BACKSTREET; Petualangan Santri Kepo (Part 2)

Tiga remaja yang sedang menjalani kehidupan penuh tantangan, siap belajar banyak hal dan banyak ilmu untuk mengukir hidupnya dan masa depan yang lebih baik

kitasama.or.id – Setelah meletakkan tas di bangkunya Faiq segera menemui teman temannya yang masih berada di luar kelas, saat sampai pintu Ia ber pas pas an dengan Arin yang baru saja datang, seperti biasa saat di sekolah mereka terlihat asing seakan ada sebuah penghalang yang membatasi mereka untuk bicara tapi jika di luar sekolah mereka begitu akrab. Arin datang memang tidak sendiri ada teman teman geng nya yang mendampinginya. Untuk beberapa detik langkah mereka pun terhenti.

 Faiq melirik ke arah Nella yang berdiri tepat di samping Arin, gadis itu menunduk saat mata Faiq tertuju padanya.

Bacaan Lainnya

“Minggir Aku mau lewat.” Kata Faiq sambil mendorong pundak Ajeng yang memang berdiri tepat di depan pintu.

“Faiq… Awas Kamu ya..” Teriak Ajeng geram, Faiq tersenyum mendengar ocehan itu sambil berlalu.

Di tengah jalan Faiq mendengar seseorang memanggilnya tak lain itu adalah suara Nella cewek yang naksir dia. Faiq menoleh menghentikan langkahnya menunggu sampai gadis itu benar benar ada di hadapannya.

“Ada apa?”

“Soal omongan Ajeng kemarin di kantin…”

“Sudahlah, santai saja.”

“Aku harap Kamu tidak mengannggapnya serius. Aku sadar diri kok, Aku memang tidak pantas dapetin Kamu.”

“Jadi.. Kamu beneran suka sama Aku?” Tanya Faiq, Nella mengangkat kepalanya yang semula tertunduk saat ngobrol sama Faiq entah masih malu dengan kejadian kemarin atau memang ada hal lain. Di tatapinya wajah Faiq dalam dalam apakah dugaannya itu benar kalau memang ada gadis lain di sana yang di taksir oleh Faiq.

“Nel?”

“Hah!”

“Kenapa diam, Kamu benenaran suka sama Aku?”

Tak ada hal lain yang di lakukan oleh Nella untuk menjawab pertanyaan Faiq selain anggukan kepala.

“Maaf ya Nel, Aku tak bermaksud menyakiti perasaaanmu alangkah lebih baik jika Kita berteman saja.”

“Ya, Aku ngerti kok kalau selama ini dugaanku benar.”

“Maksud Kamu?”

“Ada gadis lain yang Kamu suka kan?”

Faiq menganggukkan kepala dan tersenyum.

“Kalau boleh tahu siapa gadis itu?”

“Suatu saat Kamu akan tahu. Ya sudah Aku tinggal dulu.”

Faiq melangkah meninggalkan Nella yang masih berdiri terpaku.

Faiq melihat teman temannya duduk di taman sekolah Ia pun segera menghampiri.

“Maaf ya, telat.”

“Tak apa, memang apa yang menghalangi mu sampai telat datang kemari.” Tanya salah satu teman Faiq  yang mempunyai postur tubuh agak berisi.

“Biasa, cewek cewek reseh itu.”

“Ngomongin soal cewek, semalam Aku berantem lho sama Ajeng.” Kata teman Faiq yang postur tubuhnya sama dengan Faiq namun mempunyai kulit lebih putih di banding dengan Faiq yang memang di ketahui punya hubungan khusus dengan Ajeng.

“Haa haa haa” Faiq tertawa cekikikan

“Kenapa tertawa? Memang ada yang lucu?”

“Ya, aneh aja sih, selama ini Kamu kan takut sama Ajeng, masa iya pakai berantem segala.”

“Selama ini memang Aku tak pernah berantem sama dia, tapi untuk melakukan sesuatu yang Aku tak bisa wajar lah jika harus berantem, bahkan kalau harus putus pun Aku pasti mau.”

“Memang Kamu di suruh apa?”

“Dia menyuruhku membujuk Kamu untuk jadian sama Nella, apa itu bukan hal yang gila, karena Aku tahu Kamu gak bakalan mau.”

Faiq tertawa mendengar penjelasan Asrori, saat usahanya membujuk Faiq tak berhasil mengapa Dia mesti menyuruh pacarnya.

Bel tanda masuk berbunyi Faiq dan kawan kawan segera beranjak dari tempatnya dan melangkah menuju kelas. Pelajaran pun segera di mulai,  jam pelajaran pertama hingga ke tiga berjalan dengan lancar hingga tiba bel istirahat berbunyi.

 Saat perjalanan menuju kantin Faiq melihat Ajeng tengah keluar dari1 toilet, terlintas dalam pikiran Faiq untuj menjahili Ajeng sedikit.

“Teman teman Aku ke toilet sebentar ya.”

Setelah berpesan pada teman temannya, Faiq pun segera menghampiri Ajeng dan menghalangi langkahnya. Hal itu mrmbuat Ajeng geram karena langkahnya terus di ikuti Faiq.

“Faiq!!”

“Kenapa?”

“Aku mau lewat.”

“Ya sudah lewat aja.”

