September 28, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

ANTARA SANTRI DAN PUTRA KIAI, BENTURAN DENGAN KARAKTER MASYARAKAT PESISIR (Bagian Pertama)

oleh: Imam Aretatollah

 

Bagi warga pesantren dan sebagian besar orang, memanggil Gus sudah menjadi kebiasaan dan tradisi dalam kehidupan sehari-hari.

Sedangkan bagi santri, Memanggil Gus kepada anak Kyai tidak lagi, sekedar tradisi atau kebiasaan, tetapi sebuah kewajiban yang harus di jalankan.

Dengan memanggil ‘Gus’ di harapkan para santri mendapat berkah dari Kyai, sebab panggilan itu akan menyenangkan gurunya, dan dengan membuat guru senang di harapkan beliau akan mendoakan yang baik bagi santri sehingga ilmu yang di dapatkannya bisa bermanfaat dan barokah.

Panggilan Gus di dunia pesantren memiliki arti bocah bagus dan wong bagus. Itu kenapa memanggil Gus bagi santri tidak hanya di tujukan untuk anak Kyai yang sudah dewasa, tetapi yang masih kecil juga harus di panggil Gus.

Suruhan untuk memanggil Gus bukan berarti para Kyai itu kolot atau memaksakan kehendaknya, apalagi gila hormat dan menghendaki kemuliaan pada anak dan keluarganya.

Sekali lagi bukan itu, tetapi yang di harapkan Kyai ialah memberikan pembelajaran kepada para santri mengenai arti penghormatan dan menghormati antar manusia dan tidak semena mena kepada sesama hamba Tuhan.

Pendidikan seperti inilah yang di terapkan sejak awal masuk pesantren, agar santri mempunyai sifat unggah ungguh kepada yang tua dan menyayangi yang muda. Dan dalam realita kehidupan memang sudah terbukti manjur, dimana output lulusan pesantren lebih unggul dan lebih berdaya guna di masyarakat.

Di samping itu mereka juga mampu memberikan kontribusi secara riil dalam membangun peradaban berbangsa, bernegara dan beragama secara tulus dan ikhlas.

Seje deso mowo coro, berdeda tempat berbeda juga cara dan tradisi yang berlaku. Itulah agadium yang sering kita dengar, dimana sebuah tradisi yang baik di tempat satu belum tentu baik di tempat lain.

Seperti halnya panggilan Gus di pondok pesantren sebagai bentuk memuliakan anak Kyai, panggilan Gus di daerah pesisir juga hampir memiliki kesamaan, yaitu menghormati saudara atau famili yang lebih tua atau bentuk penghormatan kepada orang yang usianya jauh lebih tua.

Kang Gus atau di singkat Gus Biasanya di pakai oleh saudara muda untuk memanggil saudara atau famili yang lebih tua. Sedang panggilan Pak Gus atau Wak Gus yang di singkat Gus pula, biasa di pakai untuk memanggil orang yang usianya jauh di atasnya.

Kalau seorang Gus di Pesantren termasuk orang mulia yang di hormati dan di taati, maka sebaliknya Gus yang ada di pesisir. Mereka memiliki status yang sama, baik di rana sosial, agama, politik maupun budaya.

Dalam berkehidupan di pesisir Setiap orang di pandang sama derajatnya, baik dalam hal komunikasi, bekerja, bersosial maupun beribadah. Sifat seperti inilah yang biasanya di pandang orang luar yang tidak memahami dunia pesisir sebagai bentuk kebobrokan akhlak, keculasan berucap dan kekonsletan berfikir.

Tetapi bagi warga pesisir, sikap seperti inilah yang lebih memanusiakan manusia, lebih beradab dan lebih agamis, dan seharusnya di praktekkan oleh setiap orang, sebab perbedaan manusia terletak pada ketaqwaannya kepada Tuhan. Ini merupakan karakter yang sudah melekat pada setiap warganya, sehingga mereka  mengklaim dirinya sebagai

“Ras Unggul” sedang orang di luar daerahnya (desa maupun kota) di sebut sebagai “ras rendah” atau “orang desa” yang tidak tahu cara bertata Krama.

