Oktober 22, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

ALTERNATIF PRESTASI (ANAK) PASCA-UN

oleh : Moh. Syihabuddin

UN atau Ujian Nasional seharusnya akan dihapus untuk selamanya pada tahun 2021 nanti, namun dengan datangnya pandemik corona maka rencana tersebut dipercepat dan menjadi berkah tersendiri bagi kalangan pendidikan kritis-konstruktif.

Sebagaimana diketahui secara umum bahwa keberadaan Ujian Nasional menuai banyak kontroversi dan menghasilkan output yang kontra-produktif terhadap hakekat pendidikan itu sendiri. Alih-alih sebagai tolok ukur untuk melihat prestasi anak didik Ujian Nasional dalam praktiknya menghasilkan banyak masalah terhadap anak didik dengan lingkungan pendidikannya. Hanya karena gagal Ujian Nasional ada anak remaja yang rela bunuh diri, atau semangat hidupnya luntur, pandangan masa depannya suram, dan bahkan mendapatkan predikat anak yang gagal di mata lingkungannya.

Kenyataan tersebut juga didukung dengan fakta dilapangan bahwa ujian nasional hanya menghasilkan lulusan yang ahli dalam mengerjakan soal akademik saja (soal dalam teks) tanpa bisa mengaplikasikannya dalam penyelesaikan persoalan nyata di lapangan. Banyak anak-anak yang berprestasi secara ujian nasional namun mereka gagal bersaing dalam menjalani kehidupan nyata. Paling-paling mereka akan mencari jalan untuk menjadi pegawai negeri dan tidak mampu menjadi seorang yang visioner dalam berwirausaha, mengembangkan kegiatan kemasyarakatan, dan apalagi berpikir kritis terhadap realita yang tidak sesuai dengan keharusannya—tentu jarang sekali dijumpai para lulusan UN sukses diranah ini.

Memang pada tahun-tahun lalu ujian nasional sudah dihapus ditingkat pendidikan dasar dan menengah, namun di lapangan masih ada ujian sekolah yang dikoordinir oleh pihak Dinas Pendidikan yang mengakibatkan tetap adanya suasana yang sama dengan adanya UN. Artinya, dihapuskannya UN di tingkat dasar dan menengah tetap dilaksanakan dengan kegiatan yang sama namun bajunya diganti dengan US (ujian sekolah).

Maka dengan keputusan yang tepat dan perhitungan yang matang (oleh mas menteri Nadhiem) inilah dihapuskannya Ujian Nasional merupakan solusi terbaik dan jalan solutif terhadap keberadaan pendidikan Indonesia di masa kini dan masa depan.

Sekolah tanpa UN akan menghasilkan banyak alternatif untuk menciptakan anak-anak berprestasi dan mampu menemukan jatidirinya di tempat belajarnya masing-masing. Toh, kelulusan anak sudah ditentukan oleh sekolahnya masing-masing, tinggal bagaimana sekolahnya tersebut menciptakan bentuk screning yang tepat agar menghasilkan anak-anak yang berkualitas sesuai dengan kodrat kecerdasannya masing-masing.

Beberapa langkah yang bisa ditempuh oleh sekolah-sekolah untuk mengantikan Ujian Nasional diantaranya adalah pengembangan kreatifitas dan karya siswa, pengembangan karya minat bakat, dan atau pengembangan hasil riset lapangan.

Pertama, pengembangan kreatifitas dan karya siswa. Merupakan ujian yang diberikan kepada anak didik di dua atau satu tahun terakhir jalannya pembelajaran untuk menghasilkan segala hal yang disukai dan menghasilkan produk yang bisa dimanfaatkan untuk masyarakat.

Pengembangan ini berhubungan dengan kesenian dan olahraga, baik yang berbasis pada kebudayaan nasional atau yang berbasis pada peningkatan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Misalnya, jika dia muslim maka dia bisa mengembangkan bakat tilawah-nya atau qiro’ah-nya. jika dia non-muslim, dia bisa mengembangkan apapun yang berkaitan dengan kidung-kidung kepercayaannya.

Kreatifitas dan karya ini tanpa batas dan tanpa ada sekat-sekat yang membatasi anak untuk membuatnya atau melakukannya. Namun koridor akhlak dan moral masih harus dipegang sebagai kontrol untuk tetap menjaga pembentukan karakternya sebagai manusia Indonesia yang mulia dan bermartabat.

Kedua, pengembangan karya minat bakat, yakni memberikan kesempatan kepada anak untuk bisa membuat karya yang disesuaikan dengan hobinya dan hal-hal yang disukainya. Jika anak sangat menyukai menggambar maka dia harus membuat lukisan, komik, atau cergam sebagai produk akhir sekolahnya. Jika dia anak yang suka dengan peralatan listrik, maka dia harus bisa merakit atau membuat alat baru yangs sederhana.

Begitu seterusnya hingga masing-masing anak bisa menghasilkan karya sesuai dengan hal-hal yang disukainya.

Dan Ketiga, pengembangan hasil riset lapangan. Ini merupakan tugas akhir yang diberikan dalam bentuk kelompok atau individu. Anak-anak diharuskan untuk melakukan riset lapangan, mencari berbagai permasalahan yang ada di tengah-tengah kehidupan lingkungan masyarakatnya.

Dari lapangan anak-anak akan mencari berbagai hal yang menjadi permasalahan lingkungannya, lalu dengan dampingan dan fasilitator dari Gurunya mereka akan menemukan solusi yang tepat untuk memberikan solusi secara ilmiah dan nyata yang bisa diberikan kepada masyarakat.

Dengan cara ini maka tugas akhir seorang anak adalah memberikan jalan keluar bagi permasalahan yang ada di masyarakat dan memecahkannya secara ilmiah dalam bentuk tulisan.

Tiga solusi pengganti UN ini terlihat berat dan tentunya akan membutuhkan guru yang maksimal terhadap proses pembelajarannya. Namun demikian dengan cara inilah anak-anak akan menjadi manusia yang kreatif, kritis, dan solutif terhadap kebutuhan masyarakat disekitarnya dengan tetap memiliki akhlak luhur agamanya dan bangsa Indonesia.

*Hasil diskusi pada Jumat, 3 April 2020