Oktober 31, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

BALADA PESANTREN IMPIAN (1)

Oleh :

Geubrina Firdaus Suharma

Cerpenis Muda Komunitas Kitasama

Namaku Aisyah. Nama yang sangat cantik bukan? Ya,salah satu hal yang selalu aku syukuri dan banggakan adalah pemberian nama itu kepadaku

Ayahku yang memberikan nama tersebut,ia ingin putrinya tumbuh dan menjadi wanita seperti sosok Siti Aisyah, aku sangat menyayangi ayahku lebih dari siapapun.

Ini kisah hidup, tentang lika liku perjalananku sebelum menemukan jati diriku.

Tentang perjuanganku sebelum masuk ke dunia pesantren yang sudah lama aku impikan.

Banyak sekali halangan dan rintangan yang menghambatku untuk mencapai impianku dengan mengabdikan sisa hidupku selama di dunia ini kepada sang kiai

Sejak dulu, sudah ku bayangkan bagaimana asyiknya tidur sekamar dengan santriwati lainnya, makan bersama, antrian panjang saat mandi, dan suara lantang orang mengaji, juga memanggil guru dengan sebutan ustadz atau ustadzah.

Setiap kali memikirkan hal itu, selalu saja membuatku ingin menangis dan merasa hidupku tak berguna lagi jika nantinya aku tidak bisa masuk ke pesantren.

Sudah sejak saat masuk SMP aku memimpikannya. Tetapi ibu ku tidak pernah mengizinkan ku untuk meneruskan pendidikan ke pesantren. ibu hanya memikirkan prestasi ku saja tanpa memikirkan apa yang sebenarnya terbaik untuk ku. Waktu itu aku masih belum berani untuk membangkangnya dan terpaksa harus menurutinya

Seharusnya dia bangga karena putrinya mempunyai niatan mulia untuk masuk ke pondok pesantren. Itu ternyata itu tidak terjadi.

Ibu ku memang berbeda denganku. Dia kadang tidak memperdulikan tentang agama, akhlak dan pemahaman tentang Islam. Hanya fokus pada urusan dunia. “Sekolah itu ya bekerja, tidak belajar agama saja,” demikian tegasnya pada ku.

Itulah alasan mengapa dia tidak pernah membiarkanku untuk masuk ke pondok pesantren.

Tapi kali ini aku sudah berjanji pada diri ku sendiri. Bahwa setelah lulus aku harus masuk ke pondok pesantren. Aku sudah menyiapkannya selama tiga tahun ini. Sia-sia saja kalau aku akan tetap meneruskan hidup ku yang begini-gini saja, tanpa memperoleh keilmuan agama sama sekali.

 

14 Juni 2018 (Hari Setelah Kelulusan ku)

 

Malam itu,sudah ku siapkan mental penuh untuk membicarakan hal ini kepada kedua orangtua ku.

Ku lihat ayah dan ibu yang sedang duduk santai di sofa ruang keluarga sambil menonton televisi. Kurasa ini waktu yang tempat untuk berbicara terus terang kepada mereka.

Aku langsung duduk dicelah duduknya antara ayah dan ibu. Keduanya melihat ku

Kemudian aku beralih posisi duduk berlutut di bawahnya.

“Ayah, ibu, Aisyah ingin meneruskan belajar di pesantren.” Ucapku sambil bergetar ragu penuh ketakutan.

Seakan aku takut dalam menghadapai sebuah tekanan senjata tajam dikerongkongan ku. Kepala ku hampir meledak dan seluruh keringat ku mulai bercucuran. Namun hatiku terus saja memaksaku.

“lagi! lagi lagi kamu berbicara soal itu.” Raut wajah ibu yang semula cerah kini menjadi suram karena mendengar perkataanku tadi.

“Apa yang salah dengan pesantren bu?” Tanyaku dengan mata berbinar-binar.

“Banyak! panjang jika ibu harus menjelaskan satu-persatu.” Kini ibu semakin menaikkan nada bicaranya.

Aku pun tidak bisa memahaminya. Setiap kali aku membicarakan tentang hal ini sifat ibu berubah seperti bukan ibu yang ku kenal.

“Aisyah tidak mau neruskan sekolah, jikalau ibu tidak mengizinkan aisyah pergi ke pondok pesantren!. Itu keputusan ku.” Aku terpaksa sedikit membentaknya untuk membuat ibu berubah pikiran. Suara ku sedikit tinggi.

“Kamu mau pergi ke pondok pesantren di zaman seperti ini? Mau jadi apa nanti kamu?!” Balas ibu membentak ku.

“Justru pada zaman sekarang ini Aisyah harus membenahi iman Aisyah bu. Dunia ini sangat kejam. Sekarang ibu lihat saja diluar sana banyak wanita hamil di luar nikah. Apa mereka dari lulusan pondok pesantren? Jelas tidak!. yang suka korupsi dan menggelapkan uang negara, apa lulusan dari pondok pesantren? Juga tidak.”

“Kamu bisa bilang gini karena kamu belum bisa ngerasain susahnya cari kerja kayak apa. Nanti kalau kamu udah jadi pengangguran kamu baru kamu nyesel, dan tahu melaratnya!”

“Bu, Rezeki itu Allah yang mengatur, kita tinggal menerima aja. Kenapa sih ibu selalu memikirkan masalah urusan duniawi dari pada akhirat nantinya?”

“Karena ibu ingin lihat kamu sukses sebelum ibu pergi, nak.” Sahut ibu.

