BACKSTREET; Petualangan Santri Kepo (Part 5)

Mendengar pujian Faiq untuk Nella banyak dari teman teman ceweknya bersorak menyindir Faiq, ada yang pura pura batuk, pura pura mual juga ada, hanya Arin yang terlihat tenang mengaduk aduk gelas minumanya. Adegan terpenting dalam cerita ini yang sangat meruntuhkan penasaran.

KITASAMA.OR.ID – “Arin, tolong jangan sampai teledor lagi, kamu harus lebih teliti lagi dalam mengerjakan soal, karena besok kalian sudah lomba.” Jelas bu Anggun pada Faiq dan Arin di ruang guru ketika mereka selesai mengumpulkan soal soal latihan.

“Iya bu.” Jawab Arin sambil menganggukkan kepala.

Bacaan Lainnya

“Faiq, tolong ingatkan Arin jika sampai dia tidak hati hati dalam mengerjakan soal.”

“Siap bu.” Jawab Faiq dengan meletakkan telapak tangannya ke pelipis seakan sedang posisi hormat.

“Apaan sih.” Kata Arin sambil melepas tangan Faiq, bu Anggun hanya tersenyum melihat tingkah mereka.

“Kalau bisa besok jam enam pagi kalian sudah ke sekolah, Kita berangkat pakai mobil bu Anggun.”

“Ya bu.” Jawab Faiq dan Arin bersamaan, setelah berpamitan merekapun keluar dari ruangan guru.

Di luar ruang guru Faiq pun menjahili Arin, dengan menarik seragamnya dari belakang atau mencubitnya dari samping kelakuan Faiq membuat Arin menjahili balik merekapun bercanda bersama sambil melangkah menuju kelas hingga tanpa mereka sadari seorang gadis berdiri di hadapan mereka dan menyaksikan tingkah mereka.

 “Ajeng!” Kata Arin terkejut,  Ajeng menatap keduanya Faiq tetap cuek sementara ada rasa takut dalam diri Arin.

“Rin, bisa temeni Aku ke ruang guru untuk mengambil tugas dari pak Hasan.”

“Boleh.”

Arin terpaksa kembali lagi ke ruang guru bersama Ajeng sementara Faiq melanjutkan langkahnya menuju kelas.

 Karena pak Hasan sedang berhalangan hadir, para siswa pun di beri tugas untuk di kerjakan di kelas, di sela sela mengerjakan tugas Ajeng mulai menanyakan sesuatu pada Arin yang sedari tadi di tahannya.

“Rin!”

“Ya?”

“Sebenarnya Kamu ada apa dengan Faiq?”

“Tidak ada apa apa, sama seperti yang lainnya.”

“Tapi Aku melihatnya beda.”

“Maksud Kamu?”

“Tadi waktu Aku lihat kalian bercanda, kalian nampak akrab sekali.”

“Ya wajarlah kalau kita akrab, sebulan ini kita sering belajar bareng.”

“Bukan berarti Kamu suka Faiq kan?”

Mendengar pertanyaan itu Arin pun terkejut, jauh jauh hari sudah ia pikirkan kalau hal ini bakalan terjadi.

Ia pun mencoba tersenyum dan menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya.

“Ya tidaklah, mana mungkin Aku suka sama Faiq.”

“Aku tahu seperti apa Faiq, dia paling anti sama cewek tapi kalau sama Kamu dia terlihat beda.”

“Ya.. mana Aku tahu.”

“Kalau sampai Kamu suka sama Faiq, kasihan nella tahu dia suka banget sama Faiq, jangan sampai kamu menyakiti perasaan Nella.”

“Iya, Aku ngerti setelah lomba Kita juga gak akan dekat dekat lagi.”

Diam diam perbincangan mereka di dengar oleh Faiq, karena memang sengaja Faiq menguping gara gara pertemuannya dengan Ajeng di depan ruang guru saat ia menggoda Arin, sudah pasti setelah itu Ajeng pasti akan berbicara yang tidak tidak sama Arin dan kenyataannya memang iya.

***

Di dalam mobil saat perjalanan menuju tempat di adakannya lomba tak henti hentinya Faiq menggoda Arin hingga tercipta suasana saling bercanda, bu Anggun ikut tertawa melihat tingkah mereka yang duduk di belakang.

