Oktober 27, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

AHLUSSUNNAHWALJAMA’AH “BUKAN HANYA FIQIH”

Oleh :

MOH. SYIHABUDDIN

Direktur Kitasama Stiftung

 

Pengaruh az-Zarnuji melalui kitab ta’lim muta’alim sangat membekas dan bahkan membentuk karakter Islam di pesantren, yang tidak lain merupakan representasi “Islam Nusantara” di Indonesia. Mulai dari sikap menjadi pelajar, tehnik belajar, rahasia kecerdasan diri, hingga bidang studi prioritas yang harus dimiliki oleh pelajar untuk menghadapi kehidupan. Bidang studi itu tidak lain adalah fiqih.

Di dalam kitab Ta’lim, bidang studi fiqih merupakan “cahaya” yang bisa membimbing manusia untuk ke jalan Tuhan. Ia menjadi pengarah yang bisa membantu manusia dalam mengarungi kesulitan hidup, dan bahkan bisa menjadi “kemuliaan” segala kemuliaan di dunia. Fiqih seolah kunci kesuksesan yang harus dimiliki oleh seorang pelajar sebelum dia belajar segala hal tentang yang lain. Tidak mengherankan jika kemudian di semua pesantren di Indonesia, bahkan di beberapa negara muslim sunni yang lain kajian fiqih menjadi pelajaran wajib yang harus dipelajari dan diajarkan. Yang pada gilirannya menekankan pada pembentukan seorang kader Intelektual dan Ulama yang ahli dalam bidang fiqih.

Membandingkan Fiqih

Nahdlatul Ulama yang notabenenya merupakan ormas Islam pesantren, yang berupaya menterjemahkan gerakan dakwahnya sebagai gerakan yang memperjuangkan ajaran ahlussunnah waljama’ah tak lepas dari bidang fiqih sebagai prioritas pemikirannya. Hal ini terlihat pada kontribusi Nahdlatul Ulama sendiri pada bangsa Indonesia yang terlalu besar di bidang fiqih dari pada di bidang lainnya. Bisa dikatakan bahwa tidak ada ormas di Indonesia, dan bahkan mungkin di dunia yang lebih fiqih dari pada Nahdlatul Ulama. Dan tentunya, dengan bangga para Nahdliyin menyandang julukan tersebut. Seolah-olah, bukan Nahdliyin kalau tidak bisa bidang fiqih.

Hal inilah yang kemudian mempengaruhi Ahlussunnahwaljama’ah an-Nahdliyah versi Nahdlatul Ulama menjadi lebih terfokus pada fiqih dari pada bidang lainnya yang juga dianggap sebagai pilar Agama, yakni bidang aqidah-teologi dan bidang akhlak-filsafat. Ahlussunnahwaljama’ah bagi Nahdlatul Ulama, seolah-olah adalah fiqih. Dan menjadi Islam yang “benar” dan sesuai dengan ajaran ahlussunnahwaljama’ah adalah dengan cara menjadi ahli fiqih, atau lebih dikenal dengan ahli syari’at.

Akan tetapi di lain pihak hal tersebut bertentangan dengan kenyataan Islam itu sendiri sebagai Agama. Dalam ajaran islam sudah sangat jelas, bahwa bidang fiqih tidak akan berdampak apa-apa terhadap kehidupan manusia jika bidang aqidah dan akhlaknya belum beres atau belum benar seratus persen. Seseorang yang ahli  bidang fiqih, yakni ahli dalam melakukan kajian hukum Islam secara totalitas mulai dari teknik ibadah hingga transaksi dan komunikasi antar individu, tentu tidak ada artinya jika dia orang yang berakhlak “jelek”, atau memiliki aqidah yang salah, dan atau juga belum tuntas dalam berta’aruf (ma’rifat) dengan Tuhannya. Apa yang dilakukannya, mulai dari ibadahnya hingga kerja kerasnya pada bidang fiqih tidak ada artinya sama sekali, seperti halnya kertas yang terbakar hingga tinggal abu hitamnya saja.

Awal menjadi Ahlussunnahwaljama’ah

Maka dengan ini menjadi jelas bahwa menjadi fiqih bukan, dan belum tentu menjadi ahlussunnah waljama’ah yang sesungguhnya. Karena ahlussunnahwaljama’ah bukan fiqih, ia hanya salah satu bagian kecil dari pengembangan “tehnologi” pemikiran peradaban Islam yang berkembang dari masa ke masa saja.

Menjadi ahlussunnahwaljama’ah tentu harus mengikuti jalan (thariqah) yang pernah dilalui oleh Rasulullah sendiri sebagai “pendiri” ahlussunnah waljama’ah dan “inspirator” gagasan ahlussunnah waljama’ah sebagai firqah. Karena dari beliaulah agama yang mulia ini (baca: Islam) sukses menjadi agama terakhir dan menjadi agama penutup bagi umat manusia. Dan pada perkembangannya menjadi ajaran yang mengalami banyak perpecahan sebagaimana yang dialami oleh agama para Nabi-Nabi  sebelumnya.

