akan baik baik saja!”

Aku tahu, ini semua sepenuhnya salahku. Memang ini takdir Allah. Tapi tetap saja aku yang salah karna tidak bisa menjaga ayahku.

Melihat seorang dokter keluar dari ruang operasi membuatku langsung berdiri dan lari menemuinya.

“Gimana dok? Gimana keadaan ayah saya.” Tanyaku dengan panik.

“Kecelakaannya cukup parah. Saya sudah berusaha dengan maksimal. Tapi mungkin saja, tidak akan lama lagi ayah mu bisa bertahan. Sekarang mungkin dia ingin menemui keluarganya untuk mengucapkan kata kata terakhir.” Kata dokter.

Tanpa berfikir panjang,aku langsung lari kedalam ruangan ayah ku berada dan menemui ayahku yang sedang koma, diikuti ibuku dari belakang.

Suara mesin pendeteksi detak jantung berbunyi dalam ruangan yang sunyi dan terlihat ayahku yang sedang berbaring tidak berdaya disampingnya.

Matanya melihatku dan mulutnya yang tertutup oleh alat bantu pernafasan itu terlihat sedikit tersenyum.

Kakiku melangkah dengan pasrah dan berat,aku langsung duduk disampingnya sambil membelai wajahnya.

“Ini Aisyah ayah, putri ayah satu-satunya.” Ucapku sambil menggenggam tangannya.

Mulutnya tersenyum singkat lagi setelah mendengar perkataanku tadi.

“Maafin Aisyah ayah. Aisyah tidak tahu kalau keadaannya akan menjadi seperti ini.” Mataku mulai meneteskan air mata lagi yang membuat tangan ayahku menjadi sedikit basah.

Ayah menggelengkan kepalanya pelan.

“Ayah harus sembuh, Aisyah udah janji sama Allah tidak akan lagi minta masuk ke pondok pesantren. Aisyah akan masuk ke SMA favorit seperti keinginan ibu.”

Mulut ayah berusaha mengeluarkan sesuatu kata yang ingin di ucapakannya.

“Tidak nak. Ayah ingin lihat Aisyah masuk ke pondok pesantren saja.” Ucapnya dengan sangat pelan dan lirih. Namun aku bisa mendengarnya dengan jelas.

Mendengar perkataannya membuatku spontan menoleh kearah ibu yang sedang berdiri di sampingku. Ibu menganggukkan kepalanya dengan pasrah.

Aku tidak tahu apa maksudnya. kemudian mataku kembali ke ayahku yang sepertinya masih ada kata-kata yang masih ingin ia ucapkan

“Aisyah.” Ucapnya tak berdaya

“Iya ayah, ini aisyah.” Sahutku sambil kembali memegang tangannya dengan erat.

“Semua itu impian ayah dari dulu. Kamu harus janji pada ayah akan masuk pondok pesantren ya nak.” Kini matanya meneteskan setetes air mata.

“Iya yah, Aisyah janji. Aisyah akan masuk pondok pesantren seperti impian ayah.”

“Kamu, nggak boleh terus merasa bersalah dengan keadaan ayah. Ini semua sudah takdir Allah. janji ya nak!” Ucapnya semakin lirih dan  terbata-bata.

“Iya yah, Aisyah akan menuruti semua kata ayah. Tapi ayah juga harus janji pada Aisyah, kalau ayah akan sembuh.”

“Maaf, ayah tidak bisa nak. Allah sudah rindu pada ayah. Ayah harus segera menemuinya.” Mendengar perkataan itu membuatku semakin menangis dengan kencang.

“Boleh ayah minta satu permintaan nak, sebelum ayah pergi?”

“Ayah tidak boleh bilang gitu. Ayah harus lihat Aisyah sukses di jalan Allah dulu yahh.”

“Untuk pertama dan terakhir kalinya bacakan ayah surat al-kahfi sampai selesai nak.”

Aku bingung,apa yang harus aku lakukan saat ini dan akhirnya aku pun menuruti permintaan ayahku. Karena menurutku Itu hanyalah permintaan sepele, bahkan jika ayah menyuruhku membacakan seluruh ayat dalam al-Qur’an aku akan melakukannya.