“Kalian itu lucu ya..bergurau melulu.”

“Biar gak stres bu, kasihan yang di samping Aku ini stres melulu anaknya “

Merasa tersinggung dengan kata kata Faiq, Arin mencubit lengan Faiq.

“Apaan sih.”

“Emang iya kan?”

“Tidak.”

“Yang bener?”

“Faiq…”

Arin tak henti hentinya memukul tubuh Faiq dari segala arah yang tak terhalang oleh tangan Faiq yang mencoba menutubi tubuhnya saat di pukul atau di cubit oleh Arin.

Perjalanan pun semakin tak terasa hingga sudah sampai ke tempat tujuan. Saat turun dari mobik bu Anggun segera mengambil absen dan nomer peserta di tempat yang sudah di tentukan.

 Bu Anggun segera memasang pin nomor pada seragam Faiq dan Arin di bagian  dada sebelah kanan. Arin dan Faiq pun memasuki ruangan yang telah di tentukan.

 Setelah beberapa peraturan dan doa sebelum mengerjakan soal di bacakan panitia, para peserta pun mengerjakan soal, terlihat keseriusan para peserta dalam mengerjakan soal termasuk Arin dan Faiq.

Satu jam telah berlalu para peserta lomba masih sibuk dengan soal soal, ada yang mulai kepanasan terlihat sebagian mengipas ngipas wajahnya dengan kertas meski dalam ruangan sudah ada AC, ada yang menggaruk garuk kepalanya entah karena gatal atau memang kesulitan mengerjakan soal, ada yang berselisih dengan kelompoknya karena beda jawaban, ada juga yang masih tenang seakan menganggap mudah semua soal.

Faiq dan Arin terlihat serius mengerjakan, untuk kali ini tak ada kejahilan atau pun gurauan di antara mereka.

Di ruang tunggu bu Anggun terlihat sangat tegang, seakan mengawatirkan murid muridnya, sesekali beliau memanjatkan doa supaya mereka di mudahkan dalam mengerjakan soal.

Dua jam berlalu, waktu mengerjakan soal selesai, para peserta lomba keluar dari ruangan.

“Faiq!” Panggil Arin saat sudah berada di luar ruangan dan tenga menunggu bu Anggun datang.

“Ya.”

“Ini adalah terakhir kita bersama.”

“Maksud Kamu?”

“Mulai besok di sekolah kita tak bisa dekat lagi, belajar bareng lagi tapi jangan khawatir di luar sekolah kita masih bisa kok, Kamu ngerti maksud Aku kan?”

Faiq memegang pipi Arin lembut.

“Ya, Aku ngerti dan Aku akan tetap menunggu.”

“Menunggu apa?”

“Menunggu sampai Kamu mengakui kalau Kamu suka sama Aku.”

Arin melepas tangan Faiq dari pipinya.

“Aku sudah pernah mengatakannya, Aku tidak suka sama Kamu.”

Faiq masih tidak percaya, belum juga Ia mengatakan sesuatu, bu Anggun sudah datang menemyi mereka dan mengajaknya pulang.

***

 Faiq terlihat berlari lari sepertinya ia terlambat masuk sekolah, mungkin karena semalam begadang nonton pertandingan bola di televisi membuat matanya terlihat jelas seperti panda.

Sesekali Ia terlihat tersandung sesuatu karena gugup meski tak membuatnya terjatuh Ia tetap berlarian hingga saat hendak memasuki kelas Faiq menabrak seorang gadis yang membuatnya hampir terjatuh, namun sebelum gadis itu benar benar terjatuh dengan cepat Faiq menarik tangan gadis tersebut hingga membuat mereka saling berpelukan, untuk beberapa detik mata mereka saling pandang satu sama lain sebelum  Faiq akhirnya menyadari ada gadis yang diam diam berdiri di belakang sana menyaksikan adegan yang baru saja terjadi padanya.

“Kamu tidak apa apa Nel?”

“Tidak.”

 Faiq membantu Nella gadis yang di tabraknya tadi untuk berdiri tegak.

“Maaf, Aku tidak sengaja.”

“Tak apa.”

