Oktober 1, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

ANTARA SANTRI DAN PUTRA KIAI, BENTURAN DENGAN KARAKTER MASYARAKAT PESISIR (Bagian Kedua)

oleh: Imam Aretatollah

 

Setelah di persilakan, maka alumni ini berkata, mengenai pendapat Gus terkait beribadah yang benar harus berthoriqoh dengan thoriqoh ta’lim merupakan dua hal yang berbeda.

Menurut si santri, ibadah yang benar harus berthoriqoh mempunyai arti metodologi atau cara yang benar dalam menjalankan ibadah dengan syarat dan rukun yang sudah di tetapkan oleh Guru.

Sedangkan Thoriqoh ta’lim merupakan jalan hidup yang di tempuh seseorang dalam mengamalkan kemampuan yang dia milikinya kepada orang lain, seperti mengajar, bakerja dan lainnya.

Ini merupakan dua hal yang berbeda, tidak sama dan tidak boleh di samakan, sebab kalau di samakan Mala membingungkan umat.

Pengertian Thoriqoh sebagai metodologi atau cara beribadah dengan benar, berbeda dengan Thoriqoh sebagai jalan hidup yang di tempu seseorang dalam menjalankan rutinitasnya sehari-hari. Oleh sebab itu, perbedaan pengertian ini haruslah di ketahui dengan benar.

Setelah mendengar diskusi kami, salah seorang tamu berbicara kalau jalan menuju Allah dan surga itu punya banyak cara dan setiap orang berhak menentukan jalannya sendiri.

Tamu itu jelas belum faham apa yang di katakan si santri tadi. Sebab dia masih mencampuradukkan antara Thoriqoh sebagai metodologi atau cara dengan Thotiqoh dalam artian jalan hidup. Tetapi kali ini tanpa meminta persetujuan Gus, santri ini langsung menjawab.

Hakikat surga ialah bersama dengan Allah, sehingga ada pernyataan “raihlah surga di dunia”. Ini memberi pengertian kepada kita kalau surga harus di peroleh di dunia, sebab orang yang sudah masuk surga di dunia dia tidak masuk lagi di surga akhirat.

Kedatangan Kyai dan rombongan membuat si santri menghentikan omongannya. Dia lalu berdiri dengan penuh takdim mencium tangan Kyainya tersebut. Selesai mencium tangan, Kyai menyuruh dia supaya berada di pondok terlebih dulu sebab Kyai ada urusan dengan para rombongan yang datang bersama dirinya.

Setelah para tamu dan rombongan sudah pada pulang Kyai memanggil alumni santri supaya datang menghadap.

Sesampai di dhalem dan berada di depan Kyainya, beliau bertanya kepada si santri mengenai kelakuannya yang di anggap tidak sopan kepada Gus.

Tidak sepantasnya seorang santri berdebat dengan Gus, dan kalau memang ada pernyataan Gus yang tidak cocok dengan pemikiran santri, maka langkah yang baik adalah diam. Tidak berdebat dan mendebatnya.

Si santri hanya tertunduk dan diam mendengar ngendikan (perkataan) Kyainya. Menurutnya pertanyaan seperti itu tidaklah untuk di jawab tetapi untuk di jalankan, dia tahu betul mengenai hal itu, Kecuali ada perintah untuk menjawab atau berbicara dari Kyai. Setelah berkata panjang lebar Kyai meminta kepada si santri untuk berbicara, tentang alasannya sampai berani mendebat Gus dan membantah pendapatnya.

Masih dalam posisi tertunduk dan memohon izin untuk berbicara, si santri mengawali perkataanya dengan meminta maaf atas tindakan yang di perbuatnya.

Dia tidak ada maksud berlaku tidak hormat kepada Gus, apalagi membantahnya tetapi yang dirinya lakukan adalah sebuah tanggung jawab yang harus di lakukan sebagai seorang santri, demi kecintaannya kepada guru dan kebanggaannya sebagai santri pondok pesantren.

