Oktober 31, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

AGAMA DAN NUR MUHAMMAD

Oleh :

Moh. Syihabuddin

Direktur Kitasama Stiftung

Sejak dulu hingga dewasa ini para ilmuwan menemukan banyak kebingungan dalam memberikan pengertian “Agama”. Agama diberikan definisi yang beraneka ragam sesuai dengan pengalaman dan penelitian yang dilakukan oleh mereka. Pengalaman dan penelitian itu pada gilirannya menarik pada sebuah kesimpulan bahwa agama adalah seperangkat kepercayaan, kenyakinan, dan aturan yang diciptakan untuk menata hidup manusia. Dengan memberikan pengertian tersebut maka jelas bahwa agama adalah ciptaan manusia dan siapapun atau kapanpun agama bisa dibuat sesuai dengan kebutuhan.

Memberikan pengertian “agama” sebagai kepercayaan memunculnya sebuah pengertian yang kacau bahkan sangat kontradiktif dengan kenyataan agama itu sendiri. Agama yang sejatinya berasal dari Tuhan bergeser pengertian menjadi sebuah aturan atau kenyakinan yang bisa diciptakan oleh manusia. Ia menjadi semacam ideologi yang bisa dibuat oleh siapapun atas landasan apapun, asalkan mempunyai pemikiran yang rasional dan relevan dengan konteks yang ada. Sehingga tidak salah jika kemudian agama bisa dibuat sesuai dengan kondisi ruang dan waktu. Di zaman modern saat ini banyak orang yang kecewa dengan oknum agama tertentu sehingga membuat agama sendiri sesuai dengan kebenaran yang diciptakannya.

Ketika agama diposisikan sebagai kepercayaan, maka ia pun dimasukan sebagai “tujuh unsur budaya” oleh para sosiolog. Yang artinya bahwa salah satu unsur yang membentuk suatu peradaban atau kebudayaan manusia adalah agama. Dengan demikian agama menjadi sebuah tata aturan yang dibuat oleh manusia, agama menjadi hasil karya dan karsa manusia yang bisa diinovasi dan dilakukan kreasi. Ia menjadi salah satu komponen yang membentuk budaya, dengan kata lain agama adalah bagian dari budaya manusia—dimana ia bisa dibuat oleh siapapun.

Memberikan pengertian agama seperti ini jelas menyimpang jauh dari pengertian agama (Islam khususnya) atau pengertian agama sejak agama itu sendiri ada, baik agama-agama yang berasal dari timur tengah atau agama-agama dari belahan dunia lainnya.

Jika bukan kepercayaan, sesuai dengan pengertian yang dibuat oleh para ilmuwan, lantas apa pengertian agama itu, menurut kenyataan agama sendiri dan pengertian yang sebenarnya (dalam Islam)?

Dalam Islam dan dalam pengertian agama yang sejatinya sejak agama itu ada dan manusia memulai peradabannya (baca: Adam dan Hawa), ia adalah sebuah cahaya dari Tuhan yang ada dalam dada setiap manusia. Kebenarannya mutlak dan objektif, tidak berpihak kemana-mana dan tidak ada manipulasi apapun serta rekayasa sedikit pun dari manusia itu sendiri. Cahaya itu adalah Nur Muhammad.

Sebelum Allah subhanahuwata’ala menciptakan segala yang diciptakannya Dia telah menciptakan Nur (cahaya) yang terlahir dari Dzat-Nya. Nur tersebut bersemayam di Arsy dan menyeluruh di seluruh hakekatnya Tuhan. Ia berada tepat disisi Allah dan dari Dzat-Nya Allah sendiri. Ia menyatu dan niscaya dalam hakekat Tuhan. Nur itu adalah Nur Muhammad.