Dengan segenap hati aku membacakan salah satu surat yang kebetulan sudah ku hafalkan selama ini.

Sejenak ku tahan tangisku dan mulai membacakan basmallah terlebih dahulu.

Kubaca ayat demi ayat penuh makna dan penghayatan dengan lantangnya ku perjelas makhorijul hurufnya. Hingga sampai pada ayat terakhir yang kubacakan dan aku akhiri dengan kalimat “shadaqallahul azhim.”

Bersamaan dengan lafadz itupun ayah mulai menutup pelan matanya dan nafasnya pun terhenti seketika.

“AYAHHHHHH.” Teriakku dengan kencang dan tangisan yang menggebu.

Ibu memegang pundakku dari belakang dan berusaha menenangkanku.

“Ayah sudah tenang saying. Berkat kamu bacakan surat yang ingin ia dengar terakhir kalinya. Ibu bangga sekali padamu. Ternyata kamu mampu menghafal surat yang panjang itu. Maafkan ibu, karena telah menyepelekanmu selama ini.”

Kenapa? Kenapa baru sekarang ibu menyesalinya. Andaikan dari dulu mungkin semua ini tidak akan terjadi. Dan ayah akan senang melihatku masuk pondok pesantren sesuai keinginannya.

***

Setelah selesai pemakaman ayah, ibu menceritakan semua yang terjadi pada ku.

Kenyataan bahwa pada saat itu ayah menentang untuk tetap memasukkan ku ke pondok pesantren. Namun ibu mengancam untuk berpisah dengan ayah jika ayah bersikeras menentang ibu. Ayah tidak bisa apa-apa pada saat itu dan hanya memilih diam

Mendengar hal itu membuatku semakin menyesal.

Andai saja pada saat itu aku tidak membentak dan menyalahkan ayah, dan andai juga pada saat itu aku mendengar penjelasaan ayah dan tidak pergi begitu saja, semua ini tidak akan terjadi.

Namun semua sudah terjadi. Bagaimanapun juga aku tidak bisa mengubah keadaan. Aku harus ikhlas, karena mungkin sekarang ayah sudah duduk tenang di samping Allah.

Dan aku harus melaksanakan amanah yang diberikan ayah padaku. Ibuku pun juga menyetujuinya, ibu bilang tidak akan apa-apa jika aku tinggal sendiri di rumah

Setelah tujuh hari wafat ayahku, aku tidak menundanya lagi dan langsung pergi ke pondok pesantren.

***

Saat kaki ku menginjak halaman pondok impianku, yang terlintas di kepalaku hanyalah wajah ayahku.

Sejenak aku menatap bangunan indah yang sekian lama aku impikan dan kini terwujud, meskipun aku harus merintangi banyak masalah, dan aku harus melepaskan salah satu orang yang sangat aku sayangi.

Namun aku harus membuatnya bangga disana. Aku harus memenuhi janjiku kepada ayah, aku ingin melihatnya nanti di surga mengenakan mahkota yang di berkahi oleh Allah.

Ayah, Aisyah akan bersungguh-sungguh mencari ilmu di jalan Allah agar ayah bangga pada putri tunggal ayah ini.

***

Pada saat itu pun aku menjalani hidup dengan sangat baik dan aku senang bisa masuk pondok pesantren, hingga pada saat hari kelulusan aku diberi gelar yang istimewa sebagai hafidzah qur’an terbaik di pondok pesantren.

Semua universitas tinggi menawarkan beasiswa gratis kepadaku. Saat mengetahuinya, ibu sangat bahagia sekali melebihi bahagianya saat aku di terima di SMA favorit dulu.

Bahkan pada saat di undang untuk menghadiri wisudaku, ia sempat sujud syukur dihadapan banyak orang saat itu.

“AYAH,aisyah sukses yah.”

Makasih, karena ayah sudah menyemangati Aisyah. Setiap Aisyah kesusahan menghadapi keadaan, ayah selalu datang untuk menyemangati Aisyah dalam mimpi malam Aisyah.

Tamat