BACKSTREET; Petualangan Santri Kepo (Part 3)

Semua kesuksesan membutuhkan perjuangan dan kerja keras, kesuksesan tidak diperoleh dengan gratis dan mudah, harus ada kehadiran sesuatu yang perlu dijadikan pertukaran energi positif. Remaja dan pemuda sudah seharusnya belajar dan berkerja dengan keras dan membangun dirinya dengan penuh kekuatan agar tidak diremehkan dan dilecehkan oleh takdirnya sendiri

kitasama.or.id – Faiq melihat Ajeng duduk di bangkunya saat mau memasuki ruang kelas, Ia mulai memikirkan perkataan Arin semalam ya.. sudah seharusnya Ia mengakhiri permusuhan dengan Ajeng walau terkadang Ia masih suka jahil. Faiq melangkah mendekati Ajeng Ia berhenti tepat di depan Ajeng dan Arin.

Faiq mengulurkan tangannya, Ajeng menatap mata Faiq terasa aneh saja baginya.

Bacaan Lainnya

“Apaan ini?”

“Aku minta maaf.”

“Soal apa?”

“Soal kemaren.”

“Jadi Kamu sadar kalau Kamu salah?”

Faiq melirik ke arah Arin dan gadis itu hanya memejamkan mata dan menganggukan kepala pelan sebuah tanda isyarat supaya masalah tak bertambah larut.

“Ya.. seperti itulah, Aku harap tidak ada lagi permusuhan diantara Kita dengan syarat..”

Faiq menghentikan perkataannya, Ajeng berdiri dari tempatnya muka Arin mulai terlihat cemas jangan jangan masalah baru akan timbul lagi.

“Syarat? Syarat apa maksud Kamu?”

“Syaratnya simple kok, Kamu gak usah lagi ngurusi urusan ku dan Aku tidak akan mengurusi urusanmu.”

“Ok!” Kata Ajeng sambil menjabat tangan Faiq, ada rasa lega pada diri Arin hal itu terlihat ketika Ia mengelus dadanya.

Terlihat bu Anggun memasuki ruang kelas, Faiq segera menuju bangkunya.

“Anak anak, bu Anggun ada pengumuman penting bahwa bulan depan sekolah Kita akan mengikuti lomba kompetisi sain di kabupaten, dan tiap sekolah harus mengirim dua peserta untuk diikutkan lomba, dan bu Anggun sudah memilih dua anak di kelas ini untuk mengikuti lomba tersebut yaitu Arin dan Faiq.”

Semua bersorak dan bertepuk tangan, Arin menoleh ke belakang kepala dan matanya mulai berbicara bahasa isyarat yang di tujukan untuk Faiq dan Faiq hanya mengangkat bahunya.

“Untuk Faiq dan Arin istirahat nanti kalian ke ruang guru untuk mengambil beberapa tugas latihan yang harus kalian kerjakan bersama untuk persiapan lomba nanti.”

Mereka hanya menganggukkan kepala, semua memberi selamat pada Arin dan Faiq.

 Saat jam istirahat tiba Faiq dan Arin mengikuti bu Anggun menuju ruang guru.

“Ini kalian pelajari dan kerjakan bersama sama ya..” Kata bu Anggun sambil memberikan beberapa buku latihan pada Arin.

“Alangkah lebih baik jika sendiri sendiri bu, sebagian Arin dan sebagian Saya.” Kata Faiq berpendapat, karena dia tahu betul bagaimana sikap Arin saat di sekolah dan di luar sekolah beda jauh, kalau di luar sekolah terlihat akur tapi kalau di lingkungan sekolah jangankan akur bertegur sapa aja tidak.

“Tidak bisa Faiq, karena lombanya berkelompok jadi kalian harus belajar bersama dan mengerjakan latihan ini bersama sama, jadi bu Anggun minta kalian harus kompak.”

Faiq dan Arin saling pandang mendengar penjelasan bu Anggun, Faiq mengangkat alisnya tiga kali, Arin justru mengerutkan dahinya. Faiq mendoyongkan kepalanya sedikit tepat di telinga Arin.

“Dalam sebulan ini, waktumu akan habis beesamaku Arin.” Bisik Faiq, Arin memukul pelan kepala Faiq dengan buku tugas pemberian bu Anggun.

“Bu Anggun..”

“Ya, apalagi Faiq?”

“Tugas latihannya di pelajari di rumah atau di sekolah?”

“Terserah kalian saja, tapi kalau di sekolah ada waktu kalian kerjakan di sekolah juga lebih baik.”

“Baik bu, kalau begitu Kami pamit..”

“Ya, baiklah.”

Merekapun kembali ke kelas.

“Apa kita bisa mulai belajar bersamanya?” Tanya Faiq saat sampai di ruang kelas.

“Tidak untuk saat ini Iq.”

“Lalu?”

“Nanti sore Aku tunggu di rumah, Aku harus meyusul Ajeng dan yang lainnya di kantin.”

Hah!! Ajeng lagi Ajeng lagi.

***

“Aahh… Kepalaku rasanya mau pecah.” Gerutu Faiq saat mengerjakan soal latihan bersama Arin di rumah.

“Kita lanjut besok lagi di sekolah, lagian sudah hampir maghrib, Aku pulang dulu.” Kata Arin menyadari kalau waktu sudah hampir larut, tak terasa belajar bersama Faiq membuat waktu begitu cepat berjalan.

“Tunggu, Gimana kalau Kita cari makan dulu.”

“Mau makan apa jam segini?”

“Bakso! Sudah lama kita tak kesana.”

“Boleh!” Kata Arin tersenyum setuju dengan ajakan Faiq.

Mereka pun segera beranjak setelah membereskan buku bukunya, menuju warung bakso langganannya. Saat sampai di warung Faiq segera memesan dua mangkok bakso beserta minumannya. Merekapun segera mencari tempat duduk yang pas. Lima menit kemudian bakso dan minuman yang di pesan pun tersajikan.

“Masih gak suka pedas Kamu Iq, dari dulu Kamu gak berubah masa cowok gak suka pedas.” Kata Arin saat melihat Faiq makan baksonya tanpa sambal.

“Memang kenapa?”

“Katanya tadi kepalanya mau pecah, nih kasih sambal biar fresh.”

“Tidak.. tidak.. tidak, nanti malah pecah kepalaku.” Kata Faiq sambil menyingkirkan tangan Arin yang mau menuangkan sambal di mangkoknya.

 Faiq melihat  bakso Arin yang  justru terlihat berbeda dengan baksonya, jika baksonya tanpa sambal bakso Arin justru sebaliknya banyak sambal.

“Rin, boleh Aku tanya sesuatu?”

“Apa?”

“Kenapa cewek itu cerewet?”

“Kenapa emang?”

“Karena makannya sambal, makanya mulutnya pedas kayak cabai.” Kata Faiq sambil tertawa, merasa tersinggung Arin pun tak mau kalah.

“Tapi Aku tidak cerewet.”

“Bagiku Kamu cerewet, kalau Kita lagi berdua.”

“Tapi di sekolah tidak.”

“Ya.. mungkin karena waktu di sekolah Kamu kurang makan sambal jadi gak bisa cerewet ha..ha..”

“Ha..ha… Bisa aja Kamu.”

“Emang iya kan?”

“Tidak!”

“Iya.”

“Tidak!”

“Iya!”

“Faiq….” (Arinal Haqiqoh)

Pos terkait