Sikap persamaan dan sederajat di tunjukkan oleh orang pesisir di berbagai sektor. Misalnya saja dalam hal beribadah, yaitu antara seorang Imam dan makmum.

Baginya kedudukan Imam sebagai pemimpin sholat (sering di panggil pak Gus atau Wak Gus) tidaklah lebih tinggi di bandingkan dengan yang di pimpin (makmum), tetapi keduanya memiliki peran sama penting, sebab tanpa adanya makmum tidak mungkin seseorang bisa menjadi Imam.

Mereka berdua mempunyai peran dan maksud yang sama, yaitu beribadah kepada Tuhan. Dan yang membedakan hanyalah Imam berada di depan sebagai mengatur ritme gerakan dan makmum harus mengikutinya. Itu hukumnya wajib.

Misalnya lagi dalam pekerjaan, karena mata pencaharian pokok orang pesisir adalah melaut (mencari ikan) dengan cara naik kapal (perahu), juga membutuhkan banyak tenaga manusia, maka sudah wajar kalau kapal pencari ikan di tumpangi banyak pekerja.

Julukan orang pemilik kapal disebut Jeragan, sedang awak kapal (pekerja) di sebut Bhela. Hubungan antara Jeragan (pemilik kapal) dan Bhela (pekerja) bukanlah hubungan antara Tuan dan pembantu atau Bos dengan anak buah, bukan pula antara pemilik modal dengan pekerja. Tetapi hubungan antara mereka adalah partner yang saling bekerja sama dalam pekerjaan.

Jeragan (biasa di panggil kang Gus atau Wak Gus) walaupun sebagai pemilik kapal, bukan berarti mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dan bisa seenaknya kepada Bela (pekerja), namun dia harus memposisikan diri sebagai orang yang mempunyai tanggung jawab terhadap kesejahteraan para pekerja.

Begitu juga para Bhela, mereka juga punya tanggung jawab yang sama, yaitu membantu Jeragan dalam menjalankan perintah yang di intruksikan kepadanya.

Dalam hal ini Jeragan merasa terbantu sebab kapalnya bisa melaut dan mencari ikan. begitupun Bhela, mereka juga bisa bekerja dengan bantuan jeragan yang memiliki kapal. Inilah jalinan kerjasama dan saling membantu yang di lakukan oleh orang pesisir. Dan masih banyak hubungan sederajat di sektor lain yang tidak mungkin di terangkan ditulisan ini.

Dari karakter yang di bentuk oleh alam dan lingkungan inilah orang pesisir menjalani kehidupan di daerahnya maupun daerah lain.

Ada cerita menarik mengenai cara berfikir dan karakter orang pesisir yang nyantri di  daerah lain, yang mungkin di anggap berbeda:

Suatu hari ada santri alumni datang ke Pondok untuk sowan kepada Kyainya. Sesampainya di Pondok dia langsung menuju Dhalem (sebutan rumah Kyai), namun sayangnya dia di beritahu sama Gus (sebutan anak Kyai) kalau Kyai sedang tinda’an (bepergian), sambil dirinya di persilakan masuk dan menunggu.

Setelah si santri duduk dan di persilakan menikmati jamuan dan saling menanya kabar, maka giliran si tamu, yang memang sudah sejak tadi berada di dhalem, bertannnya kepada Gus. Tamu itu bertanya mengenai cara ibadah yang benar, harusnya bagaimana?

Dan tentang pendapat orang mengenai ibadah yang benar harus berthoriqoh?. Gus menjawab: bahwa beribadah itu memang harus berthoriqoh, sebab hanya dengan cara itu manusia bisa menjalankan ibadah dengan benar.

Saya pun berthoriqoh, dan thoriqoh yang saya anut adalah Thoriqoh ta’lim, yaitu mengajar, menyampaikan dan mengamalkan ilmu agama kepada para santri dan masyarakat. sama seperti yang di lakukan oleh Salafussoleh dulu.

Mendengar pernyataan itu alumni santri meminta kepada Gus supaya diberi izin untuk menyampaikan pendapatnya, sebab dirinya punya pemikiran yang berbeda.