Oktober 20, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

ALASAN RUSIA MENDUKUNG ARMENIA DI PERANG NAGORNO-KARABAKH

oleh : Moh. Syihabuddin

Di Perang Nagorno-Karabakh, Armenia tidak sendirian dalam menghadapi kekuatan Azerbeijan-Turki, ada Rusia di belakangnya. Rusia diam-diam menyuplai senjata dan mendukung angkatan perang Armenia. Senjata canggih, mulai dari sistem persenjataan S-300 (yang terkenal) hingga senapan serbu semuanya disuplai dari Rusia.

Keberadaan Rusia di belakang Armenia bukan tanpa alasan, banyak faktor yang mendukung Rusia untuk tidak membiarkan Armenia dihancurkan oleh Azerbeijan.   

Mungkin alasan yang paling klasik adalah solidaritas sesama Kristen di kawasan. Sebagai sesama penganut agama Kristen yang sedang diancam oleh negara Muslim tentu saja tidak membuat tinggal diam bagi Rusia untuk memberikan pertolongan pada Armenia yang Kristen. Solidaritas inilah yang tetap akan memberikan kekuatan bagi Rusia sebagai salah satu “benteng” dan kiblat Kristen Ortodoks di kawasannya. Bahkan mungkin, Rusia bisa jadi menjadi negara pelindung umat “Kristen Ortodoks”.

Bagi Rusia, membantu Armenia akan memberikan sedikit peluang bagi dirinya untuk menjadi penting di kawasan laut Kaspia yang kaya akan garam dan minyak. Sehingga beberapa perusahaannya tetap bisa bercongkol di kawasan laut Kaspia, dimana Azerbeijan juga menguasainya.

Dengan memerankan dirinya “membantu” perang Armenia maka Rusia bisa terlihat menjadi negara yang kuat di kawasannya yang kaya sumberdaya alam. Dengan demikian Rusia akan tetap terlihat berwibawa secara militer dan berwibawa secara posisi “negara besar” dan “saudara tua” sesama bekas Uni Soviet.

Selain itu, keberadaan Turki yang berada di belakang Azerbeijan juga mendorong Rusia untuk tampil berada di belakang Armenia. Kendati Turki dan Rusia mempunyai hubungan yang sangat baik dengan Rusia—Erdogan dan Putin diberitakan ngopi bareng dan jalan-jalan bareng berdua, Erdogan membelikan Putin es krim di Istanbul pada beberapa waktu lalu. Turki juga membeli sistem persenjataan S-300 dari Rusia, begitu juga sebaliknya, Rusia banyak membeli kebutuhan negerinya kepada Turki—keduanya banyak terlibat perang secara tidak langsung.

Di Suriah, secara terang-terangan Rusia mendukung secara militer dan diplomatik pemerintahan presiden Bassar Assad di Damascus. Namun sebaliknya, Turki lebih banyak memberikan dukungan kepada para pemberotak dan pasukan pembebasan Suriah, semisal SDF (Suriah Defence Force), Jaban Nusro, Failaqur Rahman, dan lain-lain, yang banyak berposisi di Suriah Utara.

Di Libya, sebaliknya secara terang-terangan Turki memberikan dukungan secara militer kepada pemerintahan perdana menteri Fayez al-Sarraj dengan GNA-nya (yang juga didukung PBB dan Uni Eropa), sedangkan Rusia bersama Mesir mendukung pemerintahan transisi LNA Jendral Khalifa Haftar. Rusia mendukung pemerintahan di Beghazi sedangkan Turki mendukung pemerintahan di Tripoli.     

Dengan keterlibatan Turki dan Rusia di belakang kedua kekuatan yang sedang berperang di Nagorno-Karabakh bisa jadi peperangan akan berkepanjangan dan tidak akan selesai secara cepat. Peperangan di Rusia dan Libya mungkin menjadi pelajaran yang berharga sebagai buktinya, bahwa keberadaan Rusia dan Turki yang mendukung dua kekuatan yang saling berperang di kawasan justru akan memperpanjang dan melebarkan zona peperangan.