BACKSTREET; Petualangan Santri Kepo (Part 1)

Setiap pergaulan menghasilan keakraban, setiap keakraban menghasilkan kedekatan, dan kedekatan pada akhirnya memberikan keterbukaan dan keserasian hubungan. Pertemanan yang baik adalah pertemanan yang dibangun dari rasa saling memiliki dan berbagi bersama dalam setiap keadaan

kitasama.or.id – “Kita adalah sahabat, geng kita itu paling kompak dari geng geng yang lain dan untuk mempertahankan geng kita tetap kompak kita harus berjanji

Satu, kita harus terlihat bersama. Dua, tidak ada rahasia di antara kita dan yang ke tiga, kita tidak boleh merebut pacar dari sahabat kita siapa pun yang melanggar akan di keluarkan dari geng ini”

Bacaan Lainnya

Begitulah Ajeng seorang gadis  yang di juluki ketua geng menjelaskan kepada ke lima sahabatnya Arin, Nella, Nikmah, Shinta dan Izzah di kantin sekolah mungkin lebih tepat tempat nongkrong mereka saat istirahat tiba.

Dari ke lima sahabatnya yang mendengarkan penjelasannya itu hanya satu yang dari tadi terlihat melamun atau tengah melihat sesuatu yang menarik hati. Menyadari hal itu Ajeng pun menegurnya.

“Hai Nella, Kamu dengar gak sih Aku ngomong apa?”

“Dengar.”

“Lalu dari tadi Kamu ngapain?”

“Lihat deh, kalau di perhatikan ternyata Faiq ngganteng juga ya.” Puji Nella sambil senyum senyum

“Hah!” Serempak semua terkecuali Nella.

Pandangan mereka pun tertuju pada sekelompok anak cowok yang duduk di paling pojok saling bercanda sambil menunggu pesanan.

“Kamu suka sama Faiq?” Tanya salah satu teman Nella yang biasa di sapa Arin.

“Entahlah Rin, terkadang Aku penasaran sama dia.”

“Penasaran bagaimana?”

“Seperti apa sih cewek idaman Faiq.”

“Emang kenapa?” Kali ini pertanyaan muncul dari mulut Ajeng.

“Ya.. Kita semua kan tahu Faiq itu anaknya paling anti sama cewek, lihat aja si Dinda berapa tahun dia ngejar ngejar Faiq tapi dia cuek cuek aja kan belum lagi cewek cewek lain yang di luar sekolahan Kita.”

“Jadi maksud Kamu Faiq sukanya sama cowok?”

“Ya..tidak begitu juga dong Nikmah…”

“Nah, terus maksud Kamu seperti apa?”

“Aku tuh merasa kalau Faiq suka sama cewek, hanya saja dia tak mengatakannya.”

“Emang dasar ya si Faiq itu cueknya keterlaluan, masa ketemu Aku di jalan  aja gak menyapa kalau bukan Aku yang menyapa duluan kayak orang asing gitu.” Kata Sinta menambahkan.

“Jadi beneran Kamu suka sama Faiq?” Tanya Arin sekali lagi ingin tahu lebih pasti.

“Kira kira bakalan di terima gak yah kalau Aku suka sama dia?” Kata Nella ragu karena sejauh ini semua juga tahu kalau Faiq banyak yang suka namun tak satu pun yang terlihat punya hubungan khusus dengan Faiq.

“Pasti di terima koq, Kamu kan cantik, pintar punya suara yang bagus juga.” Kata Izzah memuji kelebihan yang ada pada diri Nella.

“Tapi Aku masih ragu.”

“Serahkan semua padaku, kalau Aku yang ngomong pasti di terima koq.” Kata Ajeng meyakinkan.

Ajeng beranjak dari tempat duduknya, merapikan seragamnya, Dan siap melakukan aksinya.

“Ajeng, jangan!” Rayu Nella menahan Ajeng.

“Kenapa?”

“Aku malu.”