Setelah Nur Muhammad tercipta dan bersemayam diseluruh Arsy dan jagat raya, Allah menciptakan seluruh alam dengan pancaran Nur Muhammad itu. Alam terbentuk dan lahir dari kasih sayang Allah, Rahman Rahimnya menyeluruh hingga terciptalah seluruh dunia dan akherat; bumi beserta isinya, makhluk beserta kehidupannya, surga beserta kenikmatan yang dijanjikannya, ganjaran beserta pembalasannya, dan manusia beserta akal dan peradabannya. Dengan Nur Muhammad kehidupan terpelihara, peradaban tercipta, dan manusia menemukan hakekatnya.

Makhluk dan kehidupannya berjalan di atas muka bumi hanya mempunyai satu tugas utama, yaitu beribadah kepada Tuhan-Nya yang menciptakan. Sebagaimana difirmankan dalam al-Qur’an “Tidak Aku (Allah) ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku”. Ibadah hanya bisa dilakukan oleh mereka yang sudah mampu untuk melihat Allah dan mengetahui dzat-Nya Tuhan. Tidak seorang pun, baik jin maupun manusia yang bisa beribadah tanpa mengenali Tuhannya. Oleh karena itulah, untuk memberikan informasi dan eksistensi Tuhan seorang Nabi atau Rasul diutus kepada manusia untuk memberikan jalan yang benar dalam beribadah. Para Nabi dan Rasul itu mendapatkan Nur Muhammad di dadanya, yang berupa Qalbu yang halus dan kasat mata. Qalbu bukanlah jasad, namun sebuah ruang ghaib yang hanya bisa dipenuhi oleh Dzat-Nya Allah.

Itulah yang kemudian disebut sebagai Agama (aldien), yakni Nur Muhammad yang berada di dalam Qalbu para Nabi hingga pada akhir zaman masuk pada jasad yang tetap dan sesuai dengan sosoknya, yakni Muhammad bin Abdullah. Karena Nur Muhammad itulah para nabi bisa bertemu dengan Tuhan, bisa berkomunikasi dengan Tuhan, dan bisa menjadi wakil Tuhan dimuka bumi ini. Nur Muhammad menjadikan Muhammad bin Abdullah menjadi Muhammad Rasulullah. Dengan kata lain, kenabian bukanlah jasad yang menempel, tapi ruh yang masuk ke dalam qalbu yang ada di dalam jasad manusia. Jasad akan musnah, tapi Nur Muhammad tetap akan abadi dan hadir dalam diri orang yang terpilih. Sebagaimana keabadian Allah itu sendiri.

Setiap Nabi dan Rasul dari generasi ke generasi adalah pewaris Nur Muhammad. Ia menjadi manusia pilihan yang terpilih sebagai wakil Tuhan untuk menyampaikan jalan yang benar berupa Agama yang dibawa-nya. Agama berupa Nur Muhammad yang menancap dalam qalbu setiap Nabi. Dengan Nur Muhammad itulah Adam a.s. bisa diciptakan, dengan Nur Muhammad itulah nabi Nuh a.s. bisa selamat dari kebanjiran, dengan Nur Muhammad itulah nabi Musa a.s. bisa menyelamatkan kaumnya, dan nabi-nabi yang lainnya—semua tidak bisa lepas dari Nur Muhammad. Karena tanpa Nur Muhammad mereka tidak bisa disebut sebagai Nabi, apalagi sebagai Rasul.

Dengan demikian Agama adalah mengenal Allah, mengenal eksistensi Tuhan, tahu keberadaan Tuhan, dan tidak ada keraguan tentang Adanya-Nya Tuhan. Beragama bukan sebuah kira-kira, bukan hal yang masih belum diketahui, bukan sesuatu yang abstrak, dan bukan pula menurut “ini” atau katanya “itu”. Beragama adalah sebuah Hal yang jelas, ia kongkret, dan mengenal Allah sebagai Tuhan yang Allah sendiri juga mengenalnya. Beragama adalah tahu kehadiran-Nya dalam dirinya, niscaya dalam kehidupannya, dan larut dan penyebutannya. Tanpa pernah mengenal Tuhan dalam dirinya maka manusia belum bisa dikatakan sebagai beragama, hanya ikut-ikutan atau meniru sesuatu yang tidak diketahui asal usulnya.