Nella sedikit salah tingkah, kejadian itu membuat detak jantungnya berdetak kencang entah apa yang tengah Ia rasakan.

Saat jam istirahat, Faiq terus memandangi Nella dengan senyumnya yang tidak jelas, hal itu membuat Nella semakin salah tingkah.

“Faiq kenapa sih?” Tanya Nella pada teman teman ceweknya.

“Emang kenapa dengan dia?” Kata Shinta tanya balik, semua cewek cewek yang duduk di situ pun menatap Faiq.

“Dari tadi Dia ngelihatin Aku terus.”

“Jangan jangan dia mulai suka sama Kamu.” Kata Ajeng mencoba menebak, Arin hanya diam Ia lebih suka menikmati hidangan di depannya dari pada mengurusi topik yang di bicarakan.

“Ah, masa sih?.” Kata Nella tersipu malu.

“Boleh Kita gabung di sini?” Tanya Faiq tiba tiba muncul bersama teman teman cowoknya.

“Duduklah.” Kata Ajeng mempersilakan.

Faiq dengan sengaja menggeser tubuh Ajeng dengan tubuhnya karena memang Ia ingin duduk berhadapan dengan Nella, sementara temannya yang lain memilih duduk di tempat yang masih kosong, Faiq menyangga pipinya dengan bertumpuh pada telapak tangannya sambil senyum senyum menatap Nella, rona pada pipi Nella nampak begitu jelas karena malu.

 Ajeng yang duduk di samping Faiq melirik ke arah teman temannya penuh tanya dengan tingkah Faiq yang tak biasanya, atau baru pertama kalinya Faiq mendekati cewek.

“Beberapa hari tak masuk sekolah, rasanya ada yang beda dengan dirimu Nel.” Kata Faiq, beberapa hari ini Nella tak masuk sekolah karena ada urusan keluarga.

“Ah, biasa aja.”

“Emang apanya yang beda dari Nella?” Tanya Shinta yang memang paling akrab dengan Nella.

“Kamu terlihat lebih cantik dari biasanya.” Puji Faiq, Nella tersipu malu, pipinya semakin kelihatan memerah.

Mendengar pujian Faiq untuk Nella banyak dari teman teman ceweknya bersorak menyindir Faiq, ada yang pura pura batuk, pura pura mual juga ada, hanya Arin yang terlihat tenang mengaduk aduk gelas minumanya.

“Uhuk…uhuk…uhuk…”

“Uuuweekkk…”

Mendengar sindiran tersebut Faiq tak menghiraukan, Ia tetap mengumbar pujian pada gadis di depannya.

“Apa selama ini mata ku yang rabun, tak pernah melihat kalau ada makhluk secantik Kamu di kelas.”

“Cie… Baru sadar Kalau Nella cantik.” Sindir Ajeng.

Nella semakin di buat tak berdaya dengan pujian pujian dari Faiq. Arin mulai terlihat tak tenang, sesekali tangannya mengusap keningnya lalu memijatnya, mungkin kepalanya agak pusing, perlahan tangannya mulai merabah ke arah leher bagian belakang, dan memijatnya sendiri seiring dengan kata kata Faiw yang terus terusan memuji Nella.

 Sore harinya seperti biasa untuk menghabiskan waktu luangnya Faiq berjalan menuju jembatan, tempat favorit dia saat  santai. Sebelum sampai di tempat Faiq melihat Arin sudah berada di sana, mungkin ada sesuatu yang ingin di bicarakannya, tapi Faiq sengaja menghindar Ia membalikkan badan dan menuju ke arah lain.

 Semakin hari Faiq terlihat semakin akrab dengan Nella, bahkan mereka sering terlihat berdua, jalan berdua, bahkan duduk berdampingan di kelas, Ia menggeser tempat duduk Shinta dan menyuruhnya untuk duduk dengan yang lain, sementara Ia biarkan Asrori teman sebangkunya duduk sendiri.

 Setiap sore Arin selalu menunggu Faiq di jembatan, namun lagi lagi Ia tak datang, Arin mulai terlihat kecewa dadanya sesak dan ada rasa sakit di bagian hatinya. (Arinal Haqiqoh)

Pos terkait