“Aisyah janji bu, setelah lulus dari pondok pesantren, Aisyah akan kuliah dan jadi orang sukses. Kali ini biarkan Aisyah menjelaskan pada ibu, apa alasan Aisyah ingin masuk pondok pesantren.”

“Sudahlah, ibu tidak mau mendengar omong kosong itu lagi.” Bentak ibu ku sambil berdiri dan enggan meninggalkan ku begitu saja tanpa mendengar penjelasan ku.

Namun langkahnya ibu terhenti setelah mendengar ayah yang mulai melontarkan pertanyaan kepada ku

“Nak, apa kamu ingin sekali masuk ke pesantren?” Tanya ayah kepada ku.

“Iya Yah, Aisyah ingin sekali belajar di pesanren!” Ucapku dengan lantang dan penuh harap.

Semoga ayah mengizinkanku, karena selama ini hanya ayah yang paham dengan keadaan ku.

“Apa yang membuat kamu ingin sekali masuk ke pesantren, kenapa tidak pergi ke sekolah tinggi seperti temanmu yang lainnya?”

“Ayah! Udah, cukup. Tidak perlu meladeni anak ini!” bentak ibu ku pada ayah.

Aku tahu, membicarakan hal ini akan membuat mereka bertengkar lagi. Tapi mau tidak mau aku harus membicarakannya demi keselamatan dunia dan masa depan akhiratku. Demi ayah dan ibu ku juga.

”Ayah juga punya hak untuk bertanya pada Aisyah. Kali ini biarkan ayah yang bicara padanya. Ibu sudah cukup banyak berbicara dengannya sekarang.” Tegas ayah pada ibu.

“Ayo nak, apa tujuan mu masuk ke pesantren?”

Dengan wajah yang kesal ibu ku langsung bergegas pergi dan meninggalkan aku bersama ayah. Karena aku tahu pasti jika ayah menyetujui nantinya ibu juga akan menurut.

“Yang pastinya Aisyah ingin mendekatkan diri kepada sang pencipta Allah ta’ala Yah. Yang kedua, setelah Aisyah masuk pondok pesantren, Aisyah akan ikut progam hafalan Qu’ran dan menjadi tahfidz Qur’an.

“Jadi, jika nanti ayah dan ibu sudah dipanggil oleh Allah, insya’allah akan bahagia diakhirat sana. Dan Allah juga akan memberi penghargaan berupa mahkota emas untuk orang tua yang memilik anak seorang penghafal al-Quran.” Ucapku dengan mata berbinar, rasanya ingin menangis.

“Lalu? teruskan nak?” tanya ayahku yang terlihat sedang menahan air matanya untuk jatuh.

“Jika Aisyah masuk pondok pesantren. Aisyah akan sepenuhya menjaga aurat. Sehingga nanti ayah dan ibu akan bebas dari siksaan, akibat seorang anak yang mengumbar auratnya.” Ucapku lagi yang kini sudah tak bisa menahan derasnya air mata.

Ayahku mengusap air matanya yang sedari tadi ingin jatuh namun di tahannya.

“Jadi semua ini murni karena Aisyah ingin melihat ayah dan ibu bahagia di syurga-nya Allah.”

Aku memeluk ayahku dengan erat, karena jujur saja baru kali ini aku mengungkapkan semua isi hatiku yang sudah lama aku pendam sendiri.

“Jika ayah mengizinkanmu, apakah kamu akan benar benar bersungguh sungguh? Ayah takut jika nantinya kamu tidak bisa beradaptasi dengan keadaan dan malah akan membuat kesehatanmu terganggu.”

“Aisyah janji yah, Aisyah sudah siap.”

“Ya sudah nak, wujudkan impian muliamu itu.” Ucap ayahku dengan senyum yang lebar dan jarang aku liat itu.

“Makasih ayah, Terimakasih.”

Kata-kata yang sudah lama sekali ingin aku dengar itu kini terucap dengan jelas dari mulut ayahku. Membuat diriku senang sekali rasanya. Hingga saat itu juga aku sujud syukur di hadapan ayahku.

Esoknya,aku mulai menyiapkan semua barang yang ku butuhkan nantinya. Semuanya ku beli dengan uang tabungan ku sendiri. Tanpa meminta kedua orang tua ku.

Saat aku sedang bersiap-siap, dengan senangnya ibu masuk ke kamar ku dengan melontarkan kata kata yang sangat menusuk hati ku.

“Aisyah, tidak ada yang mengizinkanmu masuk pesantren, buang semua barang barang itu. Karena ibu sudah mendaftarkanmu di SMA favorit. Dan kamu di terima karena nilai ujianmu yang tinggi.”

Tanpa menanyakan persetujuan dariku dengan seenaknya ibu memasukkan aku ke sekolah yang sama sekali tidak aku inginkan.

Tentu saja, aku terdiam terpaku. Kaki ku bergetar seolah ada suatu kekuatan yang menyerap dari tubuhku sehingga membuatku tidak berdaya.

“Ibu akan bangga padamu, Jika kamu mau menerimanya dan meneruskannya kamu akan menjadi orang sukses yang nantinya jelas akan mendapat pekerjaan dengan penghasilan uang yang banyak.” Ucap ibu ku dengan raut wajah yang sangat bahagia sambil memelukku.

Aku tidak membalas pelukannya dan memilih untuk melepeaskannya dan lari mencari ayahku.

(Bersambung…)