Juli 24, 2021

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

ANSOR VIS A VIS ALUMNI IPNU, SIAPA YANG LEBIH BERDAYA?

Panflet diskusi "Ruang Bebas" pada 1 Desember 2020

Fenomena menarik terjadi pada kelompok NU yang berada di GP. Ansor. Mereka merupakan anak-anak muda yang mulai membangun jati diri dan identitas pribadinya. Mereka berupaya untuk membangun ekonomi, keluarga, dan sekaligus karirnya.

GP. Ansor merupakan sarana pengabdian masa transisi seorang kader NU yang harus melewati masa-masa sulit dan berat. Menjadi anggota GP. Ansor secara otomatis “dipaksa” untuk menciptakan “lumbung” ekonomi dan “lahan” pekerjaan.

Problematika Menjadi Ansor

Permasalahan kemudian terjadi ketika GP. Ansor harus mewadahi semua kalangan mudanya yang sudah purna dari kaderisasi awal, semisal alumni IPNU, PMII, HMI, dan santri pesantren, yang ternyata semua itu belum tentu bisa dipersatukan pemikiran dan perspektifnya.

Dalam mengisi kepengurusan atau membentuk “pasukan struktural” GP. Ansor semua kalangan saling berebut untuk memimpin dan memperbanyak kalangannya dahulu. Pada posisi ini terjadi benturan dan perebutan posisi yang strategis untuk bisa menguasai “lumbung” ekonomi dan “lahan” pekerjaan yang bisa diperoleh dari keuntungan “menjadi Ansor”.

Dalam konteks proses kaderisasi di NU, idealnya pasca berproses di IPNU seharusnya masuk ke GP. Ansor dan meneruskan masa khidmatnya. Namun ketika alumni IPNU masuk atau “akan dimasukkan” ke kepengurusan GP. Ansor cenderung terjadi benturan ide dan pemikiran dengan kader selain alumni IPNU. Dalam benturan itu yang dimenangkan adalah orang yang lebih kuat secara finansial dan jabatan, dan itu lebih dominan bukan orang alumni IPNU.

Pengalaman di Tuban sejak 2013 membuktikan bahwa kepemimpinan GP. Ansor dari kalangan non-alumni IPNU ternyata lebih diminati oleh para pemuda NU di Tuban dari pada kader alumni IPNU. Sehingga pada posisi tersebut, sosok mantan pengurus IPNU atau mantan ketua IPNU sangat kesulitan untuk bersaing menjadi ketua GP. Ansor, sekaligus kesulitan juga dengan memasuki posisi-posisi strategis.

Oleh sebab itulah, kondisi yang sangat penting untuk menjadi kajian yang urgen dalam menangani kondisi tersebut adalah sebagai berikut :

Menakar efektivitas pengabdian kader muda NU

Bagaimana kader-kader muda NU yang akan atau sudah di GP. Ansor bisa memberdayakan dirinya penting bagi Nahdlatul Ulama, terutama kader-kader yang berproses di IPNU, PMII, Pondok Pesantren atau bahkan HMI?

Bagaimana para alumni IPNU, PMII, Pondok Pesantren atau bahkan HMI yang notabene-nya merupakan kader muda NU bisa berkhidmat di NU?

Menggali motif kaderisasi anak-anak NU di masa kekuasaan

Apa motif yang melatarbelakangi “anak-anak NU” mengikuti GP. Ansor di masa kekuasaan-nya (dewasa ini, PKB telah menguasai parlemen dan bisa menjadikan Bupati Tuban dan Gubernur Jawa Timur)?

Apakah dengan tujuan untuk mendapatkan jabatan, pekerjaan, kekuasaan, dan peluang menumpuk finansial motif yang mendorong anak-anak NU bergabung dengan GP. Ansor?  

Meneropong ruang gerak kreativitas anak-anak NU, jadi atau tanpa struktur kepengurusan

Dimanakah anak-anak NU yang tidak menjabat di struktural kepengurusan GP. Ansor?

Dan apakah anak-anak NU yang bergabung dengan kepengurusan GP. Ansor bisa mengembangkan kreativitasnya?

Dilemma anggota GP. Ansor dan alumni IPNU, pasca ini-itu (mau) apa?

Apakah yang akan diberikan atau yang akan dilakukan oleh anggota GP. Ansor dan alumni IPNU pasca menjabat atau ketika sudah menjabat? Apakah mereka bisa memberikan kemanfaatan dan kemaslahatan bagi masyarakat islam di daerahnya masing-masing?