Nur Muhammad sebagai Agama dan hakekat Allah sendiri beserta Dzat-Nya dinyatakan dalam al-Qur’an surat an-Nur ayat 35:

Allah adalah Cahaya langit dan bumi. Perumpamaan Cahaya-Nya adalah seperti sebuah ceruk dalam dinding dan di dalamnya ada pelita—pelita itu ada di dalam kaca, dan kaca itu laksana bintang berkilau, dinyalakan dari pohon yang Diberkahi, pohon zaitun yang bukan berasal dari Timur maupun Barat, yang minyaknya hamper menyala, sekalipun tidak ada api menyentuhnya: Cahaya di atas cahaya. Allah menuntun kepada Cahaya-Nya siapa saja yang dikehendaki-Nya. Allah membuat berbagai perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S. al-Nur [24]: 35).   

Maka menjadi jelas, bahwa beragama adalah mempunyai Nur Muhammad di dalam qalbunya, yang mana dalam setiap hembusan nafas kehidupan senantiasa menyebut nama Tuhan (dzikr). Dalam kesadaran maupun dalam ketidaksadaran qalbu senantiasa menyebut nama Tuhan. Ia tidak mati, tapi senantiasa hidup dalam setiap kehidupan itu sendiri.

Beragama adalah mengenal Tuhan, maka menjadi sebuah keharusan bagi manusia untuk menemukan Nur Muhammad agar hadir dalam qalbu-nya. Tanpa Nur Muhammad manusia tidak akan mampu menggapai hakekat Tuhan, apalagi mengenal Tuhan dan mengetahui Dzat serta Kekuasaan-Nya. Karena Nur Muhammad adalah Allah itu sendiri, yang hanya bisa ditampung oleh Qalbu, bukan selainnya. Sehingga jalan untuk menemukan Tuhan, mengenal hakekat Allah sebagai Rahman Rahim hanya bisa dicapai dengan mendapatkan Nur Muhammad. Cahaya Muhammad itulah Cahaya Illahi. Sebagaimana al-Tustari menegaskan “Ketika Allah berkehendak menciptakan Muhammad, Dia memunculkan sebuah cahaya dari cahaya-Nya. Ketika ia mencapai hijab keagungan, hijab al’zhamah, ia bersujud di hadapan Allah. Allah menciptakan dari sujud-Nya itu sebuah tiang yang besar bagaikan kaca Kristal dari cahaya, yang tembus pandang dari luar maupun dari dalam”.

Nur (Cahaya) Muhammad adalah awal dari segalanya, ia adalah manifestasi eksistensi Tuhan itu sendiri. Keberadaannya senantiasa ada dan beserta di dalam diri setiap makhluk ciptaannya. Namun sering kali keberadaannya ini hilang dan sirna oleh egoisme, keserakahan, ambisi, nafsu, dan penolakan terhadap eksistensi-Nya. Cahaya itu dengan sendirinya menghilang dalam diri manusia dengan beraneka bentuk “kebodohan” yang ada dalam diri manusia itu. Untuk mengembalikan keberadaan Cahaya itu maka manusia harus menemukan sumber cahaya itu, yang tidak lain ada dalam diri (qalbu) para Nabi dan Ulama. Manusia harus mencarinya dan menemukannya, karena tanpa itu manusia jelas tidak ber-Agama dan tidak akan bisa ber-Tuhan.

Dimana letaknya cahaya Muhammad itu? Di zaman Rasulullah Muhammad shollallahu’alihi wassalam tentunya ada pada beliau, sehingga siapapun yang ingin beragama maka harus tunduk pada beliau dan berguru pada beliau. Namun sejak beliau berlindung ke hadirat Tuhan-nya maka cahaya itu tetap senantiasa ada dalam dada Pewaris-Nya hingga saat ini, hingga kelak nanti dunia akan ditutup dengan kiamat.