Mengenai alasannya berdebat dengan Gus, sebenarnya dirinya tidak berdebat, tetapi berdiskusi. Mungkin tamu yang memberi informasi tadi tidak tahu, mana diskusi dan mana debat.

Si alumni berpendapat kalau dialah yang lebih berhak mewarisi keilmuan dan amaliyah Kyainya, bukan Gus (anaknya). Sebab dari ilmu yang di ajarkan dan perilaku yang di contohkan Kyai kepada santri, itu pula yang akan di lakukannya dalam menjalani kehidupan.

Disamping menjadi panutan, para santri juga sangat mengagumi Kyai. Itu dibuktikan dengan pertanyaan yang diajuhkan kepada santri mengenai Tokoh yang di idolakan, dan mereka semua menjawab Kyai sebagai sosok yang di idolakan.

Sedangkan Gus (anak) tidak mungkin atau bisa di katakan jarang mengidolakan orang tuanya sendiri. Hal ini di sebabkan seorang anak (Gus) pastilah sering berkumpul bersama ibu bapaknya secara intens.

Dari kedekatan hubungan keluarga itu bisa di pastikan mereka mengetahui sisi baik dan buruk sifat dan watak masing masing. Mereka juga akan berbeda pendapat mengenai pola fikir, tata kelola, pekerjaan dan lainnya sebab latar belakang ilmu, guru dan pendidikan yang berbeda. Hal seperti itu tidak mungkin terjadi pada santri, sebab dia hanya mengetahui kealiman dan kesholehan sang Kyai.

Tidak bisa di pungkiri kalau ‘Gus’ merupakan keturunan biologis Kiai yang mewarisi sifat dan karakternya. Tetapi jangan salah, santri juga keturunan Kyai, yaitu keturunan amalogis yang mewarisi ilmu dan amaliyyahnya.

Kalau Gus memiliki nasab yang bersambung sebab pertalian darah, maka santri juga memiliki sanad yang bersambung karena jalur keilmuan.

Santri alumni mengatakan, bahwa yang di perbuat kepada Gus bukan berarti dirinya tak menghormati anak Kyainya, tetapi itu merupakan pembuktian dan tanggung jawab yang di emban oleh santri sebagai bentuk rasa bangganya kepada Kyai dan pondok tempatnya menimbah ilmu.

Dari diskusi yang lakukan dengan Gus, karena diskusi itu membahas tentang keilmuan, maka yang di pertaruhkan di sini adalah nama baik dan kealiman guru masing masing.

Si santri membawa nama gurunya (yaitu ayah Gus) sedang Gus membawa nama gurunya juga (bukan bapaknya), Jadi Ini merupakan bentuk pembuktian sanad keilmuan antara santri dengan santri, bukan santri dengan Gus. Sebab dalam posisi seperti ini yang berlaku ialah garis sanad keilmuan, bukan garis nasab keturunan.

Di samping itu, bagi alumni santri yang beradu argumen dengan “Gus”, dia tidak hanya mewakili dirinya sendiri, tetapi mewakili Kyainya.

Sebab santri adalah personifikasi Kyai. Oleh sebab itu kealiman dan kesholehan Kyai bisa di lihat dari produk yang di hasilkannya, yaitu santri. Seperti ungkapan yang sudah terkenal “Tingkah laku dan pola fikir santri adalah cerminan dari Kyainya.”

Itulah alasan kepada santri alumni berani mendebat Gus, lebih tepatnya berdiskusi dengan Gus. Sebab dia tidak ingin membuat malu Kyainya. Rasa bangga dan kecintaan kepada Kyainyalah yang mengharuskan dirinya berbuat separti itu.

Si alumni santri telah selesai bicara, masih dalam keadaan tertunduk, sampai Kyainya bilang. Semoga ilmu manfaat dan barokah. Aamiiin

Ngaglig, 3 paragrap terakhir di gedung Ombo Tuban. Selasa 7 Juli 2020.