“Dari tadi Kamu terus menghalangi langkahku.”

“Memang Aku sengaja.”

“Apa maksud Kamu?”

“Ngomong ngomong kok sendirian, mana pengawal pengawal mu?”

“Siapa yang Kamu maksud pengawal.”

“Ya.. itu.. cewek cewek yang selalu mengekor kemana Kamu pergi.”

“Jangan ngomong sembarangan ya, mereka itu teman teman Aku.”

“Dan satu lagi, katanya semalam ada yang berantem sama pacarnya ya..” Kata Faiq sambil tertawa dan langsung masuk ke salah satu toilet cowok yang letaknya berhadapan dengan toilet cewek. Merasa tersinggung dengan perkataan Faiq, Ajeng pun marah. Untuk mengerjai Faiq, Ajeng mengambil sapu pel dan mencengkal gagang pintu toilet yang di masuki Faiq.

“Assalamualaikum.. maaf bu telat.” Kata Faiq meminta maaf karena tertinggal pelajaran, untung saja tadi ada adik kelas yang menuju toilet dan menolongnya membuka pintu toilet.

“Dari mana Kamu Faiq?” Tanya bu Anggun karena memang tak biasa Faiq telat pelajarannya.

“Habis dari toilet bu,  tadi ada ular reseh yang menganggu pintu toilet jadi Aku tak bisa keluar”. Jelas Faiq sambil melirik ke arah Ajeng.

“Ular? Ya sudah sekarang duduk.” Kata bu Anggun tersenyum dan menyadari kalau Faiq hanya bercanda tentang Ular.

Saat melewati bangku Ajeng mata mereka pun saling melotot seakan membisikan kata. Urusan kita belum selesai!

***

“Maksud Kamu apa tadi?” Tanya Ajeng tiba tiba menghampiri Faiq di kantin sekolah saat jam istirahat. Faiq hanya melirik ke arah sumber suara sesaat sebelum memusatkan pandangannya lagi ke arah makanan yang ada di hadapannya. Faiq tak menghiraukan perkataan Ajeng.

“Faiq, Aku ngomong sama Kamu ya. Maksud Kamu apa ngatain Aku ular reseh.” Kata Ajeng marahnya semakin menjadi.

“Memang, Kamu merasa kalau Kamu ular?” Tanya Faiq enteng.

“Tidak!”

“Kalau tidak kenapa marah marah?”

“Tapi, Aku kan yang Kamu maksud tadi di depan bu Anggun?”

“Jadi bener kalau Kamu yang mengunci ku dari luar?” Tanya Faiq masih dengan nada rendah.

Ajeng pun lepas kendali, Ia menarik kerah seragam Faiq hingga membuat posisinya yang semula duduk menjadi berdiri.

“Kamu bener bener ya..”

Mata mereka saling pandang api kemarahan benar benar membakar emosi Ajeng.

“Sudah.. sudah lepaskan.” Kata Asrori mencoba melerai, Ia tak ingin ada keributan di kantin sekolah.

“Dewasa sedikit kenapa sih? Tidak malu apa di lihatin semua orang.”

Ajeng melepas kerah Faiq lalu mendorong tubuh Asrori.

“Kamu juga, anak seperti dia tak pantas Kamu temani As.”

“Maksud Kamu apa?”

“Mengapa sih Kamu buka rahasia kita di depan dia.”

“Ajeng.. sudahlah..”

 Faiq menata seragamnya yang sedikit berantakan gara gara ulah Ajeng, Ia melirik ke arah Arin, gadis itu menundukan kepala, ah teman kecilnya itu tak kan menolongnya.

Ajeng pun pergi dengan muka marah di ikuti teman temannya yang lain.

 Malam hari habis isya Faiq keluar rumah hendak membeli makanan, di perjalanan Ia bertemu Arin tengah membawa bungkusan.

“Arin!”

“Faiq?”

“Kamu dari mana?”

“Nih, habis beli nasi goreng, Kamu mau kemana?”

“Cari seblak.”

Mereka saling melempar senyum.

“Tumben Kamu gak ada acara sama teman teman Kamu?” Tanya Faiq karena Arin sering sekali membuat acara sama teman temannya walau hanya sekedar nongkrong di alun alun desa.

“Semua lagi sibuk dengan keluarganya, oh iya Iq soal tadi di sekolah.. Aku harap Kamu tidak membuat serius dengan tingkah Ajeng.”

“Ya, Aku faham.”

“Alangkah lebih baik jika Kamu minta maaf sama Ajeng.”

“Aku? Cewek reseh itu setidaknya harus di kasih pelajaran lagi.”

“Faiq! Aku tidak mau ada permusuhan di kelas Kita, sifat Ajeng memang seperti itu tapi sebenarnya dia baik. Aku mohon.”

“Hemm.. karena Kamu yang minta baiklah besok Aku akan minta maaf sama Ajeng.”

“Terimakasih Faiq.”

“Ya.”

“Aku pulang dulu ya.”

“Ya, hati hati Arin.”

Arin menganggukkan kepala, dan melangkah meninggalkan Faiq, setelah kepergian Arin Faiq pun melanjutkan langkahnya untuk membeli seblak makanan kesukaannya. (Arinal Haqiqoh)

Pos terkait