Oktober 31, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

ANALISIS BUDAYA KEPEMIMPINAN DI INDONESIA DENGAN PENDEKATAN INTEGRASI SOSIAL

Oleh :

Siti Fatkhiyatul Jannah

Pengantar

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Antara kepemimpinan dengan budaya memiliki hubungan yang sangat erat. Kepemimpinan dan budaya merupakan fenomena yang sangat bergantung, sebab setiap aspek dari kepemimpinan akhirnya membentuk budaya. kepemimpinan yang ada dalam tersebut dan menggambarkan budaya yang ada. Sehingga dikatakan bahwa melihat kepemimpinan suatu organisasi itu sama dengan melihat budaya yang ada dalam nasional tersebut, perumpamaannya bagaikan dua sisi mata uang yang memiliki nilai yang sama.

Kesuksesan sebuah kepemimpinan di wilayahnya sendiri belum tentu mampu mensukseskan dan bisa memimpin sebuah wilayah, organisasi atau negara lain. Karena perbedaan budaya yang berlaku dalam suatu negara seorang pemimpin harus benar-benar memahami betul tradisi dan budaya yang di anut oleh suatu bangsa, jika ini tidak di lakukan maka proses interaksi dan jalinan relasi antara pemimpin dangan yang di pimpin akan terjadi gesekan yang akan melahirkan konflik. Apa yang di sampaikan oleh Gani dan Cederroth  akan corak budaya Indonesia yang masih mengedepankan budaya toleransi, adanya budaya kekeluargaan begitu juga menurut Mulder, masyarakat  Indonesia  mengedepankan sikap ramah, damai penuh kasih, dan terbuka tangan .  memang benar dan penulis sepakat dengan hasil temuan yang di sampaikan dalam isi jurnal. Di berbagai desa dan pelosok budaya saling menghormati menjaga kerukunan akan perbedaan dapat kita rasakan inilah pentingnya memahami berbagai macam kebudayaan agar pemimpin mampu berinteraksi menjalin komunikasi. Dengan melihat terhadap model budaya di jawa menurut pandangan saya tidak jauh beda dengan budaya yang ada di luar jawa, hanya perbedaannya kalau di luar jawa bersifat kesukuan dan kesukuan inilah yang mempererat tali persaudaraan maupun kekeluargaan mereka dan sangat kuat sekali, dari berbagai macam suku, etnis yang ada di Indonesia maka seyogyanya setiap pemimpin dalam mengambil langkah kebijakan harus mampu memberikan kesetaraan memberikan sikap toleransi. Kita menjadi bangsa yang besar dan kokoh karena kita mampu menjaga sebuah perbedaan.

Teori Integrasi Sosial

Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan “integrasi” sebagai pembauran hingga menjadi kesatuan.3 Kata “kesatuan” mengisyaratkan berbagai macam elemen yang berbeda satu sama lain mengalami proses pembauran. Jika pembaruan telah mencapai suatu perhimpunan, maka gejala perubahan ini dinamai integrasi. Dalam bahasa Inggris, integrasi (integration) antara lain bermakna “keseluruhan” atau “kesempurnaan Jika berbagai macam elemen yang berbeda satu sama lain merujuk pada kemajemukan sosial yang telah pula mencapai suatu kehidupan bermasyarakat, maka proses ini dinamai integrasi sosial. Dalam sosiologi, integrasi sosial berarti proses penyesuaian unsur-unsur yang saling berbeda dalam kehidupan masyarakat sehingga menghasilkan pola kehidupan masyarakat yang memiliki keserasian fungsi. Dengan demikian, ada dua unsur pokok integrasi sosial.

Unsur pertama adalah pembauran atau penyesuaian, sedangkan unsur kedua adalah unsur fungsional. Jika kemajemukan sosial gagal mencapai pembauran atau penyesuaian satu sama lain, maka kemajemukan sosial berarti disentegrasi sosial. Dengan kata lain, kemajemukan gagal membentuk (disfungsional) masyarakat.

Budaya nasional dan Pratik kepemimpinan dalam aplikasi teori integrasi social unsur budaya adalah pembauran atau penyesuaian sedangkan kepemimpinan adalah unsur fungsional yang mana kedua hal tersebut tidaklah bias dipisahkan dalam satu kesatuan. Karena gaya atau model kepemimpinan sangat ditentukan oleh budaya nasional yang berlaku disuatu daerah atau Negara.

Dalam Sosiologi Politik, Durkheim Berpendapat bahwa keterwakilan kolektif dalam mekanisme politik sangat penting karena kuatnya peran ikatan representasi kolektif-milieu sosial dalam proses dinamika sosial. Keterwakilan representasi individual merupakan representasi kolektif. Masyarakat adalah suatu kebersamaan kekuatan tak tampak yang bertindak terhadap individu, dan individu itu tanpa mengetahui sama sekali tidak mempunyai kesadaran terhadap tugas luar biasa besar yang terjadi di sekelilingnya. Sementara individu adalah produk masyarakat. Otoritas dari suatu aturan moral tidak terkait dengan karakter yang bisa diisolasi dan menjadi sifat intrisiknya. Sebab otoritas tidak berada di dalam ‘suatu hal’, sehingga mustahil mengurungnya dari semangat mereka yang meyakininya. Otoritas hanya representasi dan tidak memiliki eksistensi lain kecuali keyakinan yang mendukungnya. Pada saat generasi tertua menerapkan perwakilan otoritas yang diperlukan demi berfungsinya masyarakat kepada generasi berikutnya, pengakuan terhadap otoritas ini meng-eksteriosasi-kan kepatuhan yang diperdalam pada masa kanak-kanak generasi berikut dan dari situ memberikan kontribusi dalam mengabadikannya.

Kesimpulan

Budaya Nasional dan Praktik Kepemimpinan di Indonesia sangatlah dipengaruhi oleh budaya yang diberlaku di masyarakat. Contohnya untuk negara negara timur tengah yang budayanya dipengaruhi Islam lebih cenderung cocok menggunakan gaya otokratis. Berbeda dengan negara jepang yang lebih partisipatif karena dipengaruhi budaya jepang yang pekerja keras dan sangat mengandalkan kerjasama.