Pertama-tema tentunya harus mengenal Tuhan terlebih dahulu. Mengenal Allah sebagai Tuhan dan Muhammad sebagai Rasul. Dalam sebuah pernyataan komitmen sebagai muslim, yang dikenal dengan syhadatain Allah dan Muhammad adalah pernyataan yang satu dalam dua kalimat. Ia tidak bisa dipisahkan. Dengan kata lain, bersaksi pada Allah sebagai Tuhan tentu harus disertai dengan komitmen bersaksi pada Muhammad sebagai Rasulullah. Artinya, dalam diri Muhammad telah “menyatu” dengan Dzat-Nya Allah yang senantiasa bersemayan dalam qalbu-nya. Dzat-nya Allah ini tidak akan pernah hilang dimuka bumi, kendati secara jasmani Muhammad telah tiada, Dia akan senantiasa diwariskan dari para ahli waris satu ke ahli waris lainnya, jika ahli waris sebelumnya telah berlindung (wafat). Para pewaris inilah yang ditegaskan oleh Rasulullah sendiri sebagai “Ulama Pewaris Para Nabi”.

Selanjutnya, dengan tidak adanya Muhammad secara jasmani dewasa ini (baca: abad 21 M.) maka untuk menjadi ahlussunnahwaljama’ah harus mengenal sosok “Ulama Pewaris Para Nabi”, yang oleh Sayyed Hasein Nasr dan dikutip oleh William Chittick disebut sebagai “Manusia Ghaib”. Ia adalah sosok kekasih Allah (waliyullah) yang terus menjaga keserasian alam ini dengan penyatuan dirinya bersama Dzat-Nya Tuhan. Ia merupakan sosok Guru dari segala guru yang ada di dunia ini. Keberadaannya “dirahasiakan” dan tidak akan ditemukan kecuali dalam “kehendak” Allah sendiri untuk diberi petunjuk.

Setelah menemukan Guru “Ulama Pewaris Para Nabi” inilah baru kemudian seorang muslim bisa “belajar” segala hal bidang aqidah dan akhlak. Dengan menemukan sosok Guru “Manusia Ghaib” ini seorang muslim juga akan dibimbing dalam menemukan Tuhan, yang tidak lain merupakan inti dari bidang aqidah (baca: ma’rifatullah) dan akan dibimbing dalam berperilaku mulia yang tidak lain merupakan manifestasi dari bidang akhlak. Jika kedua bidang ini bisa selaras dan berjalan secara konsisten dalam diri seorang muslim maka ibadah jasmaninya baru bisa sempurna dan disempurnakan dengan tehnik ala fiqih. Tanpa memiliki aqidah yang jelas dan akhlak yang mulia maka nonsense agama yang dimiliki oleh seseorang dan ibadahnya tidak ada artinya pula.

Dengan demikian menjadi jelas, bahwa menjadi muslim yang mengikuti ajaran ahlussunnahwaljamah tidak diawali dari belajar bidang fiqih, atau menjadi ahli fiqih. Tetapi harus membenahi terlebih dahulu aqidahnya dengan cara menemukan Allah, yang secara otomatis akan terbimbing dalam perilakunya untuk berperilaku mulia. Artinya, belajar fiqih tidak ada artinya sama sekali sebelum bisa mempelajari aqidah secara sempurna.

Kitab Ta’lim muta’alim, yang menjadi buku pelajaran wajib bagi semua pelajar-santri di Pesantren Indonesia sudah saatnya dievaluasi ulang dan tidak harus diajarkan secara totalitas. Ia terlalu menjerumuskan dalam bidang fiqih dan melupakan ajaran Agama yang sesungguhnya. Ia hanya mencetak sosok muslim yang terjebak pada putaran lingkaran pemikiran fiqih yang tidak akan pernah habis. Karena dalam kitab tersebut santri hanya ditekankan pada keahlian fiqih dan tidak bisa mengenal Tuhan secara hakiki. Allah dalam benak ahli fiqih hanya angan-angan dan kira-kira, yang tidak ada kepastian dalam eksistensinya.

Menurut hemat penulis, sudah saatnya para santri dan intelektual muslim (khususnya Islam Indonesia) mengawali belajar terlebih dahulu dengan menemukan sosok Guru “Manusia Ghaib” dan kurikulum Ta’alim muta’alim diperbarui dengan metode yang lebih menekankan pada pengenalan Tuhan. Pengajaran tehnik sebagai pelajar dan sikap terhadap guru masih patut dipertahankan, akan tetapi prioritas bidang fiqih yang harus dipelajari oleh seorang pelajar harus dihilangkan dan digantikan dengan bidang aqidah dan akhlak.

Jika cara ini bisa dilakukan, sudah barang tentu umat Islam (baca: Nahdliyin) akan lebih mudah memecahkan problem multidimensional yang dewasa ini telah mengepung dan sudah menjalar hingga ke relung-relung pusat kebudayaan Islam Indonesia. Sebagaimana hal-nya Rasulullah, yang senantiasa dalam bimbingan Allah (baik dalam kondisi tidur maupun terjaga), dengan mendapatkan bimbingan dari Guru “Ulama ahli waris” maka umat Islam akan terbimbing pula oleh Allah dalam melakukan segala hal dan menyikapi semua persoalan yang dihadapinya. Wallahu’alam bishowaf.