“Diam! Kalian tunggu di sini, Arin ayo ikut Aku.”

Arin menatap ke empat sahabatnya ada isyarat isyarat yang terbaca dari mata mereka, Arin sedikit mengangkat kedua bahunya mengapa Ajeng mengajaknya.

Arin dan Ajeng segera melangkah menuju di mana Faiq dan teman temannya duduk.

“Faiq!” Sapa Ajeng begitu sampai, Faiq hanya melirik ke arah sumber suara.

“Nella suka sama Kamu.” Lanjut Ajeng, Faiq melirik ke arah cewek yang berdiri di samping Ajeng, mendapat lirikan itu Arin menundukkan kepala sesaat pandangan Faiq pun tertuju pada ke empat teman Ajeng yang duduk di seberang termasuk Nella. Faiq kembali melirik ke arah Ajeng.

“Lalu?”

“Kamu mau tidak terima dia jadi pacar Kamu?”

“Kamu suka sekali ya jodoh jodohin orang.”

“Siapa yang jodohin, dia sendiri yang ngomong tadi Aku Cuma menyampaikan, sudah tidal usah banyak ngomong, Kamu mau tidak jadi pacar Nella?”

“Tidak.”

Mendengar pernyataan itu spontan Ajeng kaget baru kali ini dia merasa usahanya di abaikan sama cowok kalau sebelumnya usahanya selalu berhasil.

Tidak terima dengan apa yang di ucapkan Faiq, Ajeng pun marah.

“Hei Faiq, emang Kamu pikir Kamu setampan apa sih? Sampai cewek secantik Nella Kamu tolak.” Suara Ajeng menggema sampai semua yang ada di kantin pun mendengar, Nella pun menjadi malu karena usaha sahabatnya itu tidak berhasil. Teman teman Faiq hanya senyum senyum mendengar ocehan Ajeng.

Mata Arin mulai bicara mengisyaratkan sesuatu, namun Faiq mengabaikan isyarat itu.

“Kalau sudah selesai bisa tolong pergi.”

Ajeng dan  Arin segera pergi, ada ocehan ocehan tak jelas yang keluar dari mulut Ajeng seiring langkahnya meninggalkan tempat Faiq.

***

Faiq berdiri di atas jembatan yang menghubungan desanya dengan desa sebelah, di lihatnya perahu perahu yang berbaris tak beraturan di bawah sana.

“Faiq!”

Faiq menoleh, seorang gadis yang sama yang tadi menghampirinya di kantin dan tak banyak bicara kini berdiri di sampingnya, Arin.

“Aku sudah menduga kalau Kamu ada di sini, Soal tadi di kantin…”

“Sudahlah  lupakan.”

“Bukan begitu Iq, kenapa sih Kamu menolak Nella?”

“Aku tidak ingin menyakiti perasaannya.”

“Dengan menolaknya sama hal nya Kamu menyakiti hatinya bahkan sudah membuatnya malu di depan semua orang.”

“Untuk itulah Aku menolaknya saat ini, karena nanti akan lebih menyakitkan lagi..”

“Maksud Kamu…”

“Iya, ada gadis lain yang Aku cintai.”

“Siapa gadis itu?”

“Suatu saat Kamu akan tahu.”

Faiq melangkahkan kakinya entah berusaha menghindar dari Arin atau Ia memang sudah merasa bosan karena sudah hampir satu jam berdiri di sana.

“Kita sudah kenal lama Iq, akan kah Kau merahasiakan hal ini pada ku?” Tanya Arin yang membuat langkah Faiq terhenti untuk sesaat.

“Untuk yang satu ini memang harus.” Jawab Faiq tanpa menoleh ke arah Arin.

Arin tersenyum ada rasa penasaran dalam hatinya tentang gadis yang di cintai Faiq, apakah gadis itu satu sekolah dengannya atau memang di luar sekolah. Ia lihat langkah Faiq semakin menjauh darinya.